Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bayang-Bayang di Balik Sutra Putih
Fajar pecah di ufuk timur dengan cara yang berbeda dari biasanya—bukan gradasi yang lembut dari hitam ke ungu ke oranye ke emas, melainkan ledakan warna emas yang sangat tiba-tiba saat awan tipis yang tadi menutupi cakrawala bergerak ke samping dan membiarkan matahari masuk sekaligus. Cahaya itu menyapu seluruh atap-atap melengkung Akademi Langit Biru dari kanan ke kiri dalam gelombang yang sangat cepat, seperti seseorang membalikkan halaman.
Kabut pagi yang tipis masih mengambang di antara pepohonan spiritual—tidak bergerak, tidak bergeser, seperti sesuatu yang sudah memutuskan bahwa posisinya di sini tepat dan tidak ada alasan untuk pergi sampai matahari sendiri yang memintanya.
Seminggu. Tujuh hari sejak mereka kembali dari lembah tersembunyi dengan kotak giok spiritual, tanaman herbal kuno, dan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih banyak dari yang mereka bawa masuk.
Di dalam kamarnya, Yu Fan duduk bersila dalam kondisi yang sudah sangat berbeda dari dua tahun lalu saat ia pertama kali melakukan ini di ruangan yang diberikan Yuexin di Kerajaan Tianwu. Postur yang jauh lebih natural, meridian yang sudah sangat familiar dengan cara energi mengalir di dalamnya, dan kesadaran tentang setiap sudut dari fondasi kultivasinya yang jauh lebih lengkap dari sebelumnya.
Master Tingkat 4 Tahap Akhir—angka yang tidak bisa sepenuhnya menggambarkan apa yang ada di dalam dirinya namun yang merupakan satu-satunya cara yang ada untuk mengkategorikannya dalam sistem yang berlaku.
Di dalam meditasinya, kilasan itu datang lagi.
Bukan sebagai gangguan—lebih seperti sesuatu yang sudah lama menunggu giliran dan yang menemukan momen yang tepat saat pertahanan sadarnya sedikit lebih longgar dari biasanya. Wanita berbaju putih murni yang wajahnya selalu terlalu kabur untuk dilihat dengan jelas. Altar batu giok yang sudah sangat ia kenal dari dua tahun bermimpi tentangnya. Rasa sakit di titik di dada yang selalu berdenyut.
Dan kali ini—sesuatu yang baru. Bukan gambar. Bukan suara. Hanya perasaan yang sangat spesifik tentang sebuah pengkhianatan yang berasal dari arah yang tidak pernah seharusnya ada ancaman darinya.
Yu Fan membuka matanya.
Abu-abu gelap yang sudah kembali sepenuhnya dari kilasan tadi menatap langit-langit kamarnya yang sangat familiar. Dari luar jendela yang setengah terbuka, aroma kabut pagi dan embun di atas rumput masuk sangat pelan.
Ia berdiri. Melangkah ke ambang jendela. Dan dengan cara yang sudah menjadi sesuatu antara ritual dan kebiasaan, melompat ke udara.
Dari puncak pagoda tertinggi di sudut timur laut akademi—pagoda kuno dengan atap sembilan tingkat yang masing-masing sedikit lebih kecil dari yang di bawahnya, dibangun dalam cara yang membuat puncaknya menembus kabut tipis yang masih ada di ketinggian itu—seluruh kompleks akademi terhampar dalam cara yang sangat berbeda dari yang terlihat dari dalam koridor-koridornya.
Di lapangan latihan utama, beberapa murid yang rajin sudah mulai bergerak—siluet-siluet yang mengayunkan pedang atau melakukan gerakan fundamental kultivasi, memancarkan aura tipis yang, dari ketinggian ini, terlihat seperti titik-titik cahaya yang berbeda-beda warnanya.
Salah satunya—di sudut timur lapangan, tidak terlalu jauh dari pintu masuk ke koridor asrama—adalah kilatan warna kuning keemasan dan merah menyala yang sangat tidak mungkin untuk tidak dikenali.
Yuexin sedang berlatih dengan cara yang sangat khas Yuexin—dengan seluruh kesemangatannya dan dengan semua omong komentarnya kepada dirinya sendiri yang, dari ketinggian ini, tidak bisa didengar namun yang sangat terbaca dari cara tubuhnya bergerak. Jubahnya kuning-merah yang sudah menjadi semacam tanda pengenalnya di akademi ini berkibar saat ia mengeksekusi rangkaian tusukan pedang, kunciran giok di rambutnya bergoyang dalam ritme yang berbeda dari ritme gerakannya karena inersianya sendiri.
Kemudian—berhenti mendadak. Satu hentakan kaki ke tanah yang bahkan dari ketinggian ini terlihat sangat ekspresif. Gerakan tangan ke arah pedangnya yang menunjukkan seseorang yang sangat tidak puas dengan hasil yang baru saja dihasilkan.
Yu Fan tidak bisa mendengar kata-kata yang keluar dari atas. Namun ia sudah bisa membayangkannya dengan sangat akurat karena dua tahun telah sangat efisien dalam membangun database tentang hal ini.
Sesuatu di dalam dadanya bergerak—bukan denyutan yang biasanya, bukan sesuatu yang rumit. Lebih sederhana dari itu. Sesuatu yang terasa seperti lega melihat bahwa beberapa hal tidak berubah bahkan ketika banyak hal lain sudah berubah sangat drastis.
Ia melompat dari puncak pagoda.
Taman spiritual di sisi barat akademi—yang letaknya dekat dengan kediaman para tetua dan yang memiliki koleksi tanaman spiritual yang, di dunia luar, akan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk dikumpulkan dalam satu tempat—pada pagi ini mengandung sesuatu yang membuat seluruh suasananya sedikit berbeda.
