Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.
Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.
Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.
Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Anak Kecil
Mahesa tertawa. Dalam hatinya bersukur bisa bersama Puspita. Perlahan, beban dalam hatinya, kemarahan, dendam, semua mulai memudar. Puspita membawanya untuk menatap dunia dari sisi yang berbeda. Perasaan Mahesa mengatakan, kali ini dia sudah melakukan satu langkah yang benar. Dengan berjanji akan selalu melindungi gadis itu. Dengan begitu, mereka akan selalu bersama. Menjejak dunia yang penuh kepalsuan.
"Baik. Saya akan menceritakan kisah seorang anak kecil. Semoga saja kau suka." Mahesa menarik napas dalam, lalu membuangnya perlahan. Barulah dia mulai bercerita.
Disuatu pulau terpencil, hidup satu keluarga kecil yang bahagia. Kehidupan mereka jauh dari hiruk - pikuk dunia. Usia pasangan tersebut telah melampaui setengah abad. Selain bercocok tanam untuk kebutuhan hidup, mereka mengasuh dan membesarkan seorang anak laki-laki.
Buah hati mereka sekarang menginjak usia lima tahun. Dengan penuh cinta dan kasih sayang, sang ibu menemani anaknya bermain sepanjang hari. Sepulang dari ladang, ayahnya akan mengajari baca - tulis. Walau hidup menyendiri, anak kecil itu tumbuh menjadi seorang yang terpelajar. Tidak banyak anak petani yang hidupnya beruntung. Baca - tulis hanya bisa dinikmati oleh kelompok ekonomi menengah ke atas.
Sampai suatu waktu, saat si anak kecil berjalan sendiri di tepi danau. Dia berniat menemui sahabatnya. Kelinci putih. Setelah sekian lama mencari, anak kecil tidak juga menemukan keberadaan kelinci putih. Anak kecil tadi duduk di atas rumput. Dia menunggu kelinci putih datang hingga waktu berlalu beberapa jam. Mendadak, perasaannya jadi tidak enak.
Si anak kecil segera bangkit dari duduknya. Dia merasa, menunggu tanpa melakukan usaha sedikit pun, merupakan suatu kesia-siaan. Dia harus berusaha, untuk bisa mencapai apa yang menjadi harapan.
Si anak berjalan memasuki hutan. Dia terus memanggil-manggil kelinci putih, berharap sahabatnya itu bisa mendengar suara panggilannya.
"Kelinci putih ... Kelinci putih ... Kau di mana? Kelinci putih !!!" anak kecil berteriak keras.
Tidak lama berselang, anak itu menemukan beberapa helai bulu kelinci putih berserak di atas tanah. Mata anak kecil terbelalak. Dia yakin telah terjadi sesuatu pada sahabatnya. Dengan tergopoh, dia menyusuri daerah sekitar tempat itu.
Betapa kagetnya si anak kecil, dengan mata kepalanya dia menyaksikan sahabatnya, kelinci putih sedang di santap oleh seekor serigala. Tubuh anak kecil bergetar. Antara takut dan marah. Marah pada serigala juga pada dirinya sendiri. Sebagai sahabat, dia merasa bertanggung jawab atas keselamatan kelinci putih.
Anak kecil tadi meraih ranting kayu didekatnya.
"Dasar serigala jelek. Lepaskan sahabat ku!!!" anak kecil berteriak keras, sambil mengayunkan ranting kayu pada tubuh serigala.
Na'as, kaki anak kecil malah tersandung akar kayu. Membuat tubuhnya jatuh tertelungkup tepat di depan serigala. Mata serigala menatap penuh nafsu. Mulut nya menyeringai memamerkan taring-taring tajam yang memerah oleh darah kelinci putih. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kemudian.
Serigala melompat berniat menerkam tubuh si anak kecil. Anak kecil hanya bisa terbelalak tanpa mampu memikirkan cara untuk menghindar. Beruntung, sebelum serigala berhasil melukai, secara mengejutkan tubuh serigala malah terpental jauh.
Anak kecil diselamatkan oleh ibunya, yang langsung memeluk dengan derai air mata.
"Serigala itu membunuh sahabat saya ibu." Tanpa disadari, air mata anak kecil mengalir. Dia marah pada dirinya sendiri. Dia merasa dirinya sangat lemah, hingga tidak bisa melindungi sahabatnya. Coba saja jika dirinya punya kekuatan. Paling tidak, dia bisa membalas dendam atas kematian tragis yang menimpa sahabatnya. Sementara, tadi Si Anak Kecil berjuang tanpa persiapan. Tanpa kekuatan. Sama saja dengan menyerahkan nyawa.
Sejak kejadian itu, setiap hari si anak kecil terus mendesak kedua orang tuanya untuk mengajarinya ilmu olah kanuragan. Anak kecil ingin bisa melindungi apa yang dia kasihi. Awalnya, ayah dan ibunya menolak. Menurut mereka, dunia persilatan sangat kejam. Tidak cocok untuk anak petani sepertinya.
Akan tetapi, si anak kecil bersikukuh untuk belajar ilmu kanuragan. Dia tidak ingin menyesal seumur hidup atas kematian sahabatnya. Dia harus membalas dendam.
"Hati anak kecil itu begitu baik. Dia sangat menghargai sahabatnya. Pasti anak kecil itu akan tumbuh menjadi seorang pendekar hebat yang menjunjung tinggi rasa setia kawan." Puspita Dewi berkomentar kala Mahesa menghentikan ceritanya.
Mahesa tersenyum lalu menjawab.
"Anak kecil itu hanya mengotori hatinya dengan dendam. Karena saat usianya tujuh tahun, dia kembali bertemu dengan serigala yang membunuh sahabatnya. Dengan kemampuan yang telah dimilikinya, si anak kecil mencelakai serigala tersebut."
"Selama anak kecil tersebut belajar ilmu kanuragan, dan setelah membunuh kelinci putih, apa serigala hutan berhenti untuk membunuh? Atau menyisakan sedikit saja rasa penyesalan? Saya rasa tidak. Di satu sisi, anak kecil memang membalas dendam atas kematian sahabatnya. Namun di sisi lain, bukankah dia menghentikan kejahatan yang dilakukan serigala hutan?"
Mendengar ucapan Puspita, Mahesa menggeleng lemah. "Dengan hanya membunuh satu serigala, anak kecil tidak akan mampu menciptakan kedamaian seisi hutan"
"Tuan Muda, sebelum siang berganti malam. Apa salahnya menikmatinya senja walau hanya sebentar. Anak kecil hanya melakukan hal sejauh kemampuan yang dimiliki. Meski hutan tidak damai, tapi dia melakukan satu langkah yang benar."
Mahesa tersenyum lebar. Perlahan, sinar wajahnya kembali tenang. Puspita benar. Walaupun mereka tidak bisa membuat dunia menjadi damai, dengan memutus akar satu masalah, setidaknya akan menekan jumlah korban yang tidak berdosa.
''Saya harus melupakan dendam. Apa yang telah mereka perbuat, tidak sebanding dengan pengorbanan para pendekar tidak berdosa yang menjadi korban. Saya harus menghentikan pembantaian terhadap para pendekar topeng perak yang tidak bersalah.'' Mahesa berbicara pada dirinya sendiri.
Mahesa tidak perduli lagi akan asal-usulnya. Dirinya adalah pendekar utara atau selatan, itu tidak penting. Dia memiliki Puspita yang selalu mendukungnya tanpa berkaca pada masa lalu. Mahesa tidak ingin berbuat ceroboh dengan mencelakai orang yang tidak berdosa. Sebab itulah, dia membuka topeng.
"Puspita, apa kau tidak tertarik untuk menceritakan masa kecilmu? Orang tua mu misalnya. Anjani kala kecil atau sejenisnya. Saya bahkan tidak mengetahui nama kedua orang tua mu. Lalu, siapa saya harus memangil ibu mertua?" Mahesa menggoda Puspita. Padahal, dia sendiri tidak pernah memberi tahu perihal ayah dan ibunya.
