Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26
***
Laras mendekat, memperhatikan wajah suaminya. Ada lingkaran hitam di bawah mata Bagas. Napasnya terdengar berat. Laras mengelus pipi suaminya dengan lembut, merasa sangat bersalah sekaligus sangat dicintai.
"Mas... bangun, Mas. Pindah ke kamar," bisik Laras pelan.
Bagas tersentak, matanya terbuka dengan refleks yang cepat. Ia langsung berdiri tegak saat melihat Laras berdiri di depannya. "Ras! Kenapa bangun? Perutnya sakit lagi? Ada yang kontraksi?" tanyanya panik, tangannya langsung meraba perut Laras.
Laras terkekeh kecil, air mata haru menggenang di matanya. "Enggak, Mas. Laras cuma mau pipis. Mas kenapa tidur di sini? Pindah ke dalam, Mas. Kasihan punggungnya."
Bagas menghela napas lega, ia menyandarkan keningnya di bahu Laras sejenak. "Mas tadi mau selesaikan laporan ini sebentar supaya besok pagi bisa temani kamu sarapan tanpa diganggu telepon. Ternyata Mas ketiduran."
"Sudah, lanjut besok saja. Ayo ke dalam," ajak Laras.
Sesampainya di kamar, Bagas membantu Laras berbaring kembali. Namun, saat Bagas hendak menarik selimut, Laras menahan tangannya. Tatapan mata mereka bertemu. Ada gairah yang berbeda malam ini bukan gairah yang menuntut, melainkan gairah yang lahir dari rasa syukur dan rekonsiliasi yang matang.
Bagas menyadari perubahan tatapan Laras. Ia merayap naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di samping Laras. "Ras... kamu sungguh tidak apa-apa?"
Laras mengangguk pelan, jemarinya membelai rahang Bagas yang mulai ditumbuhi janggut tipis. "Laras ingin melayani Mas malam ini. Laras ingin Mas tahu kalau Laras juga mencintai Mas."
Bagas mengecup bibir Laras dengan lembut, sebuah ciuman yang panjang dan penuh emosi. Ia sangat berhati-hati, mengingat perut Laras yang sudah sangat besar. Bagas membantu Laras merubah posisinya agar tetap nyaman, memastikan bantal-bantal menyangga punggung dan panggul istrinya dengan sempurna.
"Pelan-pelan ya, Mas... ahh," rintih Laras saat Bagas mulai menciumi lehernya, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh.
Laras memejamkan mata, tangannya meremas pundak Bagas yang kokoh. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, keintiman itu terjalin dengan ritme yang sangat hati-hati namun mendalam. Setiap sentuhan Bagas terasa seperti permohonan maaf, dan setiap sambutan Laras terasa seperti pernyataan maaf yang tulus.
"Nngghhh... Mas Bagas... pelan saja..." rintih Laras dengan suara serak, napasnya memburu beradu dengan deru napas Bagas di ceruk lehernya.
Bagas mengerang rendah, mencoba menahan dirinya agar tidak menyakiti janin di dalam sana. "Kamu... kamu sangat cantik malam ini, Laras... ahh, Mas mencintaimu... sungguh mencintaimu..."
Suasana kamar menjadi panas meski di luar udara dingin menusuk. Desahan-desahan halus Laras bersahutan dengan rintihan kenikmatan yang keluar dari bibirnya yang masih sedikit pucat. Perut besar itu menjadi saksi bisu bagaimana dua manusia ini saling merengkuh kembali jati diri mereka sebagai sepasang kekasih.
"Ahhh... nggghhh... Mas... kencang sekali..." rintih Laras saat mereka mencapai puncak penyatuan rasa itu. Tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat, tubuhnya melengkung kecil menikmati gelombang kenikmatan yang menyergap.
Bagas melepaskan erangan kepuasan yang panjang, membenamkan wajahnya di antara rambut Laras yang harum minyak zaitun. Mereka terengah-engah dalam pelukan yang sangat erat, seolah-olah dunia di luar sana tidak lagi penting.
Malam itu, di kamar utama rumah dinas Sukamaju, tak ada lagi sekat antara sarjana dan lulusan SMA, tak ada lagi sekat antara Kepala Desa dan pengurus rumah tangga. Yang ada hanyalah Bagas dan Laras—dua jiwa yang akhirnya benar-benar menyatu dalam cinta yang telah teruji oleh air mata dan kerja keras.
"Tidurlah, Sayang. Mas di sini," bisik Bagas sambil mengelus perut Laras yang kini kembali tenang. Laras tersenyum dalam dekapannya, perlahan tenggelam dalam mimpi paling damai yang pernah ia miliki selama lima tahun ini.
****
Bersambung...
ibu kepala desa hrse gk cm lahiran dirumah saja, hrse punya peran PKK, posyandu, trus ngajak ibu ibu kegiatan positive biar desa tambah Maju.