kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4.
Malam tahlilan dirumah Pak Safri.
dirumah duka tenda dipasang, kursi plastik berjejer, kopi sama teh hangat tidak berhenti dituang. Tapi ramainya, ramai yang tegang tidak ada yang berani ketawa dan suasana masih mencekam karena masih ingat kejadian saat mau mengubur tadi.
Jam 8 malem, tahlilan dimulai dan Pak Ustad Kamil memimpin doa bersama:
“Ila hadrotin nabiyil musthofa... Al-Fatihah...”_
Baru baca Fatihah pertama, lampu petromak di tengah tenda kedap kedip dan terus mati. Tinggal lampu bohlam kuning di teras yang nyala, itupun redup seperti ditahan sesuatu.
Pada malam itu, angin tidak ada tapi hawa di dalam tenda tiba-tiba dingin menusuk tulang, bau anyir tercium lagi dan Samar, tapi bikin mual.
Ibu-ibu yang baca Yasin langsung pelanin suaranya dan Bapak-bapak pada noleh kanan dan kiri.
*Bruuukkk!*
Dari dalam kamar almarhum, tempat jenazah Safri disemayamin tadi siang, kedengaran suara seperti lemari jatuh. Padahal kamar itu kosong sudah dipel, dibersihkan, dan dipasangin gorden putih.
Anak Pak RT yang paling kecil langsung nangis kejer. “Mama... ada abang di pojokan... matanya item...”
Bu RT langsung cepat-cepat bekap mulut anaknya. “Ssttt,, istighfar Nak!”
Pak Ustad Kamil ngasih kode ke Pak umar “Terusin dan Jangan sampai berhenti, karena Ini gangguannya.”
Tahlilan dilanjutin sambil gemetar dan saat masuk bacaan "Laa ilaaha illallah",,, 100x, tiap orang muter tasbih, tiba-tiba bau kemenyan menyengat dan ini bukan kemenyan tahlilan tapi Ini kemenyan kembang.
Dan di atas genteng... _sreeekkk... sreeekkk... sreeekkkk...
seperti ada yang nyeret kain kafan bolak-balik.
Samsul yang ikut tahlil duduk di barisan paling belakang menunduk dari tadi dan mukanya pucat, keringat menetes di dahinya segede jagung dan setiap bacaan La illaha illallah
badannya kejet-kejet kecil seperti kesetrum dan Orang mengiranya dia sedih dengan kehilangan pak safri, padahal dia lagi nahan perutnya yang kayak ditusuk-tusuk dari dalmm.
Puncak tahlilan, pas doa mau dibaca.
Pak Ustad Kamil baru angkat tangan, _“Allahummaghfir lahu...”_
*Auuuu...!!*
Suara lolongan panjang dari arah kuburan. Padahal TPU jaraknya 500 meter dari rumah. Anjing kampung pada menyalak sahut-sahutan.
Di momen itu juga foto Safri yang ada di dinding memakai pakaian pita hitam, "foto saat wisuda..!" jatuh sendiri dan Kacanya pecah....Prang!_
Semua jamaah tahlil refleks baca _“Laa haula...”_
Pak Ustad Kamil langsung berdiri dan menyuruh Pak Umar azan dan saat itu Pak Modin gemetar tapi azan juga: _“Allahu Akbar Allahu Akbar...”_
Aneh... Pada saat azan selesai, angin dingin itu hilang dan Bau anyir juga hilang. Suara di genteng berhenti dan Lampu petromak nyala sendiri.
Pak Ustad Kamil duduk lagi, napasnya ngos-ngosan dan Bisik-bisik ke Pak RT, “Dia datang,,,!Tapi bukan Safri tapi mahkluk yang menempel di dia. Santau-nya nyari tuannya dan Malam ini dia menagih janji".
Tahlilan ditutup cepat-cepat dan Warga langsung bubar Tampa pakai salaman dan langsung buru-buru pulang sebelum jam 12 malem.
Tinggallah Samsul yang masih duduk, Badannya masih dingin dan gemetar, dia baru sadar di bawah kursinya ada tanah merah becek dan itu adalah tanah kuburan. Padahal dari tadi tidak ada yang menginjak tanah.
samsul mengangkat kaki dan tanah itu lengket seperti darah kental dan Baunya seperti tanah kuburan yang baru digali yang tercampur bau anyir dan saat melihat itu, tubuh Samsul semakin dingin dan Samsul buru-buru pulang tampa pamitan dengan tuan rumah.