SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.
Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.
Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?
Since: 10-04-2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Laboratorium
Sinar matahari pagi yang menyinari lapangan utama SMA Nusantara terasa tidak nyata di kulit Arga. Meskipun pemandangan di depannya tampak normal, langit biru dan suara burung yang berkicau, sensasi dingin yang menusuk tulang tidak pernah benar-benar hilang. Urat-urat hitam yang kini menjadi tato permanen di lengannya tetap terasa beku, seolah masih terhubung dengan kedalaman menara yang baru saja mereka tinggalkan.
Raka telah dibawa ke unit kesehatan sekolah dalam kondisi stabil namun belum sadarkan diri. Sebelum berpisah, Lintang sempat berpesan dengan nada serius bahwa apa yang terjadi di Menara Jam hanyalah upaya sementara untuk menghentikan pendarahan. Penyakit yang menjangkit sekolah ini sudah menyebar ke seluruh pembuluh darahnya, dan sumber infeksi lainnya masih aktif.
Arga tidak bisa menunggu. Peta yang ia dapatkan dari Ruang Musik kini terpatri dalam ingatannya, dan sebuah dorongan naluriah membawanya berjalan menuju Gedung B, area tempat Laboratorium Kimia berada. Menurut catatan terakhir yang sempat ia baca, meskipun jiwa Raka telah berhasil ia selamatkan, tubuh fisik kakaknya telah mengalami modifikasi drastis selama menjadi bahan eksperimen di tempat ini.
Suara langkah kakinya menggema jelas di koridor yang sepi. Atmosfer di Gedung B berbeda dengan gedung asrama yang berbau kayu lapuk dan debu tua. Di sini, udara terasa lebih kering namun lebih berat, beraroma bahan kimia yang tajam dan menyengat. Semakin ia mendekati pintu laboratorium, bau formalin dan zat pengawet semakin kuat hingga membuat mata perih, bercampur dengan aroma amis yang samar namun tak salah lagi, aroma daging yang membusuk.
Arga mendorong pintu kaca buram itu terbuka. Ruangan di dalamnya diselimuti kabut tipis berwarna kehijauan yang melayang rendah di atas lantai keramik putih. Meja-meja kerja tampak bersih dan rapi, namun isinya jauh dari kata normal. Tabung-tabung besar yang tersusun rapi di rak bukan berisi cairan percobaan biasa, melainkan berisi potongan jaringan tubuh yang masih terlihat hidup, berdenyut pelan di dalam larutan bening.
"Kau datang lebih cepat dari perhitungan kami," sebuah suara parau terdengar dari balik lemari penyimpanan.
Seorang pria keluar dari bayangan. Ia mengenakan jas laboratorium yang sudah menguning dan lusuh, dengan wajah tertutup rapat oleh masker gas kuno. Matanya yang terlihat dari balik kaca masker tampak merah menyala, pembuluh darahnya pecah di bagian putih mata. Di tangannya yang bersarung tangan karet hitam, ia memutar sebuah labu besar berisi cairan yang mendidih tanpa adanya sumber api di bawahnya.
"Siapa kau? Di mana catatan mengenai kakakku?" tanya Arga. Tangan kanannya mulai memancarkan cahaya ungu samar, siap untuk bertarung.
Pria itu tertawa, suaranya terdengar berat dan teredam oleh filter maskernya. Ia menyebut dirinya hanya sebagai penjaga yang ditinggalkan. Sang Arsitek mungkin telah kalah dan terperangkap, namun penelitian yang dimulai di ruangan ini tidak akan berhenti. Ia menjelaskan bahwa Raka bukan lagi sekadar manusia biasa, melainkan prototipe sukses pertama dari apa yang mereka sebut sebagai Siswa Abadi.
Tanpa peringatan, pria itu melemparkan labu tersebut ke lantai tepat di depan kaki Arga. Cairan di dalamnya pecah dan berubah menjadi asap tebal yang segera mengambil wujud tangan-tangan tak kasat mata yang mencengkeram pergelangan kaki Arga. Arga menyadari bahwa gas itu bukan sekadar racun kimia, melainkan kumpulan arwah murid-murid yang gagal menjadi eksperimen, tubuh mereka dilarutkan demi mencari formula kesempurnaan.
"Kau ingin tahu apa yang mengalir di pembuluh darah kakakmu sekarang?" ujar pria itu sambil menekan sebuah tombol di dinding.
Lemari kaca di sepanjang ruangan berputar otomatis, menyingkap barisan manekin anatomi. Namun benda-benda itu tidak terbuat dari plastik atau resin. Mereka terbuat dari otot asli, saraf, dan kulit yang diawetkan dengan sihir hitam. Mata mereka yang kosong bergerak serempak mengikuti setiap gerakan Arga.
Pria itu menjelaskan secara rinci bagaimana tubuh Raka diubah. Darahnya diganti dengan polimer cair, paru-parunya dilapisi membran perak agar tidak lagi membutuhkan oksigen, melainkan memakan energi dari dimensi lain. Dan yang paling penting, tinta hitam yang ada di tubuh Arga adalah kunci utama, katalis yang dibutuhkan untuk menyempurnakan proses transformasi itu menjadi selamanya.