Dari jauh, sudah terlihat sosok yang sangat kecil berlari di antara hamparan bunga-bunga magis yang memancarkan cahaya biru dan hijau tipis. Kaki-kaki kecil yang terbungkus sepatu kain polos menapak di atas rumput dengan cara yang sangat tidak terbebani oleh gravitasi—bukan karena teknik meringankan tubuh, melainkan karena ada kondisi fisik mendasar yang berbeda dari fisik anak biasa seusianya.
Chen Yang mengejar seekor kupu-kupu spiritual yang sayapnya berwarna seperti bulan sabit—tidak satu warna melainkan gradasi dari biru ke putih ke hampir tidak berwarna di ujungnya, dengan cara terbang yang sedikit berbeda dari cara kupu-kupu biasa karena ia merespons aliran energi spiritual di lingkungannya.
Yu Fan mendarat di jalan setapak berbatu tepat di tepi taman—cukup ringan untuk tidak menimbulkan suara yang mengganggu konsentrasi berburu kupu-kupu.
"Kakak Yu Fan!"
Ia sudah terdeteksi. Kemampuan Chen Yang untuk mendeteksi kehadiran orang yang ia kenal sudah beberapa kali mengejutkan para tetua akademi yang jauh lebih terlatih dan yang jauh lebih lama mengembangkan kepekaan spiritual mereka—anak ini merasakan sesuatu yang bukan Qi, bukan aura yang terlatih, sesuatu yang lebih fundamental.
Chen Yang menjatuhkan tangkai bunga kecil yang sudah ia petik entah kapan dan berlari ke arah Yu Fan dengan kecepatan yang sangat tidak sesuai dengan ukuran kakinya. Jubah polosnya yang berwarna hijau muda—bukan warna yang ia pilih sendiri melainkan warna yang Wakil Dekan berikan karena "mudah dilacak jika hilang di taman" menurut alasan resminya—berkibar.
Tabrakan yang dihasilkan ketika tubuh mungil itu menghantam kakinya bukan cukup untuk menggeser posisi Yu Fan satu milimeter pun, namun cengkeraman kedua tangan yang memeluk lututnya jauh lebih kuat dari yang seharusnya bisa dihasilkan oleh anak seusianya.
Yu Fan berlutut—menyamakan tingginya dengan anak itu. Tangannya mengusap rambut hitam yang sangat lebat dan sangat pekat. "Maafkan Kakak. Agak sibuk seminggu ini." Ia menatap wajah yang mendongak ke arahnya—pipi tembam yang sudah tidak sepucat saat pertama kali ia menemukan anak ini di dalam bongkahan giok, warna kulit yang sudah lebih hangat dari saat itu. "Bagaimana kabarmu di sini?"
Apa yang kemudian keluar dari mulut Chen Yang adalah arus cerita yang tidak mengandung jeda yang cukup panjang untuk memotongnya—tentang Wakil Dekan yang mengajarkan latihan meditasi yang membuatnya mengantuk karena terlalu lama harus diam dan yang menyuruhnya "merasakan udara" dalam cara yang belum sepenuhnya ia mengerti namun yang terus ia coba karena Wakil Dekan terlihat sangat serius saat mengajarkannya. Tentang Dekan yang mengeluarkan permen dari saku jubah resminya setiap sore dengan cara yang terlihat seperti ia baru ingat bahwa permen itu ada di sana padahal sudah jelas direncanakan. Tentang kupu-kupu spiritual yang warnanya terlalu indah untuk tidak dikejar meski selalu berhasil kabur.
Yu Fan mendengarkan dengan cara yang tidak memotong.
"—dan tadi ada satu kupu-kupu yang hampir bisa Chen Yang tangkap, Kakak! Hampir! Tapi dia terbang ke atas bunga biru yang tinggi itu dan Chen Yang tidak bisa sampai—"
"Karena kau tidak cukup tinggi?"
"Bukan!" Chen Yang menggeleng dengan sangat tegas. "Karena bunga itu licin! Chen Yang bisa naik kalau mau, tapi Chen Yang tidak mau merusaknya. Kakek Dekan bilang bunga itu butuh dua ratus tahun untuk tumbuh setinggi itu."
Yu Fan menatapnya. Anak delapan tahun yang memutuskan untuk tidak menaiki sesuatu karena tidak mau merusaknya meski secara teknis bisa melakukannya—sesuatu di dalam cara itu terasa sangat familiar dengan cara yang tidak bisa ia identifikasi dari mana datangnya.
"Chen Yang," ucapnya.
"Apa, Kakak?"
"Tunjukkan hasil latihan dari Kakek Wakil Dekan."
Ekspresi yang berubah seketika—dari bercerita yang sangat ceria ke sesuatu yang jauh lebih serius, cara anak yang sangat ingin menunjukkan bahwa ia sudah bekerja keras untuk sesuatu. Chen Yang mundur tiga langkah dengan cara yang sangat ritual—cara ia mundur sudah sama setiap kali, menunjukkan seseorang yang sudah melatih langkah mundur itu berkali-kali karena diajarkan bahwa posisi awal yang benar adalah fundamental.
Menarik napas sangat dalam dengan cara seseorang yang berkonsentrasi penuh. Kedua tangan terangkat ke depan dada dalam posisi yang Wakil Dekan ajarkan—bukan posisi yang ada dalam sistem kultivasi mana pun yang Yu Fan kenal, melainkan sesuatu yang Wakil Dekan kembangkan khusus berdasarkan cara ia membaca kondisi fisik Chen Yang.
Kemudian dorongan keluar—kedua telapak tangan didorong ke depan, dengan cara yang terlihat sangat sederhana dan yang, dari sisi teknis, seharusnya hanya menghasilkan gerakan fisik biasa.
