NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Pria itu

Arumi bukan wanita bodoh. Sebaliknya, ia bisa sangat peka kalau sudah bonding dengan seseorang. Arumi iseng mencoba sekali lagi untuk membuktikan asumsinya.

Wanita itu mendekati Rangga lagi, ia memutar melewati konter. Rangga berjalan ke arah rak piring di sana untuk meletakkan pisau buahnya ke cucian piring. Ini bahkan tiga langkah lebih jauh. Dia bahkan belum mengupas apelnya, buat apa meletakkan pisau yang belum digunakan ke rak cucian piring?

Arumi leirik pisau itu, lalu melirik Rangga. Rangga melirik pisaunya, lalu menatap Arumi.

Mereka saling bertatapan dalam diam.

Arumi maju, Rangga kini berjalan ke arah tangga.

“Pisaunya belum dipakai, Rangga...?” desis Arumi memancing.

“I-iya Mbak. Berubah pikiran, apelnya mau kugigit aja.”

“Terus kenapa ditaruh di sink? Kamu banyak-banyakin cucianku aja.”

“Nanti kucuci.” Desis Rangga sambil mundur dan meraih pegangan tangga.

“Rangga, duduk dulu, aku mau ngomong.” Dengan tegas wanita itu menunjuk sofa ruang keluarga.

Rangga menatap kaki Arumi, entah kenapa. Lalu membuang muka, “Bisa... besok aja? Aku agak ngantuk.”

“Mau dijitak?” ancam Arumi.

Rangga mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, dengan apelnya yang masih bertengger di antara jarinya yang panjang, lalu perlahan berjalan ke arah Arumi.

“Jangan serius-serius ya Mbak, kayaknya semua prosedur sudah dijelaskan kemarin-kemarin sih.” Suara Rangga entah mengapa mengecil, tidak setegas saat ia mengobrol dengan Aryo tadi.

“Lagakmu kayak bikin salah aja.”

Rangga menipiskan bibirnya. Tanpa disadari sambil jalan ia menggenggam pinggiran celana trainingnya, celana Ary. Seakan pria itu sedang mencubit Ary sambil mengeluh ‘Duh, mas... ada apa lagi ini? Tolongin...’

Rangga akhirnya mendaratkan tubuh tegapnya di atas sofa ruang keluarga. Ia duduk dengan lesu bagai seorang anak remaja yang sudah pasrah mau diomeli ibunya, sementara sebuah apel merah masih bertengger canggung di antara jemarinya yang panjang.

Arumi tidak ikut duduk di sofa yang sama. Wanita itu memilih untuk berdiri tepat di hadapan Rangga, melipat kedua tangannya di dada—sebuah posisi protektif yang sengaja ia ambil untuk menyembunyikan puncak dadanya di balik daster lengan buntung tersebut, sekaligus untuk mengunci pergerakan psikologis sang CEO muda.

"Rangga," panggil Arumi, suaranya mengalun tenang namun sarat akan ketegasan seorang wanita dewasa. "Kenapa kau melakukan semua ini untukku?"

Rangga mendongak, sepasang mata tajamnya mengerjap sekali. "Kan sudah saya bilang, Mbak. Semua ini karena janji dan wasiat—"

"Jangan bawa-bawa nama Mas Ary atau perjanjian yang dibuat Denny," potong Arumi cepat, memangkas kalimat pertahanan Rangga sebelum sempat berkembang. "Aku bertanya tentang kamu. Tentang seorang Rangga Adiwilaga. Kamu melunasi tumpukan utangku, menginap di rumah yang sempit ini, membiarkan Aryo mengacak-acak ketenanganmu dengan suara game-nya, bahkan sampai rela pasang badan tertusuk pulpen kemarin siang."

Arumi memajukan tubuhnya satu senti, menatap lurus ke dalam manik mata Rangga yang mendadak beralih gelisah. "Seandainya wanita yang suaminya kamu tabrak pagi itu bukanlah aku... seandainya janda yang ditinggalkan Mas Ary adalah orang lain yang sama sekali berbeda secara fisik dan tabiat, apakah kamu akan tetap berlaku sama, Rangga? Apakah kamu akan tetap mengorbankan begitu banyak hal di hidupmu se-ikhlas ini?"

Pertanyaan telak itu menggantung di udara malam, memutus ritme napas Rangga dalam seketika.

Suasana ruang tengah mendadak senyap membeku, hanya menyisakan sayup-sayup suara permainan komputer Aryo dari lantai atas yang mulai meredup. Rangga menundukkan kepalanya, menatapi permukaan apel merah di tangannya seolah buah itu adalah draf kontrak bisnis paling rumit yang pernah ia temui seumur hidupnya.

Bagi seorang ahli strategi bursa saham yang biasa memanipulasi emosi pasar dalam hitungan detik, pertanyaan Arumi adalah sebuah jebakan tak kasat mata yang tidak memiliki celah hukum untuk menghindar. Rangga tahu, jika ia menjawab 'Ya, saya akan tetap melakukan hal yang sama', maka dia sedang berbohong demi menyelamatkan sisa jarak di antara mereka. Namun jika ia menjawab 'Tidak', itu artinya benteng pertahanannya untuk menghindar selama seminggu ini resmi runtuh total malam ini di depan Arumi.

