Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 murni karena cinta
Loe ngapain ke sini?" ucap Alex dingin sambil menatap tajam wanita di hadapannya.
"Lex, maafin gue... Gue tahu lo masih ada rasa sama gue. Bisa kan kita balik kayak dulu lagi?" sahut Putri penuh harap, menatap Alex lekat-lekat.
"Loe enggak punya malu?" Alex menaikkan nada bicaranya, dadanya bergemuruh menahan kekesalan. "Setelah apa yang loe perbuat, loe buang gue gitu aja, sekarang loe tiba-tiba datang dan minta balik? Loe anggap gue ini apa?!"
"Lex... maafin gue... Kemarin gue khilaf, Lex," bisik Putri. Air mata perlahan menetes membasahi pipinya.
Melihat Putri menangis, ada sedikit rasa iba yang terlintas di benak Alex. Namun, nuraninya langsung menepis perasaan itu. Ia teringat Syafa—gadis yang kini menjadi kekasihnya dan sangat berharga dalam hidupnya.
Di tengah ketegangan itu, sebuah suara lembut yang sangat familiar terdengar menyapa.
"Assalamualaikum, Ay... Anterin aku pulang, yuk?"
Syafa mendadak muncul dan berdiri tak jauh dari mereka. Sebenarnya, Syafa tidak datang secara kebetulan. Ia sudah tahu kalau Putri berniat menemui Alex di toko untuk meminta balikan. Informasi itu ia dapatkan dari Nadia, teman dekat Putri sendiri. Syafa sengaja datang lebih awal karena takut dan ingin memastikan keadaan.
"Wa'alaikumsalam... Eh, kamu enggak jadi jalan-jalan sama temen-temen kamu?" tanya Alex kaget sekaligus lega.
Melihat kehadiran Syafa dan menyadari posisinya yang sudah tak lagi diinginkan, atmosfer terasa sangat canggung bagi Putri. Ia menyapu air matanya pelan lalu berbalik.
"Gue balik dulu, Lex," pamit Putri singkat, lalu melangkah pergi meninggalkan toko.
Begitu sosok Putri menghilang di balik tikungan jalan, Syafa tanpa ragu melangkah cepat dan langsung memeluk tubuh Alex dengan erat. Ia menyandarkan wajahnya di dada Alex, menyalurkan rasa takut yang sejak tadi ia tahan.
"Ay... jangan pernah tinggalin aku, ya..." bisik Syafa dengan suara bergetar, air matanya menetes membasahi kaus yang dikenakan Alex.
Alex tertegun. Ia membalas pelukan itu dengan lembut sambil mengusap pelan punggung Syafa. "Kamu kenapa, sih, Ay? Kok tiba-tiba nangis gini?" tanya Alex heran melihat perubahan emosi pacarnya.
Syafa perlahan melepaskan pelukannya, mendongak menatap mata Alex. "Kamu... tahu Nadia¹, kan?"
"Nadia?" Alex tampak mengingat-ingat sejenak. "Oh, Nadia temen dekatnya Putri?"
"Iya. Tadi dia bilang ke aku kalau—"
"Suttt..." Alex dengan lembut memotong ucapan Syafa, menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu. "Ceritanya nanti aja, ya. Mau ke kafe?"
Alex merasa suasana toko yang berantakan ini kurang pas untuk membicarakan hal sensitif. Syafa mengangguk pelan seraya menyapu sisa air mata di pipinya. "Mmm... boleh deh."
"Bentar ya, aku beres-beres etalase sama tutup toko dulu," kata Alex mulai mengemas berkas-berkas di meja.
Syafa mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Ayang... aku pengin bantuin," pintanya dengan binar mata berharap.
Alex menghentikan gerakannya sebentar, agak ragu. "Yakin mau bantuin? Nanti kamu capek."
"Iya, enggak apa-apa! Mau bantuin apa nih?" tanya Syafa antusias.
"Nyapu bisa?" goda Alex. Dalam hatinya, Alex sempat menyangsikan apakah gadis dari keluarga berkecukupan seperti Syafa terbiasa memegang sapu.
"Yeeuh! Ngeremehin banget!" Syafa mencibir gemas sambil mencubit pelan pinggang Alex. "Meski orang tuaku mampu, aku dari kecil tetap diajarin mandiri tahu!"
Alex tertawa lepas melihat reaksi sebal Syafa yang menggemaskan. Ia segera mengambilkan sapu dan menyerahkannya.
Suasana toko yang tadinya tegang dan pekat oleh masa lalu mendadak berubah hangat. Di antara tumpukan kertas dan mesin fotokopi, keduanya saling bekerjasama. Syafa menyapu dengan cermat, sementara Alex merapikan susunan etalase.
Setiap kali Syafa lewat di depannya, Alex menyempatkan diri menyibakkan helai rambut Syafa yang menutupi wajah. Ketika Syafa hampir tersandung kabel mesin, dengan sigap Alex merengkuh pinggangnya dari belakang, merapatkan tubuh mereka sejenak hingga hembusan napas hangat terasa di leher masing-masing.
"Makanya, fokus dong, Cantik," bisik Alex terkekeh tepat di samping telinga Syafa, membuat rona merah seketika menyebar hingga ke ujung telinga gadis itu.
