Bukan sebuah keberuntungan bagi Linnie di kejar seorang pria tampan yang bergelar seorang Casanova. Meski pria itu terkenal kaya raya dan memiliki kuasa namun Linnie sungguh tidak tertarik dengan pria itu.
Linnie sendiri bekerja di salah satu bar milik Gavin Marva Liam. Seorang pria berusia dua puluh sembilan tahun namun sudah banyak meniduri banyak wanita di negara nya.
Tidak mudah bagi Gavin untuk menaklukkan hati Linnie. Gadis itu terlalu dingin membuat Gavin geram sendiri. Meski pun begitu, Gavin sangat sabar untuk membuat istri nya jatuh cinta pada nya.
Penasaran?? yuk....baca langsung😁
Jangan lupa Rate, Like, Vote and Comment 👍👍
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
Fb:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.Tidurlah
"Linnie, di mana suami mu?" tanya Antonio ketika tidak melihat anak nya di meja makan. .
"Sedang mandi Dad, tapi sudah hampir satu jam belum keluar juga." jawab Linnie dengan polos nya.
"Bajingan kecil itu masih saja!" ucap Antonio kesal. "Cepat makan, jangan hiraukan suami gila mu itu." kata Antonio.
"Iya kak, kak Gavin udah kenyang jadi jangan pikirkan pria nakal itu..!" sambung Elyn.
"Siapa yang kau sebut nakal?" tanya Gavin yang sedang berjalan menuju meja makan.
"A-anu kak, kucing teman ku sangat nakal." kila Elyn.
Antonio melirik tajam ke arah Gavin, namun anak nya itu bersikap biasa saja seperti tanpa dosa. "Kapan kalian akan memberikan Daddy cucu?" tanya Antonio membuat Linnie langsung tersedak makanan nya begitu juga dengan Gavin.
Antonio kembali melirik Elyn saling melempar senyuman nya, "Tidak bisakah Daddy diam saat makan?" kata Gavin yang geram.
"Apa salah nya bertanya? Linnie saja tidak marah, kenapa kau yang terlihat kesal?" ujar Antonio membuat Gavin merasa malu di depan Linnie.
"Kak Linnie dan kak Gavin butuh liburan Dad. Sebaiknya Daddy menyiapkan tempat untuk liburan mereka." timpal Elyn memberi ide pada Daddy nya.
Antonio langsung tersenyum, "Benar kata mu, bagaimana Linnie, apa kau mau pergi liburan? anggap saja bulan madu yang tertunda!"
lagi-lagi, ucapan Antonio membuat Linnie tersedak, Gavin yang panik kembali mengambil air minum untuk istri nya. "Tutup telinga mu, Elym dan Daddy kalau ngomong memang suka ngasal!" ujar Gavin yang terlihat sangat kesal. Lebih kesal lagi Antonio yang melihat Gavin tidak bisa mengimbangi permainan nya.
Selesai makan malam,Antonio langsung mengajak Gavin bicara di ruang kerja milik nya. Antonio menjitak kepala Gavin yang sangat bodoh itu. Gavin yang kesakitan langsung mengusap kepala nya, "Kenapa menyakiti kepala yang tidak berdosa ini Dad?" tanya Gavin tidak mengerti.
"Dasar bodoh!" umpat Antonio "Daddy dan adik mu berusaha mendekatkan kau dengan istri mu tapi kau yang bodoh ini tidak paham juga! nasi yang kau makan jadi apa Gavin?" Antonio mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Tapi kan, aku malu pada Linnie Dad!" keluh Gavin lagi-lagi mendapatkan jitakan di kepala nya.
"Dad, kenapa suka sekali menjitak kepala ku?" tanya Gavin kesal.
"Biar otak mu yang penuh nafsu itu hilang! pemikiran mu setiap hari hanya berkembang biak terus!" kata Antonio.
Gavin tidak memperdulikan omongan Daddy nya, pria itu memutuskan untuk kembali ke kamar karena merass penasaran apa yang sedang di lakukan oleh istri nya.
Sedangkan Linnie hanya duduk di sofa kamar milik suami nya. Ingin tidur juga tidak berani karena sejak makan malam Gavin belum kembali dari ruangan kerja Daddy nya.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Gavin yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Linnie bingung ingin menjawab apa, "Apa ada bantal? aku akan tidur di sofa ini." ujar Linnie membuat Gavin terdiam sejenak.
"Tidur lah di tempat tidur, biar aku yang tidur di sofa." kata Gavin mengalah.
"Tidak usah, itu tempat tidur mu. Aku tidur di sini saja." tolak Linnie merasa tidak enak hati.
