Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Sementara itu, Arif sedang mengemudi, Sasa yang duduk di sampingnya memperhatikan bola matanya bergerak, ketika mendengar suara notifikasi dari telepon genggam.
Kring, kring, kring.
"Rif, enggak kamu angkat dulu teleren? mending Kita berhenti dulu di pinggir jalan," Ucap Sasa tatapannya masih ke Arif.
"enggak perlu, nanti ajah aku telepon balik," Arif sesekali mengalihkan tatapanya ke Sasa.
Arif terus mengemudi kendaraannya, hingga membelokkan mobil ke area parkir di dekat gerbang masuk tempat wisata.
sampai kendaraan terparkir, mereka lalu turun dari mobil, Arif berdiri di samping kendaraan menanti Sasa. Sasa menutup pintu mobil, lalu mendekat ke Arif. Tangannya bergerak memegang,
"Ayo Sayang, kita jalan," ucap Sasa di sertai senyuman di wajahnya.
Arif mengangguk, mereka berdua melangkah menuju pos tiket. Di depan pos tersebut, mereka terhenti dan memesan tiket masuk. Setelah Sasa mengambil tiket dan membayarnya, mereka berdua kembali melangkah masuk ke dalam.
Di dalam tempat wisata yang begitu luas, dan banyak sekali tempat Poto, serta pemandangan yang indah, kin8 langkah Arif terhenti. Dari saku celananya terdengar suara dari telepon genggamnya, Arif mengambilnya, Saat ponsel di tangan, Sasa berbicara. "Kenapa, Sayang?" tanyanya,
"Papa telepon," jawab Arif sesekali mengalihkan tatapannya ke Sasa,
"Angkat dulu, Sayang. Siapa tahu penting."
Arif mengangguk, lalu mengangkat panggilan telepon dari ayahnya. Dia menggerakan ke telinga lalu berbicara. "Iya, Pa," ucap Arif.
"Kamu ke mana? semalam enggak pulang? sekarang masih ga pulang, Papa udah bilang, malah enggak didengarin." suara papanya terdengar tegas dari telepon.
"Maaf, Pa. Semalam aku menginap di rumah..." Arif mengalihkan wajah ke arah Sasa yang sedang menatap sekitar. "Di rumah teman, Pa," ucapnya pelan.
"Kamu ini, bukannya pulang malah menginap. Kamu sekarang enggak sekolah?"
"enggak, Pa."
"udah, cepat pulang. Papa tunggu di rumah. Nanti siang kamu ikut Papa sama Mama."
"Mau ke mana, Pa?"
"udah, jangan banyak tanya."
"Iya, Pa."
Arif memutuskan panggilan telepon itu, lalu dia mematikan dan memasukkan kembali teleponnya ke saku. Sasa melangkah mendekat, sambil terhenti dia berbicara. "Kita ke sana yuk, Sayang," ucap Sasa memegang tangan Arif,
"Ayok," Jawab Arif mencoba tersenyum,
mereka berdua lalu menjunu ke warung, Di depan warung dekat taman kelinci, Sasa melepaskan tangan Arif, lalu mereka duduk di kursi meja kayu yang diukir unik.
"Tadi Papa kamu bilang apa?" tanya Sasa, menatap Arif yang sedang duduk di kursi depannya.
"Papa menyuruh pulang," jawab Arif sambil menghela napas. Dia kembali bersuara, "Oh iya, kita cuma duduk doang?"
"Eh, aku jadi lupa. Biar lebih enak kita pesan minuman ajah, gimana?" Sasa tersenyum,
"Eumm, boleh." Arif sambil menganggukan kepalanya.
Sasa menoleh ke arah warung, lalu mengangkat tangan dan berbicara. "Mbak," panggilnya.
Pemilik warung melangkah keluar dan menghampiri Sasa. Dia berhenti dan berbicara, "Iya Mbak, mau pesan apa?" tanyanya,
"Ada jus buah naga ga?" tanya Sasa.
"Lagi kosong Mbak. Adanya jeruk, mangga, sama stroberi,"
"Saya jus mangga saja." Sasa lalu mengalihkan tatapannya ke Arif. "Kamu mau pesan apa, Sayang?" tanyanya.
"kita belum makan tau sayang, Masa pagi-pagi udah minum jus aja," jawab Arif, menatap Sasa, lalu mengalihkan tatapnya ke pemilik warung sambil kembali berbicara, "mba Saya pesan mie rebus sama teh hangat ya," ucapnya,
"Eh, iya, kita kan belum sarapan." Sasa menatap Arif lalu kembali menoleh ke pemilik warung. "Kalau begitu saya juga sama ya Mbak, teh hangat dan mie rebus." ucapnya.
"Baik Mbak, Mas. Saya buatkan dulu ya." jawabnya lalu melangkah pergi kembali ke dalam warung.
Sambil menunggu pesanan dibuat, Sasa kembali menatap Arif. "Nanti kamu mau pulang jam berapa?" tanya Sasa.
"Agak siangan sih, jam sepuluh lewat," jawab Arif sambil tersenyum menatap wajah Sasa.
"Eumm, yasudah. Nanti aku minta asistenku buat jemput aku, kamu pulang sendiri,"
"aku antar kamu pulang ajah bagaimana?"
"Jangan. enggak apa-apa kamu pulang sendiri, lagian aku juga mau langsung ke kantor," ucap Sasa dengan senyumana. perlahan Dia memajukan wajahnya. "Nanti kalau aku chat, kamu jangan susah balasnya. Semalam enak banget tahu, walaupun terasa sakit, " bisiknya pelan menaikan alisnya,
"Iya, Sayang," jawab Arif tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Tak lama, pemilik warung membawakan pesanan mereka dan menaruhnya di atas meja kayu, Arif menarik semangkuk mie dan teh hangat, menggesernya ke depan Sasa, lalu menarik untuknya sendiri.
"Mari makan," ucap Arif, dengan tangan mengambil sendok.
"Selamat makan, Sayang," Sasa tersenyum menatap Arif.
Mereka pun menikmati mie rebus itu dengan pemandangan indah dan keramaian pengunjung yang lalu-lalang. Di tengah suasana ramai itu, tiba-tiba Sasa mengambil sesendok mie dan mengarahkannya ke depan Arif. "Sayang, coba punya aku," ucapnya.
Arif terdiam menatap Sasa, lalu perlahan dia memajukan wajah dan menyambut suapan mie dari sendok di tangan Sasa. Sasa tersenyum. dalam hatinya berkata, "Ternyata begini rasanya berdua dengan orang yang saling mencintai," gumam sasa dalam hati.
"Kamu tahu enggak, sebenarnya aku itu enggak suka makan mie. Tapi karena kamu pesan mie, aku juga ikut pesan." ucap Sasa menatap Arif. lalu menghela napas. "Aku jadi inget sama mama aku," ucapnya.
"Memang kenapa?" tanya Arif, merasa penasaran, lalu dia mendengarkan Sasa yang kembali bercerita.
"Dulu, waktu Mama masih ada, dia pernah cerita saat pertama kali bertemu Papa,"Sasa terganti sejenak, lalu Dia menghela napas. "Mama pertama kali ketemu Papa itu di pernikahan pacar mantan pacar papa. Hari itu Mama mencoba mengajaknya ke restoran. Papa yang awalnya sakit hati..." ucapnya,
"Sedih banget. Terus, terus?" Arif semakin penasaran dengan cerita Sasa.
"Awalnya mama bilang cuman nenganin hatinya, terus Mama sering ngajak bertemu. enggak lama, setelah satu tahun, Mama sama Papa menikah," ucapnya sambil tersenyum.
"Satu tahun itu lama, tahu, bukan enggak lama." Arif sambil mengunyah mie di mulutnya.
"Iya sih, tapi Mama bilangnya begitu. Kamu mau nikah cepat gak?" tanya Sasa dengan alis di angkat.
Arif terdiam dengan sendok yang di pegang, masih di mulut. Dia tampak bingung dengan pertanyaan mendadak itu. Saat Arif terdiam, Sasa kembali berbicara, "Gimana? kalau Aku pengen banget. Jadi tiap malam kita bisa berdua." Sasa tersenyum.
Arif menelan makanan, yang terasa begitu sulit,
Glek,
tatapanya tak lepas ke Sasa, Arif merasa bingung, Sasa yang menunggu jawaban, perlahan Arif berbicara. "Tahun ini aku lulus sekolah, Setelah lulus, baru aku pikirkan dulu."
"Akan aku tunggu sayang. Percaya sama aku, aku enggak seperti orang lain yang mudah jatuh cinta."
"Aku percaya." Arif sambil mengangguk.
Arif tersenyum, walaupun hatinya merasa bimbang dengan kenyataan yang ada. Dia hanya bisa menyimpan perasaan itu dalam hati.
Sasa dan Rif kembali menikmati mie dan teh hangat, mereka saling bertatapan dan sesekali melihat ke sekeliling. Setelah hidangan habis, Sasa membalikkan badan ke arah warung. lalu berbicara "Mbak!" ucapnya.
Pemilik warung melangkah keluar mendekati Sasa. "Iya, Mbak?" jawabnya.
"Semuanya jadi berapa, Mbak?" tanya Sasa.
"Mie rebus dua, dua puluh lima ribu, ditambah teh hangat dua, dua puluh ribu. Semuanya jadi empat puluh lima ribu, Mbak," ucapnya sambil mencatat di buku.
"Oh iya, Mbak. Terima kasih ya," Sasa sambil menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah.
"Bentar ya Mbak, saya ambil kembaliannya."
"Jangan mba, ga apa apa ambil saja," jawab Sasa lalu berdiri. dia mengalihkan tatapannya ke Arif sambil berbicara, "Ayo Sayang, kita jalan-jalan." ucapnya.