Embun tidak pernah menyangka, jika dia akan berhubungan dengan seorang Bos Mafia yang kejam.
Menjadi pemuas dan juga pelampiasan amarah, Embun berusaha bertahan demi keamanan keluarganya.
Joshua Bram, membalas dendam pada cinta pertamanya yang sudah membuatnya terluka. Namun dia malah terjebak pada cinta yang kembali membara.
Penasaran...
Yuk, lanjut baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusti Sekar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUDUHAN PEMBUNUH.
Dengan sekuat tenaga, Embun bantu memapah Danu untuk keluar dari hutan tersebut. Mereka berjalan tertatih, Embun semakin tidak tega melihat kondisi Danu. Wajahnya penuh dengan luka lebam, sudah berapa hari ia dipukuli sampai seperti ini.
"Danu? kamu masih kuat kan? Kalau kamu udah gak kuat, kita bisa istirahat sebentar."
Pria itu menoleh sejenak, wajah penuh luka itu terhias sebuah senyuman tipis.
"Aku masih kuat kok, aku pengen cepet-cepet sampai rumah." Danu mengamati keadaan hutan. “Masih jauh ya?’
Embun mengingat kembali waktu yang ditempuhnya sampai menemukan Danu.
"Nggak kok, cuma tinggal bentar lagi. Kamu yang kuat ya" Danu hanya mengangguk lemah.
Mereka Kembali diam, hanya ada suara daun-daun kering yang terinjak oleh kedua remaja tersebut. Sekilas Danu melirik kearah Embun, sepertinya ini adalah pertemuan kedua mereka setelah hampir 5 tahun tidak bertemu.
“Kabarmu gimana Bun? Maaf aku sampai lupa menanyakannya.”
Gadis itu tersenyum. “Apa pantas kamu nanyain kayak gitu? Sedangkan kamu sendiri lagi kondisi memprihatinkan?”
Ucapan Embun membuat Danu terkekeh pelan.
“Aku tau kamu pasti marah karena aku gak ngasih kabar, karena udah pindah ke Jakarta”
Embun mengangguk, tapi ia tau alasan Danu melakukannya. Dan itu membuatnya jadi penasaran dengan alasan Danu berhutang uang kepada Joshua.
“Danu, apa benar kamu berhutang dengan Joshua Bram?”
Danu sempat tersentak kaget, ia terkejut karena Embun mengetahui hal tersebut. Padahal seingatnya, itu hanya perjanjiannya dengan seorang yang menjadi tangan kanan Joshua Bram.
Dengan lesu, pria itu Kembali mengangguk.
“Aku minta maaf ya Bun, aku Cuma minta tolong banget sama kamu. Ayah sama Ibuku jangan sampai tau”
Embun dibuat naik pitam dengan hal bodoh yang dilakukan Danu.
“Kamu udah gak waras ya? Sebelum kamu meminjam uang, apa kamu cari tau dulu siapa orang yang kamu pinjam itu?!”
Mengejutkannya Danu mengangguk, itu berarti dia mengetahui tentang fakta siapa Joshua yang sebenarnya. Tapi kenapa nekat melakukannya.
“Embun, kamu jangan marah dulu. Dengerin penjelasan aku dulu”
“Oke, sekarang kamu jelasin semuanya.”
Pria itu mengangguk, Danu pun mulai bercerita.
-FLASHBACK ON-
Kejadian ini bermula 2 bulan yang lalu, saat itu Jakarta tengah terjadi hujan deras dengan beberapa petir yang menyambar. Hal yang selalu ditakutkan warga Jakarta, karena hal itu adalah pemicu banjir.
Disebuah teras toko, Danu tengah berusaha menyelamatkan alat lukisnya dari terpaan air yang terbawa angin.
"Haduh, kenapa tiba-tiba hujan deras gini? padahal tadi panas lo" keluhnya.
Danu mengamati sekitarnya, ternyata banyak sekali yang terjebak dengan hujan ini. Alhasil ia harus terlambat untuk datang ke seminar itu.
Beberapa menit sudah berlalu dan hujan tak kunjung menunjukkan tanda-tanda untuk reda, Danu mulai jenuh menunggu terlalu lama.
Dia memutuskan untuk berjalan menyusuri dari teras ke teras, siapa tau ia bisa menemukan jalan pintas untuk sampai ke tempat tujuannya.
"Permisi ya Mbak, permisi Pak saya numpang lewat" Danu tetap berucap dengan sopan.
"Ya ampun, sempit banget sih ini"
Didepannya terdapat seorang ibu-ibu dengan kedua anak kecilnya yang berusia sekitar 6 dan 8 tahun, tengah asyik bermain. Danu bingung untuk menumpang lewat disela mereka semua.
