NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

meja makan jadi pengadilan

"Bu, apa kabar."

Sapaan itu hangat. Kayak teh melati. Tapi yang nerima berasa disiram air keras.

Satu ruangan nengok. Serentak. Kayak wayang ditarik dalang.

Di ambang pintu, sesosok wanita separuh baya berdiri. Kebaya sutra ungu, sanggul rapi, bedak setebel tembok, emasnya gemerincing. Cantik. Awet muda. Tapi aura busuknya nggak ketutup Chanel No. 5.

Rukmini.

Kaki kanannya udah di dalam. Kaki kiri masih di luar. Ragu. Terganjal. Bukan sama pintu. Sama masa lalu. Sama dosa. Sama mayat yang harusnya udah jadi abu tapi sekarang malah nyapa “Bu”.

_Anak ini beneran masih hidup,_ batinnya mendumel. _Nggak gosong. Nggak mati. Malah glowing._

Di dadanya campur aduk: nggak puas, cemburu, panik, tapi yang paling gede: benci. Benci yang 20 tahun dipiara, sekarang tumbuh jadi monster.

Semua mata ke dia. Mata Rangga: bingung. Mata Chandrawati: datar. Mata Chandra: dingin. Mata 9 selir: nonton drama gratis. Mata Anna? Mata silet. Senyum, tapi ngiris.

Rukmini pasang tameng. Senyum. Senyum “ibu tiri sinetron jam 7”. Kakinya maksa melangkah. _Tap. Tap. Tap._ Pelan-pelan nyamperin Anna.

Tangannya naik. Gemeter dikit. Ngelus punggung Anna. Sekali. Kayak megang belatung. Jijiknya tembus sampai ubun-ubun, tapi bibir tetep narik.

"Kamu... baik-baik saja, Nak?" tanyanya. Suara lembut. Basa-basi level dewi. "Ibu denger kamu... kecelakaan. Ibu khawatir setengah mati."

Anna diem. Biarin tangan itu di punggungnya sedetik. Ngitung. _Satu... dua... tiga._ Cukup. Bakterinya bisa nular.

Terus dia muter badan. Pelan. Senyumnya nggak hilang. Malah makin lebar. Manis. Manisnya racun sianida.

"Baik, Bu," jawabnya. Santun. Lembut. "Ibu bagaimana?"

Hening.

"Apa masih suka nyembunyiin gaji Ayah?" Lanjut Anna. Volume sama. Nada sama. Tapi isinya: _DUAR._ "Bayarin cowo-cowo di klub malam? Langganan yang di Jalan Veteran itu masih?"

_Kriuk._

Suara Rangga nelan ludah. Suara Chandrawati narik napas. Suara Ratna nginjek kaki sendiri. Suara 9 selir bareng: "Hah?"

Satu ruangan beku. Kayak patung lilin.

Rukmini senyumnya retak. Setengah. "A... apa... apa maksud kamu, Nak?"

"Anna!" Rangga bentak. Reflek. "Bicaramu jangan sembarangan! Dia ibumu! Hormat!"

Anna berdecak. Pelan. Jijik. "Ibu?" Dia nunjuk Rukmini pake dagu. Nggak mau pake tangan. Najis. "Ibu macam apa yang tiap malam bisikin: 'Jangan sekolah, Nak. Nanti Ayah nggak sayang. Kalau Ayah dinas terus pulang, kamu nggak di rumah, Ayah sedih'."

Mata Anna ke Rangga. Tajam. "Ibu macam apa yang tiap Ayah dinas, ngunci aku di kamar? Jatah makan nasi sama garam? Alasannya: 'biar hemat, biar Ayah bangga'."

Mata Anna ke Ratna. "Ibu macam apa yang tiap ada barang bagus — baju baru, boneka baru, kue lebaran — bilang: 'Kasih Ratna dulu. Kamu kan udah besar. Ngalah'."

Terus balik ke Rukmini. Senyumnya ilang. Ganti topeng es. "Itu bukan ibu, Komandan. Itu wanita ular. Pinter ngelilit. Pinter nyuntik bisa. Pinter senyum pas nelen mangsa."

Rangga kaget. Kayak ditampar pake SK pensiun. Matanya melot ke Rukmini. Nggak marah dulu. Nanya. Memohon. "Mi... bener... bener yang Anna bilang?"

