Gadis bernama Shanum tidak pernah menyangka bahwa dia akan terlibat hubungan cinta terlarang (cinta se-jenis).
Setelah lepas dari cinta terlarangnya, dia dipertemukan dengan laki-laki yang malah merenggut mahkotanya secara paksa karena dendam.
Tapi Tuhan Maha Adil, pada akhirnya dia dipertemukan dengan laki-laki yang bisa menerima dia apa adanya, mencintai dengan tulus dan mendapatkan kebahagiannya hingga akhir hayatnya.
Hi reader, kalau sekiranya Novel ini kurang nyaman dibaca, silakan memilih bacaan yang sesuai umur dan tipe Novel yang disukai 🥰❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Merona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perselisihan
"Kamu masih suka kan sama wanita sialan itu?"
Pertanyaan Shopia memecah keheningan di kamar yang berubah dingin. Selepas kepergian Shanum, Abna hanya berdiri terpaku menatap nanar ke arah gadis yang dicintainya.
"Maksud kamu apa?"
"Halah, belagak stupid," cibirnya.
"Aku baru tahu sifat aslimu Shopi, kamu gak selembut yang aku pikir," ucap Abna pelan.
Prok.. prok.. prok.." Shopia bertepuk tangan mendengar ucapan Abna barusan.
"Hahaha.. kenapa? ngerasa sakit hati gue hina bekas cewek lu?"
"Omongan lu bullshit semua. Lu bilang cuman gue cewek yang ada dihidup lu sekarang kan?"
"Lu pikir gue sebodoh itu apa, baper sama omongan lu?"
" Gue ngerti maksud omongan lu Abna Ibrahim. Gue memang cewek satu-satunya dihidup lu saat ini, tapi tidak di hati lu," suara Shopi memelan.
"Gue iri sama cewek jal*ng itu, selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Sedangkan gue? Dapat pacar saja dapatnya bekas dia," ocehannya tanpa henti.
..."Kita putus," ucap Abna dengan suara bergemetar....
"What, putus karena cewek gak normal itu?"
"Come on, Baby. Lu pikir gue bakalan melepaskan lu begitu saja?"
"Of Course, No! Kalo lu berani mutusin gue, gue akan sebarin kelakuan bekas cewek lu ke semua orang," ancamnya kepada Abna.
Abna tidak menyangka dengan semua yang didengarnya barusan. Perselesihinnya dengan Shopia telah membuka tabir bagaimana karakter dia sebenarnya. Abna merutuki dirinya sendiri karena telah salah mempercayai wanita yang kini menjadi kekasihnya.
"Ternyata benar memutuskan sesuatu ketika kita sedang kalut, hanya akan berakhir dengan kekacauan juga penyesalan".
...~~~...
"Maaf, sudah merepotkan. Dan makasih sudah mau mengantarkan aku pulang."
"It's OK, kamu cedera juga gara-gara aku."
"Aku papah kamu menuju rumah ya?" Shanum hanya menganggukan pelan kepalanya.
Ken keluar dari mobil lalu memutar ke arah pintu di mana Shanum duduk menunggunya. Dia membukakan pintu dan dengan lembut menurunkan kedua kaki Shanum.
"Coba berdiri pelan-pelan," ucap Ken pelan lalu melingkarkan tangan Shanum ke lehernya.
"Cantik," gumamnya dalam hati.
Sebelum sampai rumah, pintunya sudah terlebih dahulu terbuka, dan keluar ayah Shanum dengan raut penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa, Nak? Kok basah kuyup begini?"
"Terus itu kenapa kamu jalannya dipapah begitu, kaki kamu kenapa?" Tanya ayah khawatir lalu tatapannya teralihkan ke arah Ken.
"Lalu kamu, siapa kamu. Kenapa bisa sama anak saya?"
"Ayolah ayah, ayah udah kaya polisi yang lagi mengintrogasi penjahat saja." Rengek putrinya.
"Mau sampai kapan membiarkan anakmu ini kedinginan di depan rumah?" Tanya Shanum dengan suara menggigil.
"Ah, iya maafkan ayahmu ini Nak," jawab ayah sambil menepuk dahinya.
"Ken, mampir dulu yuk biar aku buatkan minuman hangat," tawar Shanum.
"Enggak usah, aku langsung pulang saja. Sudah menjelang maghrib juga," tolaknya sopan.
"Ya sudah, aku pamit pulang ya. Permisi Om, Shanum."
"Terimakasih sekali lagi, hati-hati ya," ucap Shanum dengan tangannya Ia lambaikan ke arah Ken.
...~~~...
"Ini makan soupnya, Nak. Buat menghangatkan badan kamu," ucap ayah Shanum yang kini duduk di samping puteri kesayangannya.
Dengan penuh kelembutan ayahnya mengoleskan krim untuk luka cedera ringan pada kakinya, lalu memijitnya pelan agar urat-uratnya lebih relaks.
Dari kecil ayahnyalah yang selalu mengurus Shanum kalau sedang sakit. Seperti waktu itu ketika usianya baru 7 tahun, dia mengalami demam yang sangat tinggi. Ayahnya terjaga untuk mengurusnya hingga pada suatu keadaan Shanum hilang kesadaran beberapa saat. Ayahnya terisak penuh khawatir melihat puterinya tergeletak tak berdaya sedangkan ibunya tertidur pulas di dalam kamar.
...***...
MESKI ALUR CERITA LAMBAT...TAPI NGGAK BIKIN BOSAN.