Valerie, seorang super model yang sempurna. Garis wajahnya yang cantik terpahat sempurna bagai bidadari dunia, sedangkan lekukan tubuhnya seakan diciptakan oleh iblis untuk menggoda para kaum pria.
Hatinya terpaku pada sosok CEO dingin, tak memiliki hati dan mulut tajam. Sedangkan disisinya selalu ada Carl, Aktor tampan yang memiliki profesi sepertinya, hingga semua media mengiring opini bahwa mereka memiliki hubungan special.
Namun kejadian naas menimpa Valerie, sang CEO ,Kenrich, tiba-tiba mendekatinya. Hingga sebuah skandal dirinya selingkuh tersebar ke media, semua citra yang sudah ia bangun harus runtuh karena skandal cinta segitiga antara seorang Valerie dan kakak beradik itu.
Bagaimana cara Valerie menghadapi semua ini? haruskan mengejar Kenrich, namun nama baiknya akan tercoreng. Atau harus sang adik? Carl. Namun Valerie hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhea Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menawarkan pilihan
Ponsel Valerie berdering, membuat keduanya mengalihkan perhatian pada ponsel Valerie. Nama Carl tertera dilayar itu, membuat Ken berdehem dan berjalan pelan menuju pintu keluar, mencari seseorang yang bisa mereka tanyai.
"Hallo, Carl." Mata Valerie mengikuti Kenrich. Ia takut pria itu meninggalkan nya sendirian.
"Valerie. Maaf kemarin aku tidak menghubungi mu. Aku benar-benar sedang sibuk disini." Terdengar suara Carl yang begitu merasa bersalah.
"Tidak apa-apa Carl. Aku juga sedang sibuk beberapa hari ini." Valerie mulai berjalan kearah pintu keluar, saat melihat Kenrich mulai menghilang dari pandangan.
"Jaga kesehatan mu. Ingat, istirahat yang cukup walaupun kau sibuk."
"Ya. Kau juga ya." Tepat saat Valerie hendak berbelok Kenrich muncul membuatnya memekik pelan.
"Astaga, kau mengejutkan ku."
"Ruangannya ada disana." Valerie melirik lorong yang dimaksud lalu menganggukan kepalanya.
"Valerie? Kau sedang bersama siapa? Aku sepertinya mengenal suara itu." Suara Carl seakan menyadarkan Valerie bahwa ia masih menerima telepon.
"Ah, aku sedang bersama Grandfa. Nanti aku akan menghubungi mu lagi Carl. Bye." Valerie mematikan panggilan itu dan menyimpan kembali ponselnya kedalam tas tangannya.
Mereka berjalan tak bersuara menuju ruangan yang dimaksud. Bagai orang asing yang terjebak dalam labirin.
"Carl ternyata kekasih yang siaga." Valerie menatap Ken tak suka. Nada pria itu begitu menyindir dengan wajah tampan itu tersenyum sinis.
"Mengapa kau yakin sekali jika aku dan Carl adalah sepasang kekasih?" Tanya Valerie gemas.
"Kalian selalu bersama. Bahkan hanya tidak bertemu beberapa hari saja sudah saling mengucapkan rindu seperti itu." Valerie mendengus dan melirik Ken. Mereka masih berjalan pelan disepanjang lorong kastil yang menakjubkan ini.
"Apa kau cemburu pada ku?" Ken menaikan sebelah alisnya seakan berkata 'What?'.
"Kau cemburu karena Carl menelfon ku sedangkan kakaknya yang dingin ini tidak di berikan kabar."
Ken tertawa kecil. "Jangan konyol Valerie." Ken menghentikan langkahnya, ia menahan tangan Valerie agar ikut menghentikan langkah mereka.
"Bagaimana jika aku meminta mu menjadi kekasih ku? Kau dan Carl tidak memiliki hubungan apa-apa bukan?"
Jantung Valerie seakan berhenti beberapa detik. Pria itu berbicara seakan mengatakan 'ada tikus lewat' begitu santai dan jauh dari kata serius. "Hah! Jangan konyol Ken, bahkan berita saja mengatakan bahwa kau sudah memiliki kekasih." Valerie berharap cemas. Ia berharap jika Ken membantah berita tersebut.
Jika saja Kenrich mengatakan ini beberapa tahun yang lalu, dengan senang hati ia akan mengatakan IYA. Namun saat ini, Valerie ragu, ini seakan tidak serius dan Valerie tidak ingin merendahkan dirinya lagi untuk pria ini.
"Menambah satu wanita tidak ada salahnya. Aku akan memenuhi semua kebutuhan mu." Kata-kata itu meluncur begitu saja. Membuat Valerie yang sudah berada diatas awan harus terhempas kedasar jurang karena kenyataan itu.
"Kau gila! Kau menjadikan ku wanita simpanan mu?!"
"Jangan menolak Valerie. Bukankah ini yang kau mau?" Ken menatap manik mata yang terlihat ragu itu. Kadang Kenrich ingin tertawa mendengar jawaban Valerie, wanita itu seolah mengeluarkan kecemburuannya. Mereka seolah sedang saling tawar menawar tanpa Valerie langsung menolaknya.
"Bagaimana?" Tanya Ken kembali. Ia tak memiliki kekasih satu pun. Hanya Amber yang pernah ia jadikan kekasih untuk pertama dan terakhir kalinya hingga saat ini. Baginya wanita hanya pelepas penatnya. Dan betapa beruntungnya Valerie jika ia menerimanya.
"Ya! Jika itu 4 tahun yang lalu, Ken. Sekarang aku menolak menjadi simpanan mu!"
Suara tepukan tangan menghentikan percakapan mereka. Di ujung sana terlihat Alex sedang memperhatikan mereka dengan senyum yang masih lebar. "Kalian sedang apa? Kemari lah anak-anak. Mainkan aku sebuah musik." Kenrich melepaskan tangannya yang menggenggam lengan Valerie, sedikit menjaga jarak mereka dan menatap Alex yang tidak terlalu jauh disana.
Valerie terlebih dahulu berjalan menghampirinya Alex, membuat Ken mengikuti nya dengan langkah yang pelan namun panjang.
"Maaf kakek, kita sedikit tersesat tadi."
---
Guys maaf ya. author abis di vaksin, malah ngantuk terus dan sore tadi baru bisa ngetik🤧
yuk kalo tembus 200 komentar kita crazy up lagi 5 bab besok😘
CIA dilawan