NovelToon NovelToon
PENGANTIN TANPA PENGANTIN

PENGANTIN TANPA PENGANTIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor
Popularitas:105.5k
Nilai: 5
Nama Author: Opie

Desa Kalijati merupakan tempat yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali. Hanum dan ibunya yang merupakan seorang penata rias tinggal di desa tersebut bersama keluarga Bima dan yang lainnya.

Tapi rasanya desa itu menjadi tidak lagi nyaman saat seorang perempuan bernama Bu Ambar mendatangi desa di tengah malam.

Entah apa kepentingan perempuan itu hingga mengejutkan para penjaga ronda dan membangunkan Marni dari tidur lelapnya.

Belum lagi keganjilan yang terus terjadi sejak perempuan itu mendatangi desa. Kematian Bu Tejo yang mendadak dan mayatnya yang hilang, Hanum yang merias pengantin tanpa pengantin, hingga menyerang ke alam gaib.

Belum sampai disitu, kejadian mistis dan misterius lainnya terus bermunculan.

Ikuti Hanum dan Bima untuk mengetahui segala kejadian mistis dan misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Opie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA PULUH ENAM (JAM TANGAN PAK LURAH)

Hanum dan Bima bergeming, mereka masih ada di sekitar rumah Bu Tejo. Begitupun dengan warga yang lain. Semua masih ada disana, sampai akhirnya Pak RT dan Mang Hanif selaku hansip desa meminta warga untuk bubar.

Suara tangis begitu jelas terdengar saat Hanum dan Bima berbalik untuk kembali ke rumah mereka masing-masing setelah berpamitan.

Hanum menjatuhkan badannya di kursi rotan panjang karena kelelahan, namun otaknya juga kini ikut lelah. Ia memikirkan kejadian yang ada di rumah Bu Tejo.

“Bu… ibu udah tau kejadian di rumah Bu Tejo?” Tanya Hanum yang masih tengkurap di kursi.

“Kenapa? Kamu kok sekarang jadi kepo ya.”

“Nggak gitu bu…” sanggah Hanum. Kini ia bangkit dan duduk degan benar “tadi pulang olahraga Hanum lewat rumah Bu Tejo. Masa katanya mayatnya hilang, terus malah ada pohon pisang di dalam kuburannya.” Jelas Hanum.

“….” Marni termenung.”

“Ibu tau?” Tanya Hanum lagi saking penasaran.

“Nggak dong. Ibu baru selesai nyapu mau ngepel, belum sempet gosip.” Sahut Marni agak sewot mengangkat sapu yang dipegangnya.

“Kok bisa gitu ya bu?”

“Ibu juga nggak tau” Marini menggeleng “yaudah nggak usah terlalu dipikir.” Sambung Marini yang meninggalkan Hanum.

Setelah Marni hilang dibalik tirai, Hanum kembali merebahkan tubuhnya yang masih dialiri keringat. Ia memejamkan matanya untuk tidur sebentar sebelum kembali ke pekerjaan memayetnya.

Samar-samar Hanum mencium bau melati yang cukup menyengat di rumahnya, namun ia terlalu capek untuk memeriksanya hingga ia terlelap.

Sama halnya dengan Hanum, Bima penasaran dengan keadaan yang terjadi di rumah Bu Tejo. Ia bertanya pada ibunya yang kini sedang sibuk memotong sayuran.

“Bu…. Tau mayat Bu Tejo berubah jadi pohon pisang.” Tanya Bima.

“Tau.”

“Kok bisa?”

“Biasanya korban pesugihan.”

“Terus?”

“Ya terus nggak usah ikut campur sama urusan orang Bim. Biarin aja, kecuali mereka butuh bantuan kita.”

Bima diam. Ia tahu betul kalau ibunya tak suka ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi kali ini berbeda. Ibunya juga harus membantu, dengan kelebihan spiritualnya. Seperti yang biasa ia lakukan.

