pokoknya baca ajah ya gais
semoga suka!!!
hao chen adalah anak satu-satunya dari walikota hao yang selama kepemimpinannya sangat disukai oleh masyarakat karna tegas dan adil kepada rakyannya
tapi karna suatu kejadian di mana mafia yang ingin mengedarkan narkoba di wilayahnya,walikota hao mengerahkan semua keamanan kota untuk meringkus semua orang- orang yang terlibat
akibat itu pula lah malam berdarah di keluarga hao terjadi pembantaian dan pembakaran kediaman dari walikota hao
dan anak satu-satunya berjuang untuk membalaskan dendam dari keluarganya
Apakah dendam hao chen dapat terwujud ataukah hao chen gagal dan melepaskan dendamnya kita lihat saja nanti
Dan apa yang akan terjadi setelah hao chen mati apakah dewa akan bermurah hati kepada hao chen atau dia akan langsung terlempar di alam baka....
tetep baca terus ceritaku ya kawan ada kultivator nya hehehe...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhiinda Rohma Dinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 : Keributan
Hao chen kini berada di kamar penginapannya menatap cincin naganya yang semenjak memasuki desa xianxin ini selalu bergetar halus
"cincin ini apa dia petunjuk bahwa penghuni di dalamnya berada di dekat dengannya" gumam hao chen sebenarnya cincin ini tak dapat berguna jika penghuni di dalamnya tak ada jadi dia harus menemukan dulu penghuni asli dari cincin ini agar dapat di pergunakan
hao chen yang tadi berada di kamarnya pun turun ke lantai bawah untuk makan sesuatu sebelum dia pergi ke hutan tanah kematian
"selamat datang tuan mau pesan apa" tanya pelayan yang menghampirinya
"makanan terbaik dan minuman terbaik" ucapannya
dengan sigap pelayan itu menyiapkan makan yang di pesan oleh hao chen. setelah menunggu beberapa menit makanan yang di pesan hao chen pun datang dengan tenang hao chen menyantap makanannya
"tuan boleh aku duduk di sini" tanya suara lembut seorang wanita dari arah samping hao chen
hao chen hanya diam menyantap makanan yang ada di depannya
wanita yang tak mendapatkan jawaban dari hao chen pun dengan wajah tebalnya duduk di kursi dekat dengan hao chen
"perkenalkan saya chen nian saya anak walikota disini" ucapnya memperkenalkan diri
"hao chen"
wanita yang mengaku sebagai chen nian itu berceloteh tak ada hentinya dan hao chen hanya diam menikmati makannya tanpa merasa terganggu sedikit pun
"baaammmmm" suara. meja yang di gebrak
"bajingan mana ini yang berani mengganggu calon istri tuan muda ini" ucap seseorang yang menggebrak meja milik hao chen
hao chen dengan pandangan malasnya hanya menatap dingin kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke arah makanannya
"hei lihatlah saking takutnya dia hanya mampu menundukkan dan memakan makanannya sepertu anak kecil" ucap nya lagi kepada teman yang di bawanya dari yang di lihat hao chen dia orang yang berpengaruh dilihat dari pengawalan yang ada di depannya
"hei hei lihatlah dia kasihan sekali berhadapan dengan tuan muda lu" ucap pengunjung yang ada di dekat hao chen
"husst diamlah jika tak ingin terkena masalah" ucap pengunjung lainnya juga menimpali ucapan temannya
hao chen hanya diam mendengar bisikan-bisikan itu
"hei apa kau tuli" ucap orang yang di sebut tuan muda lu itu
tuan muda lu nampaknya sudah sangat emosi sekarang dengan cepat dia mengangkat tangannya hendak meninju wajah hao chen
namun dengan cepat tangan hao chen menarik kepala tuan muda lu itu hingga menghantam meja hingga hancur
"kepala yang keras hingga meja saja kalah" ucap hao chen
"sialan" teriak marah tuan muda lu dengan memegangi kepalanya yang terdapat luka kecil di sana
"a..pa da..rah kau membuat muka tampanku terluka. habisi dia" ucapnya marah dah memerintahkan pasukannya untuk menghabisi hao chen
semua pasukan yang di bawa tuan muda lu yang berjumlah 10 orang itu mulai menodongkan senjatanya ke arah hao chen
dengan sigap hao chen juga mengambil belati dari dalam bajunya belati kecil yang nampak tak mungkin untuk melukai orang lain
salah satu prajurit menyerang dengan tombaknya dengan cepat pula hao chen menghindari melewati tombak dan menusukkannya tepat di jantung prajurit itu seketika itu pula prajurit itu roboh
"a...pa hanya sebuah belati bisa membunuh pembudidaya ranah jalan kesengsaraan *3" ucap pengunjung yang menyaksikan pertarungan hao chen
prajurit yang lainnya pun tak ingin tinggal diam karena rata-rata prajurit itu sudah lebih berumur 25 tahun jadi mereka sudah membangkitkan elemen di dalam diri mereka yang akan bangkit tepat saat umur mereka 18 tahun
setelah melihat teman mereka mati dengan cara mudah seperti itu menyulut kemarahan mereka dengan sigap mereka melancarkan serangan-serangan dengan elemen yang mereka miliki
namun dengan trik licik hao chen dapat mengindari hal itu dia memanfaatkan kemarahan mereka agar menyerang satu sama lain
"kurang ajar berhenti menghindar" ucap prajurit itu yang serangan elemen apinya mengenai temannya yang ada di depannya itu
"jadi maksudmu aku harus diam saja saat kau ingin memukulku" ucap hao chen dingin dia menyeringai memang kekuatannya saat ini masih sangat lemah karena dia hanya berada di jalan kesengsaraan *2 tetapi kekuatannya bisa membunuh sampai ranah jalan kesengsaraan *7
"kurang ajar" karena ucapan hao chen itu membuat kemarahan orang tersebut memuncak
dengan cepat orang itu melesat dengan kecepatan penuhnya menggunakan elemen angin yang di kuasainya membuat kecepatannya tak dapat di lihat oleh mata hao chen yang elemennya belum bangkit pun nampak terkejut karena dia tak dapat melihat pergerakan dari lawannya
.
.
.
**like
like
like**
pantes nie novel sepi