"Permisi Buk, saya permisi mau lewat" ujarnya.
Tapi Ibu itu sepertinya tidak mendengar, Danu menepuk pelan bahu Ibu tersebut. Akhirnya wanita itu menoleh.
"Ada apa mas?"
"Maaf Buk, saya mau lew— YA AMPUN!"
Tiba-tiba saja seseorang mendorong tubuh Danu hingga membuatnya tak sengaja mendorong Ibu itu hingga keluar dari teras toko.
Ibu itu berteriak karena terpental jatuh keluar, dalam keadaan basah kuyup. Wanita itu bangkit dari posisinya.
"MAMA AWAS!"
BRUKKK
Sebuah truk menghantam tubuh wanita itu dengan sangat keras, padahal ia belum sampai berdiri tegak sepenuhnya.
"MAMA!"
Kedua anaknya berlari menembus hujan menuju ketengah jalan, dengan tubuh mungilnya, mereka memangku kepala Ibunya yang sudah berlumuran darah, wanita yang tengah sekarat.
"MAMA GAK BOLEH MATI" sang kakak berteriak histeris.
Sedangkan sang adik yang belum paham apa-apa hanya duduk menemani kakaknya dengan tatapan polosnya.
Danu melihat semuanya, namun tubuhnya seolah membeku hingga ia tidak mampu melakukan apa-apa.
Seseorang dibelakangnya langsung saja menuduh Danu tanpa mendengar penjelasannya lebih dulu.
"PEMBUNUH! ORANG INI PEMBUNUH!"
"A—apa? bukan Pak, saya bukan pembunuh. Bukan saya yang melakukannya"
"Kamu bohong, saya sendiri yang melihat kamu mendorong Ibu itu sampai tertabrak Truk. KAMU PEMBUNUHNYA!"
"PEMBUNUH!"
"PEMBUNUH!"
Semua orang percaya dengan ucapan Bapak-bapak itu, alhasil Danu dipojokkan. Dan beberapa dari mereka tanpa segan mulai mengeroyok Danu.
"Pak tolong! Bukan saya!" Danu masih berusaha membela diri.
Walau semua orang tengah menghakiminya dengan membabi buta, tidak ada yang mencoba untuk memberi kesempatan kepada Danu untuk memberi tau kebenarannya.
"STOP! Berhenti kalian, jangan pukuli lagi. Saya akan bawa dia ke Kantor Polisi"
Seseorang dengan kacamata hitam yang tampak mencurigakan tiba-tiba saja melerai Danu dari pukulan para Warga yang sudah mengamuk.
Danu yang sudah lemas akibat banyak pukulan yang menghantam tubuhnya, hanya bisa tergeletak lemas tak berdaya.
"Kamu siapa?" tanya salah satu warga.
"Saya POLISI! Jangan ada yang memukulnya lagi, atau saya akan menangkap juga" ancam pria tersebut.
Kemudian ia menghampiri Danu lalu memapahnya masuk kedalam mobil hitam yang sudah terparkir disebelahnya.
—FLASHBACK OFF—
Embun menyela sebentar cerita dari Danu.
"Siapa yang dengan sengaja mendorong kamu?"
Danu menggeleng pelan. "Sampai sekarang pun aku juga tidak tau siapa orang itu. Karena setelah Ibu itu meninggal ditempat, aku langsung dipukuli ramai-ramai sampai tidak bisa melihat siapa yang menjebak ku."
"Iya, aku juga berpikir kamu cuma dijebak, aku yakin itu." ternyata Embun berpikir hal yang sama.
"Terus, gimana kamu bisa selamat dan tidak dipenjara?"
"Pria asing yang membawaku ke kantor polisi itulah yang menolongku, ia meminjami ku uang untuk menebus ku dari penjara"
"Siapa orang itu?" tanya Embun.
"Dia pria bernama Edward"
Degg
Embun tercengang mendengar semua cerita Danu, ternyata pria asing yang mengaku sebagai Polisi adalah Edward yang tak lain adalah pengawal setia Joshua.
"Danu! kamu ditipu, dia bukan Polisi. Dia itu penjahat, dia anak buah Joshua"
"Iya, aku tau! tapi mau gimana lagi? Ibu itu meninggal ditempat, dan aku terancam di penjara seumur hidup dengan tuduhan Pembunuhan berencana"
Embun terdiam sejenak, wajahnya terlihat kebingungan.
"Kamu pasti berpikir kan, kenapa bisa aku yang dituduh, dan bagaimana bisa semua tuduhan mengarah kepadaku."
Gadis itu hanya bisa mengangguk pelan.
"Karena yang tewas tertabrak itu adalah istri seorang perdana menteri"
To Be Continued...
Salam dari
- Janji Palsu Tuan Muda -