Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pukul sepuluh pagi, Hotel Old Batavia tampak seperti relik yang terlupakan di tengah kepungan gedung pencakar langit Jakarta. Dindingnya yang mengelupas dan jendela kayu jati yang mulai lapuk memberikan kesan suram. Aeryn turun dari taksi online yang ia pesan—bukan mobil jemputan mansion—dengan mengenakan kacamata hitam besar dan trench coat krem yang menutupi identitasnya sebagai istri seorang Arkananta.
Ia melangkah masuk ke lobi yang sepi. Aroma kayu tua dan lembap menyambutnya. Tanpa bicara pada resepsionis, Aeryn langsung menuju lift tua yang berderit menuju lantai empat. Jantungnya berdegup kencang, setiap detaknya terasa seperti hantaman godam di dadanya.
Kamar 404.
Aeryn mengetuk pintu kayu berwarna cokelat kusam itu. Tidak ada jawaban untuk beberapa detik, sampai akhirnya suara kunci diputar terdengar. Pintu terbuka sedikit, menampakkan seorang pria tua dengan rambut beruban yang dipotong sangat pendek. Kulitnya pucat, dan ada bekas luka melintang di bawah mata kirinya.
"Kau datang," suara pria itu serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak bicara.
"Siapa kau?" Aeryn tidak beranjak dari tempatnya. "Dan bagaimana kau tahu tentang ibuku?"
Pria itu mundur, memberi ruang bagi Aeryn untuk masuk. "Namaku Herman. Masuklah, Nyonya Arkananta. Tempat ini mungkin tidak semewah singgasanamu sekarang, tapi di sini tersimpan kebenaran yang tidak akan kau temukan di balik tembok Arkananta."
Aeryn masuk dengan ragu. Kamar itu sempit, hanya ada satu tempat tidur tunggal dan sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan. Di atas meja itu, terdapat sebuah benda yang dibungkus kain beludru hitam yang sudah usang.
Herman duduk di kursi kayu, matanya menatap Aeryn dengan rasa iba yang aneh. "Aku menghabiskan dua belas tahun di penjara yang sama dengan ibumu, Maryam. Aku adalah orang yang sering membawakannya kertas dan pensil saat dia ingin menggambar desain perhiasan di dalam sel."
Aeryn merasakan dunianya sedikit berputar. "Ibuku... di penjara. Xavier bilang dia bukan narapidana, dia bilang itu hanya fitnah Kaelan."
"Xavier Arkananta tidak sepenuhnya berbohong, tapi dia juga tidak mengatakan seluruh kebenaran," Herman menarik napas panjang. "Ibumu memang ditangkap. Kasusnya adalah pencurian permata langka milik keluarga Valerine. Tapi, tahukah kau siapa yang melaporkannya?"
Aeryn menggeleng, tangannya mencengkeram tasnya kuat-kuat.
"Baskara Valerine. Ayahmu sendiri."
Darah seolah berhenti mengalir di tubuh Aeryn. "Tidak mungkin. Papa... Papa sangat mencintai Ibu. Dia bilang Ibu meninggal karena sakit setelah aku lahir."
Herman tertawa kering, suara yang lebih menyerupai isakan. Ia mengambil bungkusan kain beludru di meja dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah buku harian tua dengan sampul kulit yang sudah mengelupas.
"Ini milik Maryam. Dia memberikannya padaku sebelum dia meninggal di dalam sel karena komplikasi paru-paru," Herman mengulurkan buku itu. "Bacalah halaman terakhirnya, Aeryn. Ibumu tidak mencuri apa pun. Dia adalah desainer asli di balik kesuksesan awal Valerine Jewels. Baskara menjebaknya agar dia bisa memiliki hak cipta desain-desain itu sepenuhnya tanpa harus membagi keuntungan atau mengakui Maryam sebagai istri sahnya di depan publik."
Dengan tangan gemetar, Aeryn membuka buku itu. Tulisan tangan di dalamnya halus dan rapi, persis seperti sketsa yang ia temukan di butik. Ia membalik ke halaman terakhir yang bertanggal dua puluh enam tahun yang lalu.
“Baskara datang hari ini. Dia membawa surat cerai dan dokumen penyerahan hak cipta. Dia bilang, jika aku tidak menandatanganinya, dia akan memastikan Aeryn kecil tidak akan pernah melihat matahari. Dia mengancam akan membuang bayi kita ke panti asuhan jika aku melawan. Aku akan menandatanganinya. Biarlah aku membusuk di sini, asal anakku hidup dalam kemewahan yang ia janjikan. Maafkan Ibu, Aeryn. Kau adalah berlianku yang paling murni.”
Air mata Aeryn jatuh, membasahi kertas yang sudah rapuh itu. Seluruh hidupnya adalah kebohongan. Pria yang ia panggil "Papa", pria yang ia bela mati-matian di depan Xavier, adalah monster yang telah mengorbankan ibunya demi sebuah kerajaan bisnis.
