Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melukis Langit di Atas Lapangan Bola
Udara pagi itu terasa berbeda. Dingin yang biasanya menggigit perlahan melunak oleh semilir angin yang membawa aroma tanah dan antusiasme yang tertahan. Belum juga matahari sepenuhnya menampakkan diri, penginapan kayu milik Kakek sudah diramaikan oleh suara serutan bambu yang ritmis.
Di teras samping, cahaya lampu yang temaram beradu dengan fajar yang mulai menyingsing, memperlihatkan tumpukan bilah-bilah bambu yang sudah dipotong rapi.
Senja, yang belakangan ini mulai terbiasa bangun saat fajar, melangkah keluar ke beranda sambil menyeka sisa kantuk yang masih menggelayut. Matanya menyipit melihat sosok tangguh yang sudah duduk bersila di atas lantai kayu dengan tumpukan bambu tipis dan gulungan benang di sekelilingnya.
"Woi, Kal! Pagi-pagi benar lu udah di sini. Udah kayak tukang rakit profesional aja, merakit apaan lu?" tanya Senja dengan nada santai, kini sudah fasih menggunakan panggilan akrab dan gaya bicara khas teman lama.
Arkala mendongak, jemarinya masih lincah menyilangkan dua bilah bambu dengan benang nilon yang kuat. Ia menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Oh, iya! Gue lupa lu kan anak baru di sini. Lu belum tahu ya? Ini hari yang paling ditunggu-tunggu warga kampung setahun sekali, Senja! Ada festival layang-layang!"
Senja mengernyitkan dahi, melangkah mendekat dan ikut duduk di samping Arkala. Ia mengamati potongan-potongan bambu yang halus hasil serutan tangan Arkala yang terampil. "Wih, keren banget tuh, gua ikutan dong"
"Yaudah sini bantuin gua,jangan bengong aja lu disono" Ucap Arkala.
"Sore nanti di lapangan bola, seluruh warga bakal tumpah ruah. Langit bakal penuh sama warna. Ika juga ikut, tuh, dia lagi sibuk di dapur nyiapin bahan-bahan buat kita. Gue kebagian tugas buat ngerakit punya gue sama punya dia. Lu ikut aja sini, gue bantuin caranya! Masa anak kota cuma jago ngerakit laporan kantor doang, ngerakit bambu nggak bisa?" Tambah Arkala lagi.
Senja terkekeh, merasa tertantang oleh nada sombong yang khas dari sepupu Arunika itu. "Sombong bener lu. Sini, kasih tahu gue gimana caranya. Jangan sampai nanti layangan gue malah nyungsep di jam pertama gara-gara gurunya kurang bener."
Maka, pagi itu berubah menjadi bengkel kecil yang penuh tawa. Arkala, dengan segala kebanggaannya, mulai mengajari Senja teknik dasar memilih bambu yang lentur namun kokoh. Ada momen kocak saat Senja terlalu kuat menarik benang hingga bambunya patah dengan suara "krak" yang nyaring, yang langsung disambut tawa mengejek dari Arkala.
"Pelan-pelan, Senja! Ini bambu, bukan besi baja di gedung kantor lu! Lu kayak lagi mau narik truk aja," goda Arkala sambil melemparkan potongan bambu baru ke pangkuan Senja.
"Ya elah, gue kan mau memastikan ini kokoh, Kal. Biar kalau kena angin nggak langsung mleot," balas Senja sambil bersungut-sungut, namun tangannya kembali telaten mengikuti instruksi Arkala. Ia mulai belajar bahwa ketenangan adalah kunci, persis seperti cara ia mencoba memahami kehidupan barunya di penginapan ini.
Tak lama, Arunika muncul dari arah dapur membawa baki berisi kopi yang masih mengepulkan uap dan beberapa lembar kertas minyak warna-warni yang cerah. Ia tertawa melihat Senja yang keningnya berkerut serius, berlumuran serpihan bambu di baju dan rambutnya. "Wah, Senja sudah turun pangkat jadi asistennya Arkala ya?"
"Bukan asisten, Ika! Aku ini lagi mendidik calon ahli layang-layang agar dia punya prestasi selain jadi bos di kota," sahut Arkala bangga sambil membusungkan dada.
Kakek dan Nenek keluar ke beranda, berdiri berdampingan sambil melihat hasil kerja keras ketiga anak muda itu. Kakek mengambil salah satu kerangka yang sudah jadi, menimbangnya sebentar untuk mengecek keseimbangannya, lalu mengangguk puas. "Bagus ini. Rakitannya seimbang. Kakek pikir kalian cuma jago main ponsel, ternyata masih ingat cara main sama angin."
"Iya dong, Kek! Arkala kan emang terkenal rakitannya paling bagus se-kampung. Tanya saja anak-anak di lapangan nanti, nggak ada yang bisa ngalahin aerodinamis buatan Arkala!" seru Arkala dengan percaya diri yang meluap-luap, yang kemudian ditanggapi dengan gelengan kepala tanda maklum dari Nenek.
"Duh, sombongnya kumat," celetuk Arunika sambil membagikan kopi, yang langsung memicu tawa mereka semua di beranda itu, memecah kesunyian pagi di bawah bayang-bayang pohon damar.
Sore harinya, lapangan bola di tengah kampung sudah berubah menjadi lautan manusia. Aroma rumput yang terinjak-injak berpadu dengan suara keriuhan anak-anak kecil yang berlarian membawa benang. Di langit, belasan layang-layang berbagai bentuk sudah mulai menari, meliuk-liuk tertiup angin yang berembus cukup kencang dari arah lembah.
