Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Ambang Badai
Gemerlap pusat kota Toronto siang itu terasa begitu kontras dengan ketenangan di dalam mansion The Bridle Path. Di dalam gedung pencakar langit utama Noir Enterprises, atmosfer kerja mendadak berubah menjadi sangat tegang dan sunyi. Para staf dan divisi humas bergerak dengan langkah tergesa-gesa, menundukkan kepala setiap kali bayangan sang CEO melintas di koridor kaca.
Video viral Cassian Noir di Islamic Centre kemarin sore belum sepenuhnya mereda di jagat maya, namun dengan kekuatan modal dan jaringan medianya, Cassian berhasil meredam distorsi saham perusahaan agar tetap stabil hingga siang ini.
Di dalam ruang kerja eksekutifnya yang megah, Cassian berdiri memunggungi meja kerja besarnya. Kedua tangannya terbenam di saku celana bahan, menatap lurus ke arah pemandangan menara CN Tower di kejauhan melalui dinding kaca setinggi langit-langit.
Tok, tok.
Pintu kayu mahoni itu diketuk dua kali sebelum Kevin melangkah masuk dengan raut wajah yang sangat serius. Di bawah lengannya, sebuah map kulit hitam yang sangat familier didekap erat.
"Tuan Cassian," panggil Kevin rendah, berjalan mendekat hingga menyisakan jarak aman di belakang bosnya. "Semua persiapan untuk Gala Dinner malam ini di Grand Ballroom Shangri-La sudah seratus persen rampung. Pihak keamanan telah menyisir area untuk memastikan tidak ada jurnalis liar yang bisa masuk ke area podium utama sebelum Anda memberikan isyarat."
Cassian tidak berbalik. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang dingin. "Bagaimana dengan dokumennya?"
"Sertifikat pernikahan sipil dari Catatan Sipil Ontario dan pindaian pengesahan dari pihak otoritas agama sudah terintegrasi ke dalam sistem server presentasi utama," jawab Kevin, membuka map tersebut dan memastikan layar tablet di tangannya siap mengeksekusi perintah. "Begitu Anda menekan tombol interupsi dari ponsel Anda saat pidato aliansi berlangsung, dokumen-dokumen ini akan langsung memblokir seluruh layar proyeksi aula. Hak veto Anda akan aktif secara sistematis di depan dewan direksi dan publik."
Mendengar laporan itu, seulas senyuman dingin dan penuh kemenangan batin terukir di wajah tampan Cassian. Papan catur yang ia susun selama berbulan-bulan akhirnya mencapai gerakan skakmat. Alexander Noir dan Rebecca Winston tidak akan pernah menduga bahwa di balik sikap patuh dan diamnya selama ini, Cassian telah menyiapkan belati hukum yang siap meremukkan ambisi serakah mereka dalam satu detik.
"Bagus," desis Cassian, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan. "Lalu, bagaimana situasi di mansion?"
Kevin sempat menjeda kalimatnya selama satu detik, mengingat instruksi khusus dari bosnya mengenai gadis suburban yang kini menyandang status sebagai istri sah sang miliarder. "Nona Aisya mematuhi perintah Anda secara mutlak, Tuan. Siang tadi tim logistik yang saya utus sudah mengantarkan seluruh kebutuhan bahan makanan organik dan buku-buku literatur yang beliau minta. Beliau sama sekali tidak mencoba melangkah keluar dari gerbang utama."
Bayangan wajah polos Aisya dengan kacamata bulatnya yang sedikit miring, serta aroma manis yang sempat tertinggal di kemeja hitamnya tadi pagi mendadak melintas kembali di benak Cassian. Rasa hangat yang asing itu mencoba menyusup lagi, namun dengan kejam Cassian langsung menguburnya dalam-dalam di bawah tumpukan ambisi korporatnya.
Bapi Cassian, kelembutan dan kepatuhan Aisya hanyalah sebuah keuntungan fungsional. Gadis itu aman di dalam rumah besarnya, tidak merepotkan, dan yang paling penting: tetap naif tanpa mengetahui bahwa namanya akan menjadi tameng hidup Cassian untuk merebut takhta tertinggi Noir Enterprises beberapa jam lagi.
"Biarkan dia tetap di sana," ujar Cassian dingin, berbalik sepenuhnya untuk menatap Kevin dengan sepasang mata elang yang tidak menyisakan ruang untuk empati apa pun. "Pastikan sistem keamanan mansion diperketat malam ini. Begitu bom di podium diledakkan, media akan mulai melacak siapa wanita di balik dokumen pernikahan ini. Aku tidak ingin ada satu pun tikus media yang berhasil mendekati propertiku sebelum aku memberikan izin."
"Dimengerti, Tuan," sahut Kevin dengan membungkuk hormat, sebelum melangkah mundur untuk meninggalkan ruangan.
Cassian kembali menatap lurus ke depan, merapikan letak jam tangan mewah Patek Philippe di pergelangan tangannya. Jarum jam terus berputar, merayap mendekati malam yang akan mengubah seluruh peta kekuasaan di Toronto. Cassian Noir sudah siap untuk berperang, dan ia tidak akan membiarkan riak emosi sekecil apa pun merusak kemenangan mutlak yang sudah berada di dalam genggamannya.
