Dori terpaksa hidup bersama arwah sastrawan bernama Matcha yang terperangkap di dalam laptop bekas miliknya.
Awalnya mereka sering berselisih paham karena gaya penulisan Dori dianggap buruk, namun ikatan batin perlahan terbentuk hingga Matcha bisa muncul dalam wujud fisik. Kehidupan mereka yang manis berubah mencekam saat muncul saingan dan organisasi gelap yang mengincar kekuatan mereka.
Rahasia besar akhirnya terkuak saat ingatan Matcha kembali. Ia menuduh Dori sebagai orang yang membunuhnya di kehidupan lampau.
Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi kenyataan pahit itu, atau mereka harus berpisah selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Pengganggu Tidur
Keesokan harinya.
"Sudah jam sebelas malam! Kenapa kau masih menatap langit-langit dan tidak menulis?!"
Suara itu meledak tepat di telinga Dori, membuat gadis itu langsung melompat dari kasur.
"Ya Ampun! Seram tau! Mau apa lagi sih malam-malam begini?!" Dori memeluk bantal erat-erat, matanya mengerjap kaget menatap sosok yang melayang di atas kepala ranjang.
Matcha tampak tidak sabaran. Alisnya berkerut, kuas di tangannya diketuk-ketukkan ke telapak tangan.
"Aku sudah memberi waktu istirahat cukup. Sekarang waktunya bekerja. Naskah itu belum selesai."
Dori menggeleng kuat-kuat, lalu menarik selimut sampai ke dagu. Posisi bertahan maksimal.
"Enggak! Aku capek! Otakku macet total! Hari ini aku sudah nulis lima ribu kata, itu sudah lebih dari cukup!"
"Kurang! Jauh kurang!" sergah Matcha tegas. Ia melayang mengelilingi tempat tidur, memeriksa setiap sudut, mencari kesalahan.
"Di masaku, satu malam bisa habis untuk menyempurnakan satu bait puisi. Kau ini punya kemampuan, tapi disia-siakan dengan tidur!"
"Ini beda zaman, Tuan Editor! Zaman sekarang orang kerja pakai jam, pakai kontrak, pakai lembur! Aku butuh tidur supaya besok bisa hidup!"
Dori merasa tidak adil. Ia manusia biasa, butuh energi, butuh mimpi, butuh jeda. Tapi lawannya ini hantu abadi yang sepertinya tidak pernah kenal lelah.
Matcha berhenti tepat di samping bantal. Wajahnya tampak sangat dekat, menyorotkan tatapan tajam yang membuat Dori salah tingkah.
"Kau ingin tidur? Baiklah. Silakan."
Dori tersenyum lega. "Nah gitu dong, kan bisa juga kalau mau baik..."
"TAPI," potong Matcha cepat, suaranya turun menjadi berat dan menyeramkan. "Selama kau tidur, aku akan berdiri tepat di sini. Menatap wajahmu. Tanpa berkedip. Sepanjang malam."
Dori tersentak. Senyumnya langsung hilang berganti dengan wajah pucat.
"Hah? Maksud kamu apa?!"
"Maksudku..." Matcha tersenyum miring, senyuman yang sangat tampan tapi juga sangat mengerikan. "Aku akan memastikan mimpimu tidak tenang. Bayanganku akan ada di setiap sudut. Suaraku akan berbisik di telingamu membacakan mantra kuno. Kau bisa mencoba memejamkan mata, tapi kau tidak akan bisa rileks. Karena kau tahu ... aku selalu mengawasi."
Dori menelan ludah. Keringat dingin mulai mengalir di pelipis.
Bayangkan saja, tidur dengan perasaan diawasi makhluk gaib yang galak dan perfeksionis. Itu bukan tidur, itu penyiksaan.
"Kamu ... kamu preman dunia roh ya! Begal mimpi!" Dori protes keras, tapi suaranya terdengar gemetar.
"Aku melakukan ini demi kemajuanmu," jawab Matcha santai, lalu ia benar-benar duduk bersila di udara tepat di ujung kasur.
"Ayo pilih. Bangun, duduk, dan tulis. Atau tidur tapi dengan 'pendampingan' khusus dariku."
Dori menatap jam dinding. 23.15. Matanya sudah berat, kelopak mata terasa berat seperti ditimpa batu. Tapi melihat tatapan mata hijau itu yang tidak berkedip sama sekali ... rasanya ngeri sekali.
Ia membayangkan kalau ia tidur, tiba-tiba bangun dan melihat wajah itu sangat dekat. Pasti jantungnya copot!
"Dasar hantu sadis ... hantu tidak punya hati..." gerutu Dori pelan sambil melempar selimut dengan kesal.
Dengan langkah berat dan napas mendengus, ia turun dari kasur dan berjalan tertatih menuju meja kerja.
"Oke oke! Aku nulis! Aku nulis! Puas kamu?!"
Matcha langsung tersenyum lebar, kali ini senyum kemenangan yang sangat cerah. "Bagus pilihanmu. Cerdas. Nah, ayo kita perbaiki bab kemarin yang masih belepotan itu."
Dori duduk di kursi, matanya setengah tertutup, jari-jarinya mengetik dengan gerakan lambat seperti zombie. Di belakangnya, Matcha berdiri gagah, penuh semangat, siap mengoreksi setiap kesalahan kecil.
Kontras yang sangat jelas. Satu orang hampir mati kelelahan, satu lagi penuh energi seperti baru bangun tidur seratus tahun.
Tapi di tengah rasa kantuk yang luar biasa itu, tiba-tiba Dori teringat sesuatu.
Tadi ... saat Matcha duduk di ujung kasur, kain jubahnya yang tipis menampakkan betis dan kakinya yang putih mulus.
Wait ... hantu kan nggak punya badan? Tapi kenapa bentuk kakinya ... bikin salah fokus?!
"Heh! Kenapa berhenti?! Melamun lagi! Apa yang kau pikirkan?!" teriak Matcha menyadarkan lamunan.
"Enggak mikir apa-apa! Pusing aja!" Dori buru-buru menunduk, menyembunyikan pipi yang tiba-tiba memanas.
"Sialan. Kenapa malah mikir yang enggak-enggak pas lagi disiksa begini?!" batinnya.
...***...
Kesokan Paginya.
"Berhenti! Jangan pernah berpikir untuk keluar dengan penampilan seperti itu!"
Suara gemuruh itu meledak begitu saja, membuat Dori yang sedang berdiri di depan cermin langsung membeku.
Ia menoleh dengan wajah bingung sekaligus kesal. "Kenapa lagi sih?! Aku mau pergi ke kampus, bukan ke pesta!"
Dori mengenakan celana jeans dan kaos oblong sederhana, cukup sopan menurut standar zaman sekarang. Tapi bagi sosok di depannya, ini tampak seperti kejahatan besar.
Matcha melayang mendekat, matanya menyala marah. Ia mengibaskan lengan jubahnya dengan kasar, seperti melihat sesuatu yang sangat memalukan.
"Terlalu terbuka! Terlalu ketat! Terlalu ... menampakkan kulit!" hardiknya tak terima. "Dulu, wanita bangsawan menutup tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hanya suami atau keluarga dekat yang berhak melihat lekuk tubuh!"
"Nah itu dulu! Sekarang tahun berapa hah?!" Dori membalas tak kalah sengit. Ia melipat tangan di dada, menantang tatapan hantu itu. "Ini fashion! Ini gaya! Orang-orang pakai ini setiap hari! Kamu kuno banget sih, Matcha!"
"Aku tidak peduli zaman apa! Mataku tidak sudi memandang pemandangan sembarangan!" sergah Matcha cepat. Wajahnya memerah padam, entah karena marah atau karena hal lain.
Ia berputar di udara, lalu tiba-tiba mengibaskan tangannya.
Wush!
Tiba-tiba sebuah syal tebal dan jaket panjang muncul entah dari mana, melayang dan menutupi tubuh Dori sampai leher.
"Hei! Apa-apaan ini?! Panas tahu!" Dori berusaha melepaskan, tapi benda-benda itu menempel kuat.
"Pakai ini! Atau jangan harap kau bisa melangkah keluar pintu!" ancam Matcha dengan wajah sangat serius.
"Kau milikku ... maksudku, muridku! Kau adalah aset berharga yang harus dijaga kehormatannya! Tidak boleh ada mata liar yang melihatmu!"
Dori ternganga. Mulutnya terbuka sedikit, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Miliknya?
Aset berharga?
"Ehem ... kamu ... cemburu ya?" tanya Dori mencoba menebak, sudut bibirnya mulai terangkat membentuk senyum jahil.
Wajah Matcha seketika berubah menjadi pucat lalu merah merona dalam sekejap. Ia mundur sedikit, berpura-pura membersihkan debu di jubahnya padahal tidak ada debu sama sekali.
"Cemburu? Omong kosong! Aku hanya ... menjaga standar kesopanan! Jangan berhalusinasi terlalu tinggi, gadis bodoh!"
"Oh ya? Kalau begitu kenapa suaramu terdengar panik gitu?" Dori semakin berani mendekat. Ia sengaja mendorong jaket itu turun sedikit, memperlihatkan bahunya.
Reaksi Matcha luar biasa cepat. Ia langsung mengibas lagi, menutup kembali dengan kasar.
"Tutup! Jangan dibuka! Bahaya!"
"Apa bahayanya? Aku cuma mau kuliah," goda Dori. Ia sengaja mendekatkan wajahnya, menikmati ekspresi bingung dan marah campur aduk di wajah tampan itu.
"Di luar sana banyak pria jahat! Banyak mata kotor! Kau tidak tahu apa-apa tentang dunia!" Matcha mulai terbata-bata, argumennya mulai berantakan.
"Kalau kamu khawatir, bilang saja dong. Nggak usah ngalihin topik pakai sopan santun segala," celetuk Dori.
"Aku tidak khawatir! Aku hanya ... tidak ingin muridku diremehkan orang karena penampilan!" sangkal Matcha keras, tapi matanya tidak berani menatap lurus ke mata Dori.
Ia menoleh ke samping, lehernya terlihat menegang. Dori menahan tawa. Di dalam hati, rasanya aneh dan berbunga-bunga.
Hantu sombong dan galak ini ternyata ... posesif juga ya?
Dan ternyata ... perasaannya cukup manis kalau sudah begini.
"Oke oke, aku pakai jaketnya. Tapi syalnya dilepas ya, gerah banget," akhirnya Dori mengalah sedikit.
Matcha langsung mengangguk cepat, wajahnya tampak lega luar biasa. "Boleh. Asal bahu tertutup."
"Tapi ingat ya," Dori berbisik pelan sambil tersenyum menggoda sebelum membuka pintu.
"Kalau kamu cemburu, bilang saja. Aku nggak bakal kemana-mana kok." Dori tertawa kecil lalu keluar kamar, meninggalkan Matcha yang terpaku di tempat.
Sosok itu berdiri diam, tangan menempel di dada sendiri yang terasa berdebar aneh.
"Dia ... Apa dia menggoda ku? Berani sekali dia!" gumamnya marah-marah sendiri, tapi senyum tipis tak sengaja terukir di bibirnya.
"Dasar gadis penggoda ... tapi ... tunggu dulu. Kenapa jantung hantu bisa berdetak secepat ini?!"
Tiba-tiba layar laptop berkedip, dan muncul sebuah pesan aneh yang belum pernah ada sebelumnya.
[Peringatan: Level Keterikatan Jiwa Meningkat. Hati-hati, Tuan. Cinta beda alam itu dilarang keras.]
Matcha melotot membaca tulisan itu. "Apa?! Sistem juga ikut menggurui aku?!"