Aku masih menunggu..
Saat dimana Tuhan mengaitkan jemariku dan jemarimu
Menjadi sebuah genggaman dalam keridhoan
Meski sangat sakit bagiku, aku harus menerima perjodohan yang tak pernah sekalipun terbayangkan dalam pikiranku.
Perjodohan yang di setujui kedua orang tuaku dan orang tuanya, namun tidak dengan kami. Aku dan dia yang tidak saling mencintai.
Perjodohan yang memisahkan antara aku dan cintaku, juga antara dia dan cintanya.
Yang akhirnya membawa kami ke sebuah persekongkolan. Kami berdua sangat berharap, persekongkolan ini akan membuahkan hasil.
Hasil yang akhirnya bisa kembali kepada cinta kami masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri syachid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Sekembalinya dari jalan-jalan yang ternyata membuatnya tahu satu hal tidak terduga dalam hidupnya. Indy tidak langsung menuju ke rumahnya. Dia meminta Rio mengantarnya ke tempat rental milik Bima.
Gadis itu juga tidak mengizinkan Rio ikut menemui Bima bersamanya. Indy hanya ingin bicara berdua saja dengan bapaknya.
Rio tidak memaksa, tapi dia memberi pesan untuk tidak bertindak gegabah dan menggunakan emosi dalam berbicara hal itu pada Bima.
Gadis itu berjanji akan menuruti ucapan Rio. Sebab jika dia tidak membuat janji itu, Rio tidak akan membiarkannya menemui Bima.
"Tumben, kamu ke sini. Motormu mana, Ndy? Kok, Bapak ndak lihat kamu bawa motor," ujar Bima menelisik halaman tempat rentalnya dan tidak menemukan benda yang di tanyakannya.
"Bapak, Indy ke sini karena mau menanyakan sesuatu."
"Boleh. Mau bertanya soal apa? Tumben, kamu seserius ini. Ada apa?" cecar Bima pada anaknya setelah membiarkan gadis itu duduk di depannya.
"Apa benar, Indy dan Rio, dijodohkan?" ucapnya tanpa basa-basi.
"Benar. Kamu tahu dari siapa?" jawab Bima dengan tenang.
"Tidak penting dari siapa Indy tahu perjodohan ini. Kenapa Bapak tidak bercerita? Bukankah seharusnya, Indy tahu hal ini?"
"Kamu benar. Seharusnya Bapak mengatakan hal ini sama kamu. Tapi, Bapak hanya menunggu saat yang tepat. Nanti, saat kamu sudah lulus SMA. Jika Bapak memberitahu hal ini sekarang, mungkin kamu tidak akan mengerti maksud dari perjodohan yang Bapak dan Om Dhanu sepakati."
"Benar. Indy memang tidak mengerti, kenapa Bapak tega mengambil keputusan sebesar ini tanpa peduli dengan pendapat anak Bapak."
Usai kata-kata itu keluar dari mulutnya, Indy dengan cepat meninggalkan tempat itu. Membiarkan Bima kembali duduk sendirian dan berpikir. Apa tindakannya salah? Apa tadi puterinya itu sedang meluapkan emosi padanya?
Namun gadis itu tidak memberontak dengan semestinya. Dia nampak tenang walaupun ucapannya tadi jelas mengandung kekecewaan.
Gadis itu menyetop angkutan yang lewat setelah berapa jauh berjalan. Kali ini tujuannya adalah rumah. Hari sudah mulai sore, Indy harus cepat kembali ke rumah atau Rini akan kelabakan mencarinya yang entah berada dimana.
Setibanya di rumah, sapaan dari Raka pun di abaikannya. Dia menerobos masuk ke dalam kamarnya dengan cepat. Mengunci pintu kamarnya rapat. Membanting tasnya ke tempat tidur.
Indy sedang kecewa. Kecewa dengan keputusan tidak adil bapaknya. Tidak pentingkah pendapatnya sebagai anak? Tidak berhakkah dia mengeluarkan pendapatnya untuk sebuah keputusan yang menyangkut hidupnya ke depan.
Bukankah seharusnya ada sebuah musyawarah yang di gelar sebelum keputusan berhasil di ambil. Kapan itu semua terjadi? Apa saat dia terlelap?
Belum cukup Tuhan mengujinya dengan rasa sakit yang ia terima karena hubungannya yang kandas beberapa minggu lalu. Kini Tuhan menjatuhkannya ke sebuah labirin yang sulit untuknya keluar mencari jalan kebebasan.
Bertubi-tubi memang untuk ukuran Indy yang berusia remaja. Tapi, dia sudah berusaha bersikap tidak gegabah menyikapi kekecewaannya.
Kesal rasanya. Sepatu yang dia pakai saja mampu melayang di lemparnya ke dinding karena sangking geramnya.
Gadis itu menangis, berteriak sekencangnya di dalam kamar. Yang berhasil membuat Raka juga Rini khawatir. Apa yang sedang menimpa Indy, hingga dia menangis meraung-raung sendirian di dalam kamar. Sudah tidak bisakah dia menahannya?
"Indy. Buka pintunya, Sayang. Ada apa? Ayo keluar, ceritakan pada Mama," teriak Rini dari luar kamar.
"Ndy, lo kenapa? Buka pintunya, Ndy. Bang Raka mohon," bujuk Raka dengan terus menggedor pintu kamar adiknya.
Rini sangat khawatir pada puteri semata wayangnya hingga ia meneteskan air matanya. Dia kebingungan.
Di tengah kebingungan antara Raka dan Rini, seseorang datang memberi titik terang pada mereka berdua. Bima sengaja menutup tempat rentalannya lebih awal karena dia sudah menduga akan hal ini. Dan benar, Indy memilih meluapkan kekecewaannya di rumah.
"Kalian tenang, jangan buat dia semakin kacau. Indy butuh waktu untuk sendiri. Ini persoalan antara aku dan Indy. Kalian jangan khawatir."
Kata-kata itu berhasil membuat Raka dan Rini mundur dari pintu yang sedari tadi mereka gedor tanpa henti.
Bima memilih membiarkan anak perempuannya bebas meluapkan emosi sampai amarah dalam dirinya telah habis. Di saat itulah Bima baru bisa mengajak Indy mengobrol.
Anak itu akan jauh lebih tenang dan bisa menerima nasehat orang lain saat emosinya telah mereda.
#seperti sampah
#my husband is a Gay
mendukung terimakasih
Yey season 2 !!