(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.
Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Sembilan Sekte
Ibukota Suci Kekaisaran Matahari Suci kini hanya menyisakan kawah api dan reruntuhan batu giok yang meleleh. Peradaban yang telah berkuasa selama ribuan tahun itu runtuh hanya dalam waktu kurang dari satu hari di bawah telapak kaki seorang pemuda berusia lima belas tahun.
Di udara, Chu Chen melayang dengan tenang. Selubung Qi Yin-Yang yang ia ciptakan masih melindungi Bai dan Meng Fan dari abu panas dan badai celah ruang yang mengamuk di bawah mereka.
Chu Chen menatap ke arah cakrawala. Niat Spiritualnya, yang kini disokong oleh fondasi Alam Raja Fana Tahap Awal, menyebar tanpa batas, menyelimuti jangkauan puluhan ribu mil. Ia bisa merasakan riak-riak kepanikan dari ribuan kapal terbang milik Sembilan Sekte Besar yang sedang melarikan diri ke berbagai penjuru mata angin.
"Mereka berpencar," gumam Chu Chen pelan, menyeringai hingga memperlihatkan taringnya. "Siasat yang bagus untuk menghindari binatang buas biasa. Sayangnya, mereka sedang berlari di dalam wilayah perburuanku."
"C-Chu Chen," Meng Fan menelan ludah, suaranya bergetar menatap kehancuran di bawah mereka. "Kaisar Yan Luo sudah mati. Kota ini sudah hancur. Kenapa kita tidak langsung pergi saja? Mengejar mereka semua... itu puluhan ribu orang yang tersebar ke seluruh benua!"
"Mereka bukan orang, Meng Fan. Mereka adalah sumber saripati," Chu Chen menoleh sedikit. Mata naga vertikalnya memancarkan kedinginan yang membekukan darah. "Dan seekor naga tidak pernah membiarkan makanannya melarikan diri dari piring."
Chu Chen tidak merapal sihir. Ia hanya mengulurkan tangannya, dan dengan satu cengkeraman ke arah udara kosong, ruang di sekitarnya mendadak melengkung dan retak. Sebagai seorang Raja Fana, hukum ruang kini tunduk padanya. Ia tidak perlu lagi terbang menggunakan sayap tulangnya untuk menempuh jarak; ia bisa merobek alam dan melangkah menembusnya.
"Tunggu di sini. Aku akan segera kembali setelah menyelesaikan hidangan penutupku."
WUSH!
Sosok Chu Chen menghilang ke dalam celah hitam kehampaan, meninggalkan Bai dan Meng Fan yang mengambang di dalam selubung pelindung, membeku dalam ketakutan dan ketidakpercayaan.
...
Di langit utara, barisan kapal terbang dari Sekte Pedang Pembelah Langit melaju dengan kecepatan yang membakar tungku formasi mereka hingga hampir meledak. Tiga Penatua Agung yang tersisa berdiri di geladak dengan wajah sepucat mayat.
Pemimpin Sekte mereka telah dihisap menjadi debu. Putra Suci mereka, Jian Wuxin, mati konyol di dalam Alam Rahasia. Sekte pedang yang dulunya angkuh kini hanya segerombolan anjing yang ketakutan.
"Lebih cepat! Bakar semua sisa Batu Roh! Jika kita bisa mencapai susunan pelindung sekte, kita mungkin bisa menahan iblis itu!" teriak Penatua Pertama dengan panik.
Namun, tepat di depan haluan kapal utama mereka, ruang udara tiba-tiba terbelah seperti kain yang dirobek dengan paksa.
Dari dalam celah hitam itu, sosok Chu Chen melangkah keluar. Jubah abu-abunya berkibar santai. Ia melayang tepat di jalur barisan kapal raksasa tersebut, seolah sedang berdiri di jalanan kota.
"T-TIDAK MUNGKIN! DIA MENGGUNAKAN PEMINDAHAN RUANG!" jerit Penatua Kedua hingga suaranya pecah. "Banting kemudi! Serang dia dengan susunan pedang pelontar!"
"Menyerangku?"
Suara Chu Chen menggema di dalam benak setiap murid Sekte Pedang di kapal tersebut. Ia tidak mengangkat tangannya. Ia hanya melepaskan aura penindasan Raja Fana-nya yang telah disempurnakan oleh Hukum Penciptaan.
BUMMM!
Langit di sekitar barisan sekte pedang itu mendadak mengeras seperti balok kaca. Ribuan pedang terbang yang mencoba melesat dari kapal langsung berhenti di udara, kehilangan kendali dengan pemiliknya, lalu hancur menjadi serpihan logam mati.
Kapal-kapal raksasa itu berderit mengerikan, terjepit oleh tekanan ruang yang tak kasat mata.
"Kalian sangat membanggakan pedang kalian," bisik Chu Chen, matanya menyala emas di tengah awan kelabu. "Biar kutunjukkan pada kalian, akhir dari segala ketajaman fana."
Di dalam Dantiannya, Niat Pedang Purba bergetar selaras dengan Api Teratai Merah. Chu Chen mengangkat satu jarinya, dan menebas perlahan ke arah barisan kapal tersebut.
SRAAAAAT!!!
Bukan lagi satu busur cahaya. Ratusan ribu benang cahaya perak yang menyala merah darah meledak dari jari Chu Chen, membentuk jaring kematian raksasa yang menyapu seluruh armada.
Tidak ada ledakan, hanya ada suara sobekan basah yang mengerikan. Tiga kapal terbang raksasa, beserta puluhan ribu murid dan ketiga Penatua Agung di dalamnya, terpotong-potong menjadi balok daging berukuran sama besar. Darah dan potongan tubuh itu bahkan tidak sempat jatuh, karena Chu Chen langsung membuka mulutnya.
Pusaran Ketiadaan: Pelahapan Langit!
Kabut darah dan saripati kehidupan dari puluhan ribu ahli pedang itu disedot habis ke dalam mulut Chu Chen, menyisakan langit yang kembali bersih seolah barisan kapal itu tidak pernah ada.
"Satu sekte selesai," Chu Chen menjilat bibirnya, merasakan letupan energi pedang yang renyah di dalam meridiannya. "Tinggal delapan."
WUSH!
Ia kembali menghilang ke dalam celah ruang.
Di ufuk barat, sisa-sisa pasukan Sekte Iblis Darah sedang mencoba bersembunyi di balik badai kabut merah buatan mereka sendiri. Namun, kabut beracun itu langsung disedot dan dibakar oleh Chu Chen yang muncul tepat di tengah-tengah formasi mereka.
Tanpa basa-basi, Chu Chen melepaskan ranah Istana Jiwa Naga. Bangunan tulang raksasa bayangan semu itu menimpa kapal-kapal mereka, meremukkan kapal itu menjadi serpihan kayu. Chu Chen mencengkeram leher dua Penatua Iblis Darah yang mencoba melawan, lalu menghisap esensi darah mereka hingga kering, menggunakannya sebagai minuman untuk membilas kerongkongannya.
Di selatan, Sekte Teratai Es mencoba membekukan ruang untuk menghalangi langkah Chu Chen. Namun, hawa dingin mereka menguap seketika saat Chu Chen mengaktifkan hawa panas mutlak dari Api Teratai Merah. Ia melelehkan kapal es mereka, mendidihkan darah mereka dari dalam, lalu menelan uap saripati kehidupan mereka dalam satu tarikan napas raksasa.
Timur. Barat daya. Utara.
Dalam waktu kurang dari satu jam, langit Benua Biru Langit menjadi saksi bisu dari pembantaian sepihak yang paling lugas dalam sejarah peradaban kultivasi.
Sembilan sekte besar, yang selama ribuan tahun bertindak sebagai penguasa dan penentu nasib miliaran manusia fana, dihapus dari peta kehidupan. Tidak ada perlawanan yang berarti. Di hadapan kekuatan seorang Raja Fana yang memiliki ilmu menelan semesta, mereka semua hanyalah hidangan yang disajikan di atas nampan.
Ketika Chu Chen akhirnya merobek ruang dan melangkah kembali ke dalam selubung pelindungnya di atas reruntuhan Ibukota Suci, tidak ada setetes pun darah di jubahnya.
Napasnya sangat tenang. Kulit perunggunya memancarkan pendaran keemasan yang luar biasa padat. Dantiannya kini benar-benar telah terisi penuh, menyentuh ambang batas Tahap Menengah Alam Raja Fana dengan fondasi yang begitu kokoh hingga tak bisa digoyahkan oleh hukum alam mana pun.
Bai dan Meng Fan menatapnya dengan diam yang dipenuhi kengerian mutlak. Mereka tahu apa yang baru saja dilakukan pemuda ini dalam satu jam terakhir.
Sembilan sekte raksasa... punah. Benua Biru Langit kini benar-benar kosong dari ahli tingkat tinggi.
"Makanannya tidak seburuk yang kukira," Chu Chen tersenyum tipis, menatap Bai yang sedang menggigil ketakutan. "Sebagian besar dari mereka penuh dengan ketakutan, membuat rasa Qi mereka sedikit asam. Tapi jumlahnya cukup untuk menstabilkan Inti Emas Nagaku."
Chu Chen melambaikan tangannya, memecahkan selubung Qi Yin-Yang yang melindungi mereka. Ia melangkah ke atas udara kosong, menatap jauh ke arah cakrawala pusat, melampaui awan-awan kelabu yang memisahkan benua ini dengan bagian terdalam Wilayah Pusat.
"Kau pernah bilang, di pusat Wilayah Suci ini terdapat Sembilan Klan Dewa Primordial," ucap Chu Chen pelan. Ia menoleh ke arah Bai, sepasang mata naganya memancarkan rasa lapar yang belum terpuaskan.
Bai mengangguk dengan susah payah. "Y-Ya. Klan-klan yang mengatakan diri sebagai keturunan langsung dari para dewa kuno. Kekaisaran Matahari Suci yang baru saja kau hancurkan hanyalah salah satu kelompok bawahan luar dari salah satu klan tersebut."
"Bagus," Chu Chen menyeringai, sebuah senyuman yang menjanjikan lautan darah yang lebih luas. "Di benua bawah ini, tidak ada lagi yang tersisa untuk kukunyah. Persiapkan dirimu, Bai. Besok, kita akan mencari tahu apakah darah para 'Dewa' itu memiliki rasa yang pantas untuk disajikan di meja makanku."