NovelToon NovelToon
Amanat Istri Pertama

Amanat Istri Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:631.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vhy'dHeavy Putri

Kintan terpaksa menikah dengan Aksara, karena suatu alasan menyebabkan keputusan itu terjadi. Ketika Nila yang merupakan istri pertama Aksara mengalami kecelakaan dan dalam keadaan tidak baik-baik saja, meminta Kintan menyanggupi permintaan terakhirnya itu, sekaligus merawat putranya yang masih kecil.

Tepat dua hari setelah pernikahan Kintan dan Aksara terjadi, Nila mengembuskan napas terakhir. Saat itu pula, Kintan menjadi istri satu-satunya dari Aksara. Namun kenyataan justru membuat pernikahan mereka tidak bahagia. Aksara masih belum sanggup melupakan mendiang Nila dan menilai Kintan tak sebanding dengan istri pertamanya itu. Permintaan cerai sering terucap dari bibir Aksara agar Kintan pergi dari sisinya. Di sisi lain, Kintan justru bertekad untuk bertahan. Karena pernikahan itu adalah amanat dari istri pertama suaminya.

Lantas, apakah Kintan mampu membuat hati Aksara luluh? Serta mendapat haknya sebagai seorang istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy'dHeavy Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26-Aku Tetap Seorang Pria

Aksara menatap wajah ayu milik istrinya yang kini sudah memejamkan mata. Bulu mata yang lentik alami membuat Aksara menelan saliva, apalagi jika menatap bibir tipis yang masih pucat itu. Istri yang cantik dan kaya, Aksara akui soal itu. Namun keberadaan Kintan bukanlah impiannya. Ia hanya bermimpi hidup bersama Nila dan putra-putri dari rahim wanita itu selamanya.

Tak disangka, pernikahannya bersama Kintan sudah mencapai usia tiga bulan. Aksara pikir Kintan hanya akan bertahan satu bulan, atau maksimal dua bulan saja. Kenyataan yang terjadi sekarang justru di luar dugaan. Selain dari pihak istri yang sabar, Aksara justru menahan Kintan agar tetap berada di sisinya. Bahkan, ia sudah meresmikan pernikahan siri dengan wanita itu.

Apa yang terjadi sama aku belakangan ini? Aksara mengubah posisi yang sebelumnya menghadap Kintan, kini menatap langit-langit kamar. Ia memejamkan mata sesaat, menikmati rasa bingung yang menyergap hatinya. Ada banyak hal yang di luar batasan. Entah dari jebakan Kintan, kemudian ia sendiri yang menjebakkan diri pada wanita itu.

“Mas?” Tiba-tiba suara Kintan terdengar, sampai membuat Aksara menggeragap. “Aku nggak bisa tidur,” lanjutnya.

Aksara sedikit terkejut. “Be-benarkah? Jadi, dari tadi kamu ...?” tanyanya ragu-ragu.

“Aku hanya terpejam, bukan terlelap. Kepalaku masih pusing, suka kayak gini kalau dibawa tidur.”

Aksara menghela napas. Pasalnya, sudah tiga hari tiga malam Kintan mengalami flu ditambah demam. Penyakit yang mendera wanita itu berawal dari perbuatan Aksara, sebab telah memaksanya berjalan di bawah guyuran hujan. Rasa bersalah lantas datang pada hati Aksara, ia tidak tega pada istrinya yang terkulai lemas tidak berdaya.

“Mau aku buatin teh hangat lagi?” tawar Aksara sembari menatap mata Kintan yang sayu.

Kintan menggeleng. “Aku nggak haus. Terima kasih,” jawabnya datar.

“Mm ... atau kamu mau makan sesuatu yang berkuah?”

“Enggak. Aku nggak lapar.”

“Ya sudah.” Aksara mengepalkan salah satu jemarinya. “Tidur saja!”

“Aku nggak bisa tidur, Mas!”

“Aiis! Terus mau kamu apa sih, Kintan? Teh, makanan, nggak mau. Terus aku disuruh ngapain?”

Kintan berdeham. “Me-memangnya aku suruh kamu? Perasaan kamu yang menawarkan diri, deh!”

Aksara nyaris menghardik tegas, mendapat jawaban benar dari Kintan. Namun ia terlalu malas untuk berdebat lebih panjang, lantaran waktu pun sudah malam. Akan lebih baik untuk tidur cepat, tanpa menggubris keluhan Kintan yang tidak pasti apa maunya.

Namun sebelum Aksara memejamkan mata, Kintan justru mencubit lengannya. Kejengkelan kembali tumbuh di hati pria itu. Seandainya Kintan sedang tidak dalam kondisi lemah, ia sudah mengusirnya untuk keluar dari kamar tersebut.

“Tidur!” titah Aksara tegas.

Kintan menghela napas, kemudian tanpa mengindahkan perintah suaminya ia berkata, “Aku masih penasaran cewek itu. Wanita dari kantormu itu.”

“Buat apa? Dia sudah nggak ke sini lagi, 'kan?”

“Enggak sih. Tapi, ... kayaknya dugaanku benar deh, Mas. Dia suka sama kamu.”

“Kalau iya memangnya kenapa?”

Mata Kintan semakin membulat, bahkan ia sampai terlonjak lalu bangkit. Kintan mendekati Aksara dan menekan badan pria itu menggunakan siku serta salah satu lengannya. “Dia beneran suka kamu, Mas? Gimana kamu tanyanya? Kok tahu?”

Aksara yang sempat terkesiap bahkan menggeragap oleh sikap antusias istrinya, berangsur mengendalikan perasaannya yang mendadak berkecamuk. Tanpa menatap wajah Kintan yang selalu cantik, Aksara menjawab, “Itu hanya candaanku saja. Dia seorang ibu, dan sudah berjanji mau menyerahkan sisa hidupnya pada sang putri. Mbak Mergi nggak punya waktu cari pacar lagi, terlebih masih trauma tentang perceraian.”

“Oh. Janda, toh!”

Seperti tidak ada beban, Kintan kembali merebahkan dirinya di samping Aksara. Namun sekian detik hanya terdiam sembari menatap langit-langit kamar, ia menghela napas. Tampaknya ia tidak mempercayai ucapan Aksara secara sepenuhnya. Dalam hal pengakuan Mergi yang hanya akan hidup untuk sang putri tanpa pendamping lagi.

“Mas!” Kintan mengubah posisi menghadap Aksara dan lagi-lagi kedua lengannya menimpa badan pria itu. “Boleh nggak aku sekali-kali kirim bekal buat kamu?”

“A-apa?” ucap Aksara terkejut. “Ke-kenapa tiba-tiba? Bukannya kamu enggak mau kalau nama baik ayahmu tercemar.”

Kintan mengernyitkan dahi. “Tercemar? Apa maksud kamu?” Ia tergelak. “Soal tiga hari yang lalu? Aku cuma bercanda, Papa enggak bakal terpengaruh sama begituan, kecuali memang ada mata-mata bisnis. Lagian, enggak banyak orang tahu kalau aku anak beliau. Mungkin cuma Nila dan teman-teman kami saja.”

“Waaah! Jadi, kamu sengaja bersikap seperti saat itu?”

“Mm ... enggak juga. Awalnya aku memang terkejut, rasa cemas juga ada. Karena dia tiba-tiba nongol di balik pintu. Tapi, setelah kamu bilang dia teman kamu, aku jadi enggak setakut itu. Hanya saja, ... aku tetap jengkel diintip kayak gitu. Lalu, dia seorang wanita sekaligus ibu kenapa kayak nggak punya sopan-santun?”

Aksara terdiam.

“Kalau saja aku enggak lemas pada saat itu, mungkin bakal aku hardik dan marahi habis-habisan. Enak saja, dia cuma orang luar! Bisa jadi 'kan berniat mau nyuri atau—”

“Kamu bicara terlalu panjang, menjadi bukti kalau kamu sudah baik-baik saja. Jangan-jangan kamu hanya pura-pura sakit selama ini?!”

Kintan tercenung. Namun jika dipikir-pikir responnya pada pembicaraan seputar Mergi memang sangat berlebihan untuk ukuran orang sakit. Sejujurnya, ia masih merasa pusing dan demam, hanya saja mungkin Aksara tidak akan mempercayai ucapannya.

Kintan membuat keputusan. Ia mengaduh kesakitan sembari menekan-nekan pelipis matanya. Hingga detik berikutnya, ia merebahkan diri lagi dan pura-pura tidak karuan.

Namun alih-alih bersimpati, Aksara justru berdecak. “Aktingmu sangat buruk, Nona,” ucapnya.

Kintan menelan saliva, kemudian menyudahi aksinya. “Kalau aku jelasin kamu nggak bakal percaya, Mas. Aku masih sakit!” jawabnya.

“Kamu tampak sehat, Nona.”

“Hih!”

Kintan jengkel, ia reflek menarik lengan Aksara dilanjutkan dengan kedua pundak pria itu. Kintan menempelkan dahinya pada dahi Aksara tanpa rasa sungkan sama sekali.

Namun ... ketika Kintan menyadari aksinya terbilang cukup ekstrim, ia lantas pias. Wajahnya memerah bersamaan dengan ketegangan yang membuat nyaris sekujur tubuhnya kaku. Terlebih saat mata Aksara begitu dekat dengan matanya. Mereka saling menatap lekat-lekat tanpa suara, selain embusan napas.

“A-aku ... masih demam, 'kan?" tanya Kintan lirih sekali.

“Mm ...,” jawab Aksara singkat.