Wajah Puspita memerah menahan malu. Dia tahu Mahesa hanya bercanda, tapi debar hatinya tidak bisa mengelak.
"Tuan Muda, masa kecil saya tidak seperti anak pada umumnya. Saya tidak seberuntung anak kecil yang Tuan ceritakan. Kak Anjani, dia bukan kakak kandung saya. Hanya saja, usianya lebih tua satu tahun dari saya. Pada saat Maha Guru Belibis Putih memungut kami, beliau menetapkan kami sebagai saudara angkat. Ayah dan ibu saya ... Hingga saat ini, saya tidak tahu siapa mereka."
Mulut Mahesa ternganga mendengar jawaban Puspita. Sungguh dia tidak mengetahui hal itu.
"Puspita, maaf. Tidak seharusnya saya membuat mu sedih. Saya, saya benar tidak tahu mengenai hal ini. Maaf." Mahesa merasa bersalah.
"Tuan Muda, Anda tidak perlu merasa bersalah. Saya sudah ikhlas menerima keadaan. Mengingat kedua orang tua saya, walau sedih saya sudah terbiasa. Saya tidak pernah menyalahkan mengapa mereka menelantarkan saya. Tuan Besar Belibis Putih selalu mengajari bagaimana caranya bersyukur." Walaupun bibir Puspita mengucapkan kata dengan lancar, tapi jelas ada beban yang tersimpan dalam benaknya.
"Saya pertama kali ditemukan oleh seorang pedagang keliling. Tidak ada yang tahu siapa yang membuang bayi di tepi hutan. Pedagang itu memelihara saya hampir tiga tahun. Sebelum akhirnya menjual saya pada bos pengemis. Selama empat tahun lebih, saya bekerja sebagai pengemis.
Bila saya mengingatnya, hati saya sangat perih. Sehari, kami hanya makan satu kali. Belum lagi kalau penghasilan menurun, hukum cambuk akan kami terima. Tanpa berani melawan, saya menjalani hidup dengan tabah, menerima caci-maki dari orang-orang yang memandang dengan hina.
Beruntung, pedagang yang menjual saya mengajari saya baca tulis. Mungkin karena itu juga, dia melepas saya dengan harga yang mahal.
Saya kemudian mengusir derita dengan membaca setiap ada kertas dan buku bekas yang saya temukan. Sampai saya menemukan sepotong kitab bela diri. Tanpa bimbingan, saya mempelajari ilmu itu. Hingga membuat saya menambah profesi. Dari hanya seorang pengemis, menjadi seorang copet. Saya melakukan semua itu untuk menambah penghasilan. Hingga cukup untuk membuat saya makan lebih dari satu kali dalam sehari.
Malam itu, saya ingat. Hari ke dua puluh, bulan ke empat. Saya mengemis di pinggiran jalan kota. Seseorang memberi saya kepeng perunggu dan beberapa kerat roti. Seumur hidup, saya belum pernah bertemu orang baik seperti dia. Kemudian, saya menyembunyikan kepeng perunggu tersebut di satu tempat. Saya berencana tidak akan menyerahkan uang itu pada bos pengemis. Saya melakukan itu, berharap beberapa hari kedepan saya bisa istirahat mengemis atau mencopet. Saya juga ingin punya sehelai pakaian yang pantas.
Tanpa saya ketahui, ternyata orang baik itu mengikuti saya. Dia memergoki saya. Terpaksa, saya menceritakan semua yang saya alami.
Entah karena iba, atau nasib saya yang mujur, orang itu membawa saya pergi. Dia mengangkat saya sebagai murid dan menganggap saya menjadi bagian keluarga besarnya.
Sejak usia tujuh tahun, saya tidak lagi menjadi pengemis. Saya tinggal bersama guru baik hati dan seorang kakak angkat perempuan yang mungkin bernasib sama seperti saya. Semenjak itu, saya tidak pernah berniat untuk membongkar masa lalu saya. Apalagi menemukan orang tua yang telah melahirkan saya. Bersama Maha Guru Belibis Putih, saya merasa kembali menjadi manusia. Dia adalah orang tua saya. Sekarang, saya bersama Tuan Muda. Saya tahu, Tuan Muda seorang pendekar yang baik. Saya bersedia mengorbankan apapun. Hidup saya akan lebih lengkap dengan pengabdian yang tulus." Puspita mengakhiri cerita singkat perjalanan masa kecilnya.
