NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 - Kekaguman Pertama

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya, seolah waktu berjalan lebih lambat dari yang seharusnya. Di ruang kerja yang luas dan tenang, Daren Wijaya duduk di kursinya tanpa benar-benar bekerja, tubuhnya ada di sana tetapi pikirannya jauh dari layar di depannya. Laptop yang menyala hanya menjadi latar, menampilkan laporan yang belum selesai ia baca, sementara fokusnya terus berpindah pada satu hal yang sama sejak sore tadi.

Pikirannya berulang kali kembali pada Alyssa, pada cara wanita itu berbicara dan berdiri dengan ketenangan yang sulit dijelaskan. Ia menghela napas pelan, lalu menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi, mencoba mengendurkan ketegangan yang tidak ia sadari sejak kapan muncul. Langit di luar jendela sudah gelap sepenuhnya, dan pantulan cahaya lampu di dalam ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi.

Seharusnya ia sudah terbiasa mengabaikan hal-hal yang tidak penting, terutama urusan yang tidak berhubungan langsung dengan pekerjaannya. Namun kali ini berbeda, karena apa yang ia dengar sore tadi tidak bisa begitu saja disingkirkan. Suara Alyssa yang tenang terus terngiang, begitu juga cara ia menjawab Cassandra tanpa emosi berlebihan, seolah ia sudah siap menghadapi semuanya sejak awal.

Dan kalimat itu masih tertinggal jelas di ingatannya, sederhana namun terasa berat ketika dipikirkan lebih dalam.

“Saya sudah menduga.”

Daren menutup matanya sejenak, mencoba memahami maksud di balik kata-kata itu tanpa benar-benar menemukan jawaban pasti. Kalimat itu terdengar biasa saja, tetapi semakin ia mengulangnya dalam pikirannya, semakin terasa ada sesuatu yang tidak ia pahami. Jika Alyssa sudah menduga sejak awal, mengapa ia tetap diam dan tidak mencoba membela diri dengan cara yang lebih tegas.

Pertanyaan itu tidak berhenti di sana, karena semakin ia memikirkannya, semakin banyak hal lain yang ikut muncul. Ia mulai mempertanyakan sikap Alyssa selama ini, cara wanita itu bertahan dalam situasi yang jelas merugikan dirinya, tanpa pernah benar-benar melawan. Semua itu terasa tidak masuk akal jika dilihat dari sudut pandang yang selama ini ia gunakan.

Rasa tidak nyaman perlahan muncul dan menetap di dadanya, membuat napasnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Daren membuka mata dan menatap meja di depannya, berusaha mengalihkan perhatian meski tidak berhasil sepenuhnya. Tangannya bergerak tanpa sadar, mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan, seperti mencoba menenangkan pikirannya sendiri.

Ingatan lain mulai muncul tanpa ia sadari, potongan-potongan kecil yang dulu tidak pernah ia anggap penting. Satu per satu muncul dengan jelas, seolah ada sesuatu dalam dirinya yang mulai menyusun kembali semua kejadian yang pernah ia abaikan begitu saja. Ia tidak berusaha mengingatnya, tetapi bayangan itu tetap datang dan memaksanya untuk melihat ulang semuanya.

Suatu malam yang dipenuhi suara hujan muncul dalam pikirannya, begitu jelas seolah kejadian itu baru saja terjadi. Alyssa berdiri di depan pintu ruang kerja, pakaiannya sedikit basah dan rambutnya tampak lembap karena baru saja dari luar. Tangannya menggenggam sesuatu, mungkin dokumen yang ingin ia serahkan, dan dari caranya berdiri terlihat bahwa ia sudah menyiapkan diri untuk berbicara.

“Ada apa?” tanyanya tanpa mengangkat kepala.

“Saya ingin menjelaskan tentang kejadian tadi siang”

“Tidak perlu.”

Jawaban itu keluar cepat dan langsung memotong, tanpa memberi kesempatan untuk melanjutkan. Alyssa berhenti di tempatnya, seolah mencoba menahan sesuatu sebelum akhirnya tetap berbicara dengan suara pelan.

“Tapi saya tidak melakukan itu.”

Daren mengangkat pandangan, menatapnya dengan ekspresi yang sama seperti biasanya, dingin dan tidak berubah. Ia tidak melihat keraguan di matanya saat itu, hanya keyakinan pada apa yang ia anggap benar.

“Semua bukti mengarah ke kamu.”

Nada suaranya datar dan tegas, menutup ruang diskusi tanpa perlu penjelasan tambahan. Alyssa berdiri beberapa detik, tidak langsung pergi, seolah masih menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Tatapannya tertuju pada Daren, dan kini ia menyadari ada sesuatu di sana yang dulu tidak ia perhatikan.

Bukan hanya kesedihan, tetapi juga harapan yang tipis dan tertahan.

“Baik.”

Jawaban itu singkat, lalu ia berbalik dan pergi tanpa menambahkan apa pun lagi. Langkahnya tidak tergesa, tetapi juga tidak ragu, seolah ia sudah terbiasa dengan hasil seperti itu.

Daren membuka mata, napasnya terasa lebih berat setelah ingatan itu kembali dengan jelas. Ia mengusap wajahnya pelan, mencoba menghilangkan bayangan yang masih tertinggal di kepalanya. Namun satu ingatan membawa ingatan lain, dan ia tidak bisa menghentikannya begitu saja.

