NovelToon NovelToon
Kebangkitan Pewaris Rahasia

Kebangkitan Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Atlas hancur dalam semalam: dipecat karena jebakan kotor, dikhianati kekasihnya Clara yang berselingkuh dengan Stevan—anak bosnya, lalu diserang hingga tak sadarkan diri.

Tapi takdir berkata lain.

Kalung peninggalan nenek buyutnya, Black Star Diopside, yang selama 20 tahun ia kenakan, tiba-tiba terbangkit. Kalung itu memberinya kekuatan luar biasa: menyembuhkan penyakit, mendeteksi ajal, dan kekuatan fisik dahsyat.

Dari pegawai rendahan yang diinjak-injak, Atlas bangkit sebagai pewaris kekuatan rahasia. Ia bertemu dengan Tuan Benjamin, miliarder tua misterius yang membutuhkan pertolongan medisnya. Namun di balik kebaikan Benjamin, tersembunyi agenda besar.

Dengan adiknya Alicia yang terancam bahaya, Atlas harus melawan Stevan, Clara, hingga geng bayaran Dragon Blood. Akankah kekuatan kalungnya cukup untuk melindungi semua yang ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Benjamin Memaksa

"Jadi, apa tawaranmu, Tuan Benjamin? Biarkan aku mendengarnya terlebih dahulu."

Benjamin mengulurkan tangannya kepada Atlas dan berkata, "Bantu aku duduk."

Atlas menerima tangan itu dan membantu pria paruh baya tersebut untuk duduk.

Benjamin bersandar di sisi tempat tidur lalu menunjuk ke arah cerutu.

Atlas segera bergerak dan menyalakan cerutu favorit Benjamin.

"Baiklah, aku akan memberimu posisi di perusahaan berlian itu. Kau bisa bekerja di sana, anggap dirimu sebagai pekerja magang sampai kau berhasil mendapatkan perusahaan itu seperti yang kau inginkan jika kau berhasil menyembuhkanku.

Selain itu, aku akan memberimu mobil dan uang tunai setiap kali kau memberikan kekuatanmu kepadaku. Tentu saja, semuanya akan bernilai jutaan dolar. Kau tidak akan mendapatkan keuntungan itu jika tetap diam tanpa memanfaatkan kekuatanmu, Atlas. Anggap saja dirimu seorang dokter dan aku pasienmu!"

"Hanya itu?"

Benjamin mengembuskan asap ke wajah Atlas. "Ya, sekarang kau bisa menyampaikan keinginanmu. Aku tahu kau punya sesuatu di pikiranmu."

Atlas menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Tentu saja, begitu kau menyebutkan keuntungan, aku langsung menyusun apa yang kubutuhkan di pikiranku. Bahkan jika aku menolak, kau akan terus menekanku untuk menerima. Terlibat denganmu jelas memiliki risiko besar. Aku memikirkan adikku, dia satu-satunya hal yang mungkin bisa aku gunakan untuk menekanku agar membantumu. Bukankah begitu? Akui saja, aku tidak akan marah."

Sebenarnya, Benjamin cukup panik. Pilihan untuk memanfaatkan Alicia memang sempat terlintas di pikirannya, tetapi dia tidak menyangka Atlas mengetahuinya. Membaca pikiran adalah salah satu kemampuan terbesar dari kalung milik Atlas. Benjamin khawatir Atlas hanya berpura-pura dan sebenarnya sudah mencapai tingkat kekuatan itu.

"Pemikiranmu salah, aku tidak memikirkannya, tetapi kau memberiku ide itu. Aku akan melakukannya jika benar-benar terdesak. Itu sebabnya aku ingin menawarkan banyak keuntungan. Apa yang terjadi di antara kita adalah sesuatu yang memang seharusnya terjadi, Atlas. Aku tidak munafik atau berbohong saat mengatakan bahwa aku benar-benar membutuhkanmu. Kekuatanmu adalah sumber hidupku, aku tidak akan pernah bisa menyembuhkan penyakit sialan di tubuhku tanpa kekuatanmu, Atlas! Ini adalah bisnis, kita saling menguntungkan."

Kekuatannya yang masih terbatas membuatnya tidak mampu menyaring kebohongan. Atlas menganggukkan kepala, menyetujui pernyataan itu.

"Baiklah, aku menghargai kejujuranmu. Aku akan menjelaskan keuntungan yang adil sebagai imbalan atas apa yang akan kuterima darimu. Pertama, aku ingin kau menyediakan fasilitas pendidikan untuk adikku, Alicia. Aku ingin dia memiliki rumah dekat kampusnya dan sebuah mobil.

