NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih

Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Tamat
Popularitas:103.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Setelah diputuskan tiga tahun yang lalu oleh mantan kekasihnya dan menutup diri dari pria manapun, Anata Yulia gadis 24 tahun itu, tiba-tiba saja dijodohkan dengan seorang pria yang tidak dikenal oleh kedua orang tuanya.

"Kamu harus mau Nat, sebentar lagi kamu 25 tahun, usia yang rawan dan sudah pantas untuk menikah. Maka, kamu harus mau, ya, kami jodohkan dengan pria tampan dan mapan." Sang Ibu membujuk dengan memohon.

Namun, siapa sangka pria yang akan dijodohkan dengannya ternyata adalah....

"Nata nggak mau, Bu?"
"Kenapa?"
"Karena...."

Yuk, pengen tahu kelanjutan kisahnya? Tentu bakal bikin penasaran. Ikuti kisahnya di "Dijodohkan Dengan Mantan Kekasih"

Ikuti Auhto di

FB " Tupar Nasir
WA 089520229628

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Malam Syahdu Sebuah Penyatuan Jiwa

     ​Malam semakin larut, akan tetapi udara di dalam kamar terasa semakin menyesakkan bagi Anata.

     Meskipun ia memejamkan mata, indra pendengarannya bekerja dua kali lipat lebih tajam. Ia mendengar suara gemerisik pakaian Kafeela yang dilepas, suara langkah kaki yang berat menuju kamar mandi, hingga gemericik air yang membasuh tubuh suaminya itu.

     ​Anata masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Tempat dugem? Mengawal anak komandan? Hatinya mencelos. Ada rasa tidak rela yang perlahan membakar dadanya, meski ia sendiri yang selama ini mendorong Kafeela menjauh dengan sikap dinginnya.

     ​Setelah beberapa saat, keheningan menyelimuti ruangan. Anata mengira Kafeela masih di kamar mandi. Perlahan, ia membuka mata dan membalikkan tubuhnya. Namun, sosok Kafeela tidak ada di sana.

     Ruangan itu kosong, hanya menyisakan aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau sabun yang segar.

     ​Pandangan Anata kemudian tertuju pada sebuah kotak hitam elegan yang tergeletak tepat di atas bantalnya. Di atas kotak itu, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi namun tegas, khas tulisan seorang anggota aparat.

     ​Dengan tangan sedikit gemetar, Anata meraih kertas itu.

​ "Anata, istriku.

​Abang tahu kamu masih terjaga. Abang juga tahu kamu sedang berusaha menghindari kewajibanmu. Tapi malam ini, Abang tidak mau menerima penolakan dalam bentuk apa pun. Di dalam kotak ini adalah 'seragam' yang harus kamu pakai malam ini. Anggap ini adalah perintah langsung dari komandan tertinggimu di rumah ini.

​Gunakan dalam 10 menit. Abang tunggu di balkon luar. Jangan biarkan Abang harus menjemputmu ke dalam dengan cara yang tidak kamu sukai."

​ Suamimu, Kafeela.

     ​Jantung Anata berdegup kencang. Ia merasa seperti seorang prajurit yang baru saja menerima surat perintah tugas ke medan perang.

     Dengan ragu, ia membuka tutup kotak tersebut. Matanya membelalak. Di dalamnya terdapat selembar pakaian tidur lingerie berbahan satin halus berwarna merah marun dengan aksen brokat hitam yang sangat transparan di bagian dada dan punggung.

     ​"Gila... ini benar-benar gila," bisik Anata. Wajahnya memanas hingga ke telinga. Ia belum pernah memakai pakaian sevulgar ini seumur hidupnya. Selama ini ia lebih nyaman dengan daster longgar atau piyama kartun yang tertutup rapat.

     ​Ia sempat terpikir untuk menyembunyikan kotak itu di bawah ranjang dan kembali berpura-pura tidur.

     Namun, ia teringat nada bicara Kafeela tadi. Suaminya itu jarang memerintah dengan nada sekaku itu jika tidak benar-benar serius. Lagipula, bayangan Kafeela yang berada di tempat dugem bersama wanita lain, meski dalam rangka tugas, membuat sisi keistrian Anata terusik.

     ​"Kalau dia bisa melihat wanita lain berpakaian minim di luar sana, kenapa aku tidak bisa melakukannya untuk suamiku sendiri?" batinnya mulai memberontak.

     ​Sepuluh menit berlalu dengan penuh perjuangan. Anata berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya. Pakaian itu nyaris tidak menutupi apa-apa, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan di balik pakaian longgar.

     Kulitnya yang putih tampak kontras dengan warna merah marun pakaian tersebut. Ia merasa telanjang, namun sekaligus merasa ada kekuatan aneh yang muncul dari dalam dirinya.

     ​Dengan langkah ragu dan tangan yang mendekap dada karena malu, ia berjalan menuju pintu balkon.