Namun yang keluar bukan hanya dorongan fisik.
Riak udara yang bukan dari angin—tekanan yang menyebar dari kedua telapak tangan Chen Yang ke depan, membuat kelopak-kelopak bunga di radius beberapa meter di depannya bergerak serentak, tidak ditiup melainkan didorong, dengan cara yang membedakan tekanan yang terstruktur dari angin yang tidak terstruktur.
Dan dari tekanan itu—bukan Qi, bukan energi spiritual yang dikultivasi. Sesuatu yang lebih langsung dari itu. Sesuatu yang ada di dalam fisik Chen Yang sebagai kondisi bawaannya yang sudah ada dari jauh sebelum ia bisa mengkultivasi apa pun secara sadar.
Yu Fan merasakan kualitas energi itu dengan sangat jelas dari jarak dekat—lebih jelas dari saat ia melihat Chen Yang menyentuh kolam dan menggerakkan ikan-ikan tanpa menyadarinya. Ini lebih terstruktur. Lebih disengaja. Wakil Dekan sudah mulai menemukan cara untuk membimbing sesuatu yang ada tanpa merusak karakter alaminya.
"Luar biasa," ucapnya—tulus, bukan pujian yang dimaksudkan untuk menyenangkan. "Latihan Kakek Wakil Dekan sangat efektif."
Pipi Chen Yang memerah. Memerah bukan karena malu—karena senang dengan cara yang tulus, cara seseorang yang sangat ingin seseorang tertentu melihat bahwa ia sudah berusaha keras dan yang baru saja mendapatkan konfirmasi itu.
Kemudian, ekspresi berubah lagi. Serius. Dengan cara yang terlalu dewasa untuk wajah dan usia itu.
Chen Yang mengepalkan tangan mungilnya—kepalan yang mengandung tekad yang sangat nyata untuk sesuatu yang sudah ia putuskan. "Chen Yang harus menjadi sangat kuat, Kakak. Sangat, sangat kuat."
"Untuk apa?" tanya Yu Fan—tahu jawabannya mungkin, namun ingin mendengarnya langsung.
"Kakek Wakil Dekan bilang..." Chen Yang menurunkan suaranya setengah nada, seolah menyampaikan sesuatu yang penting dan yang tidak ingin terdengar oleh semua orang, "...Kakak Yu Fan sering bertarung dengan orang-orang yang sangat berbahaya. Dan kadang Kakak terluka." Matanya yang berwarna abu-abu sangat muda—yang terlihat seperti langit sebelum fajar—menatap Yu Fan langsung. "Chen Yang tidak mau Kakak terluka."
"Chen Yang akan latihan sampai sangat kuat. Nanti, kalau sudah besar, Chen Yang yang berdiri di depan untuk melindungi Kakak." Suaranya turun di akhir kalimat ini—bukan karena kurang yakin, melainkan karena ada sesuatu di baliknya yang lebih dalam dari tekad biasa. Jemari kecilnya meremas ujung jubah hitam Yu Fan. "Chen Yang bisa melihat tempat ini... bisa makan kue osmanthus dan mengejar kupu-kupu... karena Kakak yang membawa Chen Yang keluar dari batu gelap itu. Kalau tidak ada Kakak—"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Yu Fan menarik Chen Yang ke dalam pelukannya—tidak besar, tidak dramatis. Hanya memeluk. Tangannya menepuk punggung kecil yang sangat hangat itu dengan sangat pelan. "Terima kasih, Yang Er."
Chen Yang yang tadinya serius mulai tertawa kecil di dalam pelukan itu—tawa yang sangat khas anak kecil, yang terdengar seperti seseorang yang tidak punya alasan untuk menahan tawa dan yang tidak mau menahan tawa.
Ia melepaskan diri dari pelukan itu dengan cara yang sangat ceria. "Sekarang Kakak lihat lagi! Chen Yang mau coba yang lebih keras!"
Yu Fan duduk di batu besar di tepi taman dan menonton.
Sisa pagi itu—waktu yang tidak ia ukur karena tidak ada alasan untuk mengukurnya—dihabiskan dengan cara yang sangat berbeda dari semua kegiatan dua tahun terakhir. Tidak ada latihan pedang. Tidak ada meditasi kultivasi. Tidak ada pertarungan atau misi atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Hanya taman, kupu-kupu spiritual yang terus berhasil kabur, dan anak delapan tahun yang tidak kehilangan semangat mengejarnya meski sudah sangat jelas bahwa kupu-kupu itu jauh lebih lihai dari yang terlihat.
Yu Fan mengantar Chen Yang ke meja makan siang di ruangan kecil di dekat kediaman Dekan—ruangan yang sudah menjadi tempat makan harian Chen Yang dan yang sudah berevolusi dari ruangan resmi menjadi sesuatu yang jauh lebih informal karena Dekan dan Wakil Dekan ternyata tidak bisa melewatkan makan siang tanpa duduk di sana juga.
Saat Yu Fan berdiri untuk pergi, Chen Yang memegang ujung jubahnya. "Kakak, kapan datang lagi?"
"Besok."
"Kakak pasti bilang begitu tapi kemarin tidak datang."
"Maafkan Kakak."
"Kalau tidak bisa datang, kirim sesuatu yang manis sebagai tebusannya."
Yu Fan menatapnya. Anak yang baru bangun dari dalam batu giok seribu tahun—atau lebih—yang belum bisa membaca dan masih mengantuk saat meditasi, sudah sangat efisien dalam negosiasi.
"Baik," jawabnya.
