"Ini uang, aku menginginkan suamimu!" ucap Nadine serius.
"Apa???" Dinda tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Patah hati dari penghianatan sang kekasih yang berselingkuh dengan adiknya sendiri membawa kisah tersendiri seorang Nadine yang semula angkuh dan sombong namun berubah lebih baik hanya karena terpesona pada bodyguardnya sendiri.
Kisah gadis kaya raya yang terlalu mudah jatuh cinta kembali pada seorang pengawal pribadinya, membawa ia pada kenyataan lain yang tidak ia ketahui selama ini.
Farhan Pradhipta merupakan sosok yang mampu membuat Nadine kembali merasa hidup disaat yang tepat, namun siapa yang menyangka bahwa lelaki ini tidaklah seperti yang Nadine kira.
Penasaran?
Lanjut ke Bab ya......
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wheena the pooh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Aktivitas ciuman dua insan di bawah sinar bulan separuh itu terhenti setelah menyadari bahwa ponsel Farhan berdering beberapa kali.
Pria itu melepaskan bibir Nadine dengan napas masih kempang kempis, ia mengelap sudut bibir gadis itu dari sisa jejaknya, lama mereka saling memandang.
Farhan mengira Nadine akan marah, namun diluar dugaan ia malah mendapat senyuman manis dan tatapan yang dalam dari gadis tersebut.
"Maafkan aku nona, aku aku aku tidak bermaksud....."
Nadine terkekeh, ia tidak menjawab melainkan memberi pria itu sekali lagi sebuah kecupan di bibirnya, jari lentik Nadine mengusap lembut wajah pria itu.
"Aku sadar dengan siapa aku mendaratkan sebuah ciuman, dan itu kau Farhan"
Farhan masih diam menatap dalam sang nona muda di hadapannya tanpa memberi jarak.
"Aku menyukaimu Farhan, aku jatuh cinta padamu"
Farhan masih diam.
"Aku tidak sedang mabuk ataupun sedang stress, aku mengatakan ini dengan hatiku. Aku jatuh cinta padamu Farhan, aku tidak peduli kau seorang bodyguard sekalipun," ucap Nadine serius, ia meraih dan menggenggam tangan pria itu dengan erat.
Karena tidak mendapatkan sebuah tanggapan apalagi jawaban, membuat Nadine terkekeh melihat raut Farhan yang berubah sejak tadi.
"Hei jangan tegang, sebaiknya angkat dulu teleponnya siapa tahu penting"
Lamunan Farhan pun terputus, ia baru menyadari ponselnya tidak mau berhenti berdering sejak tadi.
Ia merogoh sakunya dan melihat siapa yang sedang menghubungi, segera ia melepaskan tangan dari Nadine dan berdiri menjauh agar ia bisa leluasa menerima telepon.
Nadine menatap Farhan dengan wajah bahagia, entah kenapa moodnya membaik, bekas tamparan di pipinya sudah tidak ada artinya lagi, terlebih kejadian di pesta pertunangan Nadira sungguh Nadine tidak memikirkan apapun tentang itu.
Nadine ikut berdiri, ia berjalan mendekat pada pria yang baru saja menutup teleponnya yang berdiri di posisi membelakangi Nadine, tanpa ragu gadis itu memeluk Farhan dari belakang.
Farhan cukup terkejut, namun ia segera berbalik arah menghadap nona muda majikannya itu.
"Nona maafkan aku, sepertinya aku harus mengantarkan mu pulang sekarang aku harus pergi ada urusan penting"
Nadine sebenarnya belum ingin pulang, ia masih ingin menikmati waktu berdua di pantai itu. Wajahnya tampak murung.
"Nona maafkan aku, ini sangat penting bisakah kita pulang sekarang?"
"Baiklah...."
Jawab Nadine pelan, mereka pun pulang.
Berjalan memasuki gedung apartemen, Nadine tidak melepas genggaman tangannya pada tangan Farhan, tidak ada obrolan yang berarti selama perjalanan pulang.
"Pulanglah, aku bisa masuk sendiri"
Farhan mengangguk, namun Nadine belum juga melepaskan tangannya.
"Oke baiklah, hati-hati di jalan"
Lalu perempuan itu mengecup lama bibir pria itu lagi dan berkata, "Aku mencintaimu Farhan."
Farhan tampak menghela napas panjang.
"Aku akan pulang sekarang"
Nadine mengangguk, ia pun melepas Farhan dengan enggan.
****
Gadis cantik, kaya raya nan manja bernama Nadine terbangun dari tidurnya karena sebuah suara Rose yang mengoceh sejak tadi.
Ia menggeliat dan menguap kecil, matanya terbuka menampilkan senyum merekah dipagi nan mendung namun belum turun hujan itu.
"Apa kau bermimpi indah? kenapa wajahmu bahagia padahal baru bangun?"
"Rose, aku mencintainya kau tahu itu," jawab Nadine enteng, membuat Rose mengernyitkan dahinya.
"Cinta apa Nadine? ini masih pagi, berhenti berhayal ayo bangun dan mandi kau tidak lupa ke kantor pagi ini kan? juga jangan lupa kau baru saja berulah semalam, kau pasti akan ditemui banyak pihak hari ini terutama Nadira"
"Oh sayang, aku tidak peduli itu semua... kau tahu Rose, semalam Farhan menciumku, oh tidak maksudku kami berciuman"
Nadine berkata dengan semangat pada Rose yang ia pegang kedua lengannya, gadis yang hanya memakai pakaian tidur nan seksi itu mencium kedua pipi Rose dengan raut bahagia.
"Kau tahu itu artinya dia menjawab perasaanku lewat tindakan bukan kata-kata"
"Apa? apa katamu? kalian berciuman? haaaaahhhh?"
Rose hampir menjatuhkan rahangnya akan hal itu, Nadine mengangguk dengan cepat.
"Ya Tuhan, Nadine apa yang telah kau lakukan? ini benar-benar tidak boleh terjadi, Nadine aku belum sempat bicara padamu soal kehidupan pribadi Farhan"
"Apa maksudmu?"
"Ya Tuhan, aku harus mulai darimana....ayo kita duduk dulu," ajak Rose pada Nadine dan menuntun gadis itu kembali menuju ranjang mereka duduk di tepinya.
"Ada apa Rose?"
"Nadine katakan jika kau bercanda, kau bercanda tentang ciuman itu bukan? ayolah jangan seperti ini, kau tidak boleh melanjutkan perasaanmu pada pria itu"
"Tunggu dulu, apa maksudmu Rose? apa kau cemburu? apa kau juga menginginkan Farhan?"
"Bukan itu bodoh, dengarkan aku baik-baik Nadine, Farhan tidak sedang sendiri, pria itu bukan pria lajang seperti dalam bayangan mu"
"Rose, jangan berbelit aku tidak mengerti"
"Oke baiklah, pasang kupingmu dengan baik"
Menarik napas dalam, Rose menggenggam kedua tangan Nadine lalu berkata.
"Farhan sudah berkeluarga Nadine, kau tidak boleh jatuh cinta padanya, maksudku... pria itu sudah beristri, bahkan sudah memiliki seorang anak perempuan, Farhan sudah menikah"
"Rose jangan bercanda"
"Aku serius, aku ulangi bahwa Farhan sudah menikah dan memiliki anak"
mampir juga ya di karyaku jika berkenan
semangat terus thor...