     ​Di sana, Kafeela sedang berdiri membelakangi pintu, menatap kegelapan malam ke arah pohon durian yang bergoyang ditiup angin. Ia masih mengenakan celana kain hitam, namun kemejanya sudah dilepas, menyisakan kaos dalam berwarna putih yang ketat, menonjolkan otot punggung dan bahunya yang kokoh.

     ​"Sudah selesai?" tanya Kafeela tanpa menoleh. Suaranya berat, bergema di kesunyian malam.

​Anata terpaku di ambang pintu.

     "K-Kak... maksudku, Bang... ini terlalu... transparan."

     ​Kafeela perlahan membalikkan tubuhnya. Saat matanya menangkap sosok Anata yang berdiri gemetar dengan pakaian pilihan itu, napas Kafeela seolah tertahan di tenggorokan. Matanya yang tajam menyisir setiap jengkal tubuh istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara pemujaan dan gairah yang tertahan.

     ​"Mendekatlah," perintah Kafeela lirih.

     ​Anata melangkah maju satu demi satu. Setiap langkah terasa sangat berat. Ketika jarak mereka hanya tersisa satu meter, Kafeela meraih pinggang Anata dan menariknya masuk ke dalam dekapannya.

     ​"Kamu cantik sekali, Sayang. Jauh lebih cantik dari apa pun yang pernah kulihat hari ini," bisik Kafeela tepat di telinga Anata, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

     ​"Kemarin... Abang benar-benar pergi ke tempat dugem?" tanya Anata, mencoba mengalihkan rasa gugupnya sekaligus menuntaskan rasa penasarannya.

     ​Kafeela terkekeh rendah. Getaran di dadanya terasa sampai ke jantung Anata. "Dari mana kamu tahu? Hemmm...jangan-jangan semalam kamu pura-pura tidur dan kamu mendengar semua yang Abang katakan? Kamu pasti cemburu?"

     Anata terlihat gugup, pipinya merona merah mirip buah ceri. Ia merasa malu karena ketahuan pura-pura tidur semalam.

     "Abang hanya menjalankan tugas dari Komandan untuk menjemput putrinya yang nakal. Tapi Abang sudah meminta Riko menggantikan di dalam. Abang tidak betah di sana. Pikiran Abang tertinggal di kamar ini, pada istri yang berpura-pura tidur padahal jantungnya berdetak seperti genderang perang."

     ​Anata menunduk, wajahnya makin merona. "Aku cuma belum siap, Bang. Aku takut tidak bisa jadi istri yang baik." Akhirnya pengakuan itu keluar juga dari bibir Anata.

     ​Kafeela mengangkat dagu Anata dengan telunjuknya, memaksa mata mereka bertemu. "Istri yang baik itu bukan yang sempurna melakukan semuanya, tapi yang mau berjuang bersama suaminya. Malam ini, jangan pikirkan apa-apa. Jangan pikirkan tugas, jangan pikirkan ketakutanmu."

     ​Kafeela kemudian membawa Anata ke dalam kamar. Meninggalkan balkon yang hawanya mulai terasa sangat dingin.

     Suasana kamar yang tadinya terasa dingin kini berubah menjadi hangat dan intim.

     ​"Tapi Abang...." Anata masih mencoba mencari alasan terakhir.

     ​"Sstt...." Kafeela meletakkan jarinya di bibir Anata. "Perintah tetaplah perintah, Sayang. Dan malam ini, tidak ada dispensasi untukmu."

     ​Kafeela mengecup kening Anata dengan lembut, sebuah kecupan yang lama dan penuh perasaan, sebelum beralih ke kedua matanya.

     Anata yang tadinya tegang, perlahan mulai merasa rileks. Sentuhan Kafeela tidaklah kasar, melainkan penuh dengan rasa hormat dan kasih sayang yang tulus.

     ​"Abang akan melakukannya perlahan. Trust me," bisik Kafeela.

     ​Malam itu, di bawah temaram lampu kamar, Anata menyadari bahwa ketakutannya selama ini hanyalah bayangan semu. Serta dendam luka lama, perlahan sirna oleh sebuah sentuhan cinta.

     "Abang, pelan-pelan, aku takut," pinta Anata sambil meringis dalam.

     Kafeela membungkamnya dengan sebuah kecupan yang tidak mampu lagi ditolak Anata. Ia mulai menerima sentuhan demi sentuhan suaminya, meski rasa sakit di bawah sana memaksanya mengeluarkan lengkingan yang dalam.

     "Akhhhh...."

     Sejenak Kafeela berhenti, ia menatap wajah sendu sang istri yang merasa tidak nyaman. Di bibir pria itu timbul sebuah senyum bangga, bangga karena Anata benar-benar memberikan mahkota berharga hanya padanya.

     ​Dinding pertahanan Anata akhirnya runtuh. Ia memejamkan mata semakin dalam, saat sebuah penyatuan itu mampu merobek sisa pertahanannya.

      Ruangan itu pun menjadi saksi bisu, bahwa perintah sang 'Komandan' malam itu bukan sekadar instruksi, melainkan sebuah undangan untuk menyatukan dua jiwa yang selama ini saling merindu dalam diam.

