Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketengangan Baru Di Meja Makan
Lampu gantung kristal di atas meja makan utama Vila Uluwatu memancarkan pendar cahaya kekuningan yang hangat, memantul di atas permukaan meja marmer Carrara yang mewah.
Di atasnya, beberapa hidangan makan malam bernutrisi tinggi telah tersaji dengan rapi mulai dari potongan daging salmon panggang dengan saus lemon, sup sayuran bening, hingga semangkuk buah segar yang disiapkan khusus oleh Bi Asih di bawah pengawasan ketat Dokter Saras.
Namun, kehangatan visual yang dihadirkan oleh ruang makan itu sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin dan kaku yang mendadak merayap masuk. Atmosfer di dalam ruangan berdinding kaca besar itu terasa menegang.
Alena duduk dengan anggun di salah satu ujung meja, memegang sendok peraknya dengan gerakan yang lambat. Sebagai seorang aktris yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membaca perubahan emosi terkecil pada lawan mainnya di depan kamera, Alena memiliki kepekaan insting yang luar biasa tajam. Dan sejak Adrian melangkah masuk ke dalam ruang makan setelah menerima panggilan singkat dari Marcus beberapa menit yang lalu, Alena tahu ada sesuatu yang besar yang sedang disembunyikan oleh suaminya.
Aura dari diri Adrian telah berubah sepenuhnya. Meskipun pria itu mencoba menampilkan wajah yang relaks, garis rahangnya yang tegas tampak mengeras bagai batu karang. Bahkan gestur sederhana saat Adrian menarik kursi untuk duduk di sampingnya terasa sedikit lebih kaku dan mekanis dari biasanya. Ada sebersit ketegangan taktis yang masih tertinggal di balik sepasang mