Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedamaian yang terisolasi
Minggu pertama isolasi total di dalam benteng bawah tanah Vila Uluwatu berjalan dengan ritme yang lambat namun sangat terstruktur. Di atas tebing, tirai-tirai kanvas abu-abu arang tetap diturunkan setengah, memblokir pengelihatan dari luar secara absolut. Namun, di dalam dunia bawah tanah yang dibangun Adrian, kehidupan berputar dengan kehangatan yang tak terduga.
Pukul tujuh pagi, Alena sudah menyelesaikan sesi meditasi ringannya di atas matras yoga. Ruangan itu kini dipenuhi aroma terapi esensial lavender dan kamomil yang menenangkan, pilihan langsung dari Dokter Saras untuk menjaga kestabilan emosi sang ibu muda. Gaun katun longgar berwarna pastel yang dikenakan Alena tampak sedikit melambai saat ia berjalan mendekati meja kayu kecil tempat nampan sarapan paginya diletakkan.
Pintu geser ruangan terbuka tanpa suara. Adrian melangkah masuk dengan setelan kasualnya kaos polo abu-abu tua yang pas di tubuh, memperlihatkan siluet bahunya yang tegap. Di tangannya, ia membawa segelas susu khusus kehamilan hangat yang ia ambil sendiri dari dapur utama atas, sebuah tugas kecil yang belakangan ini menolak ia serahkan kepada Bi Asih.
"Bagaimana tidurmu semalam? Apakah bayangan siluet dari tebing barat itu masih mengganggu mimpimu?" tanya Adrian, suaranya yang berat meredam keheningan ruangan. Ia meletakkan gelas susu tersebut di samping piring buah Alena.
Alena mendongak, menyambut kehadiran suaminya dengan sepasang mata yang kini jauh lebih jernih dan tenang. "Sama sekali tidak, Adrian. Berada di bawah sini... anehnya membuatku merasa sangat terlindungi. Suara dengung filter udara ini lama-lama terdengar seperti suara ombak yang damai. Terima kasih untuk susunya."
Alena meraih gelas hangat tersebut, menyesapnya perlahan sementara Adrian mengambil posisi duduk di kursi kayu di hadapannya. Tatapan mata Adrian tidak pernah lepas dari wajah Alena. Ia meneliti setiap detail kecil mulai dari rona merah alami yang kembali berkumpul di pipi istrinya, hingga cara Alena yang kini secara refleks sering mengelus permukaan perutnya yang masih rata.
"Baskara baru saja mengirimkan laporan dari Jakarta sebelum aku turun ke sini," ujar Adrian, memecah kesunyian dengan nada yang sengaja dibuat santai namun tetap informatif.
"Ayahku tampaknya mulai kehilangan kesabaran. Foto siluet yang berhasil dikirim oleh kamera pengintai mereka semalam ternyata memicu perdebatan sengit di dalam rapat internal divisi keamanan Dewangga Group. Ayahku mengira aku sengaja mempekerjakan seorang wanita pengganti untuk mengelabui mereka di Bali."
Alena menghentikan kunyahan buah stroberinya sejenak. "Wanita pengganti? Jadi... dia belum menyimpulkan bahwa siluet itu adalah aku?"
"Dia ragu," sudut bibir Adrian terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang dingin. "Dan keraguan adalah musuh terbesar bagi seorang pria yang terbiasa memegang kendali mutlak seperti Baskoro Dewangga. Karena dia tidak bisa mendapatkan verifikasi fisik dari tim Dika yang saat ini masih mendekam di ruang bawah tanah pos jaga kita, dia mulai mencurigai bahwa seluruh skenario di Bali ini hanyalah taktik pengalihan isu untuk menjauhkan perhatiannya dari Jakarta."
Alena menghela napas pendek, meletakkan garpu buahnya. "Lalu, apa langkahnya selanjutnya? Jika dia meragukan keberadaanku di sini, bukankah ada kemungkinan dia akan mengirimkan tim intelijen yang lebih besar lagi ke Uluwatu?"
"Biarkan dia mencoba," desis Adrian, sepasang mata elangnya menyalang dengan kilat tekad yang sangat protektif. Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangannya di atas meja, menatap lurus ke dalam manik mata Alena.
"Marcus sudah memperluas radius perimeter sensor termal kita hingga dua kilometer dari gerbang luar. Setiap nelayan lokal atau perahu cepat yang melintas di bawah tebing pun kini harus mendaftarkan manifestasi mereka pada sistem radar kita. Benteng ini sudah tidak lagi memiliki celah, Alena. Fokusmu saat ini hanyalah menjaga kesehatan dirimu dan anak kita. Urusan memotong sisa-sisa jari tangan ayahku yang mencoba meraba ke tempat ini... itu adalah bagianku."
Sore harinya, setelah menyelesaikan beberapa panggilan bisnis internasional terkait persiapan peluncuran perdana film agensinya di platform digital Singapura, Adrian kembali turun ke lantai bawah tanah. Kali ini, ia tidak membawa berkas atau ponsel pintar. Ia mengenakan celana kain santai dan kaos hitam polos, penampilannya terlihat sangat membumi namun tidak sedikit pun mengurangi karisma alaminya yang kuat.
Ia mendapati Alena sedang duduk di sofa panjang ruang tengah bawah tanah, dengan sebuah buku catatan tebal di pangkuannya dan sebuah pena di sela-sela jarinya. Wajah cantiknya tampak berkerut serius, sesekali ia mengetuk-ngetukkan ujung pena pada dagunya yang lancip.
"Apa yang sedang dilakukan oleh seorang aktris papan atas di dalam persembunyiannya?" tanya Adrian lembut, berjalan mendekat dan tanpa ragu mengambil posisi duduk di sisi sofa yang sama, cukup dekat hingga lengan mereka saling bersentuhan.
Alena menoleh, sedikit terkejut namun langsung memberikan senyuman manisnya yang langka. "Aku sedang mencoba menulis beberapa draf naskah pendek, Adrian. Berhari-hari terisolasi di sini tanpa naskah film membuat otakku rasanya sedikit kaku. Jadi aku mencoba menyusun sebuah cerita tentang... sepasang pelarian yang membangun dunia mereka sendiri di atas bukit karang."
Adrian melirik ke arah lembaran kertas yang dipenuhi oleh tulisan tangan Alena yang rapi. "Kedengarannya sangat akrab dengan realitas kita saat ini."
"Mungkin memang terinspirasi dari sini," Alena menurunkan pandangannya, sebersit warna merah muda muncul di kedua pipinya saat ia menyadari betapa dekatnya posisi duduk mereka. "Berada di sini, bersamamu, di bawah perlindungan perlindunganmu... membuatku menyadari banyak hal. Di Jakarta, kita berdua adalah aktor yang selalu hidup di balik topeng karakter orang lain. Tapi di bawah benteng kedap mata ini, ketika semua kamera dan jurnalis hilang... aku merasa kita baru benar-benar mulai saling mengenal sebagai manusia biasa."
Adrian terdiam, meresapi setiap untaian kata yang keluar dari bibir Alena. Kalimat jujur dari istrinya itu seolah menyentuh bagian paling sensitif di dalam hatinya yang selama ini selalu ia tutup rapat dengan dinding arogansi korporasi. Ia mengulurkan tangan kanannya, membelai rambut panjang Alena yang terurai lembut di bahunya, menyelipkan beberapa helai ke belakang telinga wanita itu dengan gerakan yang teramat penuh perasaan.
"Kamu benar, Alena," bisik Adrian, suaranya melembut sepenuhnya, bergaung hangat di antara mereka. "Di Jakarta, pernikahan kita mungkin dimulai sebagai sebuah kebutuhan taktis untuk menyelamatkan reputasi dan karier.
Tapi di atas tebing ini, setiap detik yang kita lewati bersama, setiap kali aku mendengar detak jantung anak kita... aku menyadari bahwa aku tidak lagi sedang berakting. Aku sedang menjalani hidup yang sesungguhnya, kehidupan di mana aku memiliki sesuatu yang benar-benar berharga untuk aku pertahankan dengan seluruh jiwa dan ragaku."
Adrian menurunkan tangannya ke arah jemari Alena, menjalin jemari mereka satu sama lain dan meremasnya erat, seolah-olah sedang mengunci sebuah janji batin yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh kekuatan apa pun di luar sana. Alena tidak menarik tangannya; sebaliknya, ia mempererat genggaman itu, membiarkan kehangatan tubuh Adrian mengalir dan mengusir seluruh sisa-sisa keraguan terakhir yang ada di dalam benaknya.
Di saat yang sama, ribuan kilometer dari kedamaian bawah tanah Uluwatu, badai emosi kembali berkecamuk di lantai teratas Dewangga Tower, Jakarta.