Rukmini pasang kuda-kuda. Teatrikal. Mata langsung berkaca-kaca. Bibir gemeter. "Mas... Mas tega nuduh aku? Aku... aku rawat Anna kayak anak sendiri! Aku sayang dia! Tanya Ratna! Iya kan, Nak?"

Dia noleh ke Ratna. Ngode. _Bela Mama. Cepat._

Ratna yang dari tadi udah pucet, sekarang maju. Pasang badan. Suaranya nyaring, tapi geter. "Tidak Ayah! Kakak bohong! Ibu sayang banget sama Kakak! Ibu yang... yang mandiin Kakak! Yang suapin!"

Anna ketawa. Pendek. Ngejek. _Akhirnya._

"Tepat sasaran," bisiknya. Pelan, tapi semua denger. "Dua benalu akhirnya bersatu. Nggak usah capek-capek basmi satu-satu. Bisa sekalian."

Ratna kaget. _Benalu?_

Anna jalan selangkah. Deketin Ratna. Muka polos. Nada nanya. "Dik, apa kau masih menyalahkan aku karena menjadi istri pertama Chandra?"

_Deg._

Ratna sama Rukmini beku. Itu kartu AS mereka. Rahasia 5 tahun. Rencana busuk mereka: nikahin Anna ke Chandra biar nggak rebutan warisan Rangga. Tapi Anna nggak mau. Anna cuma mau jadi adik. Mereka dorong Anna ke danau biar keliatan "bunuh diri karena cinta ditolak". Biar Rangga panik, pake koneksi militer, paksa Kaisar nikahin Anna-Chandra. Biar Ratna bebas, biar Anna sengsara.

_Dia tau. Dia tau semuanya._

Ratna gemeteran. Bibirnya biru. _Yang ia dan ibunya sembunyikan, apa Anna akan bongkar semuanya sekarang? Di depan Ayah? Di depan Jendral? Di depan seluruh rumah?_

Anna nggak kasih ampun. Lanjut. "Dulu siapa ya, yang tiap malam di kupingku bilang: 'Kalau aku minta titah Kaisar, aku yang akan jadi adiknya Chandra. Kamu nikah aja sama dia. Biar harta Ayah ke aku semua.'"

Dia lirik ibu-anak itu. Gantian. Kayak hakim. "Kalian. Kalian berdua."

Satu ruangan: "HUAAAA." Prajurit jaga aja sampe _astaghfirullah_.

"Anna dan Chandra usia kami beda 5 tahun," Anna lanjut. Suaranya naik. Gema. Nggak buat Ratna. Buat Rangga. Buat Chandrawati. Buat semua. "Anna yang memang sering diasuh Ibu Chandrawati, sering pula ketemu Chandra. Bocah berwibawa. Gagah. Dingin."

Semua ngangguk. Fakta.

"Semua orang tau Anna suka dia. Kagum. Kayak kagum sama tentara di TV." Anna ketawa hambar. "Tapi dari dulu, yang Anna inginkan bukan jadi pengantinnya. Anna cuma mau jadi adiknya. Hanya itu. Punya kakak. Punya keluarga. Karena Anna nggak punya siapa-siapa."

_Jleb._ Rangga kayak ditusuk. _Anakku... cuma mau jadi adik..._

"Ayah," Anna nengok ke Rangga. Mata berkaca-kaca. Bukan sedih. Marah. "Ingat 5 tahun lalu? 3 hari sebelum pernikahan? Aku jatuh ke danau. Semua bilang aku bunuh diri. Karena cinta nggak direstui. Karena Chandra nggak suka aku."

Hening. Semua nahan napas.

"Itu bukan bunuh diri, Yah," ucap Anna. Pelan. Jelas. Tiap suku kata: palu. "Itu didorong."

_PRAAAK!_ Gelas di tangan Chandrawati jatuh. Pecah.

"Siapa yang berani bertindak begitu?!" Rangga meraung. Urat lehernya keluar semua. Bintang tiga di pundak kayak mau copot. Aura Komandannya keluar. Ngeri.

Anna angkat tangan. Pelan. Jarinya nggak gemeter. Matanya lembut. Tapi nunjuknya... setajam silet. Lurus.

Ke dua orang. Ibu dan anak.

"Mereka," ucapnya. Dingin. "Rukmini dan Ratna."