Senja, Arunika, dan Arkala berdiri di tengah lapangan yang luas. Senja memegang layang-layang buatannya yang berwarna biru tua—warna yang ia pilih karena mengingatkannya pada ketenangan malam di sini.
Arunika memegang miliknya yang berwarna kuning cerah, secercah warna yang melambangkan keceriaannya. Arkala sudah lebih dulu berlari jauh ke depan, menerbangkan layang-layang raksasanya yang berbentuk burung dengan ekor panjang yang megah.
"Siap, Ika? Satu... dua... tiga! Lepas!" seru Senja.
Layang-layang mereka membumbung tinggi, menyisir udara yang bersih. Senja merasakan tarikan yang kuat pada benangnya, sebuah perasaan bebas yang seolah melepaskan seluruh beban yang pernah ia pikul di Jakarta. Namun, tiba-tiba, sebuah embusan angin yang sangat kencang dan tak terduga menghantam langit lapangan.
Layang-layang kuning milik Arunika bergoyang hebat, berputar-putar di angkasa. Suara "putus" yang halus namun memilukan terdengar. Benang di tangan Arunika tiba-tiba menjadi ringan.
"Senja, Kala! Benangnya putus! Layang-layangku...!" teriak Arunika dengan suara yang bergetar. Ia menatap ke langit dengan mata yang mulai berkaca-kaca, melihat layang-layang kuningnya yang perlahan melayang jauh, tertiup angin hingga menghilang di balik deretan pohon damar yang jauh.
Wajah Arunika seketika layu. Kesedihan tampak jelas di sana, karena layang-layang itu adalah hasil kerja kerasnya seharian bersama Senja. Melihat raut sedih itu, hati Senja seolah ikut teriris. Ia tidak ingin melihat binar di mata gadis itu padam hanya karena sebuah layang-layang.
"Nggak apa-apa, Ika," ucap Senja dengan nada yang sangat lembut dan menenangkan. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping gadis itu. "Layang-layangmu memang terbang jauh, tapi kita masih punya satu lagi. Ini, pegang berdua bareng aku saja."
Senja meraih tangan Arunika yang masih memegang gulungan benang kosong, lalu menuntunnya untuk bersama-sama menggenggam gulungan benang layang-layang biru miliknya. Jarak mereka kini begitu dekat. Senja berdiri di belakang Arunika, lengannya yang tegap mengapit bahu gadis itu agar mereka bisa menahan tarikan benang bersama-sama.
Dalam jarak sedekat itu, Senja bisa mencium aroma mint yang begitu segar dan menyejukkan dari rambut Arunika—aroma yang selalu berhasil membuatnya merasa pulang. Arunika, yang awalnya sedih, kini merasa jantungnya berdegup lebih kencang karena kehadiran Senja yang begitu protektif di belakangnya. Rasa hangat menjalar dari tangan Senja yang membimbing tangannya mengendalikan tali.
"Lihat itu, Ika. Dia terbang tinggi sekali," bisik Senja tepat di dekat telinga Arunika.
Arunika mendongak, menatap layang-layang biru yang kini menari stabil di angkasa. Kesedihannya menguap, berganti dengan perasaan haru yang memenuhi rongga dadanya. Mereka berdua berdiri seperti itu untuk waktu yang lama, seolah dunia di sekitar mereka yang riuh rendah mendadak senyap. Hanya ada mereka, satu benang, dan langit yang menjadi saksi.
"Wah, lihat itu! Aduh, romantis banget ya mereka berdua, Kal?" sahut salah seorang warga yang lewat sambil menyenggol bahu Arkala.
Arkala, yang baru saja berhasil mendaratkan layang-layangnya, menoleh ke arah sepupunya dan Senja. Ia menyeringai lebar, menatap kedua orang itu dengan pandangan jahil. "Gue bilang juga apa! Langit boleh luas, tapi tetep aja mereka maunya mepet-mepet. Masa layangan satu dipegang berdua? Takut terbang atau takut kehilangan orangnya tuh?"
Arunika tersipu malu, wajahnya memerah hingga ke telinga, sebanding dengan warna langit yang kian menjingga. Ia mencoba fokus pada benang di tangannya, meski ia tahu Senja masih menatapnya dengan senyum yang sangat tenang di belakangnya.
"Apa sih, Arkala! Jangan mulai deh!" seru Arunika dengan nada manja yang dibuat-buat untuk menutupi kegugupannya.
Senja tidak menjawab ledekan Arkala. Ia justru semakin mantap memegang gulungan benang itu bersama Arunika, memberikan kekuatan saat angin menarik kencang. Di tengah lapangan bola yang ramai, di antara teriakan tawa warga dan ratusan layang-layang yang menghiasi angkasa, Senja menyadari satu hal.
Kehilangan sesuatu yang kecil seperti layang-layang kuning itu tidaklah berarti, selama ia bisa menggenggam sesuatu yang jauh lebih berharga di sampingnya.
Festival sore itu bukan lagi soal siapa yang terbang paling tinggi, tapi soal siapa yang tetap bertahan menggenggam benang yang sama. Di bawah cakrawala yang mulai gelap, Senja dan Arunika terus berdiri bersama, menikmati sisa-sisa angin yang membawa cerita tentang harapan yang mulai terbang tinggi, setinggi layang-layang biru yang menolak untuk turun dari pelukan langit.