NovelToon NovelToon
Dewa Abadi

Dewa Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.

Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Bayangan di Paviliun Pelelangan

Angin musim gugur menerbangkan daun-daun maple merah di sepanjang jalanan utama Kota Daun Gugur. Semakin dekat mereka ke pusat kota, suasana semakin ramai. Para kultivator dari berbagai sekte berseliweran, mulai dari pendeta keliling hingga Tuan Muda dengan pengawal lengkap.

Tujuan mereka adalah bangunan tertinggi di kota ini: Paviliun Seratus Pusaka.

Bangunan itu menjulang tiga lantai, terbuat dari kayu giok hijau yang sangat mahal dan memancarkan fluktuasi formasi perlindungan yang kuat. Di depan pintu gerbangnya yang berlapis emas, antrean kultivator sudah mengular, dijaga ketat oleh belasan penjaga berzirah dari Sekte Pedang Musim Gugur yang rata-rata berada di Puncak Pengumpulan Qi.

Qian Fugui menelan ludah melihat antrean tersebut. Ia merapatkan jubah kuningnya yang kotor (satu-satunya pakaian yang tidak ia ganti) sambil menoleh ke arah Zeng Niu dan Zhao Ying.

"Niu-bro, ingat," bisik Fugui dengan nada memelas. "Di dalam sana, jangan gunakan tatapan matamu yang 'aku-akan-mencungkil-matamu' itu. Banyak Tetua tingkat Foundation Establishment yang hadir. Kita hanya punya tiga ratus Batu Spiritual. Kita adalah tikus kecil yang menyelinap ke pesta naga!"

"Aku tahu," jawab Zeng Niu singkat. Ia mengenakan caping bambu lebar yang sengaja ditarik agak ke bawah untuk menyembunyikan wajahnya, sementara Zhao Ying menggunakan cadar sutra putih yang menutupi separuh wajah cantiknya. Penyamaran sederhana ini sangat penting mengingat mereka masih buronan dari Suku Li.

Saat tiba giliran mereka di depan meja pendaftaran, seorang penjaga berwajah masam menatap mereka dari atas ke bawah. Meskipun jubah baru Zeng Niu terlihat mewah, kultivasinya yang hanya Pengumpulan Qi Tahap 4 membuat penjaga itu mendengus pelan.

"Tiket masuk? Atau bukti aset minimal seratus Batu Spiritual?" tanya penjaga itu ketus.

Tanpa banyak bicara, Zeng Niu meletakkan kantong kecil di atas meja. Bunyi gemerincing batu spiritual yang padat langsung membungkam sang penjaga.

"Seratus lima puluh batu. Tiket untuk tiga orang," ucap Zeng Niu datar.

Penjaga itu dengan cepat memeriksa isi kantong, lalu memberikan tiga buah token kayu biasa kepada mereka. "Lantai satu, area umum. Silakan masuk."

Saat mereka melangkah melewati gerbang, atmosfer di dalam paviliun terasa sangat berbeda. Udara dipenuhi aroma dupa penenang jiwa. Ribuan kursi berderet melingkar menghadap ke panggung utama di tengah ruangan. Di lantai dua, terdapat balkon-balkon tertutup (VIP) yang diperuntukkan bagi tamu kehormatan dari sekte besar.

Mereka bertiga mengambil tempat duduk di barisan tengah, mencoba untuk tidak menarik perhatian.

"Lihat balkon nomor tiga," bisik Fugui, menunjuk ke arah lantai atas menggunakan dagunya. "Itu pasti perwakilan dari Sekte Gagak Salju. Auranya sangat dingin."

Mendengar nama "Sekte Gagak Salju", mata hitam Zeng Niu sedikit menyipit. Itu adalah sekte yang ia bantai di Gunung Tengkorak Beku, tempat ia kehilangan Dantiannya. Jika mereka tahu pembunuh Ketua Sekte mereka sedang duduk di lantai bawah, lelang ini akan berubah menjadi lautan darah seketika.

"Tenanglah. Kultivasimu sekarang berbeda dengan fluktuasi Qi Bencanamu yang dulu," Zhao Ying menyentuh lengan Zeng Niu dengan lembut, menyadari ketegangan pada otot pemuda itu. "Mereka tidak akan bisa mengenalimu."

Zeng Niu mengangguk, melepaskan cengkeramannya pada sandaran kursi.

Teng! Teng! Teng!

Tiga bunyi gong raksasa bergema, menandakan dimulainya pelelangan.

Seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah brokat merah melangkah ke atas panggung. Ia memancarkan aura Foundation Establishment Tahap Menengah yang sangat stabil, membuat seluruh ruangan seketika hening. Ia adalah Tuan Yan, Kepala Juru Lelang Paviliun Seratus Pusaka.

"Selamat datang, Pahlawan dan Pendekar dari seluruh penjuru angin!" sapa Tuan Yan dengan suara yang diperkuat oleh Qi, menggema ke seluruh ruangan. "Malam ini, Paviliun kami menjanjikan barang-barang yang tidak akan mengecewakan mata kalian. Tanpa berbasa-basi lagi, mari kita mulai dengan barang pertama!"

Dua pelayan wanita membawa sebuah nampan perak yang ditutupi kain sutra. Tuan Yan menarik kain itu, memperlihatkan sebuah botol giok kecil.

"Tiga Pil Penembus Batas! Dibuat oleh Alkemis Bintang Tiga dari ibukota. Pil ini bisa meningkatkan peluang terobosan dari Puncak Pengumpulan Qi ke Foundation Establishment sebesar sepuluh persen! Harga awal, lima ratus Batu Spiritual!"

Ruangan langsung berdengung riuh. Para kultivator independen di lantai bawah saling berteriak menaikkan harga. Dalam waktu lima napas, harga telah menembus angka seribu Batu Spiritual.

Zeng Niu menyandarkan tubuhnya. "Benda sampah dijual semahal itu."

Fugui nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Sampah katamu?! Tiga pil itu adalah mimpi seluruh kultivator Pengumpulan Qi! Ah, kau memang gila, Niu-bro."

Zeng Niu tidak membual. Saat ia berada di Puncak Pengumpulan Qi dulu, ia menembus Foundation Establishment di tengah pertarungan berdarah murni dengan mengandalkan kekejaman memeras potensi fisiknya, tanpa bantuan pil sebutir pun. Baginya, bergantung pada pil fana adalah jalan bagi mereka yang lemah mental.

Lelang berlanjut. Berbagai pusaka aneh, ramuan tingkat menengah, hingga seni bela diri dipertontonkan. Zeng Niu tidak tertarik. Ia hanya menunggu senjata. Golok karatannya telah hancur, dan seorang algojo tanpa pedang seperti macan tanpa cakar.

Setelah dua jam yang membosankan bagi Zeng Niu (tapi sangat menegangkan bagi Fugui yang ikut berkeringat melihat angka yang diteriakkan), Tuan Yan akhirnya memberikan isyarat agar suasana ditenangkan. Lampu kristal di panggung diredupkan sedikit.

"Dan sekarang... kita sampai pada sesi pusaka utama malam ini," ucap Tuan Yan. Nada bicaranya berubah menjadi lebih berat dan misterius.

Empat penjaga berotot kekar membawa sebuah kotak kayu hitam raksasa ke atas panggung. Kotak itu dikelilingi oleh rantai besi yang dipenuhi kertas segel (Talisman) penekan Qi.

"Para tamu sekalian. Senjata yang ada di dalam kotak ini bukanlah senjata buatan alkemis dari zaman kita," Tuan Yan berjalan mengelilingi kotak itu. "Ini adalah pusaka kuno yang baru saja digali sebulan lalu dari ujung terdalam Hutan Pemakaman Dewa di perbatasan Benua Selatan!"

Mendengar kata "Hutan Pemakaman Dewa", Zhao Ying dan Zeng Niu saling berpandangan di balik penyamaran mereka. Itu adalah tujuan dari peta kulit yang mereka rampas dari Pendeta Mayat!

Tuan Yan mencabut kertas segel itu. BLAAR! Sebuah gelombang tekanan yang luar biasa brutal, dingin, dan dipenuhi Niat Membunuh (Killing Intent) yang sangat pekat meledak dari dalam kotak, menyapu seluruh lantai pelelangan.

Banyak kultivator di barisan depan yang terbatuk-batuk, wajah mereka memucat akibat teror mental dari tekanan tersebut.

Tuan Yan membuka tutup kotak. Di dalamnya, tergeletak sebilah pedang yang... sangat jelek.

Bilahnya berwarna hitam kusam, tidak rata, seolah-olah dipahat asal-asalan dari sebongkah batu karang. Tidak ada pelindung gagang, dan pegangannya hanya dililit oleh kain lapuk berwarna merah tua. Tidak ada kilauan spiritual sedikit pun, namun pedang ini memancarkan aura kebiadaban murni yang membuat pedang-pedang di pinggang para tamu bergetar ketakutan.

"Ini adalah Bilah Penebas Tulang," jelas Tuan Yan, suaranya sedikit bergetar menahan tekanan pedang itu. "Beratnya mencapai seribu kati. Materialnya tidak diketahui, namun benda ini mampu membelah artefak pertahanan tingkat bumi layaknya membelah tahu!"

Ruangan menjadi sangat sunyi. Semua orang menelan ludah. Senjata ini luar biasa, tapi ada satu masalah besar.

"Namun... Paviliun kami harus jujur," Tuan Yan tersenyum pahit. "Pedang ini menolak untuk diikat oleh darah penggunanya. Siapa pun yang mencoba mengalirkan Qi ke dalamnya, meridiannya akan terkoyak oleh Niat Membunuhnya. Hingga saat ini, tidak ada satu pun kultivator di kota ini yang mampu mengayunkannya tanpa muntah darah."