Salah satu manekin itu tiba-tiba bergerak. Gerakannya kaku dan patah-patah namun memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia menerjang Arga dengan jari-jari yang berubah menjadi jarum suntik raksasa berisi cairan ungu pekat. Arga sempat menghindar, namun punggungnya terbentur meja kerja. Ia meraih sebuah botol berisi cairan mudah terbakar dan menyalurkan energinya ke dalamnya hingga membara dengan api biru. Ia melemparkannya ke arah manekin itu, namun ledakan hanya membakar lapisan luarnya, memperlihatkan roda-roda gigi kuningan dan per yang terpasang di balik daging dan otot tersebut.
Arga menyadari bahwa di ruangan ini, logika fisika telah tunduk pada obsesi penciptanya. Tinta di lengannya terasa perih luar biasa, seolah-olah zat kimia di udara memanggil-manggilnya untuk bergabung.
Gunakan baunya, jangan dilawan, suara Raka berbisik samar di dalam benaknya. Kendalikan elemen itu.
Arga berhenti menahan napas. Ia membiarkan udara kimia yang menyengat itu masuk memenuhi paru-parunya. Rasa perih dan panas menyerang tenggorokannya, namun seketika itu juga penglihatannya berubah. Ia kini bisa melihat aliran energi yang tak terlihat mata biasa, garis-garis cahaya tipis yang menghubungkan pria bermasker itu dengan setiap manekin di ruangan itu, sebuah jaring kontrol yang rumit.
Alih-alih menyerang makhluk-makhluk itu, Arga memutar tubuhnya dan mengulurkan kedua tangannya ke arah tangki-tangki penyimpanan besar di pojok ruangan. Dengan kekuatan kehendak yang luar biasa, ia menarik seluruh cairan formalin di dalamnya keluar secara paksa. Cairan itu melayang di udara membentuk pusaran raksasa yang dikendalikan sepenuhnya oleh pikirannya.
"Apa yang kau lakukan?!" seru pria itu, nada suaranya berubah menjadi panik.
"Aku akan membersihkan tempat busuk ini sampai ke akar-akarnya!" jawab Arga tegas.
Dengan satu gerakan tangan ke bawah, pusaran air kimia itu dihantamkan ke seluruh ruangan. Cairan itu menghantam manekin-manekin dan si pria asisten, melarutkan ikatan gaib yang menyatukan tubuh mereka. Struktur daging dan logam itu terpisah-pisah, kehilangan bentuk dan nyawa. Pria bermasker itu menjerit saat masker dan kulitnya mulai meleleh terkena reaksi energinya sendiri, hingga akhirnya tubuhnya runtuh menjadi genangan cairan tak berbentuk di lantai.
Ruangan menjadi sunyi kembali, penuh dengan puing-puing dan bau asap. Di tengah kekacauan itu, Arga menemukan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam yang kedap air. Ia membukanya dan membaca judul yang tertulis di halaman pertama, Proyek Regenerasi, Subjek Nomor Satu, Raka Widya.
Isinya berisi data rinci dan sebuah denah yang menandakan adanya Ruang Isolasi di bagian bawah laboratorium ini. Di sanalah bagian-bagian asli dari tubuh Raka yang "dibuang" dan diganti dengan mesin disimpan.
Namun, saat Arga hendak melangkah menuju pintu rahasia yang tertera di peta, lampu ruangan berkedip kacau. Bau kimia menghilang seketika, digantikan oleh aroma melati yang sangat kuat dan memualkan.
Di depan pintu keluar utama, berdiri sesosok manekin yang berbeda dari yang lain. Ia tidak menyerang, hanya berdiri tegak sambil memegang sebuah cermin antik. Saat Arga menatap pantulannya, ia tidak melihat dirinya sendiri. Yang terlihat di sana adalah gambaran Raka yang terperangkap dalam tabung kaca besar berisi cairan hijau, berteriak tanpa suara di tempat yang sangat dalam dan gelap.
"Eksperimennya belum selesai, Arga," suara seorang wanita terdengar lembut namun dingin memancar dari pengeras suara yang terpasang di dinding. "Kau baru saja mengalahkan asistenku. Sekarang, mari kita lihat bagaimana kau menghadapi sang Pencipta Formula."
Pintu utama terkunci rapat dengan bunyi mekanisme logam yang berat. Arga menyadari bahwa ia baru saja memasuki babak kedua yang jauh lebih berbahaya, di mana batas antara ilmu pengetahuan dan ilmu hitam menjadi sangat kabur.
Ia harus menemukan Ruang Isolasi itu sebelum kakaknya benar-benar berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi memiliki hati dan perasaan. Tinta hitam di tubuhnya kini merambat naik hingga ke leher, membentuk pola rumit menyerupai struktur molekul kimia. Arga bukan lagi sekadar murid yang mencari jawaban, ia kini menjadi bagian dari eksperimen terbesar yang pernah dirancang oleh sekolah ini.