"Siapa sangka, pertemuan yang tidak disengaja itulah yang membuat kita sampai saat ini masih bersama" ~ Nadila Azzahra Putri Gunawan.
"Lo bisa nggak sih, seharii aja nggak gangguin gue Vin?" Tanya Nadila kesal.
"Enggak bisa!!!"
"Sebenarnya mau lo itu apa sih Vin?"
Vino mendekat. "Kan udah gue bilang, gue mau jadi pacar lo"
Deg
_________________________________________
Bukankan ada pepatah yang mengatakan, bahwa apapun yang tengah kamu hadapi, kamu harus percaya dan yakin, bahwa Allah akan memberikan jalan keluarnya, bahkan dengan cara yang tidak pernah kamu bayangkan.
Jodoh, memang tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu seperti apa kita akan dipertemukan dengan jodoh. Seperti halnya dengan Nadila yang bertemu dengan jodoh dengan cara yang tidak pernah ia sangka.
Nadila fikir, pertemuan singkat pada saat itu hanya akan berakhir sampai disana saja. Namun siapa sangka, semuanya masih berlanjut sejak beberapa tahun mereka kembali dipertemukan. Dan ternyata, memang pria yang bernama Vino itulah yang menjadi jodohnya.
Mau tau gimana kisah Nadila dan Vino? Kuy baca. Jangan lupa di like, komen, dan vote :)
Copyright © Afrialusiana
Dont copy my story. Ingat dosa!!
Follow Ig Author : @Afrialusiana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afria Lusiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasar Malam
Di dalam kamar, Nadila terlihat tengah bersiap-siap untuk jalan bersama Vino. Gadis itu duduk di depan meja rias sambil memolesi sedikit make up pada wajahnya. Nadila hanya memolesi sedikit saja, benar sedikit saja karena gadis itu tidak terlalu suka dengan apapun yang begitu mencolok dan juga menor seperti tante-tante.
Beberapa menit kemudian, semuanya telah selesai. Nadila segera berdiri dari duduknya, menatap wajah cantinya dari pantulan kaca. Bibir mungil itu tersenyum, mengelus kepalanya merapikan rambut yang sebenarnya sudah terihat sangat rapi.
"Anak Mama Mira cantik juga ternyata" Kekeh Nadila memuji dirinya sendiri.
Krringgg
Ponsel Nadila berbunyi, pandangan gadis itu teralih ke atas kasur. Nadila melangkah perlahan untuk meraih posel tersebut.
Tangannya dengan lihai menyentuh layar ponsel, membuka satu pesan masuk yang sudah jelas dari siapa lagi jika bukan Vino.
"Udah siap lo Nad?" ~ Vino
"Udah" ~ Nadila.
"Sesingkat itu?" ~Vino.
"Lah, terus lo maunya gue ngetik sepanjang Novel author gitu?" ~ Nadila.
"Nggak usah ribet, kelamaan" ~Vino.
"Yaudah kalo gitu gausah banyak bacot" ~ Nadila.
"Oke, gue jalan" ~ Vino.
Nadila hanya membaca pesan tersebut tanpa berniat untuk membalasnya. Gadis itu menaruh ponsel tersebut ke dalam slingbag yang sudah ia sandang di bahunya.
Nadila berjalan menuruni anak tangga, menunggu Vino yang akan segera menjemput dirinya.
Disisi lain, Vino memperhatikan pesan yang hanya terdapat centang biru. Yang berarti pesan tersebut hanya dibaca saja oleh Nadila. Pria itu menggeleng, kemudian mengambil helmnya yang ada di ruang tamu.
Vino berpamitan pada Susi yang tidak lain adalah Mamanya terlebih dahulu sebelum dirinya berlalu pergi dari rumah menuju rumah Nadila.
Lima belas menit Nadila menunggu Vino di kursi santai yang ada di teras rumah. Hingga terlihatlah sosok Vino dari kejauhan dengan motor Scoopy berwarna hitam yang biasa ia pakai.
Vino berhenti tepat di halaman rumah Nadila, pria itu tersenyum pada gadis yang sudah terlihat kesal karena menunggu terlalu lama.
Nadila berjalan mendekati Vino. "Lama banget sih" Gerutu Nadila dengan raut wajah tidak ramah, mengambil helm yang ada di tangan Vino dengan kasar.
"Yaelah buk, jalanan macet, ya kali bisa cepet nyampe sini." Sahut Vino masih saja tersenyum.
"Eleh bacot lo. Cepetan ah, sebelum berubah fikiran gue" Celetuk Nadila yang saat ini sudah duduk di jok belakang motor Vino.
Vino tersenyum, pria itu menancap gas motornya sambil melirik Nadila dari spion.
"Jangan cemberut mulu, nanti cantiknya hilang" Tutur Vino melirik spion memperhatikan Nadila.
Nadila tampak memperhatikan sekeliling, menikmati perjalanan yang terlihat cukup ramai malam itu. Dilihatnya banyak manusia yang melakukan aktivitas sehari-hari.
Nadila melirik spion motor Vino, hingga terlihat jelas pria itu tengah tersenyum menatap dirinya. Dengan angkuh, Nadila memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
"Mau cemberut mau enggak pun gue tetap cantik" Sahutnya jutek.