Satu ruangan meledak. Tapi nggak ada suara. Meledak di dada masing-masing.

"Mereka mendorongku," lanjut Anna. Nggak berhenti. Kasih bukti. "Lalu berteriak. Nangis. 'Tolong! Anna bunuh diri!' 'Dia nggak mau nikah sama Jendral!' 'Dia malu!'"

Napas Anna satu-satu. "Dan kalian semua percaya."

_Jleb. Jleb. Jleb._

"Karena khawatir padaku, Ayah panik." Matanya ke Rangga. Nggak nyalahin. Ngejelasin. "Ayah gunakan jasa militer. Minta koneksi. Minta mandat dari Kaisar. Untuk menikahkanku dengan Chandra. Biar aku 'selamat'. Biar aku 'nggak malu'."

Anna ketawa. Pahit. "Padahal... aku cuma mau jadi adiknya. Aku nggak mau nikah. Aku mau sekolah. Aku mau hidup."

Kenyataan. Yang sebenarnya. Terbongkar. Telanjang. Di tengah ruang keluarga. Di depan Jendral. Di depan Komandan.

Ratna lemes. Jatuh. Ngedengkul. Nggak bisa nyangkal. Mulutnya mangap, nggak ada suara.

Rukmini mundur. Selangkah. Dua langkah. Napasnya putus-putus. Topengnya lepas. Mukanya sekarang: muka penjahat ketangkep. Pucet. Tua. Busuk.

Mereka tak bisa menolak. Bukti? Ada. Saksi? Ada. Anna hidup. Cikal ada. Chandra ada. Rangga ada. Motif? Ada. Kebencian 20 tahun.

Lesu. Tak berdaya. Kalah. Telak. Nggak pake babak belur. Pake kata. Pake fakta.

Chandra yang dari tadi diem di tangga, sekarang turun. Pelan. Matanya ke Ratna. Ke Rukmini. Dingin. Beu. Kayak liat sampah. 5 tahun dia nikahin Ratna. 5 tahun dia percaya cerita "Anna bunuh diri karena cinta dia". 5 tahun dia nyiksa Anna karena itu.

Ternyata? Dia bidak. Dia boneka. Dimainin ibu-anak ular.

Tangannya ngepal. Buku jarinya putih. Bukan mau nyekik Anna. Mau nyekik... yang lain.

Rangga maju. Satu langkah dari Rukmini. Suaranya rendah. Kayak gempa. "Jadi... selama ini... kau bohong sama saya, Mi? 20 tahun?"

Rukmini nangis. Beneran nangis. Tapi air mata buaya. "Mas... Mas dengerin aku... Anna... Anna fitnah..."

"DIAM!" Bentak Rangga. Tembok geter. "20 TAHUN AKU ANGGAP KAU IBU ANAKKU! 20 TAHUN KAU BIKIN ANAKKU BODOH! 5 TAHUN KAU BIKIN DIA MATI SURI! DAN SEKARANG KAU MAU BILANG FITNAH?!"

GONG.

Palunya diketok. Sidangnya selesai. Vonisnya jatuh.

Ratna pingsan. Beneran. _Bruk._ Kepalanya kejedot lantai. Nggak ada yang nolongin.

Rukmini lemes. Nyender tembok. Kayak mayat hidup.

Anna? Anna cuma jalan. Nyamperin Rangga. Meluk Ayahnya. Sekali. Erat. Terus lepas.

"Hakku udah kembali, Yah," bisiknya. "Hak sebagai anak. Hak sebagai kakak. Sekarang... tinggal hak Cikal."

Dia nengok ke Chandra. Senyum. "Jendral, gudang belakang kosong. Cocok buat 'tamu'. Dua orang. Ibu dan anak. Biar ngerasain 5 tahun."

Chandra ngangguk. Sekali. Paham. Perintah tanpa suara. Dua prajurit langsung maju. Seret Rukmini. Gendong Ratna.

Perang dingin selesai. Perang panas dimulai.

Dan Anna? Anna menang tanpa ngeluarin peledak cabai satu pun. Cukup pake mulut. Pake kebenaran. Pake 20 tahun dendam yang dimasak mateng.

Komen ya, thor. Kalo ada rezeki traktir author kopi + tolak angin biar nggak masuk angin ngetik adegan ayah ngamuk ☕💨❤

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!