Evander Aldebaran, seorang anak konglomerat kaya raya yang memiliki berbagai macam perusahaan dengan beraneka jenis bisnis.
Evander dipercaya mengemban tugas istimewa sebagai Wakil Presiden Direktur dari Aludra Entertaiment yang merupakan perusahaan agency artis.
Namun sayangnya dimasa kepemimpinan Evander justru Aludra mengalami kemunduran dan membuat Ayah Evander meragukan kapabilitas putra tunggalnya itu.
Bahkan banyak anggota direksi yang mengajukan mosi pemecatan bagi Evander yang tidak kompeten itu.
Hingga pada akhirnya Evander dipertemukan dengan seseorang yang mampu membangkitkan keterpurukannya dimasa - masa suram itu.
Sampai pada akhirnya Evander bangkit dan dapat menguasai segalanya, namun harus dengan bayaran yang setimpal.
Bagaimana kisahnya? Dan siapakah orang yang melepaskan Evander dari keterpurukan?
Akan kah Evander mampu melawan segala godaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Peony, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN PERNIKAHAN
Pukul tiga sore ditemani oleh Deandra sekretarisnya, Wakil Presiden Direktur Aludra Entertaiment terlihat keluar dari kantornya dan berjalan dengan cepat menuju mobil yang sudah menunggunya tepat didepan lobby.
Chris dengan sigap membuka pintu mobil untuk bosnya itu, Agnetha sudah berada didalam mobil menunggu calon suaminya masuk. Dengan pakaian sederhana dan riasan wajah natural Agnetha terlihat begitu menawan.
“ Selamat sore Nona Agnetha. “ Sapa Deandra saat ia sudah masuk kedalam mobil, tetapi gadis muda itu tidak menjawab.
Sekilas Deandra melirik tangan kiri Agnetha yang juga dibungkus dengan kain perban sama seperti tangan kanan Evander. Deandra memandangi pasangan itu secara bergantian dengan tanda tanya besar tertinggal di wajahnya.
“ Tanya kan saja pada pria disampingku ini Kak, aku tidak akan menjawabnya. “ Ujar Agnetha dengan ketus saat melihat wajah bingung Deandra yang menatap tajam pada tangan kirinya.
Evander sekerjap memandang wajah Agnetha yang masih terlihat muram sekaligus kesal padanya, sesaat Pria itu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia hanya diam menahan amarahnya yang sebenarnya hampir membuncah, tetapi ia sadar ia sedang menghadapi gadis belia yang marah karena perbuatan kasarnya kemarin.
*“ Kalau demikian kita segera berangkat Pak Evander, Nona Agnetha. “ Sambung Deandra, mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang membawa mereka menuju sebuah Bridal Boutique* yang sudah dipercaya oleh Deandra dan Wedding Organizer mereka.
Mobil melaju sementara Agnetha masih saja diam seraya memandang gedung – gedung berderet yang terlihat dari dalam kaca mobil. Tiba – tiba Evander meraih tangan kanan Agnetha dan membuat gadis itu tersentak.
“ Apakah kamu masih marah pada ku Agnetha? “ Suara Evander terdengar halus menyapa gendang telinga perempuan dua puluh dua tahun itu.
“ Apakah aku tidak boleh marah Evander? “ Sambung Agnetha dengan nada jutek.
“ Bagaimana kalau setelah ini kita mengunjungi Nenek mu? Dokter bilang, Nenek mu bisa melakukan prosedur stent beberapa hari lagi. Hari ini mulai terjadi peningkatan positif tanda – tanda vital Nenek mu. “ Evander sedang berusaha meredam amarah gadis gecil disampingnya yang masih merajuk.
Sekerjap wajah Agnetha berubah ceria ketika mendengar Evander membahas mengenai Neneknya. Ia juga tidak membuang tangan Evander yang masih menggenggap jemarinya dengan cukup erat.
“ Apa aku boleh menengok Nenek? “ Tanya Agnetha dengan sangat polos.
Sementara Deandra di kursi depan yang tidak mengetahui apapun seputar Nenek Agnetha hanya diam dan berpikir sejenak, akan tetapi wanita itu tidak berani bertanya pada Evander ataupun Agnetha. Hanya Jason yang tahu pasti mengenai pengobatan Nenek Agnetha yang dibiayai secara penuh oleh Evander.
“ Tentu saja, jangan cemberut lagi ya? “ Evander mengelus pelan puncak kepala Agnetha, ia berhasil meredam kemarahan gadis belia yang duduk disampingnya itu.
***
Mobil yang dikemudian Chris tampak menepi didepan sebuah bangunan mewah yang dari jendela kacanya terlihat berbagai macam manekin mengenakan baju pengantin. Disanalah Agnetha akan mencoba baju yang sudah ia pilih tadi malam, Luna Bianca Bridal Boutique begitu nama tempat yang didatangi oleh Agnetha sore itu.
Evander dengan cekatan meraih tangan Agnetha dan menggapit pinggang gadis yang akan segera nikahi itu. Deandra berjalan mendahului pasangan itu, seorang store assistant tampak membuka pintu untuk tamu yang baru saja datang.
