Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Isvara menutup pintu kamarnya rapat-rapat, menguncinya seolah ingin memutus dunia luar yang kian bising dan menyakitkan. Ia melangkah lunglai menuju sofa malas yang terletak di sudut ruangan, tepat di samping jendela besar yang menampilkan langit Jakarta yang mulai terik. Dengan sisa tenaga, ia merebahkan tubuhnya yang ringkih, membiarkan kepalanya tenggelam di atas bantal beludru yang dingin.
Setiap embusan napas yang ia ambil terasa seperti serpihan kaca yang menggores paru-parunya. Isvara memejamkan mata, namun kegelapan di balik kelopak matanya justru membawa ia terbang ke masa tiga tahun yang lalu. Masa di mana nama Adrian Kalandra Prayudha bukan berarti luka, melainkan pelabuhan.
Dulu, Andra adalah pria yang benar-benar menjadikannya ratu. Isvara masih ingat bagaimana Andra menatapnya dengan binar yang tulus, bukan binar penuh penghinaan seperti sekarang. Andra pernah menjadi pria yang rela menunggu berjam-jam di depan studio arsitekturnya hanya untuk membawakannya sekotak cokelat hangat karena tahu Isvara belum makan malam.
Dulu, tangan Andra yang besar itu selalu menggenggam jemarinya dengan lembut, seolah Isvara adalah kristal yang paling berharga di dunia. Tidak ada paksaan, tidak ada sindiran "penipu ulung". Yang ada hanyalah janji-janji manis tentang masa depan yang akan mereka bangun bersama.
"Vara, aku tidak peduli dari mana asalmu. Bagiku, kamu adalah rumahku," suara Andra di masa lalu berputar di ingatannya bak kaset rusak.
Isvara tersenyum getir dalam tidurnya yang setengah sadar. Sebenarnya bukan salah Isvara jika dia menyebut dirinya yatim piatu saat pertama kali bertemu Andra. Sejak bayi, dia memang ditinggalkan di panti asuhan. Seluruh hidupnya dihabiskan di bawah atap kayu yang hampir roboh, tumbuh tanpa belaian seorang ibu atau perlindungan seorang ayah. Baginya, orang tua kandungnya memang sudah "mati" secara emosional. Mereka tidak pernah mencarinya, tidak pernah peduli apakah Isvara makan atau kedinginan.
Namun, roda nasib memang senang bercanda dengan cara yang kejam. Tepat saat Isvara mulai merasakan sedikit kebahagiaan setelah menikah dengan Andra, orang-orang yang mengaku sebagai orang tua kandungnya tiba-tiba muncul di hadapan publik.
Rasa iri itu muncul saat mereka melihat Isvara, anak yang dulu mereka buang, kini hidup bergelimang harta dan menjadi istri dari pewaris tunggal Prayudha Group. Mereka muncul bukan untuk meminta maaf atau memeluknya, melainkan untuk memeras. Mereka sengaja muncul di depan keluarga besar Andra, membuat drama di media, dan memojokkan Isvara seolah-olah Isvara adalah anak durhaka yang menyembunyikan identitas aslinya demi mengincar harta Prayudha.
Sejak saat itulah, neraka bagi Isvara dimulai.
Nyonya Sofia yang memang sejak awal mencari celah untuk menjatuhkannya, langsung memanipulasi keadaan. Seluruh keluarga Andra berbalik membencinya. Mereka merasa tertipu oleh identitas "yatim piatu" yang Isvara berikan. Andra pun berubah. Kepercayaan yang dulu begitu kokoh runtuh dalam semalam. Andra merasa dikhianati, merasa dijadikan alat oleh Isvara untuk menaikkan derajat keluarga "sampah"-nya.
Andra tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa Isvara justru adalah korban utama dari kerakusan orang tua kandungnya sendiri.
Isvara membuka matanya perlahan, air mata tanpa sadar merembes di sudut matanya yang sayu. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
"Mungkin jika aku tidak punya kemampuan di atas rata-rata... jika otakku tidak sepintar ini mendesain gedung... aku sudah lama ditendang dari rumah ini," bisiknya pada keheningan.
Keluarga Prayudha memang membencinya, menganggapnya parasit yang membawa aib, namun mereka terlalu serakah untuk melepaskan otak jenius Isvara. Mereka butuh desain-desainnya untuk memenangkan tender miliaran rupiah. Mereka butuh Isvara untuk menjaga citra perusahaan di mata internasional. Di rumah ini, Isvara tidak lebih dari mesin pencetak uang yang dibenci.
Kenyataan bahwa kakaknya anak emas orang tua kandungnya hidup luntang-lantung sementara Isvara dipuja sebagai arsitek sukses, membuat orang tua Isvara semakin gila menuntut uang. Dan setiap kali mereka berbuat ulah, Andra akan melampiaskannya pada Isvara dengan sindiran-sindirannya yang mematikan.
Isvara menarik napas sesak. Ia merasa tubuhnya semakin mendingin. Memorinya tentang Andra yang dulu memujanya kini terasa seperti ejekan. Pria yang dulu menggendongnya saat ia lelah, kini bahkan enggan menyentuh tangannya jika tidak ada kamera yang menyorot.
"Satu tahun lagi, Isvara... atau mungkin kurang," ia bergumam sendiri, mencoba menguatkan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping.
Ia fokus pada sisa hidupnya. Ia tidak peduli lagi dengan kebencian mertuanya, tidak peduli dengan pengkhianatan Dewa di masa lalu, bahkan tidak peduli lagi jika Andra menganggapnya penipu. Ia hanya ingin menyelesaikan proyek Bali, memastikan para vendor yang bergantung padanya terbayar, lalu pergi selamanya sebelum penyakit ini benar-benar merenggut martabatnya.
Isvara meraih laptop di samping sofa malasnya dengan tangan yang masih bergetar. Ia harus bekerja. Ia harus membuktikan pada dunia, dan pada keluarga Prayudha yang serakah itu, bahwa meskipun mereka bisa merusak hatinya, mereka tidak akan pernah bisa menyentuh kejeniusannya. Ia akan pergi dengan kepala tegak, bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai seorang Isvara Kalandra yang tak terkalahkan hingga napas terakhirnya.
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan