Kaoru menghabiskan malam panas dengan CEO Organisasi tempat Sang Kakak menjualnya. Tanpa diduga peristiwa di malam tersebut memberikan Kaoru anak kembar yang sangat genius.
Sakaki Akira, CEO dingin dengan tatapan mata rajawali. Pria tampan yang menguasai alam semesta, menundukkan siapa saja yang berani menatapnya, menyibak habis semua status dan menjadikan mereka rakyat jelata.
Terjadi kesalahpahaman tentang peristiwa 8 tahun lalu diantara Si Kembar dan Sang Ayah...
Si kembar akan membalas dendam Kaoru. Hancurkan Organisasi Sakaki Akira, beri hukuman terberat pada Sang Kakak yang berani menjual ibu mereka.
Perang yang sebenarnya menanti, kita hidup dalam different world, tak ada yang tak mungkin dalam dunia Paralel. Petualangan balas dendam Twins menjadi kunci penghubung antar dunia.
Dimulailah perjalanan mereka melakukan pembalasan dan mencari kebenaran...
Novel ini adalah karya pertama dan masih dalam tahap pengembangan.
Genre: Action, Adventure, Comedy, Drama, Fantasy, Romance, School, Slice of Life, Thriller, Supernatural, Super power.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagi Sanzenin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kirihito
"Umm... Dimana ini?" Gumam Kaoru, sudah bangun dan sekarang ada di atas tempat tidur.
Dia dibawa Kirihito pergi dari taman bunga, pergi ke sebuah rumah mewah yang cukup luas.
"Rumahku, dan ini kamarku." Jawab Kirihito, "Kau sudah bangun, kucing manis?"
Kirihito berdiri di depan pintu kamar tempat Kaoru berbaring, memperhatikan Kaoru dengan buas.
"Kenapa kau membawaku ke sini, Kak Kirihito?" Kaoru bertanya dengan nada cemas.
"Menurutmu, untuk apa?" Kirihito balas bertanya, tersenyum dan berjalan ke arah Kaoru, mata oranye-nya menatap penuh gairah.
Kirihito naik ke atas kasur dan menahan kedua Kaoru dan menindihnya di ranjang, "Ayo bermain sebentar..."
"Apa... Tidak mau!"
Duakk!
Kaoru menendang Kirihito sekuat tenaga... "Duh..." Kirihito melepaskan Kaoru dan menutup sebelah matanya, menahan sakit, lalu melepas dasinya, "Sepertinya kau harus diikat, ya... Kucing manis... Agresif sekali."
Dilain pihak...
Presdir Akira selesai menelepon, Kaoru sudah tidak ada di taman bunga itu lagi.
"Apa... Kaoru sudah pulang...?" Pikir Presdir Akira dalam hati.
Dia diam sejenak, lalu berkeliling taman bunga itu sebentar, tapi sama sekali tidak menemukan Kaoru... Akhirnya Presdir Akira berjalan kembali ke rumahnya.
Ditengah jalan dia melihat setangkai bunga mawar, Presdir Akira memungut bunga itu. Dia mengerutkan kening, itu bunga yang diberikannya pada Kaoru, pasti terjadi sesuatu...
Presdir Akira segera berjalan cepat, masuk ke dalam rumah, dia menanyakan kepada para pelayan 'apakah Kaoru sudah pulang', namun para pelayan itu menggeleng tidak tahu.
"Kaoru tidak pulang ke rumah..." Gumam Presdir Akira kritis, Ia memerintahkan para pelayan untuk mencari Kaoru.
Presdir Akira berjalan masuk ke dalam rumah dan membuka pintu kamar Rei dan Rin.
Brak!
"Apa mama kalian datang ke sini?" Tanya Presdir Akira dengan cepat, Rei dan Rin sekarang sedang merancang sketsa senjata baru pada sebuah buku gambar besar.
"Kau mematikan alat penyadap, setelah itu kami tidak tahu lagi, mama tidak datang ke sini." Jawab Rei, meletakkan pensilnya dan menutup buku gambar.
"Memangnya kenapa?" Sambung Rin, merasa sangat heran melihat ekspresi ayahnya.
"Emm... Kaoru menghilang saat ku-tinggal sebentar untuk menelepon..." Sahut Presdir Akira, terlihat agak prihatin.
"Tenang..." Ucap Rei dengan santai, "Jadi? Mama hilang saat dimana?"
"Taman bunga di halaman rumah." Jawab Presdir Akira sembari mengerutkan kening.
"Hah?" Tanya Rei dengan terkejut, "Berarti masih jalan-jalan disekitar sini, 'kan? Coba suruh pelayan mencarinya."
"Sudah ku-suruh, tidak ketemu." Ucap Presdir Akira, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan-nya, menenangkan diri.
Rin berdiri dan menarik sebuah kursi untuk Presdir Akira, "Apakah benar hanya meninggalkan mama sebentar?" Tanya Rin.
"Yah... Sebenarnya tidak juga... Kira-kira 30 menit..." Jawab Presdir Akira, duduk di kursi yang diberikan Rin.