"Ihh, kamu yang bikin enggak fokus!" balas Syafa malu-malu, menepuk dada Alex pelan dengan gagang sapu.
Canda tawa dan interaksi manis itu terus mengalir, menyapu bersih sisa kecemasan Syafa dan menghapus jejak emosi dari kedatangan Putri. Sore itu, toko fotokopi sederhana menjadi saksi bisu betapa dua hati saling menguatkan dan menjaga satu sama lain.
Setelah dipastikan seluruh sudut toko fotokopi bersih dan tertata rapi, Alex mengunci pintu kaca dari luar. Bersama Syafa, mereka berdua melangkah santai menuju kedai kopi sederhana yang terletak di ujung jalan.
Sesampainya di sana, Alex memesan dua cangkir kopi kesukaan mereka sebelum memilih area tempat duduk yang agak terpisah di sudut ruangan—tempat yang pas untuk mengobrol tanpa terganggu bising jalan raya. Syafa duduk di hadapan Alex, merapikan letak jilbab instan berwarna pastel yang membingkai manis wajah cantiknya.
Begitu dua cangkir kopi hangat tersaji di atas meja, Alex memajukan tubuhnya sedikit, memecah keheningan.
"Ay... gimana tadi ceritanya?" tanya Alex lembut.
Syafa menarik napas pendek. Ia merapikan lipatan jilbabnya sejenak sebelum menatap lekat mata Alex. "Hmm... Tadi Nadia bilang ke aku, katanya Putri sengaja samperin kamu ke toko buat minta balikan. Nadia juga mewanti-wanti, katanya Putri bakal ngelakuin cara apa aja biar kamu mau balik lagi sama dia."
Alex terkekeh pelan, mencoba mengurai ketegangan di wajah pacarnya. "Yaelah, Ay... Santai aja kali. Aku enggak bakal berpaling atau ninggalin cewek seimut kamu cuma demi masa lalu."
"Idih... gombal!" cibir Syafa gemas. Namun, sapuan rona merah di kedua pipinya yang tampak makin menggemaskan di balik bingkai jilbabnya tidak bisa berbohong.
Di tengah suasana hangat itu, mendadak ada rasa penasaran dan beban yang menggelitik benak Alex. Ia menatap jemari Syafa, lalu memandangi penampilannya sendiri.
"Ay... aku boleh tanya sesuatu enggak?" gumam Alex ragu. "Kenapa kamu mau terima aku jadi pacar kamu? Padahal kalau dilihat-lihat, secara ekonomi atau latar belakang kita kan jauh beda. Banyak cowok lain yang jauh lebih berada dan lebih baik dari aku..."
Syafa menghentikan gerakannya yang hendak menyeruput kopi. Matanya menatap Alex dengan raut tidak suka.
"Apaan sih, Ay? Enggak usah banding-bandingin kayak gitu, ah. Aku enggak suka!" tegas Syafa meluruskan posisi duduknya. "Aku suka sama kamu murni karena aku memang beneran sayang sama kamu. Kalau ditanya alasannya apa, aku sendiri enggak bisa merincinya satu per satu. Jadi stop, ya? Enggak usah minder atau bandingin kamu sama orang lain. Percuma... mau dibandingkan sama siapa pun, tetap kamu yang menang di mata aku."
Penjelasan tegas dari gadis berhijab di hadapannya itu seketika menampar keraguan Alex. Namun, sifat ragunya masih sedikit tersisa. "Tapi, Ay—"
Belum sempat Alex melanjutkan kalimatnya, Syafa sudah lebih dulu menghentikannya. Jemari lenturnya terangkat, menempelkan telunjuknya di depan bibir Alex.
"Suttt... Diam, ah. Nih, minum dulu kopinya," potong Syafa mencairkan suasana sambil tersenyum manis.
Syafa menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap Alex dengan binar mata penuh keyakinan. "Nih ya, Ay... Aku itu enggak peduli sama materi kamu. Yang bikin aku jatuh cinta itu kerja keras kamu. Aku yakin banget, suatu hari nanti kamu bakal sukses dan semua mimpi yang kamu impikan saat ini pasti terwujud."
Kalimat tulus itu mengalir begitu adem, meresap tepat ke dalam dada Alex. Rasa lelah dari drama sepanjang hari ini mendadak menguap begitu saja.
Namun, tepat saat suasana di antara mereka kembali hangat, ponsel Syafa yang tergeletak di meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Syafa menyentuh layarnya, dan seketika dadanya berdesir membaca isi pesan tersebut:
[Nomor Tanpa Nama]: Eh bangsat, jauhin Alex sekarang juga!
Mata Syafa membelalak pelan. Niat awalnya, ia ingin langsung menunjukkan pesan kasar itu kepada Alex. Namun, saat ia mendongak dan melihat raut wajah Alex yang nampak lelah—ditambah emosi Alex yang baru saja mereda setelah didatangi Putri—Syafa mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin merusak momen manis ini atau memicu pertengkaran baru.
Nomor siapa ini? Apakah Putri... atau ada orang lain? batin Syafa gelisah.
"Ay?"
Panggilan pelan dari Alex membuyarkan lamunan Syafa. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya, lalu menatap Alex sambil mengulas senyum terbaiknya, menyembunyikan rapat-rapat benih ancaman yang baru saja masuk ke dalam hidup mereka.
(¹bukan Kaka Alex)
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita