Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cowok Berkaca Mata
Jeviza berniat membalikan tubuhnya saat melihat keberadaan Sisil di depan sana. Ia berniat untuk kabur lagi, tapi kepalang sudah karena Sisil sadar dengan keberadaan Jeviza yang sedari tadi memang sedang dicarinya, Sisil dengan sengaja berlari untuk mengejar Jeviza.
"Je, kabur! Kita putus!" seru Sisil seketika menghentikan langkah Jeviza yang sengaja dipercepat tadi.
Jeviza mendengus kesal dengan berbalik badan, ucapan Sisil tadi membuat beberapa mahasiswa di sekitar menoleh ke arah mereka, kata "putus" yang Sisil ucapkan tadi sangat ambigu bagi sebagaian orang yang tidak mengenal mereka. Bisa masuk akun gosip lagi kalau sampai ada yang cepu.
"Gila lo, dari tadi gue telpon nggak diangkat, ngapain sih lo? Aneh tau nggak," omel Sisil semakin membuat beberapa mahasiswa yang melewati mereka menoleh dengan tatapan aneh.
Jeviza mendelik tajam. Ia menarik Sisil untuk dibawa ke tempat yang lebih kondusif, bukan di tengah lorong seperti tadi.
"Sil, sumpah ya mulut lo nggak difilter banget."
Sisil mengernyit, lalu memutar bola matanya. Tangannya bersedekap dengan kepala condong ke arah Jevi.
"Lagian elo, liat gue malah kabur, dipikir gue setan?"
"Je, lo hari ini kenapa sih?"
Jeviza menelan ludahnya kasar, ia baru sadar jika ketiga temannya masih difase aman, tidak ada kecurigaan sama sekali, harusnya Jeviza tidak perlu berlebihan dengan cara menghindar. Malah terkesan aneh pasti bagi mereka.
"Gue tadi baru dateng langsung kebelet."
"Yakin? Ngapain wa gue nggak dibales, ditelpon juga nggak lo angkat, dikira gue nggak tau apa ya kalau lo sengaja hindar."
"Sil, lo pikir aja, gue lagi di toilet angkat telpon lo, jijik tau nggak."
Sisil mengangguk paham, tetapi sorot matanya kembali penuh selidik. "Terus, ngapain tadi kabur setelah liat gue?"
Mampus, Jeviza benar-benar tidak diberi kesempatan oleh Sisil untuk sekedar bernapas lega. Sisil masih saja ingat kejadian beberapa saat lalu.
"Ya, karena gue kira bukan lo." Jeviza menjawab dengan asal-asalan, tidak akan habis menanggapi rasa penasaran Sisil.
"Ya udah kalau gitu, sekarang kita ke Nau sama Tevi yuk. Mereka nunggu di kantin."
Sisil menarik tangan Jeviza seakan gadis itu akan kembali kabur. Tidak memberi kesempatan untuk Jeviza menjawab entah mengiyakan atau menolak.
"Ada yang mau kita omongin sama lo," ujar Sisil di tengah langkah mereka.
Sisi waspada Jeviza langsung keluar, ia menatap Sisil yang berjalan di depannya, dengan satu tangan menarik tangannya.
"Ngomong aja sekarang, gue dengerin."
Sisil menggeleng mantab, menoleh pada Jeviza sekilas. "Enggak bisa, ini penting, penting banget."
Jantung Jeviza berdetak dengan sangat cepat hanya dengan mendengar ucapan Sisil baru saja. Itu seperti menyiratkan akan ketakutan Jeviza sedari tadi, dan penyebab yang membuat Jeviza sengaja menghindar.
Sepertinya, kalian emang sadar kalau itu, gue
Batin Jeviza tidak bisa lagi menghindar, entah dengan cara apa ia akan beralasan nanti.
"Eh, tolong minggir-minggir," suara dari samping Jeviza dan Sisil terdengar.
Tepat ketika mereka melewati pertigaan yang menghubungkan lantai dua, seorang yang baru saja turun dari tangga menabrak mereka, lebih tepatnya menabrak Jeviza sampai membuat tangan Sisil yang memeganginya sedari tadi terlepas.
Jeviza terjatuh, sementara buku yang sedang di bawa oleh cowok itu terjatuh, beberapa ada yang mengenai Jeviza.
"Eh, sorry-sorry, gue nggak sengaja, lo nggak papa?" tanya cowok itu panik.