"Itu lama bodoh! Menelpon siapa bisa selama itu?" Sambung Rei.
"Ini sudah seperti wawancara bersama detektif cilik." Sahut Presdir Akira, "Yang menelepon adalah produser TV tempat Kak Hito bekerja, mereka menawarkan menjadi bintang film dan seorang artis."
"Kenapa tidak diterima? 'Kan, sayang." Tanya Rei dengan jahil, "Tentu saja kau sangat tampan, tidak ingin mencoba?"
"Papa sudah sibuk dengan urusan Organisasi, tidak ada waktu untuk itu, jangan main-main."
Presdir Akira mengerutkan keningnya, merasa kesal+jengkel.
"Pembicaraan kalian tidak penting," Sela Rin, "Kalau begitu, mama berkemungkinan hilang, tersesat, sedang mengerjai papa, pergi keluar bareng cowok lain, dan yang paling mencurigakan adalah diculik."
Rin berkata sambil menutup mata, memangku wajah dengan sebelah tangan, "Apa-apaan analisis asal-asalan ini?" Celetuk Presdir Akira.
"Rin sudah bilang begitu, kesimpulannya mama diculik." Sambung Rei, ikut mengangguk-angguk kepala.
"Kalau diculik, berarti sang penculik adalah orang yang berhubungan dengan produser TV dan bisa keluar masuk rumah ini secara leluasa." Jelas Rin dengan serius, analisisnya sama sekali tidak main-main.
"Ini kira-kira saja? Atau analisis anak kembar-ku begitu hebat sampai bisa mengetahui apa yang terjadi hanya dengan mendengar sekilas?"
Presdir Akira menyela analisis itu, menutup mulutnya dengan jari, menyembunyikan senyum, berpikir bahwa 'anakku ini tak mengecewakan.'
"Bodoh, produser TV itu hanya untuk mengalihkan perhatianmu, sedangkan komplotannya akan menangkap mama saat kau lengah." Sahut Rei, "Untuk apa produser itu menelpon dan bersikeras untuk bicara walau sudah tau jawabannya pasti 'tidak'? Papa IQ jongkok, mana kepandaian-mu itu? Dipakai dong."
"Paman Kirihito, mama ada di rumah Paman Kirihito... Ayo pergi ke sana." Celetuk Rin.
Presdir Akira berpikir sejenak, mengangguk sambil menghela nafas, dan segera berjalan keluar dari kamar Rei dan Rin, Rei dan Rin berjalan mengikuti Presdir Akira.
Dilain pihak...
Duakk!
Kaoru menghajar Kirihito dengan jurus karate-nya... Diluar dugaan Kaoru sangat kuat.
"Kucing manis, kau benar-benar sangat hebat." Celetuk Kirihito, bangun dari bawah tempat tidur, jatuh karena dihajar Kaoru.
"Kau mau melakukannya dengan Akira, tapi kenapa dengan-ku tidak mau?" Ujar Kirihito dengan ekspresi getir, "Bisa dibilang aku lebih tampan darinya... Ck, kurasa aku harus pakai cara yang lebih kasar."
Kirihito mengambil borgol dari bawah kasur dan melakukan gerakan cepat menangkap tangan Kaoru.
"Kubilang jangan sentuh aku!" Seru Kaoru marah, menyerang Kirihito dengan tinju kanannya.
Namun, Kirihito lebih cepat, dia menangkap dan memborgol tangan kanan Kaoru.
"Lepaskan!"
Kaoru berusaha keras melawan Kirihito yang sekarang juga memborgol tangan kirinya.
Kaoru menendang-nendang Kirihito, tapi Kirihito sudah dapat membaca gerakan Kaoru, sehingga dapat menghindar dengan mudahnya, tak satupun serangan Kaoru yang mempan sekarang.
"Dasi ini untuk mengikat kakimu saja ya, kucing manis." Ujar Kirihito, mencengkram kaki Kaoru dan mengikatnya dengan dasi.
Kaoru memberontak, masih berusaha melawan walau kaki dan tangannya terikat.
"Kau agresif sekali... Baiklah, akan ku-gantung kau di rantai itu."
Kirihito mengangkat Kaoru dari atas kasur dan membawanya pada sebuah rantai panjang yang menjuntai dari langit-langit kamar.
"Lepaskan! Dasar bajingan!" Kaoru melawan sekuat tenaga saat Kirihito menggendongnya.
"Baik~ tapi setelah mengikat-mu disini." Sahut Kirihito dengan nada jahat, kemudian mengikat tangan Kaoru pada rantai itu.
Kedua tangan Kaoru dililit rantai besi yang dingin... Rantai itu cukup pendek, sehingga kaki Kaoru tidak menapak lantai, kedua tangannya terangkat ke atas... Tangannya menjadi penopang seluruh berat tubuhnya.
"Sakit, 'kan kucing manis?" Tanya Kirihito sembari melepas jas abu-abu yang dipakainya, "Kau tak akan menderita kalau menurut dari tadi..."
"Brengsek! Lepaskan! Aku akan berteriak memanggil polisi!" Seru Kaoru dengan gemetar karena tangannya tidak kuat menahan beban.