“ Deandra! “ Panggil seorang wanita dengan penampilan begitu mencolok duduk pada sofa putih tepat ditengah ruangan sedang berbincang – bincang dengan seorang wanita cantik berkacamata.
“ Mr. Evander? “ Sapa perempuan berpakaian mencolok itu saat mendapati pria tampan mengekor masuk kedalam ruangan bersama Deandra.
“ Pak Evander perkenalkan dia adalah Nyonya Imelda beliau ini adalah pemilik WO yang menangani pernikahan Bapak, dan ini Nona Wang yang secara khusus merancang gaun pernikahan Nona Agnetha. “ Bergantian Deandra memperkenalkan Evander pada dua wanita yang terlihat sudah akrab dengannya itu.
Evander tampak enggan berkenalan tetapi ia berusaha terlihat ramah terhadap vendor – vendor yang akan membantu menyemarakkan pernikahan nya dengan Agnetha. Dengan cepat Evander menjabat tangan keduanya, kedua wanita itu juga terlihat menyalami Agnetha yang masih berada dalam dekapan Evander.
“ Mari Nona Agnetha dan Tuan Evander, bisa langsung kita coba pakaiannya. “ Nona Wang kemudian membimbing pasangan itu agar segera masuk ke fitting room.
Evander langsung mencoba setelan jas berwarna putih yang sudah disiapkan oleh Nona Wang, Deandra tampak membantu Evander membetulkan kerah, kancing tangan kemeja bahkan posisi jas Evander saat pria itu baru saja keluar dari kamar ganti.
Evander masih beberapa kali berkaca melihat penampilannya yang sudah sangat sempurna dengan setelan jas tersebut. Beberapa saat kemudian Agnetha berganti keluar dan memamerkan keindahan tubuhnya didepan Evander.
Gaun dengan potongan pendek itu tampak begitu sempurna membalut tubuh Agnetha, beberapa saat Evander terbius dengan kecantikan perempuan didepan matanya. Ia baru menyadari jika Agnetha bisa secantik itu.
*Nona Wang juga membawa dengan sangat hati – hati sebuah wedding shoes mahakarya dari Manolo Blahnik yang terlihat begitu authentic* dan sungguh elegan. Sebuah stiletto high heels berwarna senada dengan gaun Agnetha, dengan ujung lancip berhiaskan batu kristal tampak begitu cantik.
“ Oke, bagus. Aku setuju dengan sepatunya, bagaimana dengan mu Agnetha? “ Gumam Evander yang saat itu sudah berganti pakaian dan duduk pada sofa hitam tempat didepan ruang ganti. Agnetha mengangguk pelan menyetujui apapun yang menjadi pilihan Evander.
Sesudah rampung dengan percobaan gaun dan sepatu kini tiba Deandra membawa kedua calon pengantin itu memilih cincin pernikahan mereka. Kali ini Deandra membawa mereka menuju Lafonn Jewely, sebuah toko perhiasan kenamaan yang menyediakan berbagai macam cincin pertunangan dan pernikahan.
Kali ini Evander yang lebih aktif mengitari etalase kaca didalam toko tersebut, beberapa kali ia meminta petugas mengeluarkan sepasang cincin yang membuatnya tertarik. Hingga pada akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah cincin dari emas putih yang membingkai dengan sempurna tiga buah berlian berbentuk bulat yang tampak begitu elegan.
Sementara untuk dirinya sendiri Evander justru memilih satu buah cincin emas putih dengan desain klasik polos tanpa berlian. Agnetha yang tidak begitu paham dengan perhiasan tampak menyetujui apa yang sudah dipilihkan oleh Evander untuk nya.
Akhirnya persiapan yang harus dilalui hari ini rampung tanpa hambatan, membuat Agnetha tersenyum dengan girang. Karena ia akan segera bisa menemui Neneknya di rumah sakit, calon suaminya itu menepati janjinya untuk membawa Agnetha menjenguk Neneknya.
Setiba di rumah sakit, Evander menemani Agnetha turun dari mobil dan langsung menuju ruang perawatan Nenek Agnetha, pria itu melarang Deandra maupun Chris mengikuti nya. Evander dengan langkah santainya mengikuti langkah kaki Agnetha yang agak cepat berjalan menuju ruangan Nenek nya.
“ Hai Nek? Apa kabarmu? “ Sapa Agnetha pada Neneknya yang masih memejamkan matanya terbaring diatas ranjang.
“ Tahukah kamu Nek, minggu depan aku akan menikah. Aku menikahi seorang pria kaya raya yang juga membantu pengobatan Nenek, aku berharap saat Nenek terbangun nanti Nenek tidak marah padaku. “ Bisik Agnetha pelan seraya menggengam tangan rapuh Neneknya itu.
“ Iya Nek, minggu depan aku akan menikahi cucumu Agnetha. Aku mohon maafkan kesalahan kami berdua yang saling memanfaatkan satu dengan yang lain dalam pernikahan ini. Aku berharap Nenek bisa mengerti. “ Suara Evander tiba – tiba saja mengagetkan Agnetha dan membuat gadis itu tertegun, melihat sisi lain Evander yang nyatanya masih bisa ikut berempati dengan keadaan Agnetha saat itu.
keren 👍
suka banget sama ceritanya thor ❤️