''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Mobil mulai melaju pelan, membelah genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalanan kota yang temaram. Suara wiper yang bergerak teratur menjadi satu-satunya penghuni di antara keheningan kami yang menyesakkan.
"Na," panggil Farez pelan. Suaranya serak, seolah tertahan oleh sesuatu yang besar di tenggorokannya. "Kenapa waktu itu kamu mengakhirinya seperti itu? Tanpa kata, tanpa alasan yang bisa kumengerti. Kamu membuangku seolah aku ini kesalahan terbesar dalam hidupmu."
Aku tetap bergeming, mataku lurus menatap butiran air yang berkejaran di kaca jendela. "Sudah kubilang, Rez. Masa lalu itu sudah terkubur. Tidak ada gunanya digali lagi."
"Setidaknya beri aku kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi selama lima tahun ini," desaknya, suaranya sedikit meninggi namun tetap terdengar menyakitkan. "Apa kamu tidak ingin tahu betapa hancurnya aku? Apa kamu tidak ingin tahu sesering apa aku berdiri di depan gerbang rumah eyangmu yang kosong, berharap kamu muncul dari sana?"
Aku menarik napas panjang, lalu menoleh menatapnya dengan tatapan paling dingin yang bisa kubentuk. "Tidak, Rez. Aku tidak ingin tahu."
Farez tertegun, rahangnya mengeras.
"Bagiku, tidak ada apa pun yang tersisa di masa lalu. Semuanya sudah kubakar habis malam itu," lanjutku dengan nada datar yang menusuk. "Dan kamu? Kamu bukan kesalahan terbesar, kamu bahkan bukan luka utamaku. Bagiku, kamu hanya bagian dari kerikil tajam di masa lalu yang sempat membuat langkahku tersandung. Dan sekarang, aku sudah berjalan jauh meninggalkan kerikil itu."
Kata-kataku seolah menjadi pedang yang menebas ruang di antara kami. Aku bisa melihat tangan Farez yang mencengkeram kemudi semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hanya kerikil?" bisiknya getir. "Setelah semua yang kita lalui, aku hanya kerikil bagimu?"
"Ya. Kerikil yang tidak ingin kupungut lagi karena hanya akan melukai tanganku," jawabku kejam.
Aku tahu aku berbohong. Aku tahu hatiku menjerit karena telah menyakiti laki-laki yang baru saja menjemputku di tengah badai ini. Tapi aku harus melakukannya. Aku harus meyakinkan diriku sendiri—dan juga dia—bahwa tidak ada jalan kembali. Jika aku membiarkan dia tahu betapa berartinya dia, maka tembok pertahanan yang kubangun untuk melindungi Ibu akan runtuh seketika.
Farez terdiam. Dia tidak lagi mendesak. Sisa perjalanan itu dihabiskan dengan keheningan yang jauh lebih dingin daripada air hujan di luar sana.
Saat mobil akhirnya berhenti di depan pagar rumahku, aku segera membuka pintu tanpa menunggu dia bicara lagi.
"Terima kasih untuk tumpangannya, Pak Farez," ucapku, kembali ke sebutan formal itu.
Aku melangkah keluar, menembus sisa hujan tanpa menoleh lagi. Di belakangku, aku bisa merasakan sorot lampu mobilnya masih menerangi langkahku hingga aku masuk ke dalam rumah. Dia masih di sana, menunggu dalam diam, membiarkan kerikil yang kubuang ini tetap menjagaku dari kejauhan.
Begitu pintu tertutup dan kunci berputar, seluruh kekuatanku seolah ditarik paksa dari raga. Aku luruh, terduduk di balik pintu kayu yang dingin dengan napas yang terputus-putus. Keheningan rumah yang biasanya menenangkan, kini justru terasa mencekik.
Pertahanan yang kubangun mati-matian sejak rapat dengan Bagaskara tadi siang, hingga kalimat-kalimat kejam yang kulontarkan pada Farez di mobil, runtuh total.
Aku menekan dadaku kuat-kuat, mencoba meredam denyut nyeri yang terasa kian tajam. Isakan yang sejak tadi kupendam di tenggorokan akhirnya pecah, tertahan oleh kedua telapak tangan yang menutupi wajah. Rasa sesak itu meledak, menumpahkan segala kepahitan yang kupikul sendirian.
"Maaf, Rez... maaf..." bisikku di sela tangis yang menyesakkan.
Hatiku menjerit karena telah menyebutnya sebagai 'kerikil'. Padahal kenyataannya, dialah satu-satunya rumah yang ingin kutuju saat dunia menghancurkanku lima tahun lalu. Namun, bayangan Ayah yang tertawa bersama Bagaskara kembali melintas, mengingatkanku bahwa cinta yang terlihat paling tulus pun bisa menjadi pengkhianatan paling menyakitkan.
Aku menangis bukan hanya untuk Farez yang baru saja kusakiti, tapi untuk Rana lima tahun lalu yang harus membuang seluruh kebahagiaannya dalam satu malam. Aku menangis untuk rasa lelah karena harus terus berpura-pura menjadi wanita baja, sementara di dalam sini, aku hanyalah kumpulan reruntuhan yang rapuh.
"Rana? Kamu sudah pulang?"
Suara Ibu dari arah kamar membuatku tersentak. Aku segera menyeka air mata dengan kasar, menelan kembali isakanku. Aku tidak boleh membiarkan Ibu melihat genangan duka di mataku.
"Iya, Bu! Rana langsung mau mandi ya, kehujanan sedikit tadi!" jawabku, berusaha membuat suaraku terdengar senormal mungkin meski getarannya tak bisa sepenuhnya hilang.
Aku bangkit dengan kaki yang masih gemetar, berjalan menuju kamar mandi sambil terus menunduk. Di bawah kucuran air shower yang dingin, aku membiarkan sisa air mataku menyatu dengan air, berharap dinginnya bisa membekukan kembali hatiku yang sempat mencair karena kehadiran Farez.
Malam itu, di tengah kegelapan kamar, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Aku bisa membohongi dunia, aku bisa membohongi Farez, bahkan aku bisa membohongi Ibu. Tapi denyut nyeri di dadaku ini adalah bukti bahwa aku tidak akan pernah bisa benar-benar membuang 'kerikil' itu dari hidupku.