Pagi di ruang makan menjadi potongan berikutnya yang muncul, dengan suasana yang sebenarnya biasa tetapi kini terasa berbeda saat diingat kembali. Alyssa berdiri di samping meja, memegang teko teh dengan tangan yang sedikit gemetar, tetapi tetap berusaha menuangkan dengan hati-hati. Cassandra duduk di dekatnya, tersenyum tipis, memperhatikan setiap gerakan Alyssa dengan perhatian yang tidak tulus.

“Hati-hati. Jangan sampai jatuh lagi.”

Beberapa orang di meja tertawa kecil, membuat suasana terasa tidak nyaman meski tidak ada yang mengatakannya secara langsung. Alyssa tidak menjawab, tetap fokus pada cangkir di depannya, berusaha menyelesaikan tugas sederhana itu tanpa membuat kesalahan. Namun beberapa tetes teh tetap tumpah ke meja, cukup untuk menarik perhatian.

“Kamu bahkan tidak bisa melakukan hal sederhana dengan benar?”

Nada suara Daren saat itu tidak tinggi, tetapi cukup tajam untuk membuat suasana semakin canggung. Alyssa berhenti sejenak, menggenggam teko lebih erat sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan.

“Saya akan membersihkannya.”

Ia tidak membela diri, tidak juga mencoba menjelaskan, hanya langsung memperbaiki kesalahan yang bahkan tidak sepenuhnya disengaja. Daren tidak menanggapi lagi, kembali pada sarapannya seolah hal itu tidak penting. Namun bagi Alyssa, jelas terasa berbeda, terlihat dari caranya menundukkan kepala saat membersihkan meja dengan cepat.

Tidak ada yang membelanya, dan tidak ada yang merasa perlu melakukannya.

Daren menarik napas panjang saat ingatan itu selesai, tatapannya kosong beberapa saat sebelum kembali fokus. Tangannya yang tadi mengetuk meja kini berhenti, seolah pikirannya sudah terlalu penuh untuk melakukan hal kecil seperti itu. Ia mulai menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia lihat dengan jelas.

Semua kejadian itu berjalan dengan pola yang sama, dan ia selalu berada di posisi yang sama dalam setiap kejadian tersebut. Ia tidak pernah memberi ruang bagi Alyssa untuk menjelaskan, tidak pernah mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. Semua keputusan ia buat berdasarkan apa yang terlihat di permukaan, tanpa mempertanyakan kemungkinan lain.

Ia berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela, langkahnya pelan namun pasti. Gelap di luar terlihat pekat, tetapi pikirannya justru dipenuhi bayangan yang semakin jelas. Alyssa muncul dalam ingatannya, bukan seperti yang selama ini ia lihat, tetapi dengan sudut pandang yang berbeda.

Dulu ia menganggap Alyssa lemah dan mudah ditekan, seseorang yang hanya bertahan karena tidak punya pilihan lain. Sekarang pandangan itu mulai berubah, karena ia mengingat bagaimana wanita itu berdiri di depan Cassandra sore tadi, menjawab dengan tenang tanpa menunjukkan ketakutan.

Sikap itu tidak cocok dengan gambaran yang selama ini ia pegang.

Daren menghela napas panjang, tangannya mengepal sedikit saat menyadari perasaan yang muncul. Rasa itu tidak nyaman, bukan hanya keraguan tetapi sesuatu yang lebih dalam dan sulit diabaikan. Ia tidak terbiasa merasa seperti ini, terutama dalam hal yang ia anggap sudah jelas sebelumnya.

Ia kembali ke meja dan mengambil ponselnya, membuka layar tanpa benar-benar memperhatikan isinya. Pikirannya masih tertahan di tempat lain, pada ingatan yang kembali muncul tanpa ia minta. Hari ketika Alyssa jatuh sakit muncul dengan jelas, memperlihatkan bagaimana ia berdiri di lorong dengan tubuh lemah namun tetap berusaha berjalan.

Beberapa pelayan lewat begitu saja tanpa berhenti, dan tidak ada yang benar-benar memperhatikan keadaannya. Daren melihat dari jauh saat itu, tetapi tidak bergerak, hanya mengamati tanpa melakukan apa pun. Alyssa hampir kehilangan keseimbangan dan menahan dirinya dengan dinding, mencoba tetap berdiri tanpa meminta bantuan.

Ia tidak memanggil siapa pun, tidak juga mengeluh, hanya menunggu sampai tubuhnya cukup kuat untuk melangkah lagi.

Dan saat itu, Daren tetap diam.

Daren menutup matanya, napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia mulai memahami sesuatu yang sederhana tetapi selama ini tidak pernah ia pikirkan dengan serius. Alyssa tidak pernah benar-benar mendapatkan dukungan di rumah ini, dan ia sendiri menjadi bagian dari sikap itu.

Ia membuka mata dan menatap ke depan, membiarkan semua potongan itu tersusun dengan jelas di pikirannya. Gambaran tentang Alyssa yang selama ini ia pegang perlahan berubah, digantikan oleh pemahaman yang lebih utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi. Wanita itu bukan hanya bertahan, tetapi terus berjalan meski tidak ada yang benar-benar berada di sisinya.

Daren berdiri cukup lama tanpa bergerak, membiarkan kesadaran itu menetap tanpa mencoba mengusirnya. Cara ia melihat Alyssa sudah berubah, dan perubahan itu tidak bisa ia abaikan begitu saja.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!