     ​Keesokan paginya, saat sinar matahari sudah masuk melalui celah gorden. Anata terbangun dengan perasaan yang berbeda.

     Tubuhnya terasa pegal, namun hatinya terasa ringan. Ia melihat ke samping, Kafeela sudah tidak ada, namun ada aroma kopi yang menyeruak masuk ke dalam kamar.

     ​Di atas meja rias, terdapat sebuah buket bunga mawar kecil dan sebuah nota singkat lagi,

     ​"Terima kasih sudah menjadi prajurit yang patuh semalam. Kamu hebat, Sayang. Mampu menjaga semua dan hanya diberikannya padaku. Aku bangga padamu. Mandilah, Abang tunggu di bawah untuk sarapan. Aku mencintaimu."

     ​Anata tersenyum lebar, memeluk bantalnya erat-erat. Ternyata, menjadi istri dari seorang pria seperti Kafeela tidaklah seburuk yang ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, mungkin ia mulai menyukai 'perintah-perintah' suaminya itu.

     Anata mencoba bangkit, akan tetapi rasa perih di bawah sana masih terasa menghujam.

     "Benar-benar sakit semalam, dan sampai pagi masih terasa," keluhnya sambil meringis tapi berusaha bangkit.

1
@Al**
/Good/
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻 semangat thor 💪
Nick_Hen
keren 👍...trrimakasih tor
Arin
/Heart/
Nasir: Makasih Kak.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Nick_Hen
lanjut
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
nis_ma
semangat thorr 🔥💪
HaRas_DeHas: Mampir juga Kak ke karya saya "Sang Perwira Yang Terkhianati". 🙏🙏
total 2 replies
Nasir
Hai pembaca, ini dua bab terakhir lho. Kasih saran dong untuk nanti ke depannya buat saya, bikin karya yg kayak mana? Prianya dingin, tegas jutek tapi diam-diam perhatian? Atau wanita kuat, atau apa? Coba tulis sarannya ya.
Arin
Si debay sudah terlanjur ada di perut Anata. Coba pelan-pelan terima.... Jangan egois karena belum mau dan belum siap. Masa mau dipending dulu..... apalagi di gugurkan. Ck...
Nasir: Merasa belum siap, seperti disambar petir.
total 1 replies
Arin
Keputusan bagus Komandan. Semoga keputusan sudah tepat..... Tapi jangan sampai biarpun sudah di ganti dengan ajudan lain buat jadi pengawal Jeny, tapi masih gatel berusaha buat tetap mendekati suami orang.
sunaryati jarum
Semoga segera tumbuh hasil cocok tanam kalian
Nasir: Hehehe.... ditungguin...
total 1 replies
sunaryati jarum
Kamu mundur jadi ajudan saja Kafeela,masa tugasnya antar jemput putri Jendral,itu di luar dinas
Arin
Bagaimana tuh kelanjutan si Jin penyebar fitnah??? Tindakan apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya???
Arin: Ditunggu Thor.... gak sabar
total 2 replies
Arin
Begitu tuh anak melakukan kesalahan..... katanya sudah kuliah, mahasiswa...... berartikan anak pintar😁Tapi untuk mengakui kesalahan malah lari......
Ibu..... anaknya nanti tolong di kasih tau ya... Feeling ibu tepat banget, kalau Si Jin itu suka sama Kafee. Jadi nasehati Bu jangan jadi pelakor ya anaknya.... Jangan bikin malu. Ini udah bikin kasus kayak gini. Padahal itu video bapaknya sendiri lo.... diedit lagi pelukan sama istri anak buahnya ckckck....
Arin: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
Arin
Memang kurang ajar banget tuh si anak komandan. Halo.... bapak dan ibu komandan terhormat.... anakmu perlu dibimbing dan diarahkan ke hal yang lebih baik. Jangan sampai dengan kejadian video editan AI masih tidak sadar juga dan semakin menjadi.... Mau banget ya anaknya jadi pelakor
Nittha Nethol
lam upnya
Nasir: Iya Kak maaf, kemarin ada gangguan dr sistem NT. Sehingga yg up kemarin justru di up hari ini sama NT.
total 1 replies
Ai Oncom
the best Anata..
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
wih keren nih Anata...
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Taro
semangat terus thor💪
Arin
Pasti bilang ke Kafee kalau istrinya punya kedekatan dengan bapaknya si Jin ini......Bapak Komandan helow..... itu anaknya perlu di perbaiki ahklak nya ya....mau jadi pelakor anak buahmu.... gak malu punya bapak terpandang dijajarannya tapi tingkah anaknya minus... gak banget
Arin
Murahan banget anak dari komandan. Biasanya anak dari seorang militer dididik disiplin. Bukan kayak gini, yang sudah tau ajudan Papanya sudah menikah. Tapi dengan suka rela dia buka paha, gak ada malu-malunya sama sekali ckckck.
Memang harus tegas Kafee. Kasih tau papa si jin Jeny. Biar di ganti aja. Jangan karena masalah kayak gini malah menghancurkan rumah tangga mu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!