Ruangan kembali berdengung. Senjata hebat tapi tidak bisa dipakai, apa gunanya? Itu seperti membeli seekor naga ganas yang akan memakan majikannya sendiri.

"Oleh karena itu, kami menjualnya dengan harga awal yang sangat rendah. Hanya dua ratus Batu Spiritual! Apakah ada yang berani menjinakkan pusaka buas ini?" tantang Tuan Yan.

Hening. Sepuluh napas berlalu. Tidak ada yang mengangkat papan penawaran. Bahkan dari balkon VIP pun tidak terdengar suara. Siapa yang mau membuang uang untuk senjata terkutuk?

Di tengah keheningan yang memalukan bagi juru lelang itu, sebuah papan kayu bernomor perlahan diangkat dari barisan tengah lantai dasar.

"Dua ratus sepuluh batu," ucap sebuah suara yang tenang, serak, namun tegas.

Ribuan pasang mata menoleh ke arah pemilik suara itu. Qian Fugui nyaris melompat dari kursinya karena panik, sementara Zhao Ying menatap profil samping Zeng Niu dengan mata yang memancarkan sedikit kebanggaan.

Tangan yang mengangkat papan itu adalah tangan yang penuh bekas luka.

Mata hitam Zeng Niu, dari balik caping bambunya, menatap tajam ke arah Bilah Penebas Tulang di atas panggung. Pedang itu mungkin menolak Qi dari kultivator ortodoks yang dimanja oleh obat-obatan, namun bagi seorang algojo yang tubuhnya pernah hancur lebur dan dijahit kembali oleh penderitaan... pedang itu sedang memanggilnya.

"S-Satu penawaran! Dua ratus sepuluh dari Tuan bertopi bambu!" Tuan Yan berseru lega. "Apakah ada yang lain?!"

Tepat saat Tuan Yan hendak mengetuk palunya, sebuah suara meremehkan yang sangat nyaring terdengar dari pintu masuk utama.

"Tunggu. Aku menawarnya dengan lima ratus Batu Spiritual!"

Semua orang menoleh. Di pintu masuk, Tuan Muda Lin dari Toko Sutra kemarin melangkah masuk dengan kipas lipatnya, dikelilingi oleh lima pengawal elit. Ia terlambat datang, namun senyum angkuhnya mengembang saat melihat siapa yang menawar pedang itu.

"Kau lagi, Serangga Bertopi," seringai Lin, matanya menatap tajam ke arah Zeng Niu. "Di kota ini, jika Keluarga Lin menginginkan sesuatu, pengemis sepertimu harus menyingkir. Lima ratus!"

Qian Fugui pucat pasi. "Habislah kita. Kita tidak punya batu sebanyak itu!"

Zeng Niu tidak mengubah posisi duduknya. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Tuan Muda Lin. Matanya tetap terpaku pada pedang di atas panggung. Ia perlahan mengangkat papannya lagi, suaranya sangat datar namun menggema di seluruh ruangan yang hening.

"Satu Batu Spiritual."

Tuan Yan bingung. "Tuan... Anda harus menaikkan penawaran. Anda tidak bisa menurunkan harganya—"

"Aku tidak menawar pedang itu, Juru Lelang," potong Zeng Niu. Ia memutar kepalanya sedikit, menatap lurus ke arah Tuan Muda Lin dengan pandangan yang sama seperti saat ia melihat sepotong daging mati.

"Aku sedang menawar harga nyawa tuan muda bodoh ini. Jika dia menaikkan harga pedang itu sekali lagi... aku akan membelah lehernya menjadi dua di depan pintu kalian dengan harga satu Batu Spiritual."

1
eka suci
lanjuuut 💪💪
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
hancurrrkannn manggg niuuuuu
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
renyahhhhh ngkaliiii suaranyaaa....
saniscara patriawuha.
bandemii aeee ndaseee ngantiii ajurrrrr....
Rinaldi Sigar
lanjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
gasddd polllll
Sang_Imajinasi: okehh🙏
total 1 replies
saniscara patriawuha.
nahhh lohhhhh....
Arinto Ario Triharyanto
telan aja dulu pil nya, pengen tau efeknya gmn
Sang_Imajinasi: iyah 🤭🤭
total 2 replies
eka suci
pengumuman pengakuan 😥
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄
total 1 replies
yos helmi
🤣🤣🤣👍👍
eka suci
tenang ya niu sang putri menemani, walaupun perjalanan masih jauh untuk level fana udah out of the box🤭
🔴༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Meluncur 6 gift ☕ Lanjut Crazy Up Thor 💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih mbah atta🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Sang_Imajinasi: siap🙏
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
eka suci
waahhhhh langsung menyalakan suar💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!