GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Bayang yang Datang di Balik Damai
Sore itu berakhir begitu indah, berubah menjadi malam yang tenang di mana lampu-lampu rumah besar keluarga Tanudjaya menyala lembut, menerangi setiap sudut ruangan yang luas, megah, namun terasa hangat dan penuh kenangan. Malam itu, Luna kembali ke kamarnya sendiri—kamar besar yang dulu terasa asing dan menakutkan, kini sudah menjadi tempat paling nyaman baginya. Ia masih tidur sendiri, seperti tahun-tahun sebelumnya, karena meski cinta antara ia dan Aditya Pratama sudah terjalin begitu kuat dan dalam, mereka berdua sepakat akan melangkah ke jenjang pernikahan hanya saat semua benar-benar aman, saat tidak ada lagi bahaya yang mengintai, saat takdir benar-benar memberi lampu hijau untuk mereka berdua.
Bagi Luna, hari-hari seperti inilah definisi kebahagiaan sesungguhnya. Ia pikir, badai terbesar dalam hidupnya sudah lama berlalu. Semua musuh yang dulu ingin menjatuhkannya, mengambil haknya, bahkan ingin melenyapkan nyawanya, sudah tak ada lagi. Semua kebohongan sudah terkuak, semua kebenaran sudah berdiri tegak di tempatnya, dan nama baik kakeknya serta dirinya sendiri sudah dibersihkan sepenuhnya. Ia kira, mulai sekarang hanya akan ada hari-hari tenang: mengelola warisan dan perusahaan dengan baik, membantu orang-orang yang membutuhkan, menghabiskan waktu bersama Aditya, dan suatu hari nanti mereka akan menikah, membangun keluarga, dan hidup bahagia selamanya.
Namun, Luna lupa satu hal: takdir tak pernah berjanji akan membiarkan siapa pun beristirahat terlalu lama. Dan bahaya itu, seringkali datang bukan dari tempat yang kita duga, melainkan dari arah yang kita kira sudah aman, bahkan sudah lenyap ditelan waktu.
Malam itu Luna tidur nyenyak, lelap dan damai di atas tempat tidur besarnya, ditemani cahaya lampu tidur yang remang-remang serta aroma bunga melati yang ia suka. Di dalam mimpinya, ia kembali melihat wajah Aditya—tersenyum, tampan, dan selalu melindunginya—seolah dunia ini milik mereka berdua saja.
Namun tepat saat jam dinding di ruangan itu menunjukkan pukul tiga pagi, saat seluruh penghuni rumah ini masih terlelap dalam tidur nyenyak, sesuatu terjadi yang membuat darah Luna seketika berhenti mengalir di pembuluh darahnya.
Tiba-tiba ia terbangun, bukan karena mimpi buruk, bukan karena suara keras, melainkan karena ia merasakan ada sesuatu yang salah. Ada hawa dingin yang menyusup masuk ke dalam kamar, meski semua jendela dan pintu sudah tertutup rapat sejak sore hari. Dan yang lebih membuat bulu kuduknya meremang seketika... ia merasakan ada pandangan mata yang memperhatikannya—sangat dekat, tepat di sisi tempat tidurnya.
Jantung Luna berdegup kencang, begitu keras hingga ia sendiri bisa mendengarnya jelas di telinganya. Perlahan, sangat perlahan, tanpa membuat suara sedikit pun, ia membuka matanya sedikit, mengintip lewat celah kelopak matanya yang masih setengah terpejam.
Dan detik itu juga... napasnya nyaris berhenti.
Tepat di samping tempat tidurnya, berdiri sosok bayangan hitam—sosok tinggi besar, mengenakan pakaian serba gelap, wajah tertutup topeng hitam yang hanya memperlihatkan sepasang mata yang tajam, dingin, dan penuh kebencian. Sosok itu berdiri diam, tak bergerak sedikit pun, hanya menatap Luna yang masih berpura-pura tidur, seolah sedang mengukur kapan waktu yang tepat untuk bertindak.
Otak Luna berputar cepat. Semua penjaga rumah, semua petugas keamanan, mereka ada di gerbang, di halaman depan, di koridor utama—bagaimana mungkin sosok ini bisa masuk sampai ke dalam kamarnya sendiri tanpa ada yang menyadari? Pintu kamar ia kunci dari dalam, jendela pun terkunci rapat... dari mana ia datang?
Rasa takut menyergap seluruh tubuhnya, tapi Luna berusaha keras untuk tidak panik. Ia sudah tidak lagi gadis lemah dan penakut seperti dulu. Selama bertahun-tahun di samping Aditya, ia belajar banyak hal: belajar waspada, belajar berani, belajar bahwa dalam situasi berbahaya, panik adalah musuh terbesar kita sendiri.