Rangga menarik napas panjang, menekan gejolak aneh di dalam dadanya sebelum perlahan kembali mendongak untuk menatap Arumi.

Rangga berdehem pendek, berusaha menegakkan bahunya demi mengumpulkan kembali sisa-sisa wibawa seorang CEO yang sempat tercecer. Ia memutar-mutar apel di tangannya, lalu menatap Arumi dengan tatapan profesional yang sengaja dibuat-buat.

"Secara kalkulasi manajemen risiko, Mbak... Red-Desmont memiliki kewajiban moral untuk menjaga stabilitas finansial keluarga korban guna menghindari sengketa hukum jangka panjang di pengadilan perdata," dalih Rangga dengan istilah bisnis yang kaku. "Jadi, siapa pun jandanya, kompensasi pelunasan utang dan fasilitas proteksi ini akan tetap saya berikan demi menjaga sentimen positif reputasi perusahaan di bursa saham."

Arumi menyipitkan matanya, menatap Rangga datar dari atas ke bawah.

"Rangga," desis Arumi, nadanya mendadak berubah dingin. "Ini ruang tamu rumah kayu, bukan ruang rapat pleno SCBD. Kalau kamu masih menjawab pakai bahasa brosur investasi begitu, apel di tanganmu itu bakal berpindah tempat ke dalam lobang hidungmu dalam hitungan tiga detik. Mau coba?"

Uhuk!

Rangga refleks membekap hidungnya sendiri dengan sebelah tangan, nyalinya menciut seketika melihat gertakan horor dari calon istrinya.

“Aku nggak yakin ya kamu bakalan kasih wanita lain surat perjanjian pengalihan aset berlandaskan pernikahan seperti yang kamu lakukan ke aku. Jawab jujur? Biar aku tahu bagaimana nanti aku harus bersikap memperlakukanmu.” Sahut Arumi tegas.

Rangga menaikkan sebelah alisnya dengan mata masih menunduk ke bawah. Mendadak suara game di lantai atas tak terdengar lagi. Keheningan mendadak membuat suasana malam ini jadi semakin menegangkan.

Pria itu melirik Arumi, lalu mengembuskan napas pasrah, menyerah total dari taktik bisnisnya.

"Hummm, iya Mbak, maaf," gumam Rangga, suaranya mendadak mengecil dan terdengar sangat kaku. Jemarinya kembali meremas pinggiran celana training almarhum Mas Ary. "Sebenarnya... kalau boleh jujur, awalnya memang murni karena rasa bersalah pada Mas Ary. Tapi belakangan ini... ya... saya rasa... saya 'sedikit' mulai menyukai Mbak Arumi."

Arumi tidak menunjukkan binar bahagia sedikit pun. Ia justru mendengus sinis, melipat tangannya lebih ketat di dada untuk menutupi puncak dadanya yang tanpa bra.

"'Sedikit' kamu bilang? Seminggu di sini kamu sudah menguras setengah isi lemari almarhum suamiku, mengambil kemejanya, menyabotase anak bungsuku jadi teman mabar, dan menuntut dibuatin kotak bekal dua porsi setiap pagi. Itu namanya bukan 'sedikit' menyukai, Rangga! Kamu itu cuma memanfaatkan fasilitas pembantu gratis!" gertak Arumi lagi, kali ini nadanya jauh lebih tegas dan menekan psikologis sang Direktur muda. "Jawab yang benar, atau malam ini kamu tidur di teras ditemani kucing tetangga!"

Diancam akan diusir ke teras tanpa atap, pertahanan gengsi Rangga akhirnya runtuh total malam itu. Pria berusia 26 tahun itu menurunkan kedua tangannya, menatap lurus ke sepasang mata Arumi dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dalam, pasrah, dan tulus tanpa ada lagi sekat pembatas.

"Saya nyaman berada di dekat Mbak Arumi," aku Rangga akhirnya dengan suara serak yang pelan, mengaku kalah pada batinnya sendiri. "Seumur hidup, saya selalu dikelilingi wanita-wanita oportunis seperti Bintang atau tipe wanita sosialita yang bising mengejar harta. Tapi Mbak Arumi berbeda. Mbak tidak melihat saya sebagai mesin berjalan, Mbak tidak butuh validasi saya, Mbak Arumi memperlakukan saya sebagai manusia. Dan tamparan dari Illahi itu, di saat saya diperlihatkan kalau manusia benar-benar tak ada artinya dibandingkan dengan kuasa Tuhan yang bisa sepersekian detik mencabut nyawa hambaNya tanpa peringatan, membuat saya merasa kalau tidak selamanya saya bisa mengendalikan situasi.”

Arumi menggelengkan kepalanya, ia masih tidak puas dengan jawaban Rangga. Kalau seorang pebisnis mulai menjelaskan segala sesuatunya dengan basa-basi seperti ini, jadi ada kesalahan kontrak kerjanya, atau celah besar di proyeknya.