Kintan menurunkan pandangan, tetapi justru mengarah pada bibir Aksara. Seketika itu juga ketegangan semakin mencengkeram hati dan jiwanya. Apa ini? Perasaan macam apa? Getaran jenis apa yang mendadak muncul pada dirinya? Kintan tidak mengerti sama sekali. Sialnya, Aksara juga tidak bergerak, bahkan justru menarik pinggang Kintan perlahan-lahan.

“Aku ... tetap seorang pria ...,” bisik Aksara.

Kintan menatap mata suaminya itu lagi. “Apa kamu ...?”

“Tentu saja.”

“Ha-haruskah?”

“Sudah kepalang tanggung. Aku ingin ....”

“Mas ...?”

***

Like yaaa.

1
Ririn Nursisminingsih
kereenn kintan a suka karakternya thor a bca karyamu ini berkali2 tpi tak bosan2...
VhyDheavy: makasih banyak kakak 🫶🥰
total 1 replies
Shifa Burhan
aku salut dengan novel yang memperlakukan pelakor dan PEBINOR sama,
aku salut dengan novel yang berani menghancurkan PEBINOR

karena faktanya kebanyak novel begitu memuja pebinor
Shifa Burhan
ini lah wanita (reader) kayak tidak punya otak yang membuat mereka jadi egois

*lelaki lain yang baik pada kintan di puja2 dan dibilang lelaki baik2 tapi wanita lain yang baik pada aksara dilaknat dan dibilang pelakor dan janda gatal lah (kalian waras)

*kintan intraksi dengan lelaki lain dan menyambut baik kebaikan pria lain dibilang dibenarkan tapi aksara hanya mendengarkan wanita lain bicara saja sudah dilaknat dibilang tidak tegas (kalian sehat)

wahai wanita (reader jablay) pakai otak kalian sikit saja biar tidak kelihatan munafiknya
VhyDheavy: penganut standar ganda kali ya 😁
total 1 replies
Maizuki Bintang
bgs
VhyDheavy: makasih Kak. Mampir di novel saya yg lain ya, 😊
total 1 replies
Dyah Shinta
Ya eyalah... kan baru aja ditinggal.
Lama2 juga tenang...
Amalia Khaer
yahhh knpa harus melakukan itu huh 😮‍💨
VhyDheavy: kan suami istri kak, hehe. Ah, jangan lupa follow akun tiktok saya ya, Kak. Vhydheavy21.😊
total 1 replies
Amalia Khaer
🤭🤭🤭🤭🤭🤣
Rita Tanti
Luar biasa
Sri Mulyani
mau. siapa tau suaminya juga bisa ikut membantu
Ike Rasela
👍👍
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
lucu yh menyakiti istri sendiri bisa n gampang tpi sekedar bersikap tegas pd wanita lain nggak bisa ngakak...
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀: You're welcome ttp semangat berkarya 🤗💪
total 3 replies
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
Kendali pernikahan di pegang suami yah klu mau lepasin kintan tinggal talak aja beres kan lagian gw jg ogah bgt kintan sama Lo nggak level
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
berarti itu salah anda tolong koreksi diri sebelum menyalahkan seseorang kerna bkn hanya anda yg merasa kehilangan
𝐵💞𝓇𝒶𝒽𝒶𝑒🎀
udah jls ini kemauan nila sendiri buat plng sendiri knp jdi kintan yg salah
lina
berjuang nila
Siti Rofiatin
Cinta oh cinta ,kalau sdh bilang itu apapun akan di lakukan
VhyDheavy: Cinta bikin gila kadang ya Kak 😁
total 1 replies
Bunbun Oke
cie cie sama-sama zaling ❤❤❤
VhyDheavy: Harus berterima kasih pada Mergi dan David ya 😄. Terima kasih sudah mampir 😊
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
suka dgn karakter Kintan 👍❤ juga Askara
VhyDheavy: Terima kasih 😊🤗
total 1 replies
Bundanya Pandu Pharamadina
Aksara Kinan
❤❤❤❤
VhyDheavy: Untuk @Bundanya Pandu Pharamadina juga ❤❤❤❤
total 1 replies
anti pebinor pelakor
perbedaan perlakuan pelakor dan pebinor

pelakor dipandang hina, menjijikan, apapun dia buat pasti salah, dipermalukan, diperlakukan kasar, dan akhirnya dibinasakn

pebinor dipandang lelaki cinta tulus, bebas menghajar suami orang dan itu tidak dipermasalahkan, bebas berbuat semaunya dan pada akhir diperlakukan lembut supaya iklas, sosok terlalu di spesial kan dan akhir bisa merasakan kebahagiaan

sudut padang wanita jablay dan egois, pelakor menjijikan sedangkan pebinor pria sejati dengan cinta tulus harus dihargai

sudut pandang wanita sejati dan setia, pelakor dan pebinor sama2 mahluk menjijikan dan harus diperlakukan sama
VhyDheavy: kontras bgt Yah, perlakuan untuk wanita bersalah dan laki2 bersalah. predikat pelakor bahkan lebih lama, pebinor gampang di lupakan bgtu saja 🥺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!