Dari dalam jubahnya—dari cincin dimensi yang sudah menjadi tempat penyimpanan hal-hal yang tidak punya tempat lain untuk disimpan—ia mengeluarkan sesuatu. Boneka jerami kecil yang benang sutra peraknya masih sangat rapi meski sudah berpindah-pindah dari tangan Yan Er ke tangannya ke kantong perjalanannya dan kembali lagi. Hadiah perpisahan yang sudah sempat ia masukkan ke dalam cincin dimensi dengan niat yang belum pasti—dan yang sekarang, melihat tangan kecil yang menunggu di depannya, menemukan tujuannya.
"Ini untukmu," ucapnya. "Hadiah karena sudah berlatih dengan sangat giat."
Chen Yang menerima boneka itu dengan kedua tangan—cara yang sangat sopan yang sudah diajarkan oleh Wakil Dekan sebagai bagian dari "pendidikan dasar" yang berjalan bersamaan dengan latihan fisik. Matanya yang tadi sudah sedikit mengantuk karena kenyang tiba-tiba terbuka penuh.
"Lucu sekali..." Jarinya menyentuh benang sutra perak yang mengikat benang-benang jerami itu. "Ini untuk Chen Yang sungguhan, Kakak?"
"Sungguhan."
"Selamanya?"
"Selamanya."
Chen Yang memeluk boneka itu ke dadanya dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa ini adalah benda yang paling berharga yang pernah dimilikinya. Kemudian mendongak ke Yu Fan dengan sesuatu di matanya yang jauh lebih tua dari delapan tahun. "Chen Yang akan menjaga ini lebih dari apa pun. Chen Yang bersumpah."
Yu Fan mengangguk. Kemudian berdiri dan pergi—meninggalkan ruangan itu dengan Chen Yang yang masih menatap boneka di tangannya, dan dengan perasaan yang tidak punya nama yang tepat dalam bahasa mana pun namun yang, setiap kali ada, terasa seperti sesuatu yang membuat beratnya bumi sedikit berkurang.
Malam turun dengan cara yang berbeda dari siang yang baru saja berlalu.
Kota di luar batas akademi—yang pada siang hari adalah kota yang cukup ramai dengan aktivitas pedagang dan praktisi yang berlalu-lalang—pada malam ini mengandung karakter yang sama sekali berbeda. Bukan karena sunyi. Justru sebaliknya. Di bagian-bagian tertentu dari kota, malam adalah waktu ketika aktivitas yang tidak ingin terlihat di siang hari menemukan ruangnya.
Yu Fan berjalan menembus kegelapan malam dengan jubah hitamnya yang menyatu dengan bayangan. Di wajahnya—topeng perak tanpa motif yang ia manifestasikan dari energi spiritual, melapisnya dengan formasi yang mengaburkan fitur-fitur yang bisa diidentifikasi. Bukan karena takut dikenali, melainkan karena kehadiran yang tidak menarik perhatian lebih berguna dari kehadiran yang dikenali di wilayah yang sedang ia jelajahi.
Distrik selatan kota ini—yang berbatasan langsung dengan distrik kumuh yang sudah pernah ia kunjungi sebelumnya—mengandung campuran yang sangat khas. Di sisi yang menghadap ke jalan utama, toko-toko dan kedai yang legal dan terlihat biasa. Di sisi yang mengarah ke gang-gang yang semakin sempit, jenis bangunan yang lain.
Bangunan berlantai dua dengan lentera merah yang memancarkan cahaya hangat yang kontras dengan kegelapan sekitarnya ditemukan setelah Yu Fan berjalan cukup jauh dari jalur yang familiar. Tidak besar—terlihat normal jika tidak diperhatikan dengan cara yang benar. Namun dari dalamnya, suara yang menunjukkan kegiatan yang tidak pernah terjadi di jam yang sopan dan di ruangan yang transparan.
Sesuatu tentang bangunan itu menahan langkahnya.
Dari luar, mata seorang Master Tingkat 4 yang sudah sangat terlatih dalam dua tahun terakhir sudah mengidentifikasi beberapa hal sebelum langkahnya memutuskan untuk masuk: energi yang memancar dari dalam bukan dari satu sumber melainkan dari banyak sumber yang berinteraksi dengan cara yang terstruktur. Pola pergerakan orang di dalam yang terlihat dari bayangan di jendela tidak mengikuti pola pergerakan tempat hiburan biasa. Dan—paling penting—ada beberapa orang di dalam yang auranya menunjukkan seseorang yang mengkultivasi dengan sangat baik dan yang memilih untuk menyembunyikan tingkat kultivasi tersebut dari lingkungan umum.
Tempat yang mengumpulkan orang yang tidak ingin diidentifikasi, dengan aktivitas yang tidak ingin diketahui, dan dengan perputaran sesuatu yang nilainya melebihi nilai hiburan biasa.
Yu Fan menarik tirai kain merah tebal di pintu masuk.
Suara pertama yang masuk adalah suara dadu dan koin. Kemudian panas dari banyak tubuh di ruangan yang tidak terlalu besar. Kemudian aroma yang mengandung beberapa lapisan—arak yang murah, asap dari bahan yang tidak sepenuhnya bisa diidentifikasi, dan wewangian yang terlalu manis untuk menjadi parfum yang dipilih oleh selera yang baik.
Ruangan yang luas di balik tirai itu dipenuhi meja-meja kayu tempat berbagai jenis permainan berlangsung—tidak semuanya judi, beberapa mengandung pertukaran yang lebih kompleks. Di antara para penjudi yang tampak dari berbagai kelas, Yu Fan mengidentifikasi beberapa anomali dengan cara yang sudah sangat efisien: pejabat administratif yang tidak seharusnya ada di sini pada jam ini, tetua dari faksi-faksi kecil yang biasanya tidak terlihat berdampingan di ruangan yang sama, dan di pojok-pojok yang lebih gelap, orang-orang yang tidak memiliki identitas yang mudah dikategorikan.
