NovelToon NovelToon
Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Kita Yang Hampir Lengkap (Half-Blooded Love)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:430
Nilai: 5
Nama Author: S.Lioré

Aluna tidak pernah menyangka—surat cinta iseng yang ia selipkan di loker Bintang, kapten basket sekolah, justru dibalas.

Dari sekadar pengagum, ia berubah menjadi seseorang yang berdiri di sisi lelaki itu.

Tapi kebahagiaan itu tidak pernah sederhana.

Saat seseorang masuk di antara mereka, Aluna dihadapkan pada pilihan yang perlahan menghancurkan dirinya sendiri.

Bertahan… atau melepaskan?

Karena tanpa ia sadari, cinta yang ia perjuangkan justru mengubahnya menjadi seseorang yang tidak lagi ia kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lioré, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pinky Promise

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 “Bintang?”

 Satu fakta dari seseorang yang berada pada mode kasmaran, ialah meningkatnya ke-sensitif-an akan segala sesuatu yang berhubungan dengan si doi. Indera penglihatan, pendengaran, penciuman, bahkan kepekaan hati dan jantung pun akan aktif seketika walaupun itu hanya sepenggal nama dari dia yang dipanggil ‘crush’ .

 Pada kenyataannya, itu terjadi pada Aluna. Fokusnya langsung teralih dari makanannya yang hampir habis saat panggilan itu hadir dalam wujud suara gadis. Begitu kepalanya tegap, maka hiduplah panca indera penglihatan dan ia mulai merekam adegan yang tidak jauh dari tempat pemilik nama menikmati makan siang.

 “Apa yang sebenarnya terjadi? Apa lo baik-baik saja?” cemas gadis yang semua orang kenal dengan nama Kaila Arini itu tidak lama setelah berdiri di samping meja Bintang dan Biru; diikuti dua sahabatnya.

 Jika, dua siswa itu berada satu baris dengan meja Aluna dan Alea, maka itu akan berada tepat di belakang Alea. Namun, yang dapat dilihat sekarang adalah posisi mereka berjarak karena jalan setapak yang tercipta.

 “Gue baik-baik saja, kok,” jawab Bintang dan dapat Aluna lihat dengan jelas kurva indah itu menghiasi bibir si pemilik.

 “Itu nggak kelihatan baik-baik saja, Bintang. Lo udah pergi ke dokter, ‘kan?”

Kaila mencoba meraih luka di bagian pelipis Bintang dan secara spontan membuat pemuda itu sedikit mengelak disertai tawa canggung.

 “Gue beneran nggak apa-apa, Kaila. Lo nggak usah berlebihan kayak gitu,” ujar Bintang.

 Di sisi lain, Aluna kembali bergulat dengan pikirannya. Suara-suara itu terus memberi beban tersendiri bagi otak serta hatinya.

 Melihat Aluna hilang titik fokus, Alea mengikuti kemana arah manik sahabatnya tertuju. Memahami keadaan. Alea meraih satu tangan Aluna yang kosong di atas meja.

 “Apa lo sudah selesai makan?” tanyanya begitu Aluna menatapnya.

 “Ah, i-iya,” jawab Aluna gelagapan.

 “Ayo pergi!” ajaknya kemudian.

 Aluna mengulas senyum tipis dan mengangguk.

 Setelah mengembalikan peralatan makan di rak nampan kotor, Aluna dan Alea segera berjalan menuju pintu kantin. Begitu mereka melintasi kelima manusia itu, Aluna dengan cepat menengok ke kanan, di mana mereka berada di sisi sebaliknya.

 Berusaha menepis kepercayaan diri atas Bintang yang menoleh ke arah mereka, tanpa di sadarinya sendiri, genggaman Aluna pada tangan Alea makin erat dan membuat sang sahabat mempercepat langkah.

 Dan sebenarnya hal itu tidaklah salah. Bintang memang memandang keduanya yang berlalu di tengah dirinya mendengar celotehan Kaila yang berbincang dengan Biru. Kemudian, seulas senyum yang sangat tipis tercipta di wajah Bintang.

...***...

 “Aku ini masih sahabatmu atau bukan, sih?!” tukas Alea yang membuat Aluna langsung menatapnya dengan murung.

 “A-aku … hanya nggak mau membebanimu, Lea,” jujur Aluna.

 “Setelah bersahabat sekian tahun, kamu masih mikir kayak gitu? Tahu nggak? Kamu membebaniku dengan diammu itu, Luna!”

 Setelah memaksa Aluna membuka mulut akan alasan atas sikapnya yang lebih diam akhir-akhir ini, Alea menahan amarah. Namun demikian, mulutnya yang sedikit jahat tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

 Gadis dengan rambut sebahu itu sebenarnya sudah menebak pasti perubahan Aluna itu ada kaitannya dengan Bintang. Dan 100% itu tepat sasaran.

 Cerita tentang cokelat, ucapan terima kasih dan maaf pemuda itu, bahkan insiden semalam yang membuat Aluna menolongnya berhasil menyesakkan dada Alea.

 “M-maaf, Lea.”

 Tatapan Aluna menetap pada Alea. Cahaya di matanya meredup, menyisakan penyesalan mendalam. Dan setelah beberapa detik menyelami manik satu sama lain, Alea akhirnya memecah suasana.

 “Aku terima permintaan maafmu itu. Tapi, tolong banget jangan kayak gini lagi. Aku sahabatmu, Lun. Tolong jangan ada rahasia lagi di antara kita.”

 Hati Aluna menghangat.

 “Iya, Lea.”

 “Janji?” tanya Alea selagi mengacungkan kelingking kanannya.

 Senyum Aluna berhasil dicuri. Satu kaitan pun dia buat di sana dengan mantap ia menjawab, “Janji!”

 Tatapan Alea pun melunak.

 “Jadi, apa tanggapanmu setelah dia bilang gitu?” tanya Alea begitu dirasa suasana sedikit mencair.

 Aluna menunduk. Sekelebat ingatan ketika Bintang membicarakan tentang perasaan melintas sekilas.

 “Aku bilang …,” Aluna kembali menatap sahabatnya, “ …aku senang, tapi tidak bisa menjawabnya.”

 “Kenapa?” Lirih Alea bertanya.

 “Alea … jika kamu adalah aku, apa jawaban yang akan kamu berikan ketika pikiranmu berpikir itu hanya sebagai cara balas budi?”

 “Tapi, bukankah Bintang bilang kalau itu bukan karena kamu menolongnya?”

 Senyum yang tak sampai mata Aluna tampilkan. Tangannya lalu meraih kedua tangan Alea. Pandangannya pun sudah dikunci oleh tatapan tenang juga dalam milik gadis puteri keluarga Wicaksana tersebut.

 “Nggak mudah untuk mempercayai mereka yang sudah mengecewakan, Alea.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!