Vanila didesak keluarganya untuk segera menikah. Arshaka Bimantara tiba-tiba saja menggantikan Seno, pacarnya yang tiba-tiba kabur saat Vanila meminta melamarnya. Ketampanan dan sikap manis Shaka membuat Vanila tak berpikir lama untuk mengiyakan ajakannya, dari pada harus menunggu Seno yang tak ada kabar.
"Vanila, apa begitu susahnya membuka hatimu sedikit saja untukku?" ~Shaka
"Jangankan membuka hati, membuka baju pun aku rela, Mas!" ~Vanila
Siapa laki-laki yang bernama Shaka itu sebenarnya?
Bab 1-63 (End)
***
Empat tahun menjaga jodoh orang, membuat Junior Reynand Winata atau biasa disapa Jr merasa dirinya terpuruk saat mengetahui kekasih yang ia pacari selama ini hamil dengan teman dekatnya sendiri. Seolah ditusuk dari belakang, Jr menyesal selama ini telah menjaga kehormatan gadis yang ia pacari itu.
Mencoba mencari pelampiasan, tapi yang ada hidupnya semakin jungkir balik saat bertemu Bia, gadis yang dijual oleh kakaknya sendiri untuk menemani Jr malam itu sebagai penebus utang padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okta Diana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buktikan
"Apa Seno jual aku ke kamu, Mas?" tuduhku yang membuatnya melebarkan matanya.
"Itu tuduhan yang terlalu buruk, Vanila!" ucapnya seolah gak terima.
"Habisnya tuh cowok dari dulu kan gak modal banget."
"Mas Shakaaaaaa!" teriak Bunga dan Claudia.
Sialan.
Dua orang nih gangguin aja. Bisa-bisa tau aku sama Mas Shaka makan di sini. Aku melempar sumpit di mangkuk dan memalingkan wajah. Rasanya gak selera lagi buat nerusin ngisi perut ini.
Mereka makin centil dan kurang didikan banget duduk deket-deket suami aku. "Bisa gak sih, duduknya agak geseran dikit!" gertakku dengan mengerutkan muka.
"Cie ... cemburu! Ha ha ha!"
Kurang ajar. Renyah banget ngetawainnya. Mas Shaka malah melirikku dengan menyunggingkan bibir atasnya seolah meledek.
"Bukan muhrim, tau gak?" sindirku dengan menyatukan alis.
"Enggaaaak!" jawab mereka kompak.
Bener-bener semprul dua orang ini!
"Kalian mau makan?" tanya Mas Shaka dengan memamerkan lesung pipinya.
"Mauuuuu!"
"Pesan saja, nanti aku bayar!"
Hilih ... tambah membumbung tinggi lagi tuh kelihatan dari senyum kelicikan mereka.
"Gimana semalam, Mas?" tanya BCL dengan menahan tawa.
Ini duo kayaknya emang mau ngajak perang.
"Lumayan bisa buat tidur nyenyak!" jawab Mas Shaka santai.
"Itu berkat kita loh, Mas!"
"Oh, iya?"
Mereka mengangguk kompak. "Kita bantu waxing sampai gak ada satu bulu pun yang tersisa! Ha ha ha."
Mas Shaka memegangi dahinya menahan tawa.
"Kalian berdua kalau ngomong tuh disaring, dong!" tegasku dengan wajah geram.
"Biasa aja lah, Nil! Kita ini udah sama-sama dewasa," sahut mereka dengan santainya. "Jadi gimana, Mas? Pink, merah kecokelatan atau malah cokelat kehitaman?"
Apanya nih? Aku serius menatap mereka bertiga yang terus nahan tawa.
"Vanila kan udah gak perawan, bisa aja hitam pekat," sahut BCL yang dilanjut tawa jahanam.
Wah bangkai nih mereka berdua.
"Enak aja kalau ngomong!" gertakku gak terima. Bisa-bisa Mas Shaka ilfeel duluan dengerin cerita ngawur mereka.
"Ya kecuali kalau kamu masih perawan, Nil! Kan kamu udah nyicil duluan sebelum nikah," jawab Claudia.
Waduh mereka bisa-bisa ngebongkar kebohonganku dulu dengan Mas Shaka. Sialan, makin gak betah aja aku lama-lama di sini.
"Aku mau pulang. Mas Shaka mau ngeghibah sama mereka?" tanyaku dengan berdiri menggeser kursi sampai berbunyi. Berharap Mas Shaka menuruti perintahku untuk pulang dari pada dengerin ocehan mereka.
"Di sini aja, Mas! Biar Vanila pulang sendiri. Tenang aja nanti kami antar!" ucap BCL dengan mencebikkan bibirnya.
"Kalian bawa mobil?" sindirku dengan berkacak pinggang dan mengangkat kedua alis.
"Gak ada mobil, motor pun jadi, Nil!"
"Nah bener, kita bisa three some naik motor," sahut Claudia seperti tanpa dosa. Mas Shaka malah terkekeh gak berhenti-berhenti. Mulutnya minta disumpal kaus kaki nih duo curut.
"Bodo amat. Aku mau pulang!" gertakku lagi sambil menyambar kunci motor. Bisa gila lama-lama sama mereka.
Mas Shaka mengikutiku, dong. Kalau gak, minta mau dipecat apa?
"Sini biar aku yang setir!" pintanya dengan mengambil paksa kunci motor dari tanganku.
"Aku mau pulang ke rumah aja!"
"Kamu tadi dikasih tanggung jawab Mama ngurusin mini market!"
"Lagi males, biar diurus karyawannya aja!" jawabku ketus.
Saat kami sampai di rumah, entah kenapa aku khawatir jika Mas Shaka menelan mentah-mentah omongan Bunga dan Claudia tadi. Dia berjalan masuk dalam rumah dengan cuek.
"Mas Shaka percaya sama omongan mereka tadi?"
Dia menghentikan langkah dan menoleh ke arahku. "Omongan yang mana?" tanyanya dengan mengangkat alis sebelah.
"Ya semua," jawabku sembari terus berjalan malu masuk dalam kamar. Rasanya pengen cakar-cakar wajahku jika ingat omongan dua temanku yang gak punya etika itu.
"Memang benar, kamu sudah tidak perawan?"
Huft ... gimana jelasinnya coba.
"Aku masih perawan ya, Mas!" Aku kini membuka pintu kamar dan duduk di tepi ranjang.
"Bagaimana aku harus percaya?" tanyanya dengan memiringkan kepala mendekati wajahku.
Wah mancing nih!
"Kenapa diam?" tanyanya lagi dengan mengangakat dagu.
"Lalu aku harus gimana?"
"Ya buktikan!"
Tuh kan bener. Bener-bener modus.