“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”
Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.
Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.
Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.
Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.
Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Informasi tentang ibu
Sepuluh musim dingin telah berlalu sejak Lu Ming pertama kali menginjakkan kaki di tanah Desa Bambu Hitam.
Waktu, sang penempa paling kejam sekaligus paling agung, telah bekerja dengan tekun.
Sosok bocah ringkih, kotor, dan penuh luka goresan duri Hutan Kabut Hitam itu kini telah lenyap sepenuhnya, seolah habis dibakar oleh kerasnya kehidupan perbatasan.
Sebagai gantinya, berdirilah seorang pria dewasa berusia dua puluh lima tahun.
Perawakannya tegap, ramping namun padat dengan otot-otot yang terbentuk dari ribuan jam latihan pedang dan mengangkut beban.
Jubah dekilnya telah diganti dengan pakaian kain rami sederhana namun bersih, berwarna biru tua yang pudar.
Rambut hitam pekatnya dibiarkan tumbuh panjang, diikat sederhana dengan selembar pita kain hitam yang warnanya sudah mulai memutih karena sering dicuci, sisa-sisa pakaian masa kecilnya yang paling berharga.
Wajahnya tampak tenang, sangat tenang, hampir menyerupai permukaan telaga yang membeku di tengah malam tanpa angin.
Tidak ada lagi ketakutan yang tersisa di garis wajahnya yang tegas. Namun, siapa pun yang berani menatap langsung ke dalam manik matanya akan merasakan sensasi dingin yang tiba-tiba menusuk hingga ke sumsum tulang.
Itu adalah tatapan yang menyimpan kedalaman malam yang tak berujung, sorot mata yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah mengubur ratusan nyawa dengan tangannya sendiri, demi menjaga sebuah kedamaian yang rapuh.
Lu Ming kini bukan lagi sekadar pelindung desa; ia telah mencapai Ranah Kedua yang didambakan oleh banyak kultivator pengembara: Arus Qi.
Energi dunia yang pelit itu tidak lagi hanya sekadar mengeraskan tulang dan ototnya, melainkan mengalir deras tanpa henti, seperti sungai purba yang meluap di dalam jaringan meridiannya yang kini lebar dan kokoh.
Ketika ia duduk bermeditasi di bawah rembulan, udara di sekeliling pondoknya akan bergetar, seolah-olah ruang itu sendiri memberi penghormatan pada kekuatannya.
Satu jentikan jarinya yang tampaknya santai, kini mampu membelah batang bambu hitam yang paling keras sekalipun dari jarak sepuluh langkah, tanpa mengeluarkan suara.
Namun, bukan kekuatan fisiknya yang membuat nama Lu Ming bergema hingga ke kota-kota besar di sekitar lembah, melainkan puisinya.
Di dunia yang kasar di mana pedang berbicara lebih keras daripada kata-kata, Lu Ming dikenal sebagai "Penyair Pedang Sunyi".
Karya-karyanya yang ditulis dengan tinta hitam pekat di atas kertas kuning kasar dianggap memiliki "jiwa" yang hidup.
Rima dan baitnya bukan sekadar susunan kata indah, melainkan cerminan dari rasa sakit, kerinduan, dan kehampaan yang begitu dalam, hingga mampu membuat seorang pejuang tangguh yang penuh parut luka di wajahnya menangis tersedu-sedu saat membacanya.
Suatu sore yang damai, kedamaian Desa Bambu Hitam terusik oleh kedatangan seorang pengelana tua yang terluka parah.
Lu Ming, dengan ketenangan seorang tabib, menolongnya. Ia membersihkan luka-luka infeksi di tubuh pria tua itu dengan ramuan herbal hutan bambu, dan dengan tangannya sendiri, menggali kubur untuk rekan pengelana itu yang telah tewas di jalanan oleh serangan binatang buas.
Sebagai imbalan atas kebaikannya, pria tua itu memberikan sebuah informasi yang membuat jantung Lu Ming yang biasanya tenang berdenyut kencang, sebuah detak jantung yang sudah sepuluh tahun tidak ia rasakan.
"Aku melihat simbol ini… terukir di sebuah tandu megah milik rombongan besar Sekte Awan Langit di Ibukota Kekaisaran," ucap pria tua itu dengan suara serak, jarinya yang gemetar menunjuk ke arah ukiran kecil pudar di atas kantong koin perunggu milik Lu Ming yang sudah berkarat sepenuhnya. "Seorang wanita duduk di sana. Ia mengenakan cadar putih tipis, tapi matanya… matanya tampak sangat sedih, persis seperti matamu, Nak."
Simbol itu. Simbol bunga lili perak yang sudah pudar dan kusam. Itu adalah satu-satunya jejak fisik yang tersisa dari ibunya, benda terakhir yang ia sentuh sebelum meninggalkannya di gerbang Kota Azure dua puluh tahun yang lalu.
Malam itu, Desa Bambu Hitam tidak mendengar suara ayunan pedang Lu Ming. Ia duduk diam di teras pondoknya, menatap bulan yang menggantung rendah di atas hutan bambu hitam.
Tangannya gemetar hebat saat ia memegang kuasnya, sebuah pemandangan yang tak pernah dilihat siapa pun.
Tinta hitam menetes, mengotori kertasnya. Setelah sepuluh tahun membangun "rumah" dan "keluarga" di desa ini, saatnya untuk pergi telah tiba. Janji di gerbang Kota Azure tidak akan pernah bisa ia lupakan.