"Kamar ini kedap suara, lagi pula ini rumahku. Tak akan ada yang datang menolong-mu, teriak saja sekeras apapun."
Kirihito mendekati Kaoru, dan menarik lepas pita emas yang mengencangkan gaun putih Kaoru.
"Tidak! Jangan!!" Kaoru memberontak dalam ikatan rantai.
Kirihito mengangkat wajah Kaoru ke arahnya.
"Aku semakin menginginkan-mu kalau kau terus berontak seperti ini, tenang dan nikmatilah, aku akan membuatmu puas."
Kirihito mendekatkan wajahnya ke wajah Kaoru, mereka sudah akan berciuman.
Brakk!
Pintu kamar Kirihito dibanting terbuka oleh seorang pelayannya saat Kirihito benar-benar hampir menyentuh bibir Kaoru.
"Maaf mengganggu waktu santai Anda Tuan! Produser Natsuki ingin menemui Anda dengan segera!" Seru Pelayan itu, menundukkan kepalanya dan memberi hormat pada Kirihito.
"Tetap dalam posisi itu dan tunggulah, aku akan segera kembali untuk melanjutkannya."
Kirihito melepaskan Kaoru dan mengambil jas abu-abunya. Kemudian pergi keluar dari kamar itu, berjalan bersama pelayan menuju prosedur.
"Uhh..." Kaoru menahan sakit ditangannya yang berdarah karena rantai tajam yang melilitnya, tubuh Kaoru tetap melayang beberapa inci di atas lantai.
Disaat yang bersamaan...
"Tunggu Akira, kau mau kemana dengan anak-anak itu?"
Hikiko menghadang Presdir Akira, Rei, dan Rin saat mereka melewati kamarnya.
"Maaf Kak Hiki, aku tak punya waktu untuk menjelaskannya padamu." Sahut Presdir Akira, berjalan melewati Hikiko diikuti oleh Rei dan Rin dibelakangnya.
"Kalau kubilang tunggu, ya tunggu." Celetuk Hikiko, memeluk Presdir Akira dari belakang dengan sangat erat.
"Kak, aku benar-benar tidak ada waktu untuk menjelaskannya, biarkan aku pergi." Presdir Akira berusaha melepas pelukan Hikiko.
"Tidak, bawalah aku, aku ingin ikut bersamamu." Jawab Hikiko, semakin erat memeluk Presdir Akira.
"Kau hanya akan menjadi beban, lepaskan papa-ku." Potong Rei, menarik baju Hikiko agar melepas pelukannya.
"Kalau begitu biarkan anak ini tinggal disini, baru Akira boleh pergi." Hikiko menoleh ke arah Rei dan menangkap tangannya.
"Tidak! Kakak milikku!" Seru Rin marah, menarik lepas tangan Rei dari genggaman Hikiko.
"Kalian ini kenapa, sih?" Hikiko bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak ada hubungannya! Biarkan kami pergi!"
Rin mendorong Hikiko dan segera menarik tangan Presdir Akira, pergi meninggalkan orang itu. Rei ikut berlari dibelakang mereka.
"Sudah kau cari tahu dimana rumah Kirihito?" Tanya Rei pada Presdir Akira.
"Sudah, tapi lokasinya belum ditemukan." Jawab Presdir Akira, berlari bersama Rei dan Rin dalam koridor rumah.
Mereka berhenti ketika sampai di depan pintu...
"Tuan muda, kami sudah menyelidikinya, tapi Tuan muda Kirihito sudah pindah rumah lebih dari sebulan yang lalu. Informasi lokasinya sudah diblokir dari masyarakat." Kata seorang asisten yang selalu mendampingi Presdir Akira, Tama.
"Apa tidak ada informasi apapun?" Tanya Presdir Akira dengan cepat.
"Tidak ada Tuan muda," Jawab asisten itu, "Bahkan Tuan besar Ichimaru tidak mengetahui dimana rumahnya."
Presdir Akira mengerutkan kening, berpikir cepat, bagaimana dia bisa menemukan Kaoru kalau tidak tahu lokasi pastinya?
"Kalian ingin pergi ke rumah Kak Hito? Aku tahu dimana rumahnya." Tiba-tiba Hikiko muncul dari belakang Presdir Akira.
Presdir Akira, Rei, dan Rin langsung menoleh.
"Dimana?" Tanya Presdir Akira dengan sangat serius.
"Akan kuberitahu kalau kau masuk ke dalam kamarku, hanya kita berdua." Hikiko mengajukan syarat.
Rei dan Rin langsung memasang wajah tidak setuju, mereka menarik jas Presdir Akira. Mengisyaratkan bahwa 'dia bohong, dia tidak mungkin tahu dimana rumahnya.'
"Tidak apa, kalian carilah selagi aku meladeni dia, bawa alat rahasia kalian yang disimpan dalam mobil. Aku akan menyusul setelah mengorek informasi darinya."
Presdir Akira berbisik pada Rei dan Rin, lalu pergi meninggalkan mereka, berjalan bersama Hikiko menuju kamarnya.
To be continued...
Gubrak!