Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.
Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.
Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.
Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]
[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]
[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]
[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]
Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.
. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25--Saatnya Kerja Bakti
Aris mengusap hidungnya yang terasa gatal. "Buset, siapa nih yang lagi ngomongin gue malam-malam begini? Mana merinding banget lagi," gumamnya sambil merapatkan jaket flanelnya.
Ia baru saja selesai mengecek sisa cairan dewa di gudang barunya. Meskipun lelah setelah perjalanan bolak-balik dari Hotel Maharta, adrenalin karena baru saja menerima transferan 50 juta masih mengalir deras di urat nadinya.
"Ris, kenapa? Masuk angin kamu?" Wak Darmo yang sedang menghitung tumpukan uang tunai—jatah bagi hasilnya—menoleh khawatir.
"Enggak tahu, Wak. Perasaan saya nggak enak, kayak ada singa betina yang lagi ngincer saya dari jauh," jawab Aris asal sambil tertawa kecil.
Melihat itu dari kejauhan Sari menatap tajam. 'Sing betina’ ia gak yakin darimana datangnya perasaan ini, namun entah kenapa ia merasa mendapatkan saingan baru.
|Keesokan harinya| Gedung Fakultas Pertanian |
Aninda melangkah dengan terburu-buru menyusuri koridor laboratorium Mikrobiologi. Di tangannya, ada sebuah botol kecil berisi sampel cairan semangka yang sempat ia sisihkan secara diam-diam dari piringnya semalam. Matanya yang biasanya terlihat lelah karena begadang, kini berkilat penuh obsesi.
Efek dari makan semangka kemarin, anehnya gak hilangin stres saja, dia yang akhir-akhir ini kesulitan tidur bisa tidur nyenyak bahkan seperti ketindihan setan sanking sulit untuk bangun dari mimpi.
Akibatnya dia hampir telat, maka dari itu langkah dia terburu-buru.
"Aninda! Mau ke mana lo? Dosen Pembimbing nyariin tuh, katanya bab 3 lo masih berantakan!" seru salah satu temannya.
"Bilang ke Pak Dosen, gue lagi nemu berlian di tengah lumpur! Bab 3 bakal gue rombak total kalau hasil uji lab ini terbukti!" sahut Aninda tanpa menoleh.
Ia segera menghidupkan mikroskop elektron dan menyiapkan preparat. Fokusnya satu: membedah struktur sel semangka kristal milik si "Mas Aris" itu.
Begitu gambar muncul di layar monitor, Aninda tersentak mundur hingga kursinya berdecit keras.
"Mustahil..."
Di layar itu, dinding sel tanaman tersebut tidak terlihat seperti sel tanaman pangan biasa yang rapuh. Polanya begitu simetris, padat, dan mengikat molekul air dalam struktur yang menyerupai susunan karbon berlian. Inilah alasan kenapa semangka itu transparan dan renyah seperti kristal. Lebih gila lagi, ada jejak aktivitas mikroba yang sangat agresif namun terkontrol—sesuatu yang seharusnya tidak mungkin ada tanpa peralatan laboratorium bernilai miliaran rupiah.
"Siapa sebenarnya Mas Aris ini?" gumam Aninda sambil menggigit kuku ibu jarinya. "Dia bukan sekadar petani. Rekayasa biologis tingkat ini... bahkan Profesor di sini pun belum tentu sanggup melakukannya."
Ia segera meraih buku catatan dan mencatat semua ini tak lupa dia memfoto hasil lab itu, mantap dia dapat tambahan buat jadiin skripsi.
‘Mas aris aku makin penasaran sama kamu.’
Mata dia penuh oleh binar-binar jika bukan karena urusan kuliah dan izin orang tua dia bakal langsung tancap gaz ke desasukacita lagia jaraknya gak jauh, dia bisa naik rel kereta api cepat modal uang ongkos untuk sampai sana.
Tapi belum saatnya. Lagian dia gak perlu kesana orang dia udah minta pesan untuk datang ke rumah, alias memesan sayuran buat dirinya sendiri pakai alibi nama bapaknya.
Waktu gak lama juga seminggu dari sekarang sebagai kedok untuk mengenal sosok Aris itu.
Andina terasa seperti sedang memancing seseorang, untuk PDKT an namun jelas da gak sadar.
***
“H-hasyu!” Aris lagi-lagi batuk.aneh akhir-akhir ini dia sering merasa sensai kedinginan yang mencengkam seolah-olah seseorang hendak menyantetnya.
"Lagi?! Beneran deh, ini fiks ada yang lagi ngomongin gue," gerutu Aris sambil mengusap hidungnya yang memerah. “Semoga bidadari bukan cowo …”
Ia sedang berdiri di tengah gudang penyimpanannya, baru saja menaruh beberapa sayuran hasil panen untuk distok. Namun dia teringat aka sesuatu.
[Ding!]
[Cairan Dewa tingkat 1 (stok tersedia satu botol 100 ml]
Aris menghela napas panjang. Cairan Dewa miliknya mulai menipis. Baru saja kemarin dia melakukan aksi sukarela jadi tukang sampah dadakan di desa, tapi stoknya sudah mau habis lagi. Padahal, penggunaan cairan itu sangat boros kalau ingin menghasilkan kualitas kristal yang stabil.
