NovelToon NovelToon
PESONA PERAWAT IBUKU

PESONA PERAWAT IBUKU

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:92.6k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...

"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Aula hotel itu dipenuhi suara tawa dan percakapan hangat. Musik lembut mengalun dari panggung kecil di sudut ruangan, sementara lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.

Namun bagi Tama, suasana itu tiba-tiba terasa berubah.

“Tama?”

Wanita dengan gaun merah itu berhenti tepat di hadapannya. Senyumnya tipis, namun matanya menatap tajam.

“Sudah lama tidak bertemu.”

Tama menatapnya beberapa detik.

“Selena.”

Nama itu keluar datar dari bibirnya.

Dita yang berdiri di samping Tama langsung menunduk sedikit. Ia mengenali wajah wanita itu.

Selena.

Wanita yang dulu pernah datang ke kantor dengan wajah marah, menuduhnya mencuri uang dari meja Tama. Tuduhan yang akhirnya terbukti salah setelah rekaman CCTV diperiksa.

Namun kenangan memalukan itu masih jelas teringat.

Selena memindahkan pandangannya ke Dita.

“Kamu datang... dengan wanita ini?”

Nada suaranya halus, tetapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.

Dita langsung merasa tidak nyaman.

Ia mencoba tersenyum kecil.

“Saya hanya menemani Tuan Tama—”

“Menemani?” Selena memotong cepat.

Beberapa orang di sekitar mulai memperhatikan.

Selena menyilangkan tangan di depan dada.

“Lucu sekali. Dari yang dulu dituduh mencuri di kantormu... sekarang jadi pasangan datang ke reuni?”

Suasana di sekitar mereka langsung berubah tegang.

Dita langsung pucat.

“Bukan seperti itu, saya—”

Namun sebelum ia selesai bicara—

“Tutup mulutmu, Selena.”

Suara Tama tiba-tiba terdengar tegas.

Semua orang yang berdiri di dekat mereka terdiam.

Selena menatap Tama dengan alis terangkat.

“Apa?”

Tama menatapnya lurus.

“Kalau kamu tidak bisa bicara dengan sopan, lebih baik tidak bicara sama sekali.”

Selena terkekeh kecil.

“Kenapa? Aku hanya mengatakan fakta.”

“Fakta?”

Tama maju setengah langkah.

Matanya dingin.

“Fakta yang mana? Yang kamu buat sendiri?”

Beberapa teman lama Tama mulai mendekat, penasaran dengan keributan itu.

Selena mengangkat dagu.

“Dia pernah dituduh mencuri.”

Tama langsung menjawab tanpa ragu.

“Dan CCTV membuktikan dia tidak bersalah.”

Selena terdiam sesaat.

Namun ia masih tersenyum sinis.

“Lalu sekarang dia apa? Asistenmu? Atau lebih dari itu?”

Dita langsung menunduk semakin dalam.

Tangannya mulai gemetar.

Ia tidak menyangka malam ini akan berakhir seperti ini.

Namun tiba-tiba—

Tama meraih tangan Dita.

Gerakan itu membuat Dita terkejut.

Ia menoleh cepat.

Tama berdiri tegak di sampingnya.

“Dia datang bersamaku.”

Selena menyipitkan mata.

“Jadi?”

Tama menatapnya tajam.

“Kalau kamu tidak bisa menghormati wanita yang datang bersamaku... berarti kamu juga tidak menghormatiku.”

Suasana aula terasa membeku.

Beberapa orang bahkan saling pandang.

Selena jelas tidak menyangka Tama akan berbicara seperti itu.

“Aku hanya—”

“Aku tidak peduli.”

Nada suara Tama tetap tenang, tetapi jelas keras.

Ia menarik napas pendek.

“Selena, kita sudah selesai sejak lama. Jadi jangan buat keributan yang tidak perlu.”

Selena menggigit bibirnya.

Untuk pertama kalinya wajahnya terlihat tidak nyaman.

Tama kemudian menoleh pada Dita.

“Ayo.”

Dita masih bingung.

“Kita pulang?”

“Iya.”

“Tapi reuni—”

“Tidak penting.”

Tanpa menunggu lagi, Tama menggandeng Dita keluar dari aula.

Beberapa orang hanya bisa menatap mereka pergi.

Selena berdiri kaku di tempatnya.

---

Udara malam di luar hotel terasa lebih sejuk.

Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang gelap.

Dita masih terlihat canggung saat mereka berjalan menuju mobil.

