Dia terlahir dari setitik cahaya yang membentuk sebuah kehidupan.
Tidak tahu darimana dia berasal atau kemana tujuannya.
Tapi segala yang dia lihat saat ini membuatnya merasa asing.
Entah dibalik asal usul kehidupan yang dia jalani sekarang akan seperti apa takdir membawa semua ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shina Yuzuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
beruntung ?
Kemenangan itu tidak benar-benar membuat Davendra bahagia, karena setelah pertarungan melawan Suryo. Dia cukup disibukkan oleh orang-orang yang datang, mereka semua bertanya satu hal, yaitu tentang tips dan trik bertarung tanpa menggunakan kekuatan energi.
Tidak ada yang bisa Davendra jawab, karena sejak awal dia hanya mengandalkan kekuatan fisik, dan kejadian aneh diketahui oleh Asmi, bahwa ada kekuatan energi terpendam dalam tubuhnya.
Meski itu membuat Davendra penasaran tapi beberapa kali dia berlatih, tidak satu kesempatan pun dia dapat untuk mengeluarkan kekuatan yang sama.
Dan sekarang Sintia menunjukan kepada Kamo bahwa Davendra mampu mengalahkan Suryo, jelas saja kejadian itu membuatnya tertarik, ya lebih tepatnya... Dia tidak percaya dan ingin membuktikan sendiri.
"Oh jika memang benar dia bisa melawan Suryo, tentu aku ingin tahu seperti apa kekuatan yang disembunyikan." Kamo terlihat begitu perduli dengan ucapan Sintia.
Tapi Davendra tidak menyukai ini, dimana dia merasa akan ada masalah merepotkan datang.... "Tidak ada yang disembunyikan, aku hanya sedikit beruntung karena berhasil melepaskan pukulan telak ke kepala Suryo."
"Keberuntungan ?, Tentu saja itu tidak mungkin, hanya dengan keberuntungan bisa mengalahkan Suryo, seekor kera akan tertawa karena ucapan mu." Dan Kamo pun tertawa seperti yang dia katakan sendiri.
Lepas dari percakapan tidak jelas antara Davendra, Sintia dan juga Kamo, raja kota pun sudah datang dari balik pintu untuk memulai acara pertemuan empat klan.
Semua orang berdiri, entah itu Sintia, Seui, Kamo, Lan Tung, dan orang-orang dari keluarga teratai putih, semua menunjukan rasa hormat kepada Raja kota, Zenzou.
Meski mereka semua adalah keturunan dari keluarga-keluarga pendiri kota Batavia, tapi Zenzou adalah utusan langsung kaisar kerajaan Margasura.
Tidak ada yang berani bersikap arogan dihadapan raja kota, karena bagaimana pun juga, mencari masalah dengan Zenzou itu sama saja mengusik ketenangan sang Kaisar.
"Kalian semua sudah datang, mari kita mulai pertemuan ini." Ucap Zenzou yang mengambil posisi duduk di hadapan meja bundar.
Davendra memperhatikan, jika satu persatu orang dari empat keluarga klan utama, memiliki karakteristik mereka sendiri.
Ya seperti klan teratai putih, memang memiliki kekuatan seperti klan-klan lain, tapi di lihat dari sikap, tergambarkan bahwa mereka orang yang bisa menjaga emosi. Begitu tenang, santai dan sangat menghormati satu sama lain.
Berbeda dengan klan kura-kura hitam, Kamo adalah orang yang keras kepala, memang jika disamakan dengan sifat kura-kura itu jauh berbeda, tapi keras kepala Kamo sama seperti kerasnya tempurung kura-kura.
Ketika pertemuan, Kamo menjadi orang yang begitu kukuh dalam pendirian, dimana dia tidak mau wilayah perdagangan kekuasaan klan mereka terganggu.
"Aku tahu jika tuan-tuan sekalian tidak ingin dirugikan, tapi demi menjaga keseimbangan ekonomi kota Batavia, kita harus membuka wilayah masing-masing kepada orang luar." Zenzou mengemukakan pendapat, tapi itu lebih seperti dia dipakasakan untuk bernegosiasi dengan empat klan.
"Tuan Zenzou, sebenarnya aku tidak keberatan, tapi jika kita menerima orang luar untuk menjalankan bisnis di dalam kota, apa itu tidak membahayakan bisnis kita sendiri." Fuyu hai dari klan teratai putih mencoba memberi jawaban.
"Memang aku tidak bisa menutup kemungkinan bahwa akan adanya penurunan penghasilan bagi bisnis klan, tapi jika kita bisa menarik orang luar untuk masuk, ada kemungkinan lain jika kota ini akan semakin makmur." Balas Zenzou.