Dia butuh bahan baku, alias sampah yang melimpah. Namun, kalau harus berkeliling desa seharian lagi, rasanya kurang efektif. Tenaganya habis di jalan, hasilnya pun tidak seberapa.
"Gimana ya cara dapet sampah cepat?"
Aris menggumam sendiri. Kalau dipikir-pikir lagi, keinginan untuk mencari sampah itu memang tidak normal. Ia sendiri merasa geli akan obsesinya terhadap barang rongsokan dan limbah. Namun, siapa peduli? Utamakan fungsi, bukan gengsi! Dengan sampah, dia bisa menghasilkan Cairan Dewa yang membuatnya jadi petani kaya raya.
Uang di tabungannya sekarang tersisa 100 juta pas. Selepas keuntungan besar kemarin, Aris memang langsung kalap memborong semua benih di Toko Sistem yang dirasa penting untuk investasi jangka panjang.
Namun ternyata toko benih sistem gak maha dewa juga, ada beberapa benih yang terkunci karena beberapa alasan khusus.
Seperti butuh persyaratan, level sistem kuranglah, harus itu ini la. Salah satunya adalah brokoli dan sawi ungu.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun menggunakan foto profil resmi kepresidenan daerah.
“Selamat siang, Mas Aris. Saya asisten dari pihak Gubernur. Bapak Gubernur sangat terkesan dengan kualitas semangkanya kemarin. Untuk jamuan makan malam keluarga minggu depan, beliau secara pribadi memesan Brokoli Emas dan Sawi Ungu Giok masing-masing 10 kg. Apakah bisa disiapkan?”
Aris melotot. Mampus baru saja dijelasin. “Brokoli dan sawi ungu? Lah itu kan benih yang masih kekunci di toko sistem.”
Ia buru-buru mengecek toko sistem lagi siapa tahu ada perubahan, namun percuma dan benar saja, dua jenis sayuran itu masih terkunci dengan gembok merah.
Alasan terkunci. {Tuan rumah perlu menyelesaikan misi event terlebih dahulu—-Selesaikan Misi Pengumpulan Limbah Organik Skala Kota.]
"Mampus. Di Desa Sukacita mana ada stok ginian.” Aris memijat pelipisnya. Gara-gara efek ketamapakan dari bos malik, beberapa stok penjualan pakan di desasukacita kosong melompong terutama sektor benih perbenihan.
Apalagi untuk brokoli dan sawi ungu. Dia kudu ke kota pusat.
“Sialan, mending gue cek hp. Siapa tahu dapat info tentang benih perbenihan.”
Tangannya lincah berseluncuran di media sosial, dia mendapatkan penawaran tentang benih menarik di pusat kota, harganya juga murah kalau diteteskan dengan cairan dewa pasti gacor—-walau gak bisa nyaingi benih dari sistem.
“Kota X di pusat kota, ya? Oke gaz mampir.”
Kemudian tangan dia berhenti seketika. Mata dia menyipit. Selain benih perbenihan, ada iklan lain yang menarik.
Disitu tertulis ‘event terbatas—pembersihan suka rela sampah di kota, bagi berminat ayo ramaikan acara ini!’
Aris langsung kegirangan bagaikan mendapatkan jackpot.
“Nah! Ini dia jalan ninja gue! Huuu!” Dia nyaris melompat kegirangan di tengah gudang sunyi.
Bagi orang normal, iklan "Pembersihan Suka Rela" itu terdengar seperti kerja rodi yang melelahkan. Tapi di mata Aris, itu adalah prasmanan limbah organik gratis yang disediakan oleh pemerintah kota.
Kebetulan banget seolah menambahkan rasa kegirangan Aris, sistem makin baik hati.
[Ding!]
[Misi event terbuka ikuti acara pembersihan sukarela di kota]
[Hadiah
-RP 50.000.000 (hanya bisa digunakan untuk modal pertanian)]
[Ding misi event kedua terbuka buat pelanggan si tuan putri suka dengan sayuran anda!]
[Hadiah
-Membuka kunci benih brokoli
-Membuka kunci benih sawi ungu
Uang Senilai RP 50.000.000 [hanya bisa digunakan khusus modal usaha yang berkaitan dengan tai].]
“Anjir! Dua misi! Kalau ditotal Seratus juta?!" Aris nyaris menjerit sampai suaranya serak. Uang segitu kalau di desa bisa buat beli sawah satu petak lagi atau traktor baru yang paling canggih
. "Sistem, lo emang paling mengerti dompet gue yang lagi tipis!"
Namun ia menatap layar hologram itu. Itu misi yang saling bertahap dia perlu ikut bersihkan sampah di kota lalu dapat 50 juta, misi kedua membuat pelanggan tuan putri suka sama sayur dia 50 juta bonus benih sawi ungu dan brokoli terbuka.
Itu secara tidak langsung menyelesaikan dua misi membersihkan pusat kota dengan membuat tuan putri kegilaan, sampai sekarang dia masih gak paham tuan putri gubernur maksudnya apaan, namun dia gak peduli.
Aris segera menyambar jaket flanelnya, mengabaikan tatapan bingung Sari yang masih memperhatikannya dari kejauhan. Tujuannya adalah ke kota pusat.
Membeli benih untuk membuat calon pelanggan yang disebut tuan putri itu kegilaan dan menyapu bersih pusat kota.
‘saatnya kerja bakti!’