Marini terlahir indigo. Ia bisa melihat hal-hal yang tak dilihat orang lain, namun ia tak pernah membicarakannya. Ia memanfaatkan hal itu di saat-saat tertentu saja. Dan ia berpikir bahwa kali inipun ia tak perlu ikut campur karena bukan saat yang tepat.

Bima masih termenung dan tak menyadari kehadiran ayahnya yang sejak tadi sudah mendengar pembicaraan mereka.

“Hari ini bapak nggak ke kebun ya bu.” Kata Pak Mahmud membuat Bima terperanjat.

“Iya nggak apa-apa” jawab Marini. Ia tahu betul apa yang akan dilakukan suaminya “tunggu sebentar lagi ya, masakannya dikit lagi mateng.”

“Iya bu.”

Pak Mahmud kembali ke ruang tengah, ia meninggalkan istrinya dan Bima untuk kembali menonton TV. Ia berencana akan pergi ke rumah Bu Tejo sebelum ada yang menyusulnya. Namun ia perlu mengisi perutnya terlebih daulu sebelum pergi.

Bima masih mematung. Ia belum mendapat penjelasan kenapa ibunya tidak ingin ikut campur. Padahal saat ada memedi yang mengganggu Hanum dan ibunya, ia tahu betul kalau ibunya turut membantu meski akhirnya Mbah Uti lah yang menutup semua usaha pengusiran itu.

“Ngapain bengong” tegur Marini “mandi gih, kita sarapan.”

“Hah. Kenapa bu?” Bima memang melamun.

“Mandi…. Sarapan….” Ulang Marini.

“Eh iya.” Sahut Bima akhirnya dan beranjak dari tempatnya berdiri.

Bima memutar tubuhnya untuk mengambil handuknya di kamar. Ia kembali ke dapur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah dirasa keringatnya sudah kering dan tak lagi bercucuran. Air dingin menyegarkan Bima, ia mengguyur seluruh tubuhnya yang gerah. Usai mandi ia menuju kamarnya untuk berpakaian lengkap.

“Ayok cepet pake baju, terus makan.” Kata Pak Mahmud yang sudah duduk di dipan saat melihat Bima keluar dari kamar mandi.

“Iya pa.”

Bima kembali setelah berpakaian dan bergabung bersama ibu dan ayahnya untuk sarapan.

“Kalo pacaran wangi ya.” Goda Pak Mahmud pada anak semata wayangnya itu.

“Bapak nih. Bima nggak pacaran juga wangi.”

“Beda lah” ibunya menimpali “ibu sama bapak kan udah tinggal sama kamu seumur hidup kamu Bim.” Sambungnya.

Bima hanya cengengesan. Ia sendiri menyadari perubahan dan perbedaan saat dirinya sendiri dan sekarang sudah dengan Hanum. Kini Bima lebih merawat dirinya dan menambahkan lebih banyak cologne pada tubuhnya.

Selain cologne, Bima juga berusaha selalu tampil rapi saat bertemu dengan Hanum. Dan itu membuat hati gadis itu semakin membengkak hingga ingin meledak. Andai Bima tahu apa yang dirasakan Hanum.

“Kamu ikut nggak Bim ke makamnya Bu Tejo?” Tanya Pak Mahmud mengganti obrolan mereka.

“Ikut pak.”

“Jadinya gimana pak?” Marini penasaran dengan apa yang akan dilakukan suaminya nanti.

“Sementara kumpul dulu bu” jawab Pak Mahmud “tapi tadi sempet ketemu Mang Hanif kemungkinannya kita akan berpencar nyari jejak yang bawa kabur mayat Bu Tejo.” Jelas Pak Mahmud.

“Cuma ya….” Pak Mahmud menggantung kalimatnya “kita liat aja nanti lah.” Berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

“Ketauan hilangnya gimana pak?” Bima juga penasaran.

Pak Mahmud menjawab dengan rinci pertanyaan dari anaknya. Saat pemakaman Bu Tejo, Pak Lurah ikut serta menguburkan. Pak Lurah datang karena memang Pak Tejo merupakan salah satu pekerja di kelurahan.

