Zira Aqilla gadis yang berusia 23 tahun. Apakah sudah mencapai kesuksesan untuk seorang Zira. Tinggal di Ibu Kota tanpa didampingi orangtuanya harus mencoba peruntungannya bekerja sana-sani membuka usaha kecil-kecilan, demi mewujudkan impiannya menjadi wanita karir.
Hidupnya berubah ketika di ujung mencapai kesuksesan mungkin final dari kerja kerasnya selama ini. Tetapi Zira harus menelan pil pahit, memiliki sahabat yang dekat dan membagi kasih sayang belum tentu mengantarkannya ketitik sukses, malah menjerumuskanya kedalam masalah yang besar, demi menutupi sebuah kesalahan yang mengantarkan Zira ketitik kehancuran.
Bertemu dengan CEO perusahaan terbesar di Asia, Addrian Admaja Wijaya, pria yang memiliki ketampanan di atas rata-rata berkulit putih, tinggi ideal, wajah yang begitu arogan dan berkarismatik bersikap dingin, Bertemu dengan Zira karena sebuah kesalahan.
Bagaimana, Zira harus menghadapi masalah yang timbul tanpa di ketahui sebabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 27 PUTTRI KEMBALI
" Gue, lagi pengen ini." Zira kembali mengambil milik Kayla, Kayla menepis tangan Zira.
" Zira, lo itu ya, nih,nih,nih, lo habisin." Kayla pasrah tidak bisa melarang Zira, menyodorkan langsung kemulut Zira dan menyulagkanya, bibir Zira berantakan akibat ulah Kayla.
" Kayla, kan, jadi tumpah, sini Lo." Zira kesal karena Kayla menyulanginya tidak ikhlas dan malah mengotori bajunya, Zira pun membalasnya, Saski dan Aca pun ikut-ikutan, mereka ber 4 bercanda saling balas membalas sambil tertawa bahagia, seperti tidak ada beban.
Ternyata pemandangan itu disaksikan Addrian, dia yang berada di dalam mobil jelas melihat kebersamaan mereka ber 4, bahkan tawa bahagia di wajah adiknya Kayla, seperti tidak menyimpan masalah apapun dengan Zira. memang Zira dan Kayla tidak memiliki masalah sama halnya dengan Puttri.
Hanya saja keegoisan Kayla yang membawa nama Zira dalam masalahnya membuat Kayla selalu merasa bersalah saat bertemu Zira, awalnya Kayla pikir masalahnya tidak akan sepanjang ini kalau hanya menyebutkan namanya saja.
Nyatanya setelah pengakuan Kayla terhadap Addrian, Tomy terus bertanya kepada Kayla untuk memberikan informasi pada atasannya. Utuk menutupi kesalahannya Kayla ketagihan berbicara semaunya mengenai Kayla.
Addrian masih memandangi mereka ber 4 yang tertawa bahagia, mungkin bukan cuman Addrian, orang lain pun bisa menilai kalau mereka sahabat yang begitu dekat, dari cara mereka berprilaku satu sama lain.
" Aku, bahkan melarang Kayla bertemu dengan Zira, tetapi dia terus bersama Kayla, dan sepertinya Kayla begitu nyaman dengan Zira. Sepertinya Zira tidak tau jika Kayla adikku, kalau Zira tau Kayla adikku, sikapnya pasti tidak seperti itu, dan Puttri Zira bahkan menganggap jika Puttri adalah kekasihku." Addrian terus berbicara sendiri di dalam mobilnya.
Bahkan pandangan Addrian tidak lepas dari wajah Zira yang tertawa terbahak -bahak jujur ini pertama kali Addrian melihat wanita yang diperkosanya itu tertawa lepas. Selama ini Zira memang bersikap jutek di depan Addrian bahkan jelas menujukan kebencian yang besar kepada Addrian.
Dan kali ini begitu berbeda, sepertinya Addrian sudah mulai ada perasaan yang berbeda terhadap Zira. Entah sejak kapan hanya Addrian lah yang tau.
***************
Malam hari tiba Kayla memutuskan pulang kerumahnya, aktivitas Kayla memang tidak ada, dia bahkan tidak bekerja setelah 1 tahun lulus Kuliah, mengingat kakaknya yang kaya raya rasanya dia tidak perlu menghabiskan tenaga untuk bekerja.
Hidupnya memang benar-benar sempurna berbeda dengan Saski dan Zira yang harus pusing memikirkan uang untuk kehidupan mereka. Sementara Aca, dia bekerja di pabrik milik keluarganya, kalau tidak bekerja dia tidak akan dapan uang jajan, keluarganya sangat tegas, jadi tidak bisa ada manja- manjaan.
Puttri sama dengan Kayla mereka hidup royal, Addrian tidak pernah membedakan Puttri dan Kayla. Kalau salah akan sama-sama dihukum, dan Kayla sangat takut jika Addrian mengirimnya ke Luar Negri. Addrian tidak pernah menyuruh Puttri atau Kayla bekerja, Addrian memberi mereka kebebasan, jika ingin bekerja silahkan, dan jika tidak pun Addrian tidak memaksanya.
Kayla merebahkan dirinya di sofa di ruang tamunya yang begitu luas, menatap lampu hias nan mewah di atas kepalanya. Entah apa yang di kerjakannya sehingga tubuhnya begitu lelah.
Kayla kaget saat merebahkan dirinya menatap keatas dengan mengangkat kepalanya, terlihat berdiri seorang wanita dengan melipatkan kedua tanganya di dadanya.
" Puttri." Ucapnya membalikkan tubuhnya.
" Lo, udah balik." Kayla berdiri menghadap Puttri, Puttri hanya mengangguk.
