Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jujur Atau Kau Ku Habisi...!"
🕊
Vivi tersenyum datar, saat melihat senyum Bian yang mengoda. Wanita cantik itu hanya diam dan menutup tubuh dengan handuk yang Bian bawakan untuknya.
"Ap_apa maumu?" tanyanya gemetaran.
"Hmmmmmm..... Apa perlu aku menjawabnya?" Bian balik bertanya.
"Haaah.." Vivi memundurkan langkahnya dan Bian pun mengikuti.
Hingga tubuh Vivi bersandar pada tembok kamar mandi, kakinya tak lagi bisa mundur teratur. Hal itu tentu membuat Bian tertawa pelan, Vivi pun semakin gemetaran.
"Ja_jangan di sini!" ucap Vivi lirih dengan menahan malu.
"Lalu dimana?" Bian mengedipkan matanya dan membuat Vivi semakin salah tingkah.
Wanita cantik itu pun terdiam, tak ada jawaban atas pertanyaan yang Bian berikan.
Pria tampan itu mendekatkan wajahnya tepat di wajah Vivi, bahkan sesekali Bian meniup pelan wajah Vivi yang terlihat ketakutan.
"Mengerikan...," gumam Vivi dalam hati.
Sementara Bian kian bermain-main dengan wajahnya.
"Hemmmmm.. Mampus kau pagi ini," gumam Bian pula lirih dalam hatinya.
Eeeeemmmmmm.
Suara yang Vivi keluarkan dari bibirnya saat Bian benar-benar mendaratkan kecupan.
"Bi...!" panggilnya lirih.
Namun Bian tak perduli, kecupan demi kecupan tetap dirinya daratkan, Bian seolah melampiaskan hasratnya yang sejak tadi malam sudah membara.
Hmmmmmmmmmmmmmmm....
Vivi bergumam panjang, nafasnya tak beraturan, serangan demi serangan yang Bian daratkan membuatnya terdiam tanpa kata.
"Bi..!" panggilanya lagi.
"Apa...?" Bian menatap tajam wajah sang istri.
"Aku lapar, sejak kemarin belum makan," jelasnya gemetaran.
Bian tertawa terbahak-terbahak mendengar ucapan Vivi padanya. Pria tampan itu segera memapah tubuh sang istri dan membawanya keluar dari kamar mandi.
"Heeeeey.. Kau mau apa...?!!!" Teriak Vivi saat Bian memapah tubuh langsingnya yang mulai membuncit.
"Katamu jangan di sini," goda Bian.
"Haaaaah.. Tapi aku lapar Bian,"
"Itu kau, bukan aku. Aku sedang ingin tidur denganmu pagi ini, tambah Bian lagi.
Vivi tertegun, wanita cantik itu tersenyum simpul seraya menggigit kecil bibir merahnya. Entah harus apa agar Bian mengurungkan niatnya pagi ini.
"Habislah aku..!" gumam si cantik di dalam hati.
Bian menyandarkan tubuh Vivi di sofa, dan di tatapnya dalam-dalam sang istri yang bersembunyi di balik mata terpejam. Pasrah hanya itu yang dapat Vivi lakukan.
"Jujur atau kau mau ku habisi pagi ini?" bisik Bian pelan.
"Jujur dalam hal apa dan apa yang harus ku jujurkan?" tanya Vivi tanpa sedikit pun menatap wajah sang suami.
Mendengar itu, Bian menarik tubuh Vivi dan membuat wajah si cantik untuk menatap wajahnya.
"Katakan padaku, rahasia apa yang kau sembunyikan?" tanya Bian lagi.
"Ra_rahasia, apa?" Vivi gemetaran.
Di kondisi Bian saat ini dengan raut wajah yang terlihat emosi, tak mungkin bagi Vivi untuk mengatakan, apa yang telah dirinya dan sang mama sembunyikan.
"Jangan sok polos, Vi. Katakan apa yang kau sembunyikan...! Atau ku habisi kau pagi ini," ancamnya tak main-main.
"Ha_habisi saja kalau kau tega!" seru Vivi dengan pilihanya.