Ia pura-pura masih tidur lelap, berusaha mengatur napasnya agar terasa teratur dan tenang, padahal di dalam hatinya ia sudah berdoa sekuat tenaga, memohon pertolongan, dan berharap Aditya—entah di mana dia sekarang—tahu bahwa ia sedang dalam bahaya besar.
Tiba-tiba, sosok itu bergerak. Tangan besarnya terangkat, memegang sesuatu yang panjang dan keras di balik punggungnya. Luna menahan napasnya sampai dadanya terasa sakit. Apakah ia akan dibunuh sekarang? Setelah semua yang ia lewati, setelah akhirnya menemukan kebahagiaan dan kedamaian... apakah akhirnya ia harus mati di sini, di kamarnya sendiri, tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan pada orang yang paling ia cintai?
Namun sosok itu tidak langsung menyakiti dirinya. Ia hanya membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya tepat di sebelah telinga Luna, lalu berbisik dengan suara yang dibuat berat dan kasar, seolah ingin menyembunyikan identitas aslinya:
"Masih senang ya, hidup mewah, menjadi pemilik segala sesuatu, dan menjadi wanita kesayangan Aditya Pratama..."
Suara itu membuat bulu kuduk Luna kembali meremang. Suara ini asing, tapi nada bicaranya... ada sesuatu yang terasa begitu dikenal, seolah ia pernah mendengarnya bertahun-tahun yang lalu, saat ia masih kecil, saat ia masih hidup dalam penderitaan dan penghinaan.
"Kau kira semuanya sudah selesai, ya?" bisik orang itu lagi, suaranya semakin rendah tapi penuh ancaman yang menusuk tulang. "Kau kira semua musuhmu sudah mati, sudah pergi, sudah tak berdaya? Salah besar, Luna... Masih ada aku. Aku yang sudah menunggu waktu yang tepat selama bertahun-tahun. Aku yang menunggu sampai kau merasa paling aman, sampai kau merasa paling bahagia... supaya saat aku merenggut semuanya dari tanganmu, rasa sakitnya akan terasa jauh lebih besar, jauh lebih menyiksa daripada apa pun yang pernah kau rasakan sebelumnya."
Darah Luna terasa berubah menjadi es. Di dalam kepalanya, satu per satu nama orang yang dulu pernah menyakitinya terbayang—orang yang ingin merebut harta keluarganya, orang yang mengusirnya, orang yang dulu sering menghinanya dan mengatakan ia tidak pantas mendapatkan apa pun. Tapi semuanya sudah dihukum, semuanya sudah kehilangan segalanya, bahkan ada yang sudah pergi jauh dari kota ini, ada yang sudah meninggal... siapa lagi yang tersisa?
"Kau ingin tahu siapa aku?" tanya sosok itu lagi, lalu ia tertawa kecil—tawa dingin, sinis, dan penuh kebencian. "Nanti akan kau tahu. Tapi bukan sekarang. Aku tidak akan membunuhmu malam ini... kematian terlalu cepat, terlalu mudah untuk gadis sepertimu. Aku ingin kau hidup, Luna. Aku ingin kau hidup dan merasakan bagaimana rasanya kehilangan semua yang kau miliki sekarang. Harta, nama baik, kehormatan... bahkan orang yang paling kau cintai, Aditya Pratama. Aku akan mengambilnya semuanya, satu per satu, tepat di depan matamu. Kau akan menangis, kau akan memohon, tapi tak ada yang akan mendengarkan teriakanmu. Sama seperti dulu... saat kau sendiri, tak berdaya, dan tak ada satu pun orang yang mau menolongmu."
Perasaan Luna bercampur aduk: takut, marah, bingung, tapi juga ada rasa penasaran yang membara di dalam hatinya. Siapa orang ini? Apa kesalahannya padanya? Dan bagaimana ia bisa tahu semua hal tentang hidupnya, bahkan hal-hal yang jarang diketahui orang lain?
Belum sempat Luna berpikir lebih jauh, sosok itu perlahan bergerak mundur, menjauhi tempat tidurnya, berjalan menuju sudut kamar yang gelap.
"Nikmati waktumu yang tersisa, Luna..." bisiknya untuk terakhir kali. "Karena kebahagiaan yang kau rasakan sekarang... ini hanyalah mimpi yang sebentar lagi akan hancur berkeping-keping. Ingat baik-baik kata-kataku ini."
Detik berikutnya, seolah menghilang ditelan bayang, sosok itu lenyap begitu saja—secepat datangnya, tanpa suara, tanpa jejak, seolah ia tidak pernah ada di sana sejak awal.
Luna masih tetap diam, tetap berbaring, masih berpura-pura tidur, sampai ia benar-benar yakin orang itu sudah pergi, sampai ia benar-benar tidak merasakan lagi kehadiran orang asing di ruangan ini. Baru setelah lewat hampir sepuluh menit, saat detak jantungnya sudah sedikit lebih tenang, saat ia yakin ia sendirian lagi... Luna perlahan duduk, menyibakkan selimut, dan napasnya keluar dalam satu hembusan panjang yang berat.
