Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 26
KEWASPADAAN YANG MENINGKAT
Hening menggantung di antara mereka. Hanya suara kipas angin tua di langit kedai yang berderit pelan.
Aria menunduk. Taco di tangannya sudah dingin, tapi dia remas ujungnya sampai hancur. Pikirannya ribut. Takut. Marah. Bingung. Semua menjadi satu.
Dia benci dunia Lorenzo. Benci pistol di meja. Benci pengakuan <
Sekarang dia terjebak. Oleh pilihannya sendiri. Oleh bayi di perutnya. Oleh pria di depannya yang matanya gelap tapi tangannya baru saja mendorong piring taco ke arahnya dan menyuruh makan agar tetap kuat.
Ironisnya... Dia ingin lari, tapi kakinya seperti kaku.
-’Aku terjebak.’ batin Aria.
Lorenzo tidak bicara. Dia cuma menatap Aria, membaca setiap kedutan di wajah istrinya. Dia tahu Aria takut. Dia juga tahu Aria gak akan pergi. Entah karena nyali atau bodoh, seperti katanya tadi.
Keheningan itu pecah.
Deru mesin berat. Ban mengeram di aspal.
Sebuah jip hitam berhenti tepat di depan kedai. Debu jalanan menari naik. Kaca filmnya gelap, tapi aura yang keluar dari mobil itu sama gelapnya.
Lorenzo dan Aria serentak menoleh.
Pintu jip terbuka. Dua pria turun. Kaos hitam ketat, celana kargo, sepatu boot. Di pinggang mereka, tonjolan yang Aria kenal sekarang. Pistol.
Langkah mereka berat, pasti, langsung menuju kedai.
Dalam sedetik, Lorenzo bergerak. Tangannya meraih pistol kecil di meja. Bangkit. Satu tarikan kasar di lengan Aria membuat wanita itu ikut berdiri, lalu didorong ke belakang tubuhnya. Punggung Aria membentur dinding, dan di depannya, punggung Lorenzo yang lebar jadi tameng.
Lorenzo berhadapan dengan dua pria itu. Tanpa ragu. Tanpa gentar. Matanya sedingin es.
Salah satu pria, yang bekas luka di alisnya, membuka suara. Nada datar, seperti robot. “Lorenzo de Santis.” katanya menatap tegas ke Lorenzo. ”Bos menyuruh kami menjemput mu. Pertemuan pribadi di Sisilia. Malam ini.”
“Tanpa pengawal.” Pria kedua menambahkan.
Lorenzo tidak menjawab. Pistol di tangannya belum terangkat, tapi jarinya sudah di pelatuk siaga.
“Atas nama siapa kalian meminta hal tak masuk akal itu?” Suara Lorenzo rendah. Dingin. Setiap kata seperti pisau. “Aku tidak pergi tanpa jaminan keselamatanku.”
Pria beralis luka itu tersenyum miring. Matanya melirik ke belakang Lorenzo. Ke Aria.
“Jaminannya dia.” Dia mengangguk ke arah Aria. “Nyonya de Santis. Kami akan melindungi wanita yang sedang hamil selama kau pergi ke Sisilia. Itu perintah.”
Aria menegang dan bingung , bagaimana mereka tahu dia sedang hamil?
Aria mencengkeram ujung mantel Lorenzo dari belakang. Kepalanya menggeleng pelan, menatap punggung suaminya. ”Jangan...” bisiknya hampir tak terlihat terdengar.
Lorenzo merasakan tarikan kecil itu. Tapi wajahnya tidak berubah. Curiganya naik. Terlalu mudah. Terlalu rapi.
“Pesan dari siapa?” Lorenzo bertanya. Suaranya lebih pelan. Lebih bahaya.
Dua pria itu bertukar pandang sejenak. Lalu menjawab serempak, “Don Vito.”
Nama itu jatuh ke lantai kedai seperti granat.
Lorenzo terdiam. Rahangnya mengeras sampai terlihat garisnya. Nama itu, orang yang selama ini dia cari namun selalu gagal menembusnya karena ada di tangan polisi.
Aria yang di belakang Lorenzo mengerutkan alis. Don Vito. Nama itu asing untuk disebut. Namun dia penasaran.
Sebelum ada yang bicara lagi, suara radio tua di kedai tiba-tiba mati. Seolah ikut menahan napas.
.
.
.
Gerbang mansion de Santis terbuka. Mobil merah marun melaju masuk, berhenti kasar di depan tangga utama.
Pintu terbuka dibanting. Adriana keluar dengan langkah cepat. Wajahnya merah padam. Marah.
Dia tidak ke kamarnya. Tidak ke taman. Kakinya membawanya langsung ke sayap barat, ke ruangan kerja ayahnya.
Di dalam, Vitorio sedang bersandar di meja kerjanya. Di depannya, seorang pelayan muda menunduk, pipinya merah, tangannya gemetar memegang nampan kosong. Vitorio menyeringai, jarinya baru saja menyentuh dagu gadis itu.
