Zachraina Alexandria Wijaya adalah seorang siswi kelas 3 SMA dan dia adalah anak dari pemilik Toko Laundry "Jaya Abadi" yang cukup terkenal didaerahnya, karena hasil Laundrynya yang sangat rapi, bersih dan juga harum, sehingga membuat Toko tersebut terkenal dan sangat ramai. Tak hanya dari kalangan biasa, namun dari kalangan atas seperti para pengusaha, publik figur atau pejabat lainnya seringkali menitipkan pakaiannya kepada jasa laundry ditempat tersebut.
Pada suatu hari, datanglah seorang pria memakai pakaian serba hitam dan meminta untuk mengantarkan pakaian laundry kedalam mansion seorang CEO Tampan dan juga ditakuti para kolega bisnisnya, lalu apakah yang akan terjadi ketika barang pesanan telah sampai?
Pantau terus ya kelanjutan ceritanya, Happy Reading 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika Arianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjauh
Sebelum membaca, Please klik tombol Like Komen dan juga Vote nya ya. Tinggalkan jejak kalian🌺 Mohon dengan sangat untuk Like, Vote dan juga Komentarnya🙏
***
Dokter keluarga Grissham telah tiba dan memeriksa keadaan Raina yang telah memejamkan kedua matanya sembari mengigau sesuatu yang tidak begitu jelas sehingga membuat Dave begitu sangat khawatir.
Setelah memeriksa keadaan Raina, dokter tersebut segera menghampiri Dave dan juga Leo yang sedang berdiri tidak jauh dari ranjang Raina.
"Bagaimana dengan keadaannya dok?" Tanya Dave
"Nona baik-baik saja dan tidak ada penyakit yang serius, mungkin dia hanya kelelahan dan juga dehidrasi sehingga membuat suhu badannya demam tinggi."
"Astaga, kenapa dia bisa dehidrasi." Umpat Dave kesal
"Mungkin hari ini Raina belum makan seusai pulang sekolah Dave." Sahut Leo menenangkan
"Kalau begitu, saya infus saja ya dan ini resep obatnya tolong segera ditebus dan diberikan kepada nona, apabila demamnya sudah menurun dan nafsu makannya telah kembali normal, nanti saya kemari kembali untuk melepaskan infusnya." Ucap dokter tersebut
Dave menganggukkan kepalanya sebagai pertanda mengerti dan Leo berlalu pergi untuk segera menebus obat yang dibutuhkan. Setelah dokter memasangkan alat infus ditangan Raina, beliau segera pamit undur diri.
"Tuan, saya mohon pamit." Ucap dokter
"Baiklah terimakasih, biar nanti Leo yang akan mengurusnya." Dokter tersebut nampak mengerti dan berlalu meninggalkan kamar
Dave segera mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang, sembari mengusap wajah Raina yang begitu pucat diiringi dengan mata yang membengkak. Didalam lubuk hati Dave yang paling dalam terdapat rasa bersalah sehingga membuat Raina jatuh sakit seperti saat ini, namun misinya harus tetap dijalankan agar Raina bisa merasakan ketulusan cinta yang diberikan untuknya.
Nampak kepala pelayan Sumi datang dan membawakan nampan makanan yang berisi bubur dan juga air putih lalu meletakkannya diatas meja, Dave berdiri dan berjalan keluar kamar serta mengintipnya dari cela pintu kamar Yang sedikit terbuka agar kepala pelayan Sumi lebih leluasa untuk menyuapi Raina. Bukannya Dave tidak mau untuk sekedar menyuapi bahkan merawatnya, namun Dave tetap teguh pada pendirian dan misinya serta tidak menampakkan perhatian didepan Raina.
"Non, ayo bangun." Kepala pelayan Sumi mengelus bahu Raina dengan pelan
Mata Raina nampak terbuka dengan perlahan.
"Aku kenapa?" Tanyanya dengan suara yang lemah
"Anda sedang demam tinggi, ayo dimakan dulu buburnya mumpung masih hangat." Kepala pelayan Sumi menyuapinya perlahan
"Dimana tuan Dave?" Ucapnya mengedarkan pandangannya
"Beliau sedang sibuk, sehingga meminta saya untuk merawat anda."
Raina terdiam dan tetap mengunyah makanan yang sudah masuk kedalam mulutnya.
Leo telah tiba dan berdiri dibelakang tubuh Dave, lalu menepuk pundak tersebut dengan pelan.
"Dave." Ucapnya lirih
"Kau sudah sudah mendapatkan obatnya?"
"Sudah ini." Ucap Leo sembari menunjukkan kantong plastik
"Masuklah dan berikan kepada kepala Sumi."
Leo bergegas masuk kedalam kamar dan menyodorkan kantong plastik yang berisi obat.
"Tuan Leo, dimana tuan Dave?" Tanya Raina
"Aah, beliau sedang sibuk, apa ada yang ingin kau sampaikan?"
"Tidak, terimakasih." Raina membungkukkan badannya
Leo undur diri dan segera keluar dari dalam kamar dan menarik Dave untuk mengikutinya kearah meja makan dan meneruskan acara makan malam yang sempat tertunda.
"Kenapa dari tadi dia mencari keberadaan ku?" Bathin Dave lalu ditarik Leo menjauh dari depan pintu kamar
"Aah, sepertinya dia memang tidak perduli lagi denganku." Bathin Raina
Dear Readers, jangan lupa yang untuk selalu mendukung karya kedua Author ini, tanpa kalian Author tidak ada apa-apanya. maka jangan lupa untuk selalu support, Like, Komen dan Vote ya!
Happy Reading💕
dripda terus2 an marah2 mlu..pusing akuutu😆😆
ngpain aja itu pembantu,,😅
Dave.... sabar dikit napaaaaa