"Apa kau membenci kedua orang tua mu?" tanya Mahesa sejurus kemudian.
"Sama sekali tidak. Saya yakin, orang tua saya punya alasan tersendiri mengapa harus melakukan hal itu. Pedagang yang memelihara saya, juga bos pengemis yang memberi saya pekerjaan untuk hidup. Saya tidak pernah membenci mereka. Semua sudah suratan takdir. Tidak ada yang harus saya benci, saya juga tidak menyalahkan takdir yang mempermainkan hidup saya. Dengan ikhlas, hidup pasti berubah."
"Di dasar lubuk hatimu yang paling dalam. Apa tidak ada keinginan untuk sekedar tahu nama orang tuamu?" Mahesa benar-benar penasaran.
"Ah, Tuan Muda. Seorang ibu bertaruh nyawa ketika melahirkan anaknya. Rasa sakit serta tetesan darah ibu, tidak mungkin bisa terbayar dengan uang. Tentu saya ingin menghaturkan sembah **** di depan pusara." Puspita berkata dengan bibir bergetar. Dia tidak bisa membohongi diri sendiri. Sebenarnya, dia larut dalam kesedihan juga kepedihan.
"Kalau begitu, kau tidak perlu khawatir. Setelah masalah kita selesai, saya akan menemani mu untuk mencari dimana keberadaan kedua orang tua mu. Percayalah kita pasti bisa menemukan mereka. Walaupun, Maaf. Hanya pusara, kita akan menunjukkan bakti pada mereka. Kau tenang saja." Mahesa menghibur Puspita. Tangannya bergerak otomatis menarik tubuh Puspita untuk bersandar di bahunya.
image by Google
Puspita Dewi menatap Mahesa dengan pandangan haru. "Mengapa Tuan Muda memikirkan untuk melakukan hal itu?"
"Ah itu, itu karena kita saling percaya. Saya mempercayai mu, begitu juga sebaliknya. Kau sangat percaya saya. Karena jika tidak, kau pasti sudah lama pergi, meninggalkan saya sendiri di tanah selatan ini. Setelah belakangan ini kau mengetahui siapa sebenarnya orang yang kau ikuti ini. Tapi anehnya, kau malah berniat bersama dan mengikuti saya selamanya. Saya sungguh merasa salut."
Puspita terhenyak. Beruntung Mahesa tidak bisa melihat perubahan ekspresi wajahnya. Dia bisa menebak arah pembicaraan Mahesa. Pasti menyangkut asal-usul nya, asal-usul ilmu yang Mahesa miliki. Ilmu yang hanya ada di tanah selatan. Ilmu Sepuluh Tapak Penahluk Naga. Huh ... Sulit untuk dijelaskan.
Bersambung ...
Terimakasih. Hanya kata itu yang bisa Author persembahan untuk yang sudah membaca karya saya. Mohon maaf atas segala kekurangannya, TYPO, kesalahan EYD, alur yang membosankan dan masih banyak lagi. Author sangat mengharapkan Masukan, kritik dan Saran demi perbaikan tulisan karena Author sedang belajar untuk menyajikan cerita Romanc di dalam Fantasy ini. Mohon untuk bimbingannya. Jangan ragu untuk tinggalkan komentarnya.
Terimakasih untuk beberapa karya yang selalu dukung Author. Meski berbeda Genre. Bila berkenan, readers bisa berkunjung ke Marriage Order, Reinkarnasi Cinta Ruby, Singking of Love, Mengagumimu, Fell in Love with my Arogan Fiance. Authornya ramah-ramah loh (•‿•) ...
Terimakasih banyak juga untuk yang selalu berkunjung dan nge-Vote (Silent Reader). Makasih ya kak.