“Itu juga saya tahu Rangga. Kamu sangat shock, sama seperti saya waktu melihat jasad Mas Ary. Apalagi kamu menemaninya di saat-saat sakratul maut.” Arumi memiringkan kepalanya, berusaha menilik lebih jauh makna yang tersirat di tatapan Rangga yang ragu. “Tapi bukan itu jawaban yang saya mau. Kamu belum sepenuhnya jujur.”

“Please...” gumam Rangga pelan, tapi Arumi masih bisa dengar keluhannya.

“Boleh aku tebak?” tawar Arumi.

“Hm...” Rangga tampak ogah-ogahan tapi tak ada jalan untuk menghindar.

“Kamu... mulai jatuh cinta sama aku?”

Singg... suasana semakin mencekam.

Tapi Rangga belum menjawab.

Lebih tepatnya, lebih memilih bungkam karena khawatir ia akan dicap mesum.

“Aku tidak percaya ada manusia yang tanpa pamrih, ya Rangga. Aku ini seksi, cantik, cerdas. Bukannya sombong dan bukan satu dua orang yang bilang ke aku. Aku tahu kamu orang yang bertanggung jawab, tapi perlakuanmu padaku ini sudah kejauhan.”

“Aku lebih suka bilang kalau aku menganggap Mbak Arumi sebagai kakakku.”

“Kita sama-sama anak tunggal, tidak mengerti kehidupan kakak beradik. Dan menurutku perlakuan adik laki-laki ke kakak perempuannya nggak kayak kamu yang salting setiap hari dan menghindari setiap kuliatin!”

“Terus aku harus gimana? Apa lain kali kalau Mbak Arumi memelototiku, aku harus langsung cium aja?”

“Heh!!” seru Arumi kaget sambil menjauh dan memegangi dadanya yang m,elonjak.

Dibarengi dengan suara BLETAK! Mouse Aryo yang langusng jatuh.

Kelihatan sekali mengupingnya ya.

“Ck! Perempuan, selalu saja mau pernyataan hitam di atas putih.” Akhirnya Rangga mengeluh pelan sambil meletakkan apelnya di meja. Mendadak ia tidak lapar lagi.

“Ya kalau gitu kamu tegaskan saja mulai sekarang! Biar aku nggak bingung kamu itu mau bagaimana. Sekilas kamu berakting tidak terjadi apa-apa, tapi gerakan kamu menandakan sebaliknya!” omel Arumi.

“Aku itu nggak suka deket-deket sama wanita, Mbaaaaak.” Sahut Rangga sambil mencondongkan tubuhnya. “Ada perasaan waspada di hatiku kalau ada perempuan yang mulai dekat-dekat, apalagi kalau mereka mulai senyum! Aku rasanya kayak dideketin sales yang jual investasi bodong! Baru kali ini aku akrab sama wanita yang kayak kamu! Jadi aku nggak tahu bagaimana harus bersikap. Kalau dideketin nanti dianggap mesum, kalau dijauhin malah ngomel, terus aku harus gimana?!” sembur Rangga.

Kekehan Aryo terdengar dari atas.

“Jangan nguping, dasar Bocil Kematian!” seru Rangga.

“Perjaka Tuaaaa!!” Balas Aryo dari lantai atas.

1
Leni Pur indah sari
jangan di pancing Riaan.. tau2 besok udh jadi milik Rangga aja tu rumah sebelah..
neen
kheemm... gerah dan geli😄
Miss F
Rangga udh kecintaan SM mbak aruminto msh malu2 meong🤣🤣
Dede Maesaroh
🤣 kocak
Naftali Hanania
haredang ini mah....fisual sama kalimat2 nya.....bikin hilaf gak ni nanti..😍
Naftali Hanania
salut bgt sm om rangga. respek lah sekwbon lope2 nya...👍👍👍👍💖💖💖💖
Sahlendi Udiningrum
suka banget ma pasangan arumi rangga, menyalaa smuaaa💣
HilVi Tanurahardja💋
makasih upnya madam🥰
HilVi Tanurahardja💋
woaaaahh mantap ya rian
mamaqe
kodee ituuu kodeee...kan ada clue nya..sabaarrrr
mamaqe
duuhhh anak perawan malu2🤣🤣🤣🤣
mamaqe
Cian ranggaaaa
Lusi Amelia
Madame, 1 bab kureeeeng ini 🥹🤣🤣🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
jadi nge bayangjn mas rangga🤣
Miss F
mbak arumii ngiler g liat isi dlm Rangga 🤣 angkat
Nur Aisyah
💪
Siti Rohmah
mau lagi💪
mery harwati
Rangga membalas kebaikan Arumi yang menyelamatkan perusahaan Rangga dari ancaman Bu Shinta dengan membelikan Rian mini market meski dengan alasan dicicil karena Rangga juga tau Rian keras kepala, bener² smart Rangga 👍
mamaqe
ta temenin rum...mamaq malah lg ngelap iler🤣🤣🤣
mamaqe
ranggaaa..mamaq bingung mo komen apa ttg kamu..luar biasa kamu tuhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!