Jeviza mengangguk pelan, dia memang tidak apa-apa, hanya saja bagian bok*ngnya sedikit sakit akibat jatuh tadi.
"Lain kali, hati-hati dong kak," balas Sisil menjauhkan buku-buku dari Jeviza, lalu membantu Jeviza untuk berdiri.
"Ayo, Je."
"Ish," ringis Jeviza saat menyadari ada bagian dari kakinya yang terasa sakit saat berusaha untuk berdiri.
"Ayo, gue bantu."
Suara itu, suara yang sama seperti tadi pagi Jeviza dengar. Suara milik cowok berkaca mata yang Jeviza temui di ruang musik.
Ketika Jeviza mendongak, wajah yang sama kini sudah berada di depannya, di sebelah Sisil dengan mengulurkan tangannya, berniat membantu Jeviza untuk kembali berdiri.
"Bisa berdiri kan?" tanyanya lagi.
Jeviza mengangguk, ia menatap ke arah tangan cowok itu yang masih mengulurkan tangan berniat membantu, lalu pada Sisil yang terdiam di samping cowok itu.
"Sil, bantu gue," ujar Jeviza menyadarkan Sisil.
Setelah Jeviza benar-benar bisa kembali berdiri, cowok itu tersenyum tipis, menyadari jika niat baiknya tidak diterima oleh Jeviza.
"Sorry, dia temen gue, tadi bantuin gue bawa buku buat ke ruang FIKOM," ujarnya seperti menjelaskan.
Jeviza mengangguk, mencoba berdiri dengan normal meski agak susah. "Enggak papa kak, nggak sengaja juga kan?"
"Kalau gitu, biar gue ambil obat buat lo ya? Atau mau gue antar ke-"
"Nggak usah kak, nggak papa kok, ini cuma lecet sedikit, duluan kak." Jeviza menarik Sisil untuk segera pergi dari sana.
Meninggalkan orang yang sama dengan kejadian yang berbeda. Lagi-lagi sudut bibir cowok berkaca mata itu tertarik ke atas, menatap kepergian Jeviza dengan berjalan sedikit tertatih.
"Demi? Kok ganteng sih, Je? Cowok yang tadi," pekik Sisil saat mereka sudah cukup jauh.
"Emm dia itu nomor 3 setelah kak Kean, kak Bian yang pendiam itu, terus cowok yang tadi, sumpah Je, ganteng ih kaya mas-mas jawa yang berdamage."
Jeviza menoleh pada Sisil, lalu menghela napas dalam, otak Sisil itu memang cuma dipenuhi dengan lawan jenis, bahkan mantan darinya pun ikut andil menjadi list cowok ganteng versi Sisil, bagian nomor satu malah.
"Aduh, ini kaki lo, kayaknya nggak cuma lecet deh, Je, kita obati dulu aja ya? Ngomong seriusnya besok-besok aja," ujar Sisil memapah Jeviza.
Sementara di lain tempat. Bian melihat kedatangan orang yang sedari tadi sudah ditunggunya. Bian duduk dengan bersedekap, sorot matanya mengikuti langkah seorang cowok yang baru saja masuk, dan duduk di sebelahnya.
Ruangan itu sepi, hanya diisi oleh mereka, tetapi pendingin pada ruangan seakan tidak berlaku mengingat hawa di sana sangat panas, sama-sama memiliki wajah dingin, kedua cowok itu masih diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Langsung aja, gue nggak mau basa-basi," ujar cowok berkaca mata yang kini melirik Bian sekilas.
"Bilang ke temen lo itu, kalau masih sayang sama hobinya, gue bisa kembalikan posisi dia kaya dulu, cukup dia berhenti jadi ketua BEM."
Rahang Bian mengeras, tetapi wajahnya masih sangat tenang untuk sekedar menjawab ucapan mantan temannya itu. Bian berdiri dari duduknya, melangkah sedikit sebelum akhirnya berhenti tepat di hadapan cowok tersebut.
Tanpa menoleh, apa lagi menatap, Bian berkata. "Lo yang paling tau gimana keadaannya, jangan jadi pengecut." Bian terkekeh sinis, lalu kembali berucap sebelum benar-benar pergi. "Kean bisa aja kasih jabatannya sekarang ke lo, tapi-apa lo mampu?"
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!