Kekuatan besar merupakan berkah sekaligus tanggung jawab yang begitu besar, namun apakah dengan membantu mereka kau akan mendapatkan kembali kebaikan yang telah kau berikan? "Hahaha, naif sekali." Kalau kau masih berfikir demikian maka kematian yang akan menantimu di depan sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fisher, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Baru
Tepat sebelum matahari tenggelam aku pergi kesalah satu penjual lahan yang ada di kerajaan ini.
Kusempatan terlebih dahulu membeli beberapa bekal makanan untuk kami santap malam ini.
Sebelumnya aku juga telah menanyakan pada pedagang makanan yang mempunyai informasi lahan yang dijual, dan mengatakan padaku untuk menemui Baron Wolcott untuk dapat membelinya.
*****
Rumah Baron
Kini aku telah berdua di ruang tamu dari Baron Wolcott, aku menanyakan padanya keperluan ku untuk membeli lahan yang berukuran sedang.
Sepertinya ia berfikir sejenak, dan menawarkan padaku untuk membeli lahan yang berada dekat pegunungan.
Dan juga ia menambahkan bahwa disana merupakan tempat yang cukup sejuk dengan tanah yang subur, dan itu hanya dihargai sebesar 20 koin platinum.
Meski ini terbilang cukup mahal, namun aku tak punya pilihan selain menerimanya, setelah membayar dengan cukup aku diberi lembar kepemilikan tanah.
Kini sisa koin yang kumiliki berkisar 29 koin platinum dan beberapa koin emas dan setumpuk koin tembaga.
Aku harus mulai bisa mengatur keuangan milik ku, mengingat ini bukan hanya milikku seorang.
Setelah meninggalkan rumah Baron Wolcott, perjalanan menuju tempat yang dimaksud memiliki jarak sekitar dua puluh mil.
Ini akan membuat para pengikutku akan merasa kelelahan bila berjalan, aku berencana menggunakan sihir teleport miliku setelah meninggalkan gerbang kota.
Setelah meninggalkan gerbang kota dan cukup lama berjalan, kini aku menyuruh pada mereka untuk melingkar dan saling berpegangan.
Sebelumnya mereka sempat bertanya padaku apa yang sedang mereka lakukan dan aku hanya menjawab tutup mata kalian dan jangan membukanya sebelum kuperintahkan.
Karena aku sudah mengetahui koordinat dari tempat yang dimaksud oleh Baron tadi yang menunjukkan melalui peta, itu memudahkan ku menggunakan sihir teleport.
Setelah memastikan setiap orang menutup mata mereka,
aku segera merapalkan mantra.
Engkau yang menuntun kami disepanjang perjalanan, dengan ini izinkan aku meminta beratmu menuju tempat yang kucari.
[Teleportation]
Terlihat rangkaian sihir menyerupai stigma muncul di tengah yang membawa kami sampai ditujuan.
Setelah sampai yang kulihat disini hanyalah sebuah lahan kosong dan diapit oleh pegunungan dan laut pantai didepannya.
Apakah benar ini tempatnya? tapi kulihat sepanduk tanah sedang di jual tertancap disini.
"Sial! sepertinya aku telah ditipu." Gumamku.
"Tuan muda apakah kita sudah sampai?" Tanya salah seorang dari mereka.
Sepertinya aku lupa menyuruh mereka untuk membuka mata.
"Ya kita sudah sampai, kalian boleh membuka mata sekarang."
Mereka juga tampak keheranan dengan tempat yang tandus ini sama sepertiku.
"Tuan apakah ini tempatnya, sepertinya tuan telah ditipu oleh Baron, mengenai tempat ini apakah akan anda kembalikan." Ucap Weth.
"Yah aku juga tak tau sebelumnya akan seperti ini tempatnya, tapi aku juga merasa kalau aku mengembalikannya Baron Wolcott pasti akan menolak nya mentah-mentah, jadi mau tidak mau aku harus menerimanya, ya lagian tempat ini juga tak terlalu buruk dan sepertinya aku melihat di bukit itu juga ditumbuhi pohon yang cukup lebat, dan mungkin akan berguna untuk membangun sebuah rumah."
Malam mulai semakin larut dan kurasa mereka akan kedinginan
dengan pakaian mereka yang terlalu tipis, sebaiknya aku segera membuat barrier untuk menghalangi udara dingin menusuk tubuh mereka.
Engkau yang menjaga kami dari semua gangguan, dengan ini aku memintamu sebuah perlindungan.
[Barrier]
Mulai muncul semacam dinding mengintari kami yang menyerupai sarang lebah.
Meski mereka sempat terkejut melihatnya aku segera menyuruh mereka mengumpulkan beberapa kayu bakar sebagai penghangat tubuh sekaligus penerangan kami.