"Jangan membantah, kau mau jalan sendiri atau ku gendong?" Gavin mengeluarkan ancaman nya membuat Linnie langsung berlari kecil menuju tempat tidur.
Malam semakin larut, semua orang sudah terlelap dalam tidur masing-masing. Di tengah malam Linnie terbangun dan mendapati selimut yang di gunakan suami nya jatuh ke bawah.
Gadis ini memandang wajah tampan milik suami nya, "Sebenarnya kau laki-laki yang baik, hanya saja kau salah langkah." batin Linnie sambil menyelimuti suami nya. Linnie kembali ke tempat tidur, melanjutkan tidur yang sempat terbangun.
Malam berganti pagi, seperti biasa Antonio lebih dulu berada di meja makan dari pada anak-anak nya. Meski pun terlihat sangat santai, namun setiap pagi Antonio selalu membaca laporan yang di kirimkan oleh Asisten pribadi nya.
Semua orang sudah duduk di meja makan, Linnie masih malu-malu untuk menyapa mertua nya itu. "Bagaimana Linnie, apa tidur mu nyenyak tadi malam?" tanya Antonio lalu menyeruput teh tawar nya.
Linnie tersenyum tipis, lalu menjawab, "Nyenyak Dad,...!"
"Apa bajingan itu menganggu mu?" tanya Antonio lagi.
"Berhenti memanggil ku bajingan Dad," ujar Gavin tidak suka.
"Di katain gak terima, tapi kelakuan nya memang seperti itu." ucap Elyn sambil menguyah roti nya.
"Diam kau bajingan kecil!" bentak Gavin.
Linnie pusing sendiri melihat keluarga ini, ingin ikut bercanda juga rasa nya sangat sungkan karena belum terbiasa. Sarapan selesai, ketika Gavin dan Linnie ingin keluar dari rumah, tiba-tiba Veronika keluar dari dalam mobil nya.
"Mau apa kau kemari?" tanya Gavin tidak suka.
"Aku membawakan sarapan untuk mu dan Elyn juga uncle." Kata Veronika lalu menoleh dengan sinis ke arah Linnie. "Kenapa dia ada di sini?" tanya nya tidak suka.
"Dia istri ku, sudah seharusnya dia di sini...!" jawab Gavin dengan malas nya. "Pergilah, bawa makanan mu karena kami semua sudah sarapan!" usir Gavin lalu menarik tangan istri nya masuk ke dalam mobil.
Veronika berusaha mengejar mobil Gavin hingga terjatuh, perempuan itu mengumpat habis-habisan. Antonio yang melihat hal itu hanya bisa menatap dengan sinis dari balik jendela kaca.
Seperti biasa, Linnie turun di halte. Gavin sebenarnya merasa tidak tega namun mau bagaimana lagi semua kemauan Linnie sendiri.
"Hari ini ada meeting lagi dengan Devan." ujar Jeff mengingatkan.
"Kau saja yang pergi, jangan mengajak aku dan Linnie....!" seru Gavin dengan sangat ketus.
"Kenapa? apa kau cemburu?" tanya Jeff yang memancing emosi Gavin.
Linnie hanya bisa tersenyum cengir melihat ke dua pria yang ada di depan nya itu, "Jangan dengarkan Jeff, dia sedang mabuk!" ujar Gavin kesal.
"Aku sadar Linnie, aku juga sehat!" sahut Jeff menyakinkan Linnie.
Linnie menghembuskan nafas kasar, "Terserah kalian saja!" ucap nya bingung.
Seharian Gavin berada di dalam ruangan, bahkan untuk makan siang sekali pun Gavin memasan banyak makanan untuk istri nya. Seharian juga Gavin hanya bicara seperlunya hingga membuat Linnie marasa tidak nyaman.
"Ada apa dengan mu?" tanya Linnie.
"Memang nya aku kenapa?" tanya Gavin balik.
"Sejak pagi wajah mu di tekuk, dan kau diam saja. Apa kau punya masalah?" tanya Linnie mencoba mencairkan suasana.
"Masalah ku ada apa diri mu!" seru Gavin.
Linnie mengerutkan ke dua alis nya bingung, "Ada pada ku? memang nya aku punya salah apa?" tanya Linnie bingung.
Gavin menghembuskan nafas panjang dengan pelan, "Cepat lah mencintai ku Linnie, lama-lama aku bisa gila karena kau tidak membalas cinta ku." kata Gavin langsung membukam mulur Linnie. Gadis itu langsung fokus pada pekerjaan nya tanpa menjawab ucapan suami nya.