Ia segera bangun, berlari menuju pintu dan jendela—semuanya masih terkunci rapat, sama persis seperti saat ia memeriksanya sebelum tidur. Tidak ada kunci yang hilang, tidak ada tanda-tanda paksa masuk, tidak ada jejak kaki, tidak ada apa pun yang menunjukkan ada orang asing yang pernah ada di sini. Seolah-olah semua itu hanya halusinasi, hanya mimpi buruk yang datang di tengah malam.
Tapi Luna tahu... ini bukan mimpi.
Rasa dingin yang masih terasa di kulitnya, kata-kata ancaman yang masih jelas terngiang di telinganya, pandangan mata penuh kebencian yang tak akan pernah bisa ia lupakan... semuanya terlalu nyata, terlalu hidup, untuk hanya dianggap sekadar khayalan.
Luna berjalan mundur perlahan sampai punggungnya bersandar di dinding, lalu ia meraih ponsel di meja samping tempat tidurnya—tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menekan nomor yang paling sering ia hubungi, nomor yang menjadi tempat pelariannya saat ia takut, nomor milik satu-satunya orang yang bisa ia percayai seumur hidupnya: Aditya Pratama.
Telepon berdering satu kali, dua kali, tiga kali...
Di sisi lain, telepon di ruangan kerja Aditya yang ada di gedung kantor pusatnya berdering terus menerus. Pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaan, berniat segera pulang dan beristirahat, tapi begitu melihat nama yang tertera di layar—Luna—wajahnya yang selalu tenang dan tegas seketika berubah menjadi cemas. Jam sudah tiga lewat pagi... Luna tidak akan menelepon di jam segini kecuali ada sesuatu yang benar-benar penting, sesuatu yang tidak bisa ia tunda sampai pagi.
Ia mengangkat telepon itu secepat kilat, suaranya langsung terdengar tegas dan penuh perhatian:
"Luna? Ada apa? Kenapa menelepon di jam segini? Apakah kamu baik-baik saja?"
Begitu mendengar suara laki-laki itu—suara yang menjadi sumber kekuatan dan ketenangan baginya—air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah juga. Suaranya bergetar, sedikit gemetar, tapi ia berusaha bicara sejelas mungkin:
"Tuan... Tuan Aditya... ada orang masuk ke kamarku. Ada orang di sini, dia bicara padaku... dia mengancamku, Tuan! Dia bilang... dia bilang akan mengambil semua yang aku miliki, bahkan... bahkan Tuan juga..."
Di seberang telepon, detak jantung Aditya seketika berhenti berdetak sebentar, lalu berdegup jauh lebih cepat dan keras dari biasanya. Seluruh tubuhnya yang besar dan kuat seketika tegang, matanya menyala dengan amarah yang mengerikan—amarah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, amarah yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menyakiti atau bahkan hanya mengancam wanita yang ia cintai ini.
"Tetap di sana! Jangan pergi ke mana pun, kunci semua pintu dan jendela, jangan buka untuk siapa pun selain aku!" perintah Aditya dengan nada yang tegas, dingin, dan berwibawa—nada yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan langsung tahu bahwa ia benar-benar marah, dan bahaya besar sedang menanti orang yang berani berbuat ini. "Aku akan ke sana sekarang, paling lama sepuluh menit aku sudah sampai. Jangan takut, Luna... tidak akan ada apa pun yang menyakitimu selama aku masih bernapas. Aku akan datang, dan aku akan mencari siapa orang ini, sampai ke ujung dunia pun aku akan menemukannya!"
Telepon dimatikan.
Di rumah besar itu, Luna masih berdiri di dekat telepon, tangannya masih gemetar, tapi entah kenapa begitu mendengar suara Aditya, begitu mendengar janjinya... rasa takut di hatinya sedikit demi sedikit hilang, berganti dengan rasa percaya yang kuat. Ia tahu, selama ada Aditya di sisinya, ia tidak akan pernah benar-benar sendirian.
Namun di dalam hatinya, satu pertanyaan terus berputar, berulang-ulang, tak kunjung menemukan jawaban:
Siapa dia? Dan kenapa ia begitu membenciku?
Luna belum tahu, bahwa ancaman yang didengarnya malam ini hanyalah permulaan. Bahwa bayang gelap yang datang di tengah malam itu, membawa serta rahasia besar yang sudah terkubur selama puluhan tahun—rahasia yang jika terkuak, akan mengguncang seluruh hidupnya, akan mengubah segala sesuatu yang ia percayai selama ini, dan akan menguji cinta serta kesetiaan antara ia dan Aditya sampai ke batas yang paling tak terbayangkan.
Ia belum tahu, bahwa damai yang ia rasakan selama ini... hanyalah jeda singkat sebelum badai terbesar dalam hidupnya benar-benar datang.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