Sementara itu, di tempat terpisah yang tak kalah megah, Julian Vance melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor marmer berlantai hitam di hotel Shangri-La Toronto. Setelan tuksedo mahalnya melekat sempurna di tubuh tegapnya, namun raut wajahnya sama sekali tidak mencerminkan ketenangan seorang eksekutif papan atas. Di tangannya, sebuah ponsel pintar terus menampilkan barisan enkripsi data keuangan yang baru saja dikirimkan oleh informan rahasianya di dalam kantor pusat Noir Enterprises.
Julian membuka pintu VIP holding room dengan sekali dorongan kuat. Di dalam ruangan bernuansa emas dan beludru merah itu, Rebecca Winston sedang berdiri di depan cermin besar, merapikan anting berliannya. Gaun malam haute couture berwarna merah marun melekat pas di tubuh semampainya, memancarkan aura sosialita kelas atas yang siap merebut takhta.
"Kau lama sekali, Julian," tegur Rebecca tanpa berbalik, suaranya terdengar tajam namun berbisik. "Ayahku dan Alexander sudah berada di ballroom bawah sejak sepuluh menit yang lalu. Pengumuman merger kita akan dimulai sebentar lagi."
"Kita punya masalah besar, Rebecca," potong Julian cepat, mengunci pintu ruangan dari dalam lalu berjalan mendekati wanita itu dengan langkah lebar.
Rebecca langsung membalikkan tubuhnya, alisnya bertaut tajam melihat kecemasan yang tidak biasa di wajah kekasih gelapnya itu. "Apa maksudmu? Apa jalang kecil dari masjid suburban itu berulah?"
"Bukan dia. Tapi Kevin," bisik Julian rendah, menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Rebecca. "Orangku di divisi legal baru saja mendapati bahwa tiga jam lalu, Kevin secara pribadi mengakses sistem server utama presentasi untuk podium nanti malam. Akses itu dienkripsi dengan tingkat keamanan militer yang hanya dimiliki oleh Cassian."
Rebecca mendengus sinis, mencoba bersikap tenang meski jantungnya mulai berdesir waswas. "Cassian mungkin hanya ingin memastikan pidatonya tidak bocor ke media sebelum waktunya. Dia selalu paranoid tentang data korporasi."
"Tidak, Rebecca. Masalahnya bukan pada pidatonya," sergah Julian, matanya menyipit penuh intrik yang berbahaya. "Kevin melakukan penarikan dokumen sipil yang telah dilegalisasi oleh otoritas hukum Ontario. Dokumen itu dimasukkan ke dalam sistem interupsi visual. Kau tahu apa artinya itu?"
Wajah cantik Rebecca seketika menegang, warna kulitnya memucat di bawah riasan mahalnya. Sebagai wanita yang paham betul seluk-beluk hukum korporasi, ia tahu apa fungsi sistem interupsi visual di atas podium. Itu adalah sistem darurat yang hanya digunakan jika seorang pemilik hak veto ingin membatalkan sebuah keputusan dewan direksi secara sepihak di depan publik dengan menunjukkan bukti hukum yang valid.
"Bajingan itu..." desis Rebecca, jemarinya mengepal kuat hingga kuku akriliknya memutih. "Dia tidak sedang bersiap untuk mengumumkan aliansi kita. Dia sedang bersiap untuk menjatuhkan kita di depan seluruh elit Toronto."
"Cassian menyembunyikan sesuatu yang sangat besar, dan dokumen itulah kuncinya," ujar Julian, suaranya sarat akan ambisi kompetitif yang membakar dadanya. Sisi kompetitifnya sebagai orang nomor dua yang selalu berada di bawah bayang-bayang Cassian mendadak meledak. Jika ia bisa memblokir perintah Kevin sebelum Cassian naik ke atas podium, maka ia tidak hanya akan menyelamatkan dinasti Winston, tapi juga bisa mendepak Cassian dari kursi eksekutif malam ini juga.
Julian maju selangkah, merapatkan jarak di antara mereka hingga napasnya yang hangat menerpa kening Rebecca. Tangannya mencengkeram bahu Rebecca dengan tegas. "Aku akan turun ke ruang kendali teknis sekarang bersama orang-orangku untuk meretas sistem server sebelum acara dimulai. Kau, pastikan Alexander tetap mengawasi gerak-gerik Cassian begitu dia tiba di lokasi."
Rebecca menatap sepasang mata Julian yang berkilat penuh ambisi dan gairah kekuasaan. Di dalam ruangan yang terisolasi dari keriuhan ballroom itu, persekutuan gelap mereka terasa semakin intim dan berbahaya. Rebecca mengangguk pasti, membiarkan Julian mengecup keningnya sekilas sebelum pria itu berbalik dan menyelinap keluar melalui pintu belakang.
Rebecca berbalik kembali menatap cermin, napasnya naik-turun memburu. "Kita lihat saja, Cassian Noir... siapa yang akan hancur di bawah lampu kristal malam ini."
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