Karena mengatakan apa yang terjadi di masa lalu, belum siap Vivi buka. Dirinya yakin, jika Bian tau, pria tampan itu tak akan pernah memberi maaf sedikit pun.
Bian kesal bukan main, mendengar jawaban yang Vivi lontarkan. Secepat kilat dirinya membawa Vivi dalam dakapanya dan melakukan apa pun yang dirinya suka. Pagi itu Bian benar-benar membuat Vivi tak berdaya dan diam tanpa kata, bahkan serangan demi serangan yang Bian lakukan membuatnya susah bernafas.
Lemas. Itu yang terjadi kepada Vivi saat ini, dirinya tak menyangka, Bian lebih gila dari yang dirinya duga. Badanya saat ini terasa sakit di setiap sendi, bahkan Vivi merasa tulangnya remuk dan patah-patah. Lelah, dirinya benar-benar lelah.
Bian melahap semua yang Vivi punya tanpa sisa, bahkan di akhir permainanya pria tampan itu membisikan hal yang tak pernah Vivi duga.
"Kau lebih indah dari bayanganku selama ini, dan kau resmi menjadi miliku mulai kini. Aku bahkan banyak meninggalkan cap kepemilikan agar kau sadar, KAU HANYA MILIKU....!" bisik Bian tanpa ragu.
Pria tampan itu segera enyah dari hadapan Vivi dan segera masuk kedalam kamar mandi. Sementara Vivi masih meringkuk dan memeluk erat tubuhnya sendiri. Karena pagi ini Bian mengambil paksa haknya tanpa aba-aba, bahkan tak memberi ampun sedikit pun. Bian membuat tanda merah dimanapun dirinya suka. Tentu membuat Vivi menggelengkan kepala saat melihatnya.
"Dasar me sum......!" umpat Vivi dalam hati.
__
15 menit kemudian Bian keluar dari ruang membersihkan tubuh alias kamar mandi. Dengan raut wajah yang lebih segar dari sebelumnya. Bahkan nampak senyun puas dari bibir indah pria tampan tersebut.
"Bagunlah, bersihkan tubuhmu...! Atau aku saja yang memandikanmu," serunya dengan tatapan yang siap membunuh.
"Aaahhhhh, tidak, tidak... Aku bisa mandi sendiri, terima kasih atas tawaranmu," jawabnya lirih dan segera masuk kedalam kamar mandi lagi. "Gila... Dalam waktu satu jam aku sudah harus mandi dua kali," omel Vivi dalam hati.
Wanita cantik itu memandang tubuhnya yang penuh tanda merah, seraya sesekali menggigit bibir tipisnya.
"Dia benar-benar mengerikan," ucapnya lagi.
Sementara Bian kini tengah duduk di sofa, dengan tangan yang melingkar di area perutnya. Mata pria tampan itu terpejam, lalu membayangkan betapa gila dirinya tadi. Tak bisa di pungkiri, tubuh indah Vivi benar-benar membuat gila setiap pria yang melihatnya.
"Sial... Kenapa Rendara harus merenggut sesuatu yang seharusnya menjadi miliku." Gumam Bian lirih.
Wajah sahabat sekaligus pengkhianat yang telah merenggut paksa, kehormatan wanita yang sangat di cintainya, kini terbayang kembali di benak Bian.
"Awas kalau kita bertemu, akan ku patahkan burungmu," omelnya lagi.
Pria tampan itu meremas-remas tanganya sendiri, kala mengigat rasa sakit yang begitu menyiksa batinya. Belum lagi, rasa penasaran atas rahasia yang di sembunyikan oleh Vivi membuat Bian kian kesal.
"Hiiiiiihh sial.... Ada apa ini?" tanyanya lagi.
Bian kembali merenung seraya sesekali membuang nafas kasar. Sisa kerja kerasnya saat meminta haknya kepada Vivi tadi, membuat Bian sedikit lelah.
🕊
"Aaahhh..!"
Suara itu terdengar dari kamar mandi dan siapa lagi kalau bukan suara Vivi. Bian yang terkejut segera mendobrak pintu kamar mandi
Daaann...............!
.
.
.
.
🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