"Kenapa kau memberitahuku sekarang?" tanya Aeryn dengan suara serak.
"Karena aku melihatmu di televisi. Kau memakai perhiasan Phoenix itu," Herman menatap buku harian itu. "Itu adalah desain terakhir Maryam sebelum dia meninggal. Melihatmu bangkit dengan nama 'Valerine’s Secret' membuatku sadar bahwa darah ibumu mengalir kuat di nadimu. Jangan biarkan Baskara menang lagi, Aeryn."
Aeryn mendekap buku harian itu di dadanya. Rasa sakitnya kini berubah menjadi amarah yang dingin. "Xavier... apa dia tahu soal ini?"
Herman terdiam sejenak. "Keluarga Arkananta selalu punya mata di mana-mana. Xavier adalah putra dari satu-satunya pengacara yang mencoba membela ibumu dulu, namun gagal karena Baskara terlalu kuat. Mungkin itu sebabnya dia mencarimu. Dia ingin menyelesaikan apa yang ayahnya mulai."
Aeryn berdiri, matanya berkilat tajam meski wajahnya masih basah oleh air mata. "Terima kasih, Pak Herman. Kau tidak tahu apa yang sudah kau berikan padaku hari ini."
"Berhati-hatilah, Aeryn," Herman memperingatkan. "Baskara adalah ular yang licin, tapi orang-orang di sekitarmu juga bisa menjadi belati yang siap menusuk saat kau lengah."
****
Sementara itu, di sebuah bar remang-remang di pinggiran Jakarta, asap rokok memenuhi udara yang pengap. Maya, asisten pribadi Aeryn, duduk dengan gelisah di sebuah bilik pojok. Ia terus melirik ponselnya, menunggu kabar dari rumah sakit tentang kondisi ibunya yang memerlukan operasi jantung mendesak.
"Kau terlihat sangat tertekan, Maya," sebuah suara yang sangat ia kenal menyapa.
Maya mendongak. Kaelan Dirgantara berdiri di sana, mengenakan jaket kulit gelap, jauh dari penampilannya yang biasanya rapi sebagai eksekutif. Ia duduk di depan Maya tanpa diundang.
"Tuan Kaelan, saya tidak punya banyak waktu. Nyonya Aeryn akan mencari saya," ucap Maya gemetar.
"Nyonya Aeryn tidak peduli padamu, Maya. Dia terlalu sibuk dengan berlian birunya dan suaminya yang perkasa," Kaelan meletakkan sebuah koper perak kecil di atas meja kayu yang lengket. "Berapa biaya operasi ibumu? Dua ratus juta? Tiga ratus?"
Maya menelan ludah, matanya menatap koper itu dengan rasa lapar sekaligus takut. "Empat ratus lima puluh juta, Tuan. Dan saya harus membayarnya lusa."
Kaelan membuka koper itu sedikit. Cahaya dari lampu neon bar memantul dari tumpukan uang kertas seratus ribuan yang masih baru. Aroma uang itu seolah menjadi racun yang menggoda nurani Maya.
"Aeryn sedang mengerjakan sebuah proyek besar untuk kompetisi se-Asia, bukan? The Eternal Heart," bisik Kaelan, suaranya sangat persuasif. "Aku tidak butuh perhiasannya. Aku hanya butuh file desain digitalnya. Berikan padaku sebelum dia mendaftarkan hak ciptanya."
"Saya... saya tidak bisa mengkhianati Nyonya Aeryn. Dia baik pada saya," suara Maya melemah.
"Kebaikan tidak bisa membayar biaya rumah sakit, Maya," Kaelan mendorong koper itu lebih dekat ke arah Maya. "Pikirkan ibumu. Dia sedang sekarat, sementara Aeryn sedang bersulang dengan champagne mahal. Hanya satu file desain. Setelah itu, kau bisa membawa ibumu berobat ke Singapura dan menghilang dari kota ini."
Maya menatap tumpukan uang itu, lalu bayangan wajah ibunya yang pucat di bangsal rumah sakit melintas. Air matanya menetes. Tangannya perlahan mendekati koper itu, jemarinya bergetar saat menyentuh permukaannya yang dingin.
Kaelan tersenyum miring, sebuah seringai kemenangan yang mengerikan. Ia menutup kembali koper itu dan menyerahkannya sepenuhnya kepada Maya.
"Pilihan yang cerdas, Maya. Hanya satu file desain melalui flashdisk ini," ucap Kaelan sambil menyodorkan sebuah perangkat kecil berwarna hitam. "Berikan padaku besok malam, dan ibumu akan selamat. Jika tidak, yah... kau tahu sendiri betapa dinginnya lantai ruang jenazah."
Maya memeluk koper itu erat-erat, ia merasa jiwanya baru saja dijual kepada iblis.