Candy seorang gadis lulusan SMK harus terjebak dalam sebuah pernikahan dengan seorang CEO muda, Ezza. Lambat laun tanpa disadari cinta mereka perlahan tumbuh sampai lahirlah putra mereka Daffin.
Tetapi restu dari Ibu Ezza tak kunjung didapat sampai ahirnya Candy dijebak ibu mertuanya dan Ezza mempercayai hal itu. Karena merasa sakit hati, Ezza pun menyetujui calon yang dipilihkan ibunya untuk menggantikan posisi Candy sebagai istrinya.
Delima hadir menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Ezza, tetapi ia hanya mengincar harta Ezza. Saat Ezza terjebak rekan bisnis hingga masuk penjara, Delima menjauh.
Saat itulah cinta mereka diuji. Candy yang berjuang demi keluarga besar Hadi Wijaya saat Ezza dipenjara. Ia pun yang memperjuangkan Ezza sampai ahirnya ia bisa keluar dari penjara.
Dengan segala ketulusan cinta Candy akankah mampu mengembalikan kasih sayang dari suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BIMBANG
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga puluh menit, ahirnya sepeda yang dikendarai Andi telah sampai di sebuah pekarangan rumah Ki Parto. Andi begitu enggan mengantar Delima untuk masuk ke dalam. Entah karena takut atau apa, Delima tak berani bertanya.
"Neng, akang sampe sini aja ya nganterinnya, soalnya akang buru-buru," pamit Andi pada Delima.
"Iya, gak apa-apa, nuhun ya kang kasep."
"Sami-sami neng, akang pamit yak."
Dengan segera tanpa mau menoleh lagi, pemuda itu segera mengayunkan sepedanya menjauh dari rumah Ki Parto. Delima yang melihat perubahan sikap pemuda tadi hanya bisa geleng-geleng.
"Memangnya ada apa sih?" gumamnya dalam hati.
Tak mau berpikiran lebih banyak lagi, ia segera melangkahkan kakinya memasuki pekarangan itu.
Wushh ... wushh ...
Suara angin begitu merdu, menyapa Delima saat ia mulai menjejakkan kakinya di pelataran rumah itu.
Suasana di pekarangan itu sangat sepi, bahkan membuat bulu kuduk berdiri untuk orang awam, tetapi tidak dengannya. Bahkan ia merasa lebih baik saat ini ketimbang saat ia di kota.
Krekk .. kriettt ...
Suara bangunan tua itu begitu menakutkan bagi siapapun yang mendengarnya, belum lagi suara burung di hutan. Tanpa ragu ia terus mengayunkan langkahnya untuk memasuki rumah itu.
Kini niatnya sudah bulat, lagi pula daripada di suruh tinggal di kota, ia lebih memilih pergi ke tempat ini. Lagi pula di kota pun ia sudah tidak punya rumah lagi.
Rumah kontrakan yang ia gunakan kemarin sudah diberhentikan olehnya. Kini ia lebih memilih tinggal di desa agar aman dari kejaran polisi.
Tok ... Tok .. Tok ...
"Kik, akik ... permisi ... ini neneng datang ..."
Ki Parto yang kebetulan sedang semedi hanya bisa mendengar suara Delima dari kejauhan. Meski ia tidak berada di rumah, tetapi alarm di tubuhnya memberikan sinyal bahwa ada orang yang datang bertamu di rumahnya.
Karena dirinya belum siap untuk diganggu, maka ia menyuruh asistennya untuk menemui dan membukakan pintu untuk tamunya.
Cekrek ...
Seorang pemuda membukakan pintu untuk Delima.
"Cari siapa neng?" ucap pemuda itu sopan.
"Ki .. Ki Parto ada?"
"Oh Ki Parto sedang bertapa, ada yang mau disampaikan?"
"Em, itu ... anu ..." Delima tampak ragu-ragu untuk menjawabnya.
"Bolehkah aku menunggunya di sini?"
"Hmm, karena dua hari lagi Ki Parto sudah selesai bertapa, maka kalau mau menunggu disini ya silahkan, tapi jangan masuk rumah ini."
"Trus saya menunggu dimana?"
"Mari ikut saya ke halaman belakang, mungkin neng bisa menunggu beliau disana."
Meski tampak ragu, Delima tidak ada pilihan lain, sehingga ia pun memilih untuk mengikuti pemuda tersebut.
Dengan kaki yang masih sakit dan ngilu, Delima menyeret sebelah kakinya itu. Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di rumah yang dimaksud pemuda itu.
"Saya boleh menginap disini?" tanya Delima ragu-ragu.
"Iya boleh neng, soal makanan dan minum nanti saya antarkan makanannya, sekarang silahkan beristirahat disini dulu, saya permisi."
"Terimakasih."
Tanpa banyak berkata lagi, pemuda itu langsung melangkah pergi untuk meningkatkan Delima. Kini tinggal dirinya seorang yang berada di area bangunan itu.
Meski bangunan itu tak lebih baik dengan bangunan utama, tetapi masih layak ia gunakan. Akhirnya ia pun menyeret koper itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Lebih baik disini, dan kamu mas Ezza tunggu pembalasanku," ucapnya dalam hati.
.
.
...⚜⚜⚜...
...Mansion Utama...
Gelak tawa dari beberapa anggota keluarga Hadi begitu terdengar renyah dari halaman belakang. Sehingga membuat Candy terusik dan ingin bergabung dengan mereka.
"Mommy ..." teriak Daffin ketika melihat ibunya sudah ikut bergabung di sana.
"Hallo sayang ..."
"Mom kapan pulang, kok dedek gak denger suara mobil datang ya?"
"Ya gak denger dong sayang, orang kamu sama kakek lagi seru bermain gitu..."
"Oh ya juga Moms."
Candy pun salim pada kedua mertuanya sebelum mengajak mengobrol. Hal itu guna menghormati kedudukan mereka sebagai orang yang lebih tua di rumah itu.
"Gimana urusan kantor lancar?" tanya Tuan Hadi pada Candy.
"Alhamdulillah lancar pa, hampir semua pemegang saham sudah setuju sama proyek yang Candy persentasikan."
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Iya Pa, beruntung Perusahaan Taruna kembali mau menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan kita."
"Oh ya?"
"Iya Pa, oh ya satu lagi Pa, Candy mau minta ijin karena minggu depan salah satu teman Candy mau tunangan, bolehkah aku datang kesana?" tanya Candy hati-hati.
"Acaranya dimana?"
"Di Bogor pa."
Tuan Hadi tampak berpikir.
"Trus kesana sama siapa, bukankah kehamilanmu sudah besar, apa tidak membahayakannya?"
"Nanti biar dokter Richard ikut deh pa, kalau papa hawatir."
"Ya sudah, biar nanti papa telepon dia buat nemenin kamu."
"Tapi mas gimana pa, minggu juga waktunya buat aku mengunjunginya. Lagi pula udah lama ga kesana."
Candy lupa kalau disitu ada Daffin, hingga Tuan Hadi memberikan kode padanya agar menjaga omongannya.
"Emang siapa sih, yang pengen Mommy datengin, Daffin boleh ikut ga?" ucap Daffin polos.
Candy mendadak bingung ketika Daffin mengatakan hal itu. Untungnya Tuan Hadi segera menormalkan situasi tersebut.
"Loh Daffin gak jadi beli lego nih?" tanya Tuan Hadi.
"Jadi dong kek, tapi kan Mom udah pulang, gak sekalian diajak kah?"
"Sayang, sekarang di perut mama kan ada adek, jadi mama gak boleh kecapekan, apalagi tadi mama habis kerja di kantor."
"Abis Daddy jahat ya Moms, mana sudah dua bulan enggak kembali ..." raut wajah Daffin seketika menjadi sendu.
Candy mendekati putranya itu dan memeluknya. Entah kenapa hati Candy merasa sakit ketika putranya menyalahkan ketidakhadiran Ezza saat ini.
Baginya menutup kebenaran tentang hal ini sangatlah tidak baik untuk Daffin, tetapi ia juga tidak mau menjatuhkan mental putranya karena mengetahui kebenaran tentang hal ini.
Lebih baik ia memilih agar Daffin sama sekali tidak pernah mengetahui hal ini.
"Moms, sebenarnya Daddy kemana?"
"Daddy ada tugas di pedalaman sayang, jadi medan dan akses disana sangat sulit dilalui, karena itu kita tidak bisa menghubunginya ataupun sebaliknya."
"Tumben Daddy mau dikirim ke pedalaman, emangnya Daddy gak kangen sama aku dan Mommy kah?"
"Tentu saja kangen, tapi kan sebentar lagi tugas Daddy selesai, Daffin doain aja biar Daddy sehat, tuga-tugasnya cepat selesai dengan baik dan cepat kembali kesini."
"Aamiin."
"Semoga Daddy cepat kembali berkumpul bersama kita disini... Aamiin"
"Aamiin, terimakasih sayang."
Tuan Hadi merasa sangat terharu terhadap nasib menantu dan cucunya. Ingin hati melihat kebahagian mereka tetapi begitu banyak rintangan yang mendera rumah tangga anaknya
Kini ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka. Terutama ia ingin melihat putranya kembali, Rean Ezza Hadi Wijaya.
.
.
...🌹Bersambung🌹...
.
.
...Jangan lupa like, komen n favorit ya, terimakasih banyak kak🤗...
salam dari jodohku Cinta Pertamaku 🙏🙏🙏