NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Doa Sang Ratu Majapahit

Faris Arjuna segera merapikan letak sarungnya. Ia melirik kakaknya, Arjuna Hidayat, yang masih tampak setenang air di tengah telaga, meski hawa busuk di luar sana semakin menyengat. Faris tahu, ini bukan lagi kelas kroco seperti kemarin malam. Ini adalah "hajatan" besar dari dunia hitam.

"Dikmas, kau temani Simbok di sini. Biar aku yang menyambut tamu tak diundang itu," ucap Arjuna Hidayat pelan sambil beranjak berdiri.

"Jangan, Kang! Izinkan Faris ikut. Di luar sana ada Jono dan Brewok, mereka bisa kena serangan jantung kalau cuma berdua menghadapi dukun kiriman Herman," jawab Faris sambil nyengir lebar.

Arjuna Hidayat tersenyum tipis. "Baiklah. Tapi ingat, jangan mengandalkan ototmu saja. Darah Majapahit yang mengalir di tubuhmu itu butuh ketenangan, bukan sekadar amarah."

Saat keduanya melangkah keluar rumah, pemandangan di halaman pesantren sudah seperti syuting film horor budget rendah. Kabut hitam pekat menyelimuti gerbang, dan suara tawa melengking terdengar dari segala arah. Jono sudah bersiap dengan posisi kuda-kuda silat yang aneh, sementara Brewok terlihat sibuk mencium-cium sandalnya sendiri.

"Woi, Brewok! Ngapain kamu nyium sandal?!" teriak Faris kaget melihat kelakuan anak buahnya.

"Ini Mas! Tadi malam kan sandal saya sakti gara-gara tak bacakan sholawat. Ini lagi saya 'recharge' energinya lewat hidung, biar setannya pusing kena bau jempol saya!" jawab Brewok dengan wajah serius tanpa dosa.

Jono menoleh, wajahnya pucat. "Mas Faris! Mas Arjuna! Itu di depan gerbang ada kakek-kakek terbang! Dia bawa tongkat tengkorak, seram banget Mas!"

Dari balik kabut, muncul sosok Mbah Suro, guru Herman yang legendaris itu. Ia tertawa mengejek, tongkatnya mengeluarkan asap hijau yang membuat rumput di sekitarnya mendadak layu. Di belakangnya, Herman tampak bersembunyi sambil memegang keris kecil dengan tangan gemetar.

"Arjuna Hidayat! Keluarlah! Berikan Paku Bumi itu padaku, atau aku ratakan pesantren ini dengan tanah!" teriak Mbah Suro.

Arjuna Hidayat melangkah maju dengan tenang. Setiap pijakan kakinya di atas tanah pesantren membuat kabut hitam di sekitarnya buyar seketika. "Mbah Suro, sudah puluhan tahun kamu bertapa di gunung, kenapa setelah turun malah jadi kacung orang sombong seperti Herman?"

"Diam kau! Rasakan ini!" Mbah Suro menghentakkan tongkatnya. Tiba-tiba, dari tanah muncul puluhan kerangka manusia yang dibalut api hitam, menerjang ke arah mereka.

"Mas Jono, Brewok! Mundur! Biar ini bagianku!" teriak Faris. Ia melilitkan tasbih di tangan kanannya dan berteriak, "Jurus Kepretan Terminal: Versi Taubat!"

Faris melompat, pukulannya yang dilapisi cahaya emas menghantam kerangka api pertama. DUARR! Kerangka itu langsung hancur jadi abu. Tapi jumlah mereka terlalu banyak.

Brewok yang tidak mau kalah, tiba-tiba maju sambil melempar sandal jepitnya sekuat tenaga. "Makan ini, rudal terminal!"

PLAK! Sandal jepit Brewok tepat mengenai dahi Mbah Suro yang sedang merapal mantra. Meskipun tidak sakit, tapi Mbah Suro kaget setengah mati karena mencium bau yang luar biasa dahsyat dari sandal itu. Konsentrasinya buyar, dan semua kerangka api mendadak menghilang.

"Sialan! Sandal siapa ini?! Bau sekali!" teriak Mbah Suro sambil menutup hidungnya.

Herman yang melihat gurunya dipermalukan sandal jepit langsung berteriak, "Guru! Fokus Guru! Jangan urusi sandal itu!"

Arjuna Hidayat hanya menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya dan anak buahnya. Ia kemudian mengangkat tangan kanannya ke langit. Cahaya putih yang sangat terang menyinari seluruh area pesantren. "Mbah Suro, inilah bedanya kekuatan yang kau cari dengan kekuatan yang dianugerahkan. Paku Bumi bukan untuk dimiliki, tapi untuk menjaga!"

Seketika, sebuah getaran hebat muncul dari dalam tanah. Mbah Suro dan Herman terjatuh, tidak mampu menahan wibawa Sang Paku Bumi Sidoarjo. Sidoarjo malam itu seolah berzikir bersama Arjuna Hidayat.

Mbah Suro dan pasukannya terdiam mematung di luar gerbang, seolah ada dinding tak kasat mata yang menghalangi mereka untuk melangkah lebih jauh. Di dalam rumah, Nyai Gayatri Sekar Arum menatap kedua putranya dengan teduh.

"Waktunya Sholat Tahajud, Anak-anakku. Sehebat apapun senjatamu, setajam apapun tasbihmu, semua itu tak berarti tanpa sujudmu," ucap Nyai Gayatri dengan suara yang menenangkan jiwa.

"Nggih, Mbok. Kulo manut," (Iya, Bu. Saya patuh) jawab Faris Arjuna dengan suara yang mendadak lirih. Panglima terminal itu seketika tertunduk patuh.

Arjuna Hidayat segera mengambil posisi sebagai imam. Di ruangan kecil yang diterangi lampu minyak itu, mereka bertiga bersujud dalam keheningan yang luar biasa dalam. Jono dan Brewok yang berjaga di teras pun tak mau ketinggalan, mereka ikut sholat di atas lantai semen.

Selesai salam, Nyai Gayatri mengangkat tangannya. Beliau mulai merapal doa dengan bahasa yang sangat indah.

"Ya Allah, jagi ksatria kalih puniki. Mugo darah Majapahit sing mili nang awake bocah-bocah iki dadi tameng agomo-Mu," (Ya Allah, jaga dua ksatria ini. Semoga darah Majapahit yang mengalir di tubuh anak-anak ini jadi tameng agama-Mu) bisik Nyai Gayatri khusyuk.

Faris merasakan hawa dingin yang menyejukkan mulai merambat dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Air matanya menetes. Ia merasa dosanya di jalanan seolah luntur setiap kali Simbok mengucap asma Allah.

"Dikmas Faris, rungokno," (Dikmas Faris, dengarkan) bisik Arjuna Hidayat setelah selesai berdoa. "Dongo Simbok iku dudu mung kecap, tapi payungmu. Ojo wedi mlaku selagi restune isih ono." (Doa Simbok itu bukan sekadar kata-kata, tapi payungmu. Jangan takut melangkah selagi restunya masih ada).

"Siap, Kangmas. Faris sampun mantep. Bar ngeten, kulo duduhi Mbah Suro nek didikan Simbok niku mboten saged disepelekne," (Siap, Kangmas. Faris sudah mantap. Habis ini, saya perlihatkan pada Mbah Suro kalau didikan Simbok itu tidak bisa disepelekan) jawab Faris sambil mencium tangan ibunya dengan takzim.

Brewok yang selesai sholat langsung berdiri dan berteriak ke arah Mbah Suro di gerbang, "Woi Mbah! Sabar sithik nopo o! Iki lagi lapor pusat!" (Woi Mbah! Sabar sedikit apa! Ini lagi lapor pusat/Tuhan!).

Jono menyenggol lengan Brewok. "Lambemu, Brewok! Sing khusyuk sithik!" (Mulutmu, Brewok! Yang khusyuk sedikit!).

"Lho, bener toh Mas Jono? Nek koneksine wis nyambung langit, Mbah Suro niku kari ngenteni azabe wae!" (Lho, bener kan Mas Jono? Kalau koneksinya sudah nyambung langit, Mbah Suro itu tinggal nunggu azabnya saja!) sahut Brewok dengan PD-nya.

Nyai Gayatri Sekar Arum berdiri, ia memberikan sebuah tasbih kayu tua berwarna hitam kepada Faris. "Gowo iki, Le. Iki tinggalane eyangmu. Gunakno pas kowe bener-bener kepepet." (Bawa ini, Nak. Ini peninggalan kakekmu. Gunakan saat kamu benar-benar terdesak).

Faris menerima tasbih itu dengan tangan bergetar. Ia bisa merasakan denyut kekuatan yang sangat purba dari kayu tasbih itu. Dengan restu Simbok dan bimbingan Kangmas-nya, Faris melangkah keluar pintu dengan keyakinan penuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!