NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisnis Dalam Genggaman Rangga

Arumi hanya terpaku menatap ke depan. Matanya tertuju ke arah Rangga yang sedang dirawat di klinik kantor.Pandangan wanita itu kosong, karena benaknya kembali ke masa lalu. Ia baru kali ini melihat Bintang dalam kondisi kesetanan seperti tadi.

Bintang Dirgahayu... si idola kampus, setidaknya ia menganggap dirinya sendiri seperti itu. Arumi dapat mengingat senyum angkuhnya, dagunya yang selalu terangkat. Bibirnya mengembang tapi tatapannya sinis, binar palsu selalu tersirat di pandangannya. Arumi dapat mengingat jelas saat-saat ia difitnah, dengan Bintang yang seakan mengajaknya bicara, mengobrol, memujinya, namun berikutnya mengejeknya. Disertai dengan tawa licik dari pengikut-pengikutnya. Beberapa di antara mereka bahkan menghujani Arumi dengan makian “Pelakor, mati aja lo. Hama masyarakat. Lo itu kaum terendah selevel sama boti.”

Sekeras apa pun Arumi berusaha meningkatkan nilainya, yang ada hanya julukan : ya iya lah, laki lo kan dosen sini. Kan gampang lobi-lobi sama rektor.

Jadi Arumi berhenti berusaha. Nilai seadanya yang penting naik. Wisuda pun ia dihujani teriakan mencemooh saat menerima gulungan sertifikat tanda lulus di atas panggung. Para Dosen yang tahu kenyataan di baliknya hanya bisa memeluk Arumi, tanda simpati mereka. Namun mereka tidak berusaha meluruskan, karena massa sudah terlalu banyak. Dosen pun bisa dijauhi mahasiswanya saat mereka mendukung minoritas yang dianggap salah seperti Arumi.

Arumi dapat mengingat Bintang menyeringai lebar, sesekali tertawa membicarakannya di bawah sana. Tatapan wanita itu sinis, tapi kedua tangannya bertepuk tangan seakan menyelamati Arumi sekaligus mengejeknya.

Kini?

Dia yang tadinya Sang Bintang, kini bagaikan komet yang terbakar terkena lapisan ozon Bumi. Membabi-buta menyerangnya, wajahnya mengerikan. Tatapannya marah dan giginya bergemeretak. Ia dikuasai sesuatu yang Arumi tak bisa bayangkan sebelumnya.

Bintang yang sebenarnya...

Sayang sekali para followernya tidak ada yang melihat saat dia berada dalam kondisi terpuruk.

“Mbak?” goncangan pelan di bahunya membuatnya tersentak.

Rangga ada di depannya, tiba-tiba saja pria itu berada sangat dekat dengannya padahal baru beberapa saat lalu dia di seberang sana sedang dibalut perban.

Rangga tidak mengenakan kemeja, salah satu lengannya disangga semacam kain tebal dengan kasa tebal tertempel rapi di bahu belakangnya. Otot perutnya terpampang jelas. Namun wajahnya tampak mengerut khawatir.

“Y-Ya?” Arumi tergagap karena tindakan yang tiba-tiba.

“Kenapa Mbak? Kok bengong?” dari tadi pria itu berusaha memanggil Arumi tetapi wanita itu tidak responsif. Makanya dia segera mendekat karena mengira Arumi shock atau kaget dengan kejadian yang tadi. “Ada masalah?”

Arumi menggeleng kikuk sambil menjauhkan dirinya, berusaha menjaga batas aman, “Sakit banget ya?” matanya menatap ke arah penyangga bahu yang dikenakan Rangga.

“Sebenarnya nggak sakit tapi dokter di sini memang lebay.” Rangga melirik ke arah belakangnya. Tampak dokter muda sedang mencatat beberapa kata mengenai kondisi Bossnya kini.

“Bapaaaak, sekecil apa pun lukanya, jangan anggap enteng. Kalau kena tetanus gimana? Bapak tidak merasa sakit karena saya kasih Pain Killer. Tunggu saja nanti malam.” Sahut si Pak Dokter.

“Ya minum lagi aja pain killernya.” Dengan pongah Rangga menyeringai.

“Tidak boleh minum Pain Killer sering-sering ya Pak, nanti berpengaruh ke Ginjal.”

Asumsi Dokter membuat Boss Muda itu mencibir sebal. Tapi daripada masalahnya jadi panjang karena Si Dokter memang terkenal bawel, Rangga pun memberi kode ke arah Tony.

Si pemuda berusia 28 tahun itu, lebih tua 2 tahun dari Rangga, menghampiri Rangga sambil tangannya mengetik di layar ponselnya. “Ya Pak?”

“Mbak Arumi, mau pulang duluan? Saya masih ada pekerjaan yang harus ditangani. Biar Tony yang antar ya Mbak?”

“Setelah ini ada meeting dengan wakil perusahaan A, dan ada sindikasi dengan Bank B dan C. Bapak yakin mau mimpin rapat tanpa saya? Perjalanan 45 menit bolak-balik loh Pak, apalagi siang begini Jakarta macetnya udah nggak masuk akal.” Tony langsung memberondong Rangga dengan berbagai kemungkinan yang membuat Rangga merasa kalau sudah saatnya Tony ini diajari sopan santun.

“Dulu saya bikin perusahaan ini berada di top tier bisnis sebelum ada kamu.”