Kedua, aku juga ingin mobil dan satu juta dolar tunai setiap kali aku memberikan kekuatanku kepadamu. Untuk pekerjaan, aku setuju dengan tawaranmu mengenai posisi di perusahaan berlian milik mendiang Tuan Roger. Dan ketika aku berhasil menyembuhkanmu, aku ingin sepuluh miliar dolar tunai, sebuah mansion dua kali lebih besar dari milikmu, dan kepemilikan perusahaan berlian itu. Setuju?"

Benjamin memaksakan senyum lebar, tetapi jauh di dalam hatinya ia sangat marah kepada Atlas.

"Bajingan ini memanfaatkanku habis-habisan. Sialan! Dia sama seperti ibunya, menjijikkan dan terobsesi dengan kekayaan!"

Atlas mengangkat alisnya, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut Benjamin.

"Baiklah, aku akan menerima tawaranmu. Kita akan memulai semua keuntungan itu setelah kau memberiku kekuatan barumu satu minggu dari sekarang. Oke?" Benjamin mengulurkan tangannya kepada Atlas.

Atlas menjabat tangannya dan berkata, "Senang berbisnis denganmu, Tuan Benjamin."

"Satu hal yang harus kau ingat, Atlas, kau harus memberiku lebih banyak kekuatan daripada yang sudah kau berikan sejauh ini. Bisnis ini sudah dimulai, dan keuntungan yang akan kau terima bukanlah sesuatu yang ringan, mengerti?"

"Tentu, Tuan Benjamin, aku tidak pernah memberikan sesuatu yang kurang dari yang terbaik. Jadi, apakah masih ada hal lain yang ingin kau bicarakan? Aku masih perlu istirahat, energiku belum sepenuhnya pulih setelah menyelamatkanmu sore tadi." Mata Atlas terlihat merah saat ia berusaha melawan rasa kantuk.

"Tidak, silahkan pergi dan panggil Lukas ke sini."

Atlas membungkukkan tubuhnya. "Selamat malam, Tuan Benjamin."

Senyum palsu Benjamin menghilang saat Lukas datang. Ia menatap asisten pribadinya dengan tajam. "Atlas memanfaatkanku dengan sempurna. Dia meminta terlalu banyak keuntungan yang menyebalkan. Aku membencinya!"

"Tapi, kau akan menerima sesuatu yang sepadan sebagai gantinya, bukan, Tuan? Aku tidak tahu tawaran apa yang kau buat, tetapi itu pasti sepadan. Lagi pula, dia hanya bisa memanfaatkanmu untuk waktu yang singkat. Ingat, jika semuanya berjalan sesuai rencana, dia akan menjadi mayat yang dikubur di halaman belakang, Tuan."

Senyum menyeramkan kembali muncul di wajah Benjamin saat ia menepuk lengan Lukas dan berkata, "Kau pandai memberikan kata-kata yang menenangkan. Kau benar, Lukas, dia akan menjadi mayat secepat mungkin.”

Atlas sudah siap, mengenakan kemeja yang disetrika rapi dan rambut yang tersisir dengan baik. Setelah sehari beristirahat usai menyembuhkan Benjamin, hari ini ia dikirim oleh Benjamin untuk mengunjungi perusahaan pusat tempat tambang berlian milik Roger berada.

"Kau terlihat tampan! Aku belum pernah melihatmu setampan ini, Atlas!" Mata Alicia berbinar saat melihat kakaknya mengenakan kemeja biru gelap dan celana hitam.

"Andai saja aku bisa mengajakmu ikut."

Alicia memeluk kakaknya dan berkata, "Tidak apa-apa, menginap di hotel bintang lima selama tiga hari sudah yang terbaik. Setidaknya, aku bisa memanjakan diriku sendiri."

"Ya, aku tidak akan membiarkanmu berada di antara orang-orang ini tanpa aku. Aku harap kau menjaga dirimu baik-baik, Alicia. Jika sesuatu yang buruk terjadi, kau harus segera meneleponku."

"Memangnya bagaimana caramu datang kepadaku? Apa kau akan memakai kekuatan Superman untuk terbang melewati puluhan kota dan menyeberangi lautan?"

Atlas mencubit pipi adiknya. "Kau memang selalu menyebalkan, tidak pernah berubah."

Tawa dan kehangatan di antara saudara itu harus terhenti ketika terdengar ketukan di pintu kamar Atlas.

"Tuan Atlas, apakah kau sudah siap? Kita harus berangkat sekarang."

Alicia memeluk kakaknya, lalu mereka berdua keluar dari kamar menghampiri pengawal Benjamin.

"Nona Alicia, kau juga harus segera berangkat. Sopir dan mobil sudah siap untuk mengantarmu ke hotel."

Atlas dan Alicia menarik dua koper besar, langkah mereka terasa ringan. Mereka berdua membayangkan liburan singkat yang menyenangkan, setidaknya untuk melihat dan menikmati dunia.

