Halsey Diana, itu namaku sebenarnya aku cukup dini untuk menikah karena aku baru saja beranjak usia 17 tahun dan aku juga masih duduk dibangku SMA kelas 3 semester akhir. Bukan, bukan aku bukan hamil duluan seperti kebanyakan dari pernikahan dini.
Aku menikah dengan seorang pria 15 tahun lebih tua dariku, aku ingatkan kembali aku menikah bukan karena hamil atau jadi simpanan om-om namun ini karena perjodohan orang tuaku.
Tapi, mampuhkan aku bertahan didalam pernikahan dengan pria 32 tahun itu. Aku atau dia yang akan gagal mempertahankan pernikahan ini atau pernikahan ini akan berhasil sampai aku menua dengannya.
Ayo lanjutkan membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon safira a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Aku kembali lagi ke Bandung, namun saatnya berbeda tidak ada sambutan yang menyenangkan tetapi terganti dengan suasana yang amat sedih. Semua keluarga berkumpul dan menangis, aku melihat ayah mas Irwan yang sedang menyembunyikan tangisannya.
"Yah, sabar" ucapku sambil mengusap pundak ayah mertuaku. "Saya ngerasa kehilangan banget sama nenek padahal nenek itu ibu mertua saya" ucap mertuaku itu. Nenek sudah di makamkan 4 jam yang lalu pas aku dan mas Irwan sampai nenek sedang di mandikan.
Sebenernya diantara semua keluarga aku yakin yang paling kehilangan dan terpukul atas berpulangnya nenek itu mas Irwan dan Anka karena nenek pernah cerita kedua laki-laki itu diurus oleh nenek. Yah mas Irwan juga pernah cerita jika semasa dia kanak-kanak nenek lah yang menjaganya sedangkan ayah dan ibunya berkerja.
Anka sendiri tertidur setelah dia menangis sangat histeris sedangkan mas Irwan entah dimana dia bilang mau menyendiri dulu.
Aku berpamitan untuk ke kamar Anka melihat keadaan anak itu, pas aku masuk anak itu sudah bangun dia masih terdiam terlihat jika ia sangat sedih.
"Anka" panggilku saat anak itu hanya menatap kosong kearah langit-langit kamar ini. Anka berpaling menatapku aku tersenyum dan mendekatinya. "Anka kenapa ?" Tanyaku sambil membelai pipinya. "Anka sedih kak, kalau Oma pergi siapa yang bakalan ngerawat angka sampai dewasa" pas dia bilang gitu dia kembali nangis lagi aku ngerti ucapannya pasti nyakitin banget buat dia.
"Anka kan masih ada kakak dan Daddy jadi Anka bakalan di rawat sama kakak dan Daddy" aku udah memikirkan semuanya konsekuensi dari apa yang aku bicarakan pada anak kecil itu. "Anka takut kalau nanti kakak ninggalin Anka juga kaya kakak ninggalin Daddy" ucapnya sendu, aku terdiam tidak tau apa yang harus aku bicarakan lagi pada anak ini. Di usianya yang baru 6 tahun Anka termasuk anak yang pintar dan pandai mengamati lingkungan sekitar, dia juga mudah beradaptasi dan tentunya anak yang baik, penurut yang membuatnya tampak istimewa diantara anak diusianya.
"Anka jangan pikirin itu dulu yah, Anka makan dulu tadikan nggak jadi makannya" aku menunjukan nampan berisikan nasi beserta lauk makannya. Anak itu mengangguk aku menyuapinya.
*****
Saat aku pergi ke dapur untuk menaruh bekas makan Anka aku bertemu dengan mas Irwan yang sedang mengambil air putih. "Mas" keputusanku sudah bulat yang aku pikirkan dari kemarin harus aku tuntaskan sekarang.
Mas Irwan hanya menatapku "ada yang ingin aku bicarakan" dia terdiam menunjuk kamar yang biasa kami tempati di rumah ini. Aku ikut bersama mas Irwan membuntuti dia sampai kamar.
"Apa ?" Suara berat dan terdengar dingin itu sudah lama tidak aku dengar, aku masih terdiam dihadapannya. Aku menatap wajah mas Irwan dia kelihatan pucat banget kayanya dia sering bergadang.
"Aku mau bicarakan masalah kita" aku mengeluarkan suaraku, aku juga tidak ingin lama-lama terdiam. "Hmm iya kita harus membicarakan itu, apa harus kita cerai ?" Aku mematung, seakan-akan dunia berhenti dan hening seketika hanya ada ucapan mas Irwan yang seakan berulang kali ucapkan terlebih di akhir kalimatnya.
Cerai semudah itu yah ?. "Saya sadar jika pernikahan ini tidak bisa membuat kamu bahagia malah saya selalu membuat kamu tersiksa" mas Irwan ngucapin kalimat itu sambil menunduk dengan intonasi yang sedikit sendu. "Saya juga salah karena telah merebut masa muda kamu" pria itu terus melanjutkan kalimatnya dengan terpotong-potong aku sendiri masih membeku tidak tau harus apa karena dunia ku kembali hancur sebelum diperbaiki.
"Saya juga membuat kamu terpisahkan dengan cinta kamu dan merebut kamu dari kebahagian kamu" entah kenapa aku merasa suaranya semakin terdengar sendu dan sedih ada juga kecewa yang menuturi.
"Cukup mas !" Sebelum mas Irwan berhasil mengeluarkan suaranya aku terlebih dahulu menghentikannya, pria itu mengangkat kepalanya menatap aku yang berdiri 2 meter dari tempat pria itu terduduk.
"Aku nggak tau kalau mas akan membahas sejauh itu, aku nggak jadi bahasnya sekarang masalah kita. Nanti aja kalau udah balik ke Jakarta" mood ku hancur dan kepercayaan diri yang aku bangun beberapa hari ini runtuh ketika mendengar pria itu bilang 'cerai' rasanya menyakitkan sekali.
Jika dulu aku memang menikah dengan mas Irwan karena keterpaksaan aku, tapi demi semua yang ada dimuka bumi ini aku sama sekali nggak pernah membayangkan jika pernikahan aku akan gagal. Cukup bagiku dulu semasa pacaran aku tidak pernah langgeng tidak dengan dunia pernikahan ku juga.
Aku keluar dari kamar mas Irwan dengan lusuh tanpa mendengar panggilan mas Irwan aku pergi ke kamar Anka yang tengah menatap jendela yang terkena rintik-rintik girimis yang sebentar lagi akan turun hujan. Aku memeluk tubuh Anka "maafkan kakak" bisik ku di telinga anak itu.
___________________________________________
[Jum'at, 24 Desember 2021]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
Terima kasih telah membaca