“Ya tapi kan ada Pak Denny. Sekarang Pak Denny-nya lagi ada di Kantor Polisi.” Ujar Tony sambil memandang Rangga dengan pandangan tanpa ekspresi, tapi rasanya dia berharap kalau tak perlu mengantar Arumi karena malas macet-macetan di jalan. Mendingan duduk manis sambil ngopi dan memperhatikan Pak Rangga ngomel-ngomel di Ruang Meeting, kan?

Sementara Rangga langsung menangkap maksud Tony. Sepertinya Pemuda sompral ini ingin Arumi tetap di kantor sampai Rangga pulang kerja karena akan memamerkan Arumi sebagai calon istri Rangga yang diakui. Tony ingin seluruh manusia di gedung ini mengenal Arumi, ditambah ia ingin Arumi memahami bagaimana dunia bisnis berjalan. Bagaimana Rangga memainkan pion, Kuda dan Ratunya di atas papan catur.

“Oke. I got it...” gumam Rangga pelan sambil menatap tajam ke arah Tony.

“Jangan aktivitas berat-berat dulu hari ini ya Pak, seperti angkat kursi terus lempar, atau nonjok lemari arsip. Jangan ya Pak. Ototnya masih tegang tuh.” Sahut Pak Dokter sambil mengetik di meja konsultasi.

Rangga mendecak kesal. “Ya sudah, Buka akses Trading Desk utama dari sini, Ton," perintah Rangga, suaranya beralih bariton penuh otoritas yang mutlak. "Sambungkan saya langsung ke Kepala Divisi Forex dan Manajer Portofolio Saham."

“Zoom meeting ya Pak, mau pakai baju dulu nggak?” Tony dengan cekatan membuka laptopnya, menyinkronkan data grafik gelombang hijau dan merah yang mendadak bergerak fluktuatif ekstrem di layar monitor klinik.

“Ribet.” Gumam Tony.

"Forex sedang bergejolak pasca-rilis data inflasi Amerika Serikat, Pak. Pasangan mata uang USD/JPY (Dolar AS terhadap Yen Jepang) baru saja menjebol area resistance kuat di angka 158.20," lapor Tony cepat, jemarinya lincah mengetik perintah eksekusi.

Rangga memicingkan matanya menatap pergerakan lilin-lilin grafik (candlestick) valuta asing tersebut. "Pihak Bank of Japan pasti akan melakukan intervensi mata uang dalam tiga puluh menit ke depan untuk menyelamatkan Yen. Jangan beli Dolar sekarang, itu jebakan bull trap. Instuksikan divisi forex untuk segera melakukan aksi jual massal (Short Selling) di posisi USD/JPY sekarang juga di angka 158.50. Ambil target profit minimal seratus lima puluh pips!"

"Siap, eksekusi Short USD/JPY berjalan, Pak," terdengar suara pria dari arah laptop. Kelihatannya para anak buah Rangga yang berasal dari Unit Trading sudah tersambung.

Belum sempat hembusan napas itu selesai, layar kedua berkedip merah menampilkan bursa saham domestik dan regional.

"Sektor perbankan kita bagaimana, Pak Davis?" tuntut Rangga, mengabaikan denyut nyeri di bahunya yang baru dijahit.

"Saham Bank B dan Bank C sedang dihantam aksi ambil untung (profit taking) oleh investor asing setelah sentimen sindikasi proyek kita kemarin bocor halus ke pasar. Harga saham Bank B anjlok tiga persen ke level delapan ribu dua ratus rupiah per lembar, sedangkan Bank C terkoreksi dalam di zona support terbawahnya," lapor seorang pria lain. Suaranya bergema di arah speaker laptop/

Rangga justru menyunggingkan seringai tipis yang luar biasa licik dan tajam. "Bagus. Itu artinya barang mewah sedang diskon besar-besaran. Ambil posisi beli (Buy the Dip). Gunakan dana likuiditas cadangan dari konsorsium sekuritas kita untuk menyerap seluruh tekanan jual asing di pasar. Borong saham Bank B di harga dasar delapan ribu dua ratus, dan lakukan akumulasi beli bertahap pada saham Bank C. Begitu laporan sindikasi resmi kita rilis ke publik satu jam lagi, harga kedua saham perbankan itu bakal meroket naik (rebound) menembus batas Auto Rejection Atas."

Rangga berbalik, melirik angkuh ke arah monitor utama di mana grafik-grafik merah yang tadinya anjlok perlahan mulai berbalik arah membentuk pola hijau vertikal yang masif setelah dana triliunannya masuk ke pasar modal. Hanya dalam waktu kurang dari lima belas menit, dengan kondisi tubuh setengah telanjang berselimut perban dan tanpa harus menginjakkan kaki di ruang rapat, Rangga baru saja mengamankan keuntungan bernilai miliaran rupiah dan membalikkan arah angin bursa saham Jakarta.

Arumi yang duduk mematung di sofa sudut klinik hanya bisa menonton dalam diam yang takzim. Untuk pertama kalinya, ia melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dunia bergerak di bawah telunjuk pria berusia 26 tahun tersebut. Di ruangan klinik ini, Rangga tidak terlihat seperti anak muda konyol yang merusak hidupnya; dia terlihat seperti monster jenius yang sedang mendikte jalannya roda ekonomi

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!