Ia berjalan pelan di antara kerumunan.
Dari sampingnya—suara yang sudah sangat terlatih untuk terdengar ramah namun yang mengandung sesuatu yang jauh lebih terstruktur dari keramahan. "Aduh, Tuan Misterius... kenapa sendirian di tempat yang dingin ini malam-malam begini?"
Yu Fan menoleh sangat sedikit. Dua wanita dengan pakaian yang dipilih untuk tujuan yang sangat spesifik mendekatinya. Cara keduanya bergerak—ia mengidentifikasi ini dalam waktu yang sangat singkat—bukan cara wanita penghibur biasa. Ada terlalu banyak presisi di dalamnya, terlalu banyak kesadaran tentang posisi tubuh sendiri dan posisi target, terlalu sedikit gerakan yang tidak memiliki fungsi.
Sekte Penggoda. Atau setidaknya, murid dari sistem yang sama.
Aura dari tubuhnya mengalir ke luar sangat tipis—tipis namun cukup. Suhu di sekitarnya turun beberapa derajat dalam waktu yang sangat singkat, cukup untuk memberikan sinyal yang sangat jelas kepada dua orang yang sudah sangat terlatih dalam membaca sinyal kepada siapa mereka berbicara.
Keduanya mundur. Dengan wajah yang mempertahankan profesionalisme namun dengan cara gerakan yang sangat jelas berubah.
Yu Fan melanjutkan langkahnya.
Di lantai dua bangunan itu—yang aksesnya melalui tangga kayu di belakang yang tidak terlihat dari pintu masuk—aroma berbeda. Lebih tipis dari bawah. Dupa yang sebenarnya dipilih dengan lebih hati-hati. Dan dari celah di bawah satu pintu tertutup, cahaya yang berbeda warnanya dari cahaya lentera merah yang mendominasi lantai bawah.
Kemudian—dari tangga itu, seseorang turun.
Langkah kaki yang sangat berbeda dari langkah kaki siapa pun yang ada di lantai bawah. Bukan karena keras atau pelan—karena punya ritme yang sangat spesifik, ritme yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa bergerak dengan cara yang memaksimalkan efek visual dari gerakannya sendiri. Setiap langkah dalam urutan yang sudah diperhitungkan untuk menghasilkan kibaran gaun pada sudut yang paling menguntungkan, untuk menempatkan cahaya lentera pada titik yang paling menonjolkan fitur yang ingin ditonjolkan.
Gaun sutra tipis berwarna ungu transparan yang melapisi sesuatu yang lebih opak namun tidak banyak lebih opak. Rambut yang digelung setengah dengan cara yang terlihat santai namun yang sudah jelas membutuhkan waktu untuk mencapai kualitas "santai" yang sangat terkontrol itu. Di telinganya, anting-anting berbentuk bunga persik kecil yang bergoyang saat ia berjalan.
Mei Er.
Matanya yang sangat ekspresif—kemampuan ekspresivitasnya adalah alat yang sudah sangat terlatih, bukan sesuatu yang terjadi secara spontan—menyapu seluruh lantai bawah dalam pemindaian yang jauh lebih cepat dan jauh lebih analitis dari yang terlihat kepada orang yang tidak memperhatikan. Dan kemudian berhenti.
Tepat pada sosok berjubah hitam dengan topeng perak polos di sudut ruangan.
Sudut bibirnya bergerak—sangat sedikit, dengan cara yang terlihat seperti senyum spontan namun yang Yu Fan sudah bisa identifikasikan sebagai respons terencana berdasarkan cara otot-otot di sekitar matanya tidak merespons pada waktu yang sama dengan otot-otot di sekitar bibirnya.
Ia membelah kerumunan dengan cara yang sangat efisien—bukan mendorong, tidak ada yang merasa terdorong, namun semua orang memberi jalan karena cara ia bergerak memancarkan sesuatu yang membuat memberikan jalan terasa seperti keputusan yang mereka buat sendiri.
"Ah..." suaranya—pilihan nada yang sangat spesifik, bukan terlalu keras tidak terlalu pelan, mengandung getaran yang sangat tipis yang, untuk seseorang yang sudah sangat terlatih dalam deteksi energi, terasa seperti lapisan pertama dari teknik resonansi suara Sekte Penggoda yang digunakan pada tingkat yang paling halus. "Untuk apa seorang master seperti Tuan Yu Fan berada di tempat kotor seperti ini?"
Di balik topeng peraknya, Yu Fan menahan reaksi yang sudah hampir keluar. Kemudian, dengan sangat hati-hati: Bagaimana ia bisa tahu?
Topeng yang ia manifestasikan menggunakan formasi tingkat menengah yang seharusnya cukup untuk mengaburkan identitas dari siapa pun di bawah Tingkat 5. Aurannya sudah ditekan ke minimum—tidak nol, karena nol justru mencurigakan, namun cukup rendah untuk terlihat seperti kultivator biasa kelas menengah.
Mei Er tertawa—suara yang seperti lonceng perak yang berdentang, cara yang sudah dipilih dan dilatih untuk membuat suara itu karena efeknya pada pendengar sudah dikalibrasi. Ia mendekat, wajahnya ke telinga Yu Fan dengan cara yang terlihat seperti keintiman namun yang ia jaga jarak pastinya dengan sangat presisi. "Sekte kami tidak bisa dikelabui dengan topeng atau teknik penekan aura tingkat Master. Kami memburu jiwa, bukan tubuh. Dan bau jiwamu—" cara ia mengucapkan bau jiwamu mengandung sesuatu yang lebih teknis dari yang terdengar, sebuah terminologi khusus yang merujuk pada cara Sekte Penggoda mengidentifikasi target melalui resonansi spiritual yang jauh lebih halus dari aura standar—"terlalu kuat untuk disembunyikan, Yu Fan. Terlalu... tidak biasa."