Meskipun Atlas dikirim untuk perjalanan bisnis, jarak perjalanan yang jauh dan fasilitas mewah yang digunakan sebagai pendukung sudah memberikan rasa menyenangkan tersendiri.

"Tuan Atlas, kau diminta bertemu dengan Tuan Benjamin sebelum pergi."

Langkah Atlas terhenti, ia menatap Alicia lalu memeluknya.

"Jaga dirimu baik-baik, jangan mudah terpikat pria. Siapapun mereka."

"Tenang saja, nanti akan kuberitahu bagaimana rasanya naik jet pribadi!" Alicia melepaskan pelukan kakaknya lalu melanjutkan langkah menuju keluar mansion.

Sementara itu, Atlas kembali menuju lift untuk menemui Benjamin di kantornya.

"Atlas, kenapa kau tidak menemuiku dulu? Malah langsung pergi begitu saja." Benjamin berkata sambil berbaring di sofa panjang, wajahnya terlihat segar.

"Aku pikir kau sudah menjelaskan semuanya dengan baik tadi malam, dan kau juga mengatakan aku harus bersiap lalu segera pergi tanpa perlu menemuimu."

"Begitukah? Kalau begitu, maafkan orang tua ini. Kadang aku membutuhkan penjelasan dan merasa bodoh ketika melupakan kata-kataku sendiri. Ngomong-ngomong, Atlas, bisakah kau memberiku kekuatanmu? Besok aku punya acara penting, dan aku tidak ingin tiba-tiba jatuh di depan rekan bisnis. Aku juga ingin pergi tanpa menggunakan tongkat."

Atlas mengernyitkan alis, bagi Atlas permintaan Benjamin terdengar tidak masuk akal.

"Maaf, Tuan Benjamin, tapi kenapa kita tidak melakukannya setelah aku kembali dari perjalanan bisnis?"

"Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan, Nak? Aku akan pergi besok. Apa gunanya mendapatkannya setelah kau kembali dari perjalanan bisnis? Lakukan saja. Sesuai perjanjian kita, aku sudah menyiapkan satu juta dolar sebagai bayaranmu."

1
Was pray
kalau kegoblogkan Alicia masih berlanjut malas nerusin baca novel ini
Was pray
Alicia kok menjengkelkan sih Thor? jadi sisi negatif novel
Was pray
flhasbacknya terlalu panjang, diringkas aja Thor, singkat tepat padat, kalau terlalu panjang jadi kayak emak2 yg lagi ngerumpi gak kelar2
Was pray
Alicia sosok cewek lemahkah?
Was pray
awal cerita dimulai konflik yg membosankan, urusan apem cewek
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Sebagai manusia, kita seharusnya belajar untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang seseorang hanya dari penampilannya.
Ungkapan "Don't judge a book by its cover" menekankan pentingnya tidak menilai seseorang hanya dari penampilan luar.
Penampilan fisik tidak mencerminkan kualitas, karakter, atau kemampuan seseorang yang sebenarnya.
Menilai berdasarkan penampilan dapat menyebabkan prasangka, kesalahan interpretasi, dan ketidakadilan.

Berikut poin penting mengapa kita tidak boleh menilai dari penampilan:
Kualitas Tersembunyi: Kebaikan atau karakter sejati seseorang sering kali tidak terlihat dari luar.
Menghindari Prasangka: Menilai orang lain dengan cepat dapat menghasilkan asumsi yang salah dan tidak adil.
Pentingnya Mengenal Lebih Dalam: Diperlukan waktu untuk memahami sifat dan hati seseorang, bukan sekadar melihat pakaian atau gaya mereka.
Keadilan dalam Berinteraksi: Semua orang layak dihormati tanpa memandang status sosial atau penampilan.
Prinsip ini mengajak kita untuk lebih terbuka, tidak mudah berprasangka, dan menghargai orang lain berdasarkan tindakan serta karakternya...🤔🤭🤗
amida
ditunggu part selanjutnya dengan sabar tapi deg-degan
Coutinho
teruskan kak
sweetie
semangat truss kak author
ariantono
.
Stevanus1278
dobel up dong kk
oppa
lanjut kak, jangan lama-lama
cokky
lanjut terus ya kak
corY
next chapter please, lagi butuh hiburan nih
Coutinho
kok bingung ya dengan jalan ceritanya, sebenarnya Benjamin ingin menyelamatkan Atlas atau ingin membunuhnya???
sweetie
terimakasih Thor, dobel up nyaaa, semangat terus
Billie
kualitas cerita selalu konsisten, keren
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
laba6
keren karya nya tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
Coffemilk
hadir tor
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
ariantono
jangan lama-lama up nya ya kak🙏🙏
MELBOURNE: bab terbarunya sudah di up yaa, semangat terus bacanyaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!