Dengan alasan itu Pak Lurah datang, bahkan sampai membantu dalam prosesi pemakaman. Dan pagi ini Pak Lurah baru sadar bahwa jam tangannya menghilang, katanya itu sangat berharga. Pemberian dari seseorang dari masa lalu.

Karena yakin jam tangan itu terakhir terlihat di pemakaman maka orang-orang Pak Lurah mencarinya kesana-kemari, namun nihil. Jam itu tak ditemukan dimanapun di komplek pemakaman.

Lalu Pak Lurah meminta izin pada Pak Tejo untuk membongkar kuburan istrinya. Pak Tejo sempat ragu, namun ia tahu betul arti jam itu bagi Pak Lurah. Hingga akhirnya ia setuju dan memberikan izin untuk melakukan pembongkaran.

Jam itu memang jatuh kedalam kuburan Bu Tejo, para penggali kuburan itu menemukannya. Dan betapa terkejutnya mereka saat menemukan bahwa yang ada di dalam kuburan itu bukan orang, melainkan pohon pisang. Mayat Bu Tejo menghilang.

Begitulah desa menjadi gempar dengan hilangnya mayat Bu Tejo yang baru saja dikuburkan kemarin. Dan asumsi yang beredar saat ini adalah mayat Bu Tejo dicuri untuk melakukan sebuah ritual gaib, namun anehnya… kuburan itu masih rapi saat para penggali datang jika memang mayat itu dicuri.

“Tapi mungkin aja pencurinya memang rapi pak. Maksudnya dikubur lagi, apalagi sampai diganti dengan pohon pisang.” Ungkap Bima yang mencoba ikut menganalisa kejadian aneh ini.

“Dimana-mana pencuri itu buru-buru Bim kalau sudah dapat buruannya.” Sahut Marini.

“Iya…” timpal Pak Mahmud “lagian yang pernah kejadian ya kuburannya selalu ditinggal berantakan.” Tutur Pak Mahmud.

Sarapan sudah selesai, Bima dan Pak Mahmud bergegas menuju rumah Bu Tejo. Tempat dimana saat ini semua lelaki yang tak berkegiatan berkumpul untuk membicarakan apa yang harus mereka lakukan.

1
Saya Sayekti
maaf Thor aku g kuat bacanya .aku mundu.aku kucur jantung ku udah dingin
Saya Sayekti
udah mulai serem nya.td msh penasaran
Saitama Fans
ngeri ceritanya
Saitama Fans
??????
Siti Arbainah
Itu cara bu Ambar ya biar bu Marni mau nerima twarannya
Nur Hasanah
Luar biasa,aku suka sama ceritanya
Shefia Tamara
bagus
Elvisuke
tamat kah ??
aoleng marang alloh
lama bgt g up
Yeyet Suryati
wah gimana kelanjutannya thorrr GK up nich dah lama bangetss
Yumna Faida
kapan lanjut thor, penisirin aq x. ceritanya bagus. moga sukses dan sehat sll
Nenden Solehah
lanjut lagi thor semangat up nya
Santhy Liem
kapall oleng,komandan....
Santhy Liem
lanjut thorr
Yeyet Suryati
up donk authorr
opie evani aprilia: Hallo. Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
aoleng marang alloh
d tggu up x
opie evani aprilia: Selamat membaca chapter baru 🌻
total 1 replies
Yeyet Suryati
ikh kirain lanjut eh malah pengumuman kpn lanjut ..tamatin AZ biar yg baca GK bete nunggu
opie evani aprilia: Dimohon kesabarannya ya kak. Terimakasih sudah support terus 🤍🤍🤍❤️❤️❤️
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
sabar menanti tante Hanum kembali 😌😌😌 aku ga ada pengalaman kyk km thor..mo resign ya resign ajah dulu mah hehehe ..
opie evani aprilia: Iya kak. Maunya gitu. Hehehe
Tapi malah numpuk tugasnya ...
Semoga segera berlalu
Terimakasih sudah support terus ❤️❤️❤️🤍🤍🤍
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
betul itu..yg lalu biarlah berlalu ..hidup hrus brrjln terus...
Yeyet Suryati
up donkkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!