Begitu pintu mobil tertutup—

Ia langsung menunduk.

“Maaf, Tuan.”

Tama yang baru menyalakan mesin mobil menoleh.

“Untuk apa?”

“Saya membuat suasana reuni jadi tidak enak.”

Tama menghela napas kecil.

“Dita.”

“Iya?”

“Reuni itu memang membosankan.”

Dita terdiam.

Tama melanjutkan santai,

“Kalau bukan karena Mama menyuruhku datang, aku tidak akan datang.”

Dita akhirnya tersenyum sedikit.

“Benarkah?”

“Serius.”

Mobil mulai bergerak meninggalkan hotel.

Beberapa menit mereka hanya diam.

Kemudian Dita berkata pelan,

“Sekarang kita pulang?”

Tama melirik jam di dashboard.

“Baru jam sembilan.”

“Iya…”

“Kalau pulang sekarang Mama pasti tanya kenapa cepat sekali.”

Dita langsung membayangkan wajah Bu Diana yang cerewet.

Ia tertawa kecil.

“Iya juga.”

Tama membelokkan mobil ke jalan utama kota.

“Jadi kita mutar dulu.”

“Maksudnya… jalan-jalan?”

“Iya.”

Lampu kota berkelip indah di sepanjang jalan.

Angin malam masuk dari jendela mobil yang sedikit terbuka.

Beberapa menit kemudian Tama menghentikan mobil di depan kios kecil yang menjual makanan malam.

“Turun.”

Dita menoleh bingung.

“Kita makan?”

“Cuma camilan.”

Mereka berdiri di depan gerobak kecil yang menjual takoyaki dan minuman hangat.

Dita tersenyum kecil.

“Sudah lama saya tidak makan seperti ini.”

Tama mengangkat alis.

“Serius?”

“Dulu waktu kuliah sering.”

“Sekarang?”

“Sibuk kerja.”

Tama terkekeh.

“Kasihan sekali.”

Dita tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya malam itu suasana terasa ringan.

Mereka duduk di bangku kecil pinggir trotoar.

Dita meniup takoyaki yang masih panas.

“Hati-hati,” kata Tama.

Dita menggigit sedikit—

“Ah! Panas!”

Tama langsung tertawa.

“Kubilang juga.”

Dita memukul pelan lengannya.

“Tuan!”

“Kenapa tidak dengar?”

Mereka tertawa kecil bersama.

Lampu jalan memantulkan cahaya hangat di wajah mereka.

Untuk beberapa saat, semua terasa sederhana.

Tenang.

Nyaman.

Namun tiba-tiba—

Ponsel Tama berdering.

Ia melihat layar.

Alisnya langsung berkerut.

“Rumah?”

Ia mengangkat telepon.

“Halo?”

Suara panik langsung terdengar dari seberang.

“Tuan! Cepat pulang!”

Tama langsung berdiri.

“Ada apa?!”

“Ibu Diana ...!”

Wajah Tama langsung pucat.

“Apa?!”

Dita yang mendengar itu langsung berdiri.

“Ada apa, Tuan?”

Tama sudah berjalan cepat ke mobil.

“Kita pulang.”

1
Linda
Kok tamat?
✧.⁠* Sunghoon's wife *⁠.⁠✧
🤭
Linda Areros
bisik bisik tetangga kini mulai terdengarrr di telinga
Linda Areros
oh oh kamu ketahuan..
Yunita Asep
belum tamat kan thorr tunggu kelanjutannya y, di tunggu...
Yati Susilawati
up thor.. kangen....
delis armelia
suka ko udh tamat yah
Arieee
bagus,👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Sudah tamat Thoor , terimakasih.Kutuggu karyamu selanjutnya
Cinta_manis: udah ada kak lanjutannya, bisa baca, udah bab 21😊
total 1 replies
delis armelia
ko blm up date bulak balik terus
Yunita Asep
lanjuuutt dong.. authooorrr... jngn kelamaan...
Yunita Asep
yeess. kerren.. nah gittu dong.. gercep..
Yunita Asep
masih muda banget Ditanya thorr...
sunaryati jarum
Semoga segera launching Tama , Yunior
Yati Susilawati
tama?
delis armelia
aku g ngerti
Yati Susilawati
tdk fulgar tp bikin nahan nafas.. 🤣🤣
Deti Rinawati
di tunggu up ny
Lilis Yuanita
sklian mndi breng🤣🤣
sunaryati jarum
Kamu kok kejam begitu Nak Tama,ngeri emak.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!