Yu Fan melepaskan topeng itu. Tidak ada gunanya mempertahankan sesuatu yang sudah tidak berfungsi.
Wajahnya yang terbuka ke udara malam—Abu-abu gelap matanya menatap Mei Er langsung. "Apa yang kau lakukan di distrik ini, Mei Er?"
Mei Er memundurkan dirinya satu langkah—cara yang terlihat seperti mundur spontan namun yang menempatkan dirinya di sudut cahaya yang menguntungkan. "Ini wilayah perburuan Sekte kami. Energi dan informasi, dua hal yang bisa diperoleh dari satu tempat yang sama." Matanya berkedip. "Daripada berdiri kaku di sini, bagaimana kalau kita naik ke atas dan bicara dengan lebih nyaman? Ada sesuatu yang mungkin sangat ingin kau dengar."
"Aku tidak punya waktu—"
"Tentang Lin Xueru."
Yu Fan berhenti berjalan.
Tiga kata itu—bukan nama yang jarang ia dengar, namun konteks penyebutannya malam ini, dengan cara Mei Er menyebutnya dan dengan ekspresi yang ada di wajah Mei Er saat mengatakannya—mengandung sesuatu yang membuat bagian dirinya yang sudah sangat terlatih untuk mengidentifikasi informasi yang relevan merespons dengan cara yang berbeda dari informasi biasa.
Ia berbalik.
Ruangan di lantai dua berbeda dengan cara yang sudah ia identifikasi dari bawah—lebih sunyi, lebih terkontrol dalam atmosfernya. Dupa yang dibakar di sudut kiri ruangan menghasilkan asap yang tipis dan lurus, tidak mengepul berantakan. Meja kayu pendek di tengah dengan dua bantal untuk duduk yang sudah diposisikan menghadap satu sama lain.
Ruangan yang sudah disiapkan untuk percakapan yang serius.
Mei Er duduk di sisi satunya dengan cara yang sangat natural—cara yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan ruangan ini dan yang sudah tahu dengan tepat posisi mana yang paling menguntungkan untuk duduk. Dari teko kecil yang sudah ada di meja, ia menuangkan teh hangat ke dua cangkir porselen kecil dengan gerakan yang sangat terampil—tidak satu tetes yang tumpah, tidak satu gerakan yang tidak perlu.
"Silakan duduk."
Yu Fan duduk di seberangnya. Tegak. Jubahnya diatur dengan cara yang tidak menyisakan sesuatu yang bisa diinterpretasikan sebagai kelemahan atau kerentanan secara visual. Cangkir teh di depannya tidak ia sentuh.
Mei Er menatap cangkir yang tidak disentuh itu. Kemudian menatap Yu Fan. "Kau berpikir aku mencampurkan sesuatu ke dalam tehnya."
"Aku tidak berpikir. Aku hanya tidak minum sesuatu yang tidak aku siapkan sendiri di tempat seperti ini."
"Bijaksana." Matanya berkedip—dan di saat itu, ada lapisan yang mengalir keluar dari pupilnya, sangat tipis, pink yang hampir tidak terlihat, seperti cat yang sangat encer yang disebarkan di air yang jernih. Teknik resonansi jiwa Sekte Penggoda yang diaktifkan pada tingkat yang paling dasar namun yang sangat konsisten—teknik yang bekerja bukan dengan satu serangan besar melainkan dengan akumulasi kecil yang membangun diri dari waktu ke waktu.
Yu Fan merasakannya—cara energi Yin dalam tubuhnya yang sudah sangat peka terhadap gangguan eksternal merespons dengan denyutan sangat singkat yang membentuk lapisan pertahanan pasif secara otomatis. Lapisan yang tidak terlihat dari luar namun yang sangat efektif dalam memblokir jenis resonansi seperti ini.
Mei Er merasakan benturan pertahanan itu.
Wajahnya tidak menunjukkan kekecewaan yang besar—lebih seperti konfirmasi atas sesuatu yang sudah ia perkirakan. "Benar-benar tidak bisa ditembus." Ia menegakkan posturnya, dan cara ia duduk berubah—sedikit lebih tegak, sedikit kurang performatif, lebih seperti seseorang yang sudah memutuskan bahwa alat yang biasanya ia gunakan tidak bekerja di sini dan yang perlu bergeser ke pendekatan yang berbeda. "Baiklah. Informasi dulu."
Ia mulai berbicara.
Sekte Teratai Putih sudah ada sebelum banyak hal yang ada di dunia ini ada.
Yu Fan mendengarkan ini dengan cara yang sudah sangat terlatih—merekam, mengevaluasi, memisahkan antara fakta yang bisa diverifikasi dan interpretasi yang belum bisa—sementara di dalam dadanya ada sesuatu yang bereaksi terhadap nama itu dengan cara yang sudah sangat familiar namun yang malam ini terasa sedikit berbeda dari biasanya.
Dewi Kebajikan. Sekte yang lahir dari warisan entitas itu. Lima puluh ribu tahun—angka yang sudah sangat sering muncul dalam konteks yang berbeda-beda dalam dua tahun terakhir.
Kemudian Mei Er menyebut Lin Xueru.
"Dia adalah calon tunggal Ketua Sekte berikutnya." Nada Mei Er berubah—lebih datar, lebih seperti seseorang yang menyampaikan fakta dan bukan memperformasikan fakta. "Dan untuk mencapai posisi itu—ada syarat yang tidak diketahui oleh siapa pun di luar sekte mereka."
"Syarat apa?"
Mei Er menatapnya langsung—lebih langsung dari cara ia biasanya menatap seseorang, seolah-olah ia sudah memutuskan bahwa untuk informasi yang ini, cara yang paling efisien adalah cara yang paling langsung. "Mereka harus menjadi manusia tanpa hati." Kata-kata itu keluar dengan sangat bersih, tanpa ornamen. "Doktrin terdalam sekte mereka mengajarkan bahwa untuk mencapai kultivasi tertinggi dan untuk layak memegang posisi Ketua—mereka harus memotong seluruh emosi fana. Semua ikatan. Semua rasa sayang. Semua penyesalan." Ia berhenti sebentar. "Bahkan jika itu berarti membantai teman satu sekte sendiri jika situasi membutuhkan itu."
Dari dalam dada Yu Fan—denyutan yang bukan dari rasa sakit namun yang jauh lebih dalam dari itu. Amarah yang tidak punya nama, bukan amarah yang baru lahir malam ini melainkan amarah yang sudah sangat lama ada di suatu tempat yang sangat dalam dan yang baru saja mendapat titik referensi baru.
Ia mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Sekte yang mengajarkan kasih sayang kepada dunia," lanjut Mei Er, dengan nada yang sangat tipis mengandung kepahitan yang tidak sepenuhnya performatif—ada sesuatu yang lebih personal di dalamnya, sesuatu yang ia menyimpannya di balik permukaannya yang selalu sangat terkontrol. "Namun fondasinya berdiri di atas doktrin yang meminta orang-orangnya untuk membuang segala sesuatu yang membuat manusia menjadi manusia."
Sunyi selama beberapa detik.
"Informasi ini," ucap Yu Fan akhirnya—dengan nada yang sangat datar karena menggunakan nada lain akan memperlihatkan terlalu banyak tentang bagaimana ia meresponsnya secara internal. "Seberapa dapat dipercaya sumbernya?"
"Aku mendapatkannya dari dalam," jawab Mei Er. "Dari seseorang yang pernah menjalani bagian awal dari proses itu sebelum memilih untuk pergi. Bukan hearsay—pengalaman langsung." Ia menggerakkan satu jarinya di atas permukaan meja dalam pola yang tidak acak. "Apakah kau pikir Sekte Penggoda menjual informasi yang tidak diverifikasi? Itu akan menghancurkan reputasi kami."
Yu Fan menatapnya. Dalam cara yang sangat berbeda dari cara Mei Er biasanya ingin ditatap.
"Bayarannya," ucapnya.
Mei Er menyebutkan apa yang ia inginkan—batu giok merah spiritual dan pil pemurni jiwa Tingkat 4. Yu Fan menimbang ini dalam waktu yang sangat singkat. Batu giok merah yang ia bawa dari reruntuhan masih ada di cincin dimensinya—ia sudah menyerahkan sebagian ke Wakil Dekan namun masih menyimpan beberapa. Pil pemurni jiwa Tingkat 4 yang ia miliki adalah dari hadiah misi-misi sebelumnya, bukan dari simpanan akademi yang tidak boleh diambil.
Keputusan ini bukan tentang apakah harga yang diminta wajar. Tentang apakah informasi yang diterima sepadan dengan apa yang diserahkan—dan informasi tentang sesuatu yang langsung berhubungan dengan seseorang yang mungkin suatu hari nanti berdiri di sisi berlawanan darinya sudah jelas nilainya.
"Baik."
Barang-barang berpindah tangan di atas meja kayu yang pendek itu. Cahaya dupa menerangi semuanya dalam warna yang hangat dan yang sangat berbeda dari kualitas ancaman yang ada di percakapan yang baru saja berlangsung.
Mei Er menyimpan semuanya dengan cara yang menunjukkan seseorang yang sudah sangat terbiasa dengan transaksi seperti ini—cepat, efisien, tanpa membuat pertunjukan dari kepuasan yang ada.
Yu Fan berdiri. Mengatur jubahnya. Melangkah ke pintu.
"Yu Fan."
Ia menoleh—setengah, tidak sepenuhnya. Cukup untuk mendengar tanpa memberikan terlalu banyak perhatian yang tidak perlu.
Mei Er duduk di posisinya yang masih sama, dengan tangan di pangkuannya dan dengan ekspresi yang sangat berbeda dari semua ekspresi yang ia kenakan sepanjang malam ini. Bukan ekspresi performatif. Tidak ada teknik yang aktif di dalamnya.
"Informasi yang baru aku berikan itu," ucapnya—sangat pelan, dengan cara yang terasa seperti seseorang yang sudah mempertimbangkan sangat lama apakah akan mengatakan ini dan yang baru sekarang memutuskan untuk melakukannya. "Jaga dirimu. Kau tidak tahu seberapa jauh doktrin itu sudah meresap."
Yu Fan menatapnya dari sudut.
Kemudian berbalik dan keluar.
Malam yang lebih larut. Jalan setapak yang memisahkan kota dari batas akademi—tanah padat yang sudah ribuan langkah kaki lewat di atasnya, sehingga pakunya tidak terasa lagi sebagai tanah melainkan sebagai sesuatu yang sudah diratakan oleh waktu.
Yu Fan berjalan.
Tidak terbang. Berjalan. Dengan kecepatan yang memberikan ruang untuk berpikir.
Lin Xueru yang berdiri di sisi yang berlawanan di luar gerbang akademi bukan karena kebencian pribadi.
Lin Xueru yang malam di Festival Lampion itu berbicara dengan cara yang terasa seperti peringatan dan perpisahan sekaligus.
Lin Xueru yang menghilang dari koridor akademi dalam beberapa minggu terakhir.
Dan puisi yang ia bisikkan sebelum pergi: jangan cari aku di antara cahaya.