" Lo kapan baliknya."
" Tadi pagi." Jawabnya singkat.
" Terus, Ka Addrian tau."
" Iya, tadi pak Tomy yang jemput."
" Terus Ka Addrian nanyak apa aja ke elu." Tanya Kayla penasaran menggoyangkan tubuh Puttri.
" Lo apaan sih Kay, udah deh gak usah dibahas, gue rasa masalah gue sudah selesai, dan ka Addrian sudah gak ngebahas itu lagi, jadi gue rasa kak, Addrian sudah maklum."
" Terus gimana dengan, orang yang perkosa lo."
" Kayla, malah nanyak itu lagi, kan gue udah bilang, gue males ngebahas itu, lo tau sendiri kan perkosaan itu akal-akal gue doang supaya ka Addrian percaya dan merasa kasihan sama gue, supaya gue gak dihukum." Jelas Puttri yang sebenarnya Kayla juga tau. kalau Puttri hamil bukan kerena diperkosa melainkan karena keinginannya sendiri.
" Puttri, Lo tau nggak, ka Addrian terus cecar gue, bahkan dia nemuin sesuatu yang masalah lo ngelibatin gue."
" Maksudnya."
" Ka, Addrian tau kalau kita ke Club malam itu."
" Terus, lo bilang apa."
" gue bingung, kalau gue jujur yang ada urusanya tambah panjang jadi gue harus libatin Zira kemasalah ini."
" Haaaaaa.....Ngapain sih, lo cari masalah libatin Zira. Lo gila ya."
" Gue gak tau harus ngapain."
"sudahlah, gue yakin dengan kepulangan gue masalahnya akan selesai dan Zira gak akan kenapa-napa." Ucap Puttri Yakin
Pandangan Kayla mengarah ke anak tangga dia melihat Sisil berdiri di sana, entah berapa lama Sisil ada di sana.
" Ngapain, lo di situ, lo nguping." Ketus Kayla menyadari keberadaan Sisil.
" Gue cuman mau turun." Jawab Sisil santai.
" Terus ngapain lo masih di situ."
Sisil pun menuruni anak tangga menuju dapur Kayla dan Puttri menatapnya tajam sampai menuju dapur.
" Sist, dasar kepo." Umpat Kayla kesal.
" Kapan sih tu anak balik." Tanya Puttri.
" gue, gak tau, dia itu pasti sengaja datang kerumah ini pengen cari gara-gara."
" Terus, kak, Addrian kasih izin dia buat tinggal di sini." Tanya Puttri.
" Ya, menurut lo,dia udah ada di sini, pasti atas izin kak Addrian, kak, Addrian juga nggak mau ngusir dia dari rumah ini."
" udah,lah biarin aja."
" kita, lanjutin ngobrol di kamar yuk." ajak Kayla, Puttri dan Kayla pun menaiki anak tangga menuju kamar. Sisil mengambil minuman dari kulkas, dan duduk di meja makan meneguk minumannya.
" Jadi, selama ini Puttri di rumah sakit jiwa, tapi kok gak ada tanda-tanda dia baru sakit ya." Batinya penasaran karena pembicaraan Puttri dan Kayla sempat terdengarnya sedikit.
" Atau, memang dia gak sakit, dan siapa Zira, wanita yang disebutkan Kayla, kayaknya mereka ada sesuatu yang disembunyikan." Sisil terus berpikir keras dengan rasa penasaran
*********
Zira, yang masih berada di kampusnya, padahal sudah larut malam, Zira baru saja menyelesaikan kuliahnya yang digantinya malam hari, Karena seharian Zira banyak urusan membuatnya harus mengganti jam kuliahnya, setelah selesai mengikuti jam kuliahnya, Zira pun ingin buru-buru pulang.
" Zir, gue duluan ya," ucap salah satu teman Zira yang juga sama-sama mengikuti kuliah malam, teman Zira melambaikan tangan dan Zira pun membalasnya. Zira berada ditengah koridor-kampus berjalan sendirian, kampusnya memang sangat sepi berhubung sudah malam.
Zira yang memakai dress biru selutut itu dengan paduan blejer senada dengan dressnya yang menutupi bagian atas tubuhnya karena tangan dress Zira yang dipakainya hanya 1 inci saja.
Zira, meraih ponselnya dari tasnya. Ingin memesan taxi online berhubung dia tidak membawa mobil, Saski hanya mengantarnya tadi, dan merasa tidak enak jika harus menyuruh Saski menjemputnya.
" Zira," terdengar suara laki-laki memanggil Zira membuatnya sedikit kaget.
" Pak, Robert," Jawab Zira menoleh kebelakanganya arah dari suara tersebut.
" Kamu, belum pulang." Tanya Robert yang melihat Zira masih fokus pada ponselnya.
" Ini, Pak sudah mau pulang, mari pak saya duluan." Zira ingin pergi karena tidak mau berbicara lama-lama dengan Dosennya itu.
" Zira, sebentar." Panggil Robert melihat Zira melangkah, Zira pun berhenti.
" Iya, Pak, ada apa." Tanya Zira membalikkan tubuhnya mengarah Robert.
" Bisa tolong bantu saya."
" Bantu apa Pak."Tanya Zira mengkerutkan dahinya.
" Tolong kamu ambilkan buku saya yang ada di ruangan saya, soalnya bawaan saya berat, jadi saya gak bisa ambil. saya tunggu di sini."
" Bisakan Zira." Ucap Robert memastikan soalnya Zira tidak menjawab.
" Baik, pak," Zira merapatkan Bibirnya terasa malas dengan perintah Dosennya itu, Zira melihat Robert memang tanganya penuh dengan macam barang. Zira pun terpaksa keruangan Robert.