Setelah api unggun telah menyala aku mengeluarkan perbekalan dari penyimpananku yang telah kusiapkan tadi dan meminta para wanita untuk memanaskannya terlebih dahulu.
Setelah cukup memanaskannya mereka lalu membagikan makanan tersebut secara merata.
Malam ini ditutup dengan nyanyian yang dibawakan oleh wanita bersyukur atas nikmat yang telah mereka nikmati saat ini, mendengar nyanyian dari mereka membuatku sedikit rileks dan tertidur.
Di pagi buta aku menjadi yang pertama bangun dan aku berjalan menyurvei daerah ini sebelum matahari terbit.
Hal yang kutemui sejauh ini cukup baik di daerah bukit seperti yang kulihat semalam terdapat pohon yang cukup dan juga hewan liar disini.
Sedangkan untuk lahan yang telah kubeli tak akan cocok sebagai perkebunan dan menurutku akan lebih baik menggunakannya sebagai daerah perumahan nantinya.
Dan ini juga menguntungkan karena tepat didepannya berhadapan langsung dengan laut, yang mana mereka akan mampu mendapatkan cukup uang sebagai nelayan.
Sementara aku akan mulai dengan kesibukanku sendiri membuat kaca.
Kurasa aku sudah cukup menyurvei daerah ini, sebaiknya aku kembali pada mereka dan melihat apakah mereka sudah bangun.
"Oh tuan muda akhirnya anda kembali, saya kira anda akan meninggalkan kami disini." Ucap seorang wanita.
"Mana mungkin aku melakukan itu, aku tadi hanya menyurvei daerah ini saja, dan sepertinya aku telah memutuskan kalian untuk melakukan beberapa pekerjaan dan membagikannya menjadi beberapa kelompok, yang pertama untuk pria akan ikut denganku untuk menebang kayu di bukit itu, sementara wanita akan bertugas untuk memasak makanan, apa kalian setuju." Ucapku.
Tanpa berfikir lama mereka menyetujui hal tersebut dan sebelum aku pergi menuju bukit aku memberi beberapa peralatan memasak yang lengkap dengan bahan makan kepada mereka.
Di hutan mereka dibantu bersama dengan para Golem yang kubuat membuat pekerjaan ini cepat selesai.
Setelah dirasa kayu yang dikumpulkan telah cukup kami mulai turun dan mulai membangun sebuah rumah yang sederhana namun kokoh.
Aku menyuruh mereka untuk membuat rumah dengan jumlah yang pas untuk setiap orang, pada awalnya aku aku menyuruh untuk satu rumah disi oleh pria dan wanita.
Namun para wanita menolak hal tersebut, kemudian aku mengusulkan agar membangun
rumah secara terpisah.
Tapi hal tersebut masih saja ditolak oleh para wanita.
"Jadi kalian maunya rumah yang seperti apa?" Tanya para lelaki yang tampak kesal berdebat dengan wanita.
"Kami ingin satu rumah dengan Tuan muda." Usul perwakilan dari wanita.
Sejauh yang kutahu yang pria yang tampak kesal tersebut bernama Lukas dan untuk wanita yang terlihat percaya diri itu sendiri bernama Alice.
"Ha? Kenapa harus seperti itu kalau kalian tak ingin ditempatkan bersama kami, maka tuan muda juga akan tinggal bersama kami." Lukas.
"Tak bisa Tuan muda harus tinggal bersama kami, supaya kami dapat merawatnya dengan baik." Tegas Alice.
"Em, kurasa aku punya sebuah ide bila kalian ingin seperti itu, tanpa harus kalian berdebat." Sela ku.
Aku mulai menggambar arsitektur perumahan gaya China yang akan memungkinkan kami untuk tinggal dalam satu komplek perumahan tanpa harus berjauhan.
Karena penggunaan halaman terbuka adalah fitur umum dalam berbagai jenis arsitektur Cina. Ini terlihat jelas dalam Siheyuan, yang terdiri dari ruang kosong dikelilingi oleh bangunan terhubung dengan satu sama lain baik secara langsung atau melalui beranda.
Meskipun konsep rumah ini berbeda dengan yang ada disini tapi ini akan sangat efektif untuk menangani masalah ini.
setelah aku menggambarkan denah dari setiap bangunan mereka setuju dengan keputusan itu dan mulai mengerjakan tugas mereka.
*****
Sementara itu di ruang bawah tanah pada salah satu ruangan yang mirip sebuah sel, terlihat seorang wanita yang tengah dirantai pada leher serta kedua pergelangan tangan dan kakinya sambil berkata.
"Alex sebentar lagi aku akan menemui mu, bersamamu aku akan membasmi setiap manusia di dunia ini." Ucapnya dengan senyum di akhir perkataanya.
*Bersambung*