Semuanya terhubung dengan cara yang semakin jelas namun yang semakin tidak nyaman semakin jelasnya. Bukan karena informasinya buruk—karena informasi yang baik tentang sesuatu yang mengancam seseorang yang penting selalu lebih tidak nyaman dari tidak tahu.
Di jarinya—cincin dimensi yang berdenyut sangat pelan dengan ritme telur di dalamnya. Ritme yang sudah semakin tidak sabar dari minggu ke minggu.
Di punggungnya—Pedang Yin yang beresonansi sangat tipis dengan kondisi pikirannya saat ini, seperti alat musik yang merespons emosi pemainnya bahkan sebelum not pertama dimainkan.
Ia melewati gerbang akademi—formasi penjaga yang mengenalinya dan yang membuka jalur tanpa suara. Di dalam, koridor-koridor sunyi dari akademi yang sebagian besar sudah tidur.
Namun di dalam pikirannya—tekad yang baru lahir namun yang sudah sangat solid, dengan cara tekad yang tumbuh dari pemahaman selalu lebih solid dari tekad yang tumbuh dari emosi semata.
Kekuatan yang ada sekarang—Tingkat 4 Tahap Akhir—belum cukup.
Bukan pernyataan yang mengandung keputusasaan. Pernyataan yang mengandung kalkulasi. Kalkulasi yang jelas tentang apa yang diperlukan dan apa yang masih harus dicapai.
Sekte tertua yang ada di dunia ini, dengan fondasi yang berdiri di atas sesuatu yang sangat dalam dan sangat lama—untuk bisa berdiri di hadapannya dengan cara yang tidak hanya bertahan namun yang bisa mengubah sesuatu tentangnya—tidak bisa dilakukan dari Tingkat 4.
Tidak bisa.
Namun di dalam akademi ini, di taman barat yang sudah gelap namun yang Chen Yang masih bisa ia bayangkan berlari di antara bunga-bunganya di pagi tadi, ada alasan yang jauh lebih konkret dari ambisi abstrak.
Di kamarnya yang sunyi di lantai tiga asrama senior, Yu Fan duduk lagi. Bukan dalam meditasi kultivasi standar—dalam posisi yang sudah sangat berbeda, posisi yang Pedang Yin di sampingnya beresonansi dengan lebih kuat daripada posisi meditasi biasa, dalam cara yang menunjukkan bahwa posisi ini sudah sangat terlatih dalam interaksi antara keduanya.
Dari dalam cincin dimensinya—satu kepingan giok dari bongkahan besar di reruntuhan Lembah Spiritual yang sudah ia simpan terpisah dari yang lain. Di dalam kepingan itu, energi yang sudah sangat lama tersimpan mengandung sesuatu yang setiap kali ia menyentuhnya memberikan akses ke lapisan yang jauh lebih dalam dari yang bisa ia capai melalui meditasi biasa.
Matanya menutup.
Di dalam kegelapan yang ada di balik kelopak matanya—taman persik yang ia sudah sangat kenal bentuknya namun yang selalu muncul dalam keadaan yang sedikit berbeda, mengungkapkan detail-detail baru setiap kali.
Malam ini, sesuatu yang berbeda.
Sosok di dalam taman itu—gadis kecil yang tertawa dan mengulurkan buah persik—berdiri dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya. Tidak berlari. Tidak tertawa. Hanya berdiri dan menatap ke arah yang tidak ada di dalam taman persik itu—ke arah yang, dalam geometri mimpi, mengarah ke luar dari taman ini ke sesuatu yang ada di baliknya.
Kemudian ia menoleh ke Yu Fan.
Dan untuk pertama kalinya dalam semua malam yang ia masuki taman persik ini, kabut yang selalu ada di sekitar wajahnya—yang selalu mengaburkan fitur-fiturnya tepat sebelum bisa terlihat jelas—mengendur.
Bukan lenyap. Hanya mengendur. Sedikit.
Cukup untuk memperlihatkan bentuk yang samar namun yang tidak bisa dikategorikan sebagai tidak dikenal.
Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, kata suara yang tidak bersuara itu. Bukan di sini. Di tempat yang sangat berbeda. Pada waktu yang sangat berbeda.
Yu Fan mencoba mendekati.
Kabut kembali menutup.
Namun sebelum menutup sepenuhnya—satu detail yang tertinggal. Bukan wajah. Bukan nama. Hanya bentuk sesuatu yang ada di tangan kanan sosok itu—bentuk yang, jika dilihat dari sudut yang tepat, sangat mirip dengan bentuk bunga.
Bunga teratai.
Yu Fan terbangun dengan napas yang sangat teratur dan dengan perasaan yang tidak bisa dikategorikan—lebih dekat ke konfirmasi dari sesuatu yang sudah ia suspensi selama sangat lama daripada ke terkejut.
Di luar jendela kamarnya, langit timur sudah mulai menunjukkan warna yang pertama—belum fajar, namun sudah tidak malam juga. Waktu yang paling sunyi dari semua waktu yang ada dalam satu hari.
Yu Fan berdiri dari posisi meditasinya. Melangkah ke jendela. Menatap ke timur.
Waktu yang tersisa di akademi ini sudah sangat singkat.
Ada banyak yang harus dilakukan.
Dan banyak yang harus dipahami sebelum apa pun yang lain bisa dilakukan dengan benar.
Di dalam cincin dimensinya, telur emas-putih-biru berdenyut tiga kali—sama persis dengan ritme yang ia rasakan di reruntuhan Lembah Spiritual.
Seperti sesuatu yang sudah sangat dekat dengan batas waktu yang telah ditentukannya sendiri, jauh sebelum siapa pun yang masih hidup di dunia ini ada.