Semua pembicaraan itu, adalah tentang kehadiran pedagang dari luar kota Batavia yang ingin mendirikan bisnis di wilayah klan.
Tentu masing-masing perwakilan klan merasa tidak nyaman, karena jika orang luar datang, persaingan akan menjadi pemicu akan adanya kesenjangan antara para klan dan pemerintahan kerajaan Margasura.
Lebih mudahnya adalah kemungkinan terburuk jika kehadiran para pesaing akan menjadikan penghasilan bisnis semakin berkurang, ini memberi dampak besar bagi perekonomian klan itu sendiri.
"Bukan kami ingin melawan keputusan dari kerajaan, tapi ini juga akan membahayakan keuangan klan." Seui selaku perwakilan klan harimau api, sudah cukup memahami setiap aspek dalam bisnisnya.
"Jadi bagiamana keputusan kalian."
"Kami bisa menerima, tapi kami ingin memberi syarat-syarat khusus, salah satunya adalah mereka sebagai penyewa tanpa bisa memiliki wilayah disini." Kembali Fuyu hai menjawab, tapi kali ini dia menginginkan sebuah kepastian.
Itu memang menjadi kesimpulan yang baik, tentu dalam beberapa alasan, para pebisnis yang datang dari luar kota tidak akan bertindak seenaknya sendiri.
Meski pun raja kota menjamin kehadiran mereka, tapi tetap harus patuh terhadap setiap aturan yang berlaku agar tidak terjadi masalah.
"Baiklah, jika memang ini yang kita harus tetapkan." Zenzou menerima.
Pertemuan berlangsung dengan lancar, meski tuan muda Kamo terlihat enggan untuk menyetujui tindakan raja kota, tapi dia tidak bisa berbuat banyak, karena ketiga klan lain setuju atas keputusan ini.
Tapi yang membuat Davendra merasa tidak nyaman adalah kehadiran Kamo seakan ingin mendekati Sintia secara terang-terangan.
Seui tidak mempermasalahkan hal itu, bahkan dia sendiri seakan sudah tahu niat Kamo terhadap Sintia.
"Tuan Seui, apakah anda tidak masalah, orang seperti itu mendekati adik anda." Bertanya Davendra yang melihat Kamo dari belakang.
"Itu terserah Sintia, dia yang memutuskan untuk dekat dengan siapa pun, selama kamo tidak bertindak macam-macam, aku tidak akan menghalanginya." Seui bersikap terbuka, seperti yang Davendra rasakan, bahwa lelaki ini memiliki sifat berbeda.
"Aku tidak yakin jika dia tidak memiliki niat lain, bahkan saat pertemuan itu, Kamo bersikeras untuk menolak keputusan raja kota." Davendra pun mencoba berpendapat.
"Apa boleh buat, klan kura-kura hitam, memang sangat mendominasi, bahkan lebih kuat dari klan harimau api, tapi diantara semua klan, mungkin ya.... Bisa aku katakan merekalah yang benar-benar ingin menjaga kota Batavia dari orang luar." Seui memiliki sedikit pandangan positif kepada Klan kura-kura hitam.
Sebenarnya ini juga bukan urusan Davendra tentang hubungan antara semua orang di kota Batavia, karena sejak awal dirinya bukan siapa-siapa, melainkan orang asing yang dibawa masuk oleh Sintia.
"Aku dengar sekarang kau cukup akrab dengan Asmi." Sebuah pertanyaan yang membuat Davendra merasa tidak nyaman.
"Ya untuk sekedar berlatih, bisa dikatakan memang begitu."
"Hmmm, kau cukup beruntung." Entah dari mana anggapan jika dekat dengan Asmi adalah sebuah keberuntungan.
"Apanya yang beruntung ?, Asmi benar-benar kejam saat melatihku." Itu yang Davendra rasakan.
"Itu dia... Kau beruntung karena bisa menjalin hubungan dengan Asmi, karena kami semua hampir tidak pernah memahami isi pikirannya." Seui membalas dengan sedikit senyum.
Davendra mengakui hal itu, Asmi sangat fokus untuk membalas dendam, hingga dia cenderung mementingkan dirinya sendiri daripada mengurus hubungan dengan orang lain.
Walau untuk Davendra, kejadian dimana dia melihat ****** ***** Asmi menjadikan mereka berdua cukup dekat tentu dianggap keberuntungan oleh orang lain.
Meski dia lebih memilih perkenalkan yang biasa saja daripada mempertaruhkan nyawanya.
judul lainya apa thor? yg kamu tulis biar tak baca semua