BRAK!
Pintu terbuka kasar.
Tentu saja Vitorio dan pelayan itu serentak menoleh kaget. Pelayan tadi langsung pucat, menunduk dalam, lalu bergegas keluar sambil membisik “Permisi, Nona”. Pintu ditutup pelan dari luar.
Vitorio berdeham, merapikan jasnya yang sebenarnya tidak kusut. “Adriana... Putriku! Kau pulang juga... Bukannya kau ada—”
“Tidak...” Adriana memotong. Suaranya tajam. Dia melempar amplop cokelat ke meja ayahnya. Surat dengan stempel resmi. “Jelaskan ini. Sekarang.”
Vitorio melirik amplop itu. Alisnya terangkat. “Surat penutupan butikmu. Ya, aku yang mengurus itu.” ucapnya santai.
“Tanpa persetujuanku?” Adriana mengepalkan tangan. “Itu butikku. Dan itu hasil kerjaku.”
“Adriana, tenangkan dirimu.” Vitorio mengangkat tangan menyentuh kedua lengan putrinya, nadanya membujuk. “Aku melakukan ini demi kau. Dunia butik itu kecil. Kotor. Tidak aman untukmu. Apalagi sekarang situasinya panas. Aku sudah siapkan yang lebih baik. Aku akan menjodohkanmu dengan seseorang yang berkuasa. Seperti Lorenzo. Kau akan aman dan terhormat.”
Adriana mendengus. Seringainya pahit. “Aku tahu jalan pikiranmu, Ayah.” Dia melangkah maju, menepis tangan Vitorio. “Kau tidak peduli keamananku. Kau mau sebagian dari de Santos. Kau mau aku menikah, cepat punya anak, agar kau punya hak atas warisan. Agar kau bisa ikut pegang kendali.”
Vitorio terdiam. Seringainya hilang. Dan dia tahu kalau putrinya sangat keras seperti istrinya yang sudah wafat.
“Dan aku tidak peduli dengan kekayaanmu itu,” Adriana melanjutkan. Suaranya bergetar marah. “Kalau Ibu masih hidup, aku akan minta dia ikut denganku. Dan tinggal di desa terpencil. Jauh dari rumah ini. Jauh dari orang-orang seperti kalian.”
“Seperti siapa?” Suara itu datang dari pintu. Dingin. Melengking.
Monica berdiri di sana. Gaun hitamnya ketat, rambutnya disanggul sempurna. Matanya menatap Adriana tajam. Dia jelas mendengar kalimat terakhir.
“Dan siapa yang kau maksud, Adriana? Aku harap bukan aku.” Monica melangkah masuk. Dagunya terangkat dan menyeringai kecil.
Adriana menoleh. Menatap balik bibinya. Tidak ada takut di matanya. Hanya muak. Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Berpikir itu hanya membuang energi.
Tanpa kata, Adriana berbalik. Langkahnya lebar, melewati Monica tanpa menoleh. Pintu dibanting lagi saat dia keluar. Dia tahu, berurusan dengan Monica yang licik akan semakin rumit.
Hening menggantung di ruangan Vitorio.
Monica menghela napas, mengusap pelipisnya. “Anak muda zaman sekarang ya,” gumamnya. “Selalu menolak harta. Tidak tahu caranya bersyukur.”
Vitorio tertawa kering. Dia menuang wiski ke gelasnya. “Mereka pikir hidup itu lurus. Padahal tikungannya tajam.”
Dia menenggak wiskinya setengah. Lalu menatap Monica. “Ngomong-ngomong, ada kabar dari Emilio.”
Monica menoleh. “Soal?”
“Don Vito.” Vitorio meletakkan gelasnya. Keras. “Baunya sudah tercium. Emilio bilang, dia yang kirim paket menjijikan itu untukmu.”
Wajah Monica menegang. Tangannya mencengkeram tas tangannya erat. “Maksudmu...penis sialan itu.”
Vitorio menyeringai kecil, melanjutkan, suaranya lebih pelan. Lebih serius. “Aku semakin yakin untuk memperingati mu, Monica. Berhati-hatilah. Bayangan kehancuran kalian sudah di depan mata. Bisa datang dalam waktu singkat. Atau lima tahun lagi.”
Monica menarik napas dalam. Panjang. Udara terasa berat masuk ke paru-parunya. Jemarinya dingin.
Lima tahun. Atau besok.
Dia menatap ke luar jendela. Ke arah taman di mana Adriana tadi lari. Ke arah gerbang di mana Lorenzo dan Aria belum pulang.
“Mereka hanya benalu.” kata Monica.
Vitorio mengangguk. Dia menatap sisa wiski di gelasnya. “Keluarga lama memang selalu kembali untuk menagih.”
Monica tak bisa membayangkan jikalau dia di buru oleh Lorenzo setelah semuanya terbongkar. Setelah 20 tahun janji itu berakhir. Dia harus segera memikirkan cara licik lain untuk menyingkirkan apa yang seharusnya dia singkirkan.