Apakah kembali ke rimba bersama perempuan masa laluku menyenangkan ?
Jika bukan karena uang yang sedang kubutuhkan, Aku memilih untuk tak akan kembali ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.T. Setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Pertempuran Tak Seimbang
"Lari cepaaaat...!" Merangsek secepatnya, Aku berlari ke arah Geselma. Yang terlintas di pikiranku tentang penduduk Geselma cuma satu hal, "mengajak mereka ke tempat yang aman."
"Tunggu Yos ... " Teriakan terengah John tak begitu kuperhatikan lagi.
Aku mempercepat lariku. Berharap secepatnya bertemu Wimbo . Aku yakin dia pasti mendengar suara helikopter penyerbu yang memuntahkan roket dan tembakan di salah satu tebing Geselma.
Kepanikan Geselma mulai terlihat saat Aku mendekatinya.
Wimbo dan beberapa prajuritnya menyongsong kedatangan kami dengan senjata seadanya. Melirik busur panah, tombak, dan parang di tangan mereka sungguh membuatku semakin tak karuan.
"Ada apa di sana Yos ?" tanya Wimbo setelah bertemu di perbatasan kampung. Seperti dugaanku, dari kejauhan di Geselma dia mendengar dan melihat tebing yang dihancurkan Heli tadi.
"Jangan ke sana bapak. Sebaiknya kita bawa penduduk ke tempat aman !" Masih terengah, Aku mencegahnya pergi ke arah tebing.
"Duduk sudah. Ceritakan apa yang terjadi." Raut cemas di wajahku membuat Wimbo mendengar kata-kataku.
"Tentara mulai menyerang. Jalan ke luar Geselma lewat sungai sudah terkubur." Aku menceritakan apa yang barusan terjadi di sana setelah napasku teratur lagi.
Diam sejenak mendengar apa yang kukatakan, Wimbo lalu memanggil seorang prajuritnya. Keduanya lalu berbicara dengan bahasa yang tak kumengerti.
Albert dan John untungnya paham dengan kesulitan bahasaku. Keduanya mendekat lalu ikut berbicara, mencoba menenangkan kemarahan dan kepanikan Wimbo beserta prajuritnya.
"Katakan pada mereka untuk berkumpul di Gereja," kataku ke arah John.
John mengangguk. Dari gestur-nya Aku tahu dia sedang berusaha ikut meyakinkan Wimbo untuk mengikuti kata-kataku.
Dengan kendala bahasa, sungguh tidak mudah bagiku untuk menjelaskan kemungkinan apa saja yang akan dihadapi penduduk Geselma.
"Dari tebing yang runtuh dihantam roket, saya memastikan tentara sedang berusaha menutup jalan keluar. Tak lama mereka pasti akan datang ke Geselma," sebisa mungkin Aku mencoba menyampaikan kesimpulanku ke Wimbo.
"Biar sudah mereka datang ke mari Yos, toh Kelly dan Silas su bawa pergi para sandera," ujar Wimbo dengan penuh keyakinan.
"Tidak semudah itu bapak," Aku masih berusaha meyakinkan dia untuk mengumpulkan penduduk di gereja. Tempat yang paling aman menurutku untuk berlindung saat itu.
Setidaknya jika tiba-tiba saja tentara datang menyerbu untuk membebaskan sandera, penduduk Geselma tidak akan beresiko dianggap sebagai lawan yang menghalangi pergerakan pembebasan sandera.
"Bagaimana sebaiknya bapak ?" Merasa perdebatan akan memanjang, Aku memberi kode kepada Albert untuk segera meninggalkan Geselma, menerobos kelebatan rimba yang lain menuju Tiom seperti rencananya.
"Tunggu sebentar Yos, beri waktu saya untuk berembug dengan Wimbo dan tetua," bisiknya.
Menghormatinya sebagai orang yang lebih tua, Aku menyingkir dari kerumunan. Membiarkan Albert lebih tenang berbicara tanpa terganggu diriku yang sudah tak betah berhadapan dengan ketidakjelasan keamanan di Geselma.
Jika saja telepon satelitku tidak mati total, tentu mudah bagiku menjelaskan situasi Geselma ke luar. Apalagi setelah mengetahui kehadiran Angga, dialah yang pasti pertamakali kuhubungi.
"Kenapa Aku tak menemuinya kemarin ?" Ada penyesalan dalam hatiku.
Jika sedari awal Aku tahu Kelly akan bermanuver liar mengingkari kesepakatan di pesta adat, tentu Aku akan menemui Angga dan menjelaskan posisi penduduk Geselma.
Memang Aku sempat berbicara banyak dengan Kelly di honai Purua. Dan kupikir setelah pesta adat, yang kata Albert dan Wimbo tak boleh diingkari, Kelly akan tunduk kepada kesepakatan itu .... Dan ternyata dugaanku seperti juga dugaan Wimbo salah besar ! .... Kelly tetaplah Kelly .... Dia penuh dengan strategi .... Dan kali ini strateginya jelas-jelas menarik sumbu ledak pertempuran tak seimbang !
Melihat sendiri serbuan Heli yang memuntahkan roket dan menyapukan rentetan senapan mesin ke tebing sungai Geselma, Aku sudah membayangkan kengerian apa yang akan terjadi di Geselma jika Wimbo tetap keras kepala bertahan tak mau pergi mengikuti kata-kataku ....
***
"Kita bermalam lagi di sini Yos." Wajah muram Albert terlihat saat mendatangiku.
"Kenapa kita menunda kepulangan ?" keluh Rey yang paling terguncang dengan situasi Geselma.
"Tenang dulu Rey. Biarkan bapak Albert sampaikan apa yang diketahuinya," Aku mencoba menenangkan kegelisahan Rey.
"Mereka akan meminta petunjuk leluhur dulu. Memintamu untuk membantu mengawasi Geselma," ujar Albert. "Tahu dirimu memegang teropong, Wimbo memohon agar setidaknya sampai besok siang kita bertahan dulu menemani mereka," lanjutnya lagi.
Jika saja tak ada kedekatan dan rasa hutang budi setelah diberi tumpangan di Geselma tentu Aku akan menolak permintaan Wimbo yang disampaikan Albert.
Aku tahu tak akan ada waktu lagi jika peluru tentara telah dilepaskan. Dia tak akan ragu menerjang siapa saja yang sudah terbidik kecuali 11 orang peneliti yang pasti sudah terekam dan terdata dalam telik sandi versi tentara.
Muntahan roket dan peluru di tebing Geselma menjadi peringatan keras untuk segera mencari dan membebaskan para peneliti tanpa syarat !
Dan sialnya .... Wimbo itu masih mengabaikan kode keras yang sudah diberikan ....
"Baiklah bapak. Tetapi kita menginap di pusat Geselma. Aku tak mau kita jadi salah sasaran peluru jika kita menginap terpencil di atas bukit," akhirnya Aku menyepakati permintaan Wimbo.
***
"Kakak Yos .... Mari ikut berdoa," ajakan si kecil Siri tak pelak menyentak sisi spiritualku.
Tiba-tiba saja bos perempuan urusan logistik Geselma menyelinap masuk ke bangunan kosong bekas puskesmas tempat kami akan menginap.
"Ya .... Nanti kakak susul," jawabku sekenanya.
Mendengar jawabanku, bocah itu berlari lagi ke arah gereja dengan wajah polosnya.
Sepertinya bocah itu tahu isi hatiku.
Sejak hampir tertembak di distrik Intan dan bertengkar hebat dengan ayah Wulan, Aku justru melupakan campur tangan langit.
Menganggap semua kesialanku adalah cobaan yang sungguh tidak adil.
"Sudah berapa lama ko tak berdoa Yos ?" John yang tahu persis diriku tertawa mendengar ajakan Siri tadi. Kegundahan kesialanku kini beralih ke arahnya.
"Ah sudahlah John ... Kali ini Aku akan berdoa sebisaku. Barangkali doaku akan dikabulkan," jawabku sambil tersenyum.
"Apa yang ko pinta ?"
"Pulang ke Paniai... lalu pergi jauh ke Jawa."
"Jawa ? Ajak kami Yos," Rey ikut nimbrung mendengar obrolanku.
"Pasti .... Jika doaku dikabulkan," Aku tertawa keras. Bukan karena skeptis dengan urusan doa. Tetapi lebih kepada kedua kawan kecilku yang kulihat sudah melupakan ketakutan suara terjangan roket dan peluru yang baru pertama kali dialaminya.
"Ko punya pacar kah Yos ?" Tiba-tiba saja John menanyakan itu.
"Aaaah Wulan .... Berapa lama Aku melupakannya !" Hati kecilku tersentak lagi mendengar pertanyaan John barusan. Sungguh naif kenapa perempuanku itu malah terlupakan dari diriku selama ini.
"Pasti ko punya pacar banyak di Jawa." Selidik John melihatku terdiam sejenak.
Sungguh setelah terganggu desingan roket dan peluru di tebing Geselma, lalu tersipu malu mendengar ajakan berdoa si kecil Siri, ... kini Aku malah terusik sosok perempuan cantik yang lama kulupakan.
"Ah tidak seperti itu John." Aku mencoba berkelit tentang urusan perempuan.
"Ko tampan dan pintar tidak seperti kita, ... sudah pasti ko banyak pacar di luar sana ... Hahaha... SMP dulu ko juga banyak pacar to." Ucapan John tak lekas kubantah. Setidaknya obrolan tentang perempuan versi masing-masing lalu menjadi topik yang menggembirakan semuanya setelah selama ini kami tertahan di dalam rimba Papua ....
***