Vino tidak lagi melawan ucapan gadis itu, jika ia melawan, tentu saja akan kembali berakhir dengan perdebatan yang tiada habisnya. Itulah sebabnya Vino lebih memilih diam karena sekarang ini bukan saat yang tepat untuk berdebat.
Hingga beberapa menit di perjalanan. Vino menghentikan motornya di sebuah keramaian. Sebuah tempat yang menjadi hiburan rakyat yang terletak di suatu tanah kosong.
Di sana juga terlihat banyaknya wahana permaninan yang nggak kalah seru dari Dufan, yaitu sebuah pasar malam. Pasar malam yang menjadi tempat hiburan tersendiri bagi rakyat. Karena pasar malam dengan kesederhanaannya tentu saja memberikan sensasi yang berbeda tersendiri.
Nadila terpelongo melihat pemandangan yang ada di depan dirinya saat ini. Gadis itu segera turun dari motor Vino, melangkah beberapa langkah memperhatikan suasana yang sangat ramai juga terdengar riuh tersebut.
"Kenapa lo Nad? nggak suka?" tanya Vino ikut melangkah dan berdiri di samping Nadila.
Nadila menoleh, melirik Vino sesaat. "Siapa bilang? kalo yang begini mah gue suka banget Vin" Jawab Nadila antusias, karena gadis itu memang sudah sangat lama tidak pergi ke tempat seperti itu.
"Yaudah kalo gitu tunggu apa lagi?" Ujar Vino.
Pria itupun tanpa segan menggenggam tangan Nadila hendak masuk ke dalam sana. Namun, Nadila justru menghentikan langkahnya, gadis itu melirik tangannya yang saat ini di genggam oleh Vino. Raut wajahnya datar, entah apa yang ia fikirkan.
Vino menoleh ke arah belakang. "Why?" Alis Vino terangkat dengan tatapan tertuju pada Nadila.
Nadila menarik tangannya dari Vino hingga genggaman itu terlepas. Bibirnya kaku tidak tahu harus berkata apa.
"Y-yaudah ayo jalan. Lo duluan aja" Sahut Nadila terbata-bata. Gadis itu memegang belakang lehernya sambil mengalihkan pandangan.
"Yaudah ayok, tunggu apa lagi?" Vino kembali menggenggam tangan Nadila, menarik tangan mungil itu dengan paksa.
Namun, baru beberapa langkah, Nadila kembali melepaskan genggaman tangan Vino. Hal itu sontak membuat Vino kembali melirik ke arahnya.
"Why?" Sekali lagi Vino bertanya dengan alis terangkat.
"S-sorry Vin, gue nggak biasa jalan pegangan tangan di keramaian gini" Sahut Nadila gugup.
"Hmmm" Vino menatap Nadila, pria itu mengangguk paham kemudian mereka berjalan canggung saling beriringan. Sesekali dua kulit tangan itu beradu, namun Vino tampak mengabaikan.
Beberapa menit berjalan, berputar-putar menikmati pemandangan, Vino akhirnya berani membuka suara.
"Lo nggak mau naik apa, atau beli apa gitu Nad?" Tanya Vino.
Nadila melirik sekitar, memperhatikan satu persatu wahana yang ada di sana. Hingga, perhatian Nadila tertuju pada sebuah permainan Gondala atau yang lebih dikenal dengan kincir Angin. Permainan yang berputar searah jarum jam itu mampu menarik perhatian Nadila saat ia melihat jelas beberapa orang berteriak dari atas sana. Sepertinya seru, Fikir Nadila begitu.
"Gue mau naik itu Vin" Tunjuk Nadila.
Vino menoleh ka simping, melirik gadis yang tingginya hanya sebahu Vino itu. "Lo yakin?" Tanya Vino.
"Lah, kenapa emang?" sewot Nadila.
"Nggak takut?"
"Alah, itu doang mah kecil" Sahut Nadila menyepelekan.
"Yaudah, ayok" Tantang Vino.
"Ayok" Balas Nadila songong.
Kedua remaja itu berjalan melangkah menuju tempat pembelian karcis. Setelah mengantri tidak cukup lama, Vino dan Nadila ikut mengantri untuk segera menaiki kabin-kabin yang terbuat dari besi tersebut.
Vino dan Nadila saat ini sudah berada di atas kabin besi. Benda itu perlahan bergerak, hingga semakin lama, posisi mereka berpindah paling atas. Benda yang saat ini mereka naiki itu selalu saja berhenti sejenak saat menaiki orang. Tangan Nadila terlihat memegang sela sela besi itu dengan kuat. Ia sama sekali tidak berani melirik ke bawah.
Vino yang saat ini duduk di depan Nadila, tersenyum, ia tentu saja tahu bahwa gadis yang ada di depan dirinya saat ini sungguh sangat ketakutan. Hanya saja Nadila berusaha untuk menyembunyikan ketakutannya karena sudah terlanjur menyepelekan.
Beberapa detik kemudian, kincir itu mulai berputar. Berputar lambat, lambat, hingga mulai kencang. Beberapa orang terlihat menjerit dari atas sana. Sementara Nadila masih diam seolah menahan ketakutannya kerena malu.
Tangan Nadila menggenggam kuat sela sela besi tersebut, matanya terpejam.
"Lo takut Nad" Sorak Vino saat kincir tersebut berputar semakin kencang."
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan vote ya. Terimakasih:)