Baskoro Dewangga berdiri tegak di depan meja kerjanya yang luas, menatap sebuah foto cetakan berukuran besar yang diletakkan oleh kepala divisi keamanan barunya. Foto itu adalah gambar siluet Alena di tepi kolam renang Uluwatu yang berhasil dikirim oleh kamera pengintai satelit sebelum dihancurkan oleh tim Marcus semalam.
"Hanya ini yang bisa kalian dapatkan?" suara Baskoro terdengar sangat rendah namun bergetar hebat oleh amarah yang tertahan di tenggorokan. "Sebuah foto bayangan hitam dari jarak tiga ratus meter? Di mana detail medisnya? Di mana laporan hasil sampel darah yang aku perintahkan?!"
Kepala keamanan baru itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, peluh dingin bercucuran di pelipisnya. "M-maaf, Tuan Besar Baskoro. Sistem pertahanan siber dan fisik yang dipasang oleh Tuan Adrian di kompleks vila itu terlalu masif. Seluruh perangkat elektronik kita dilumpuhkan secara instan menggunakan teknologi militer begitu memasuki radius perimeter luar mereka. Tim Dika dan dua tim pengintai cadangan kita sampai saat ini hilang kontak sepenuhnya. Kemungkinan besar mereka semua ditahan di dalam area vila tersebut."
Baskoro mengepalkan kedua tangannya di atas meja hingga urat-uratnya menonjol ke permukaan kulitnya yang mulai menua. Kekalahan beruntun yang ia alami dari putra tunggalnya sendiri dalam waktu empat puluh delapan jam terakhir benar-benar memukul telak harga dirinya sebagai sang patriark tertinggi keluarga Dewangga. Adrian tidak hanya berhasil memotong jalur distribusi filmnya di dalam negeri menggunakan kontrak digital internasional, melainkan juga berhasil mengubah vilanya menjadi sebuah wilayah kedaulatan independen yang tidak bisa ditembus oleh kekuasaan finansial Jakarta.
"Dia mengira dia bisa menyembunyikan wanita jalang itu selamanya di bawah tirai-tirai itu," desis Baskoro, matanya menyalang tajam menatap foto siluet Alena. "Keraguan ini membuatku muak. Aku tidak peduli apakah siluet itu adalah Alena atau wanita pengganti yang dia sewa untuk menipuku. Aku ingin kepastian!"
Baskoro berbalik, menatap sekretaris pribadinya yang berdiri siaga di dekat pintu. "Batalkan seluruh jadwal rapat komisarisku minggu depan. Siapkan jet privat korporasi untuk terbang langsung ke bandara Ngurah Rai, Bali, pada hari Senin pagi. Aku sendiri yang akan datang mengetuk gerbang depan vilanya di Uluwatu!"
"T-Tuan Besar... Anda sendiri yang akan turun ke Bali?" tanya sang sekretaris dengan wajah terkejut, menyadari bahwa Tuan Besar Baskoro jarang sekali mengorbankan waktu bisnisnya di Jakarta untuk urusan domestik keluarga jika situasi tidak benar-benar kritis.
"Ya!" bentak Baskoro penuh wibawa yang kejam.
"Jika Adrian menolak untuk membawa bukti tes DNA itu ke hadapanku di Jakarta, maka aku sendiri yang akan datang mengambil darah anak itu langsung dari rahim ibunya di atas tebing itu! Siapkan tim hukum dan bawa dokumen hak kepemilikan tanah atas kompleks vila Uluwatu tersebut. Kompleks itu dibangun di atas aset perusahaan Dewangga Group, dan aku memiliki hak legal penuh untuk mengusir siapa saja yang berada di dalamnya jika aku menghendakinya!"
Pertempuran strategis di antara ayah dan anak itu kini telah resmi bergeser dari perang administrasi digital menuju konfrontasi fisik yang tak terelakkan. Sang raksasa tua dari Jakarta telah memutuskan untuk turun gunung membawa seluruh kekuatan legal korporasinya demi meruntuhkan benteng pertahanan di Uluwatu.
Namun, di bawah kedapnya dinding beton bawah tanah Bali, Adrian dan Alena telah saling mengunci janji batin mereka sebuah kekuatan baru yang lahir dari darah daging yang suci, yang siap menenggelamkan siapa saja, termasuk sang penguasa tertinggi Dewangga Group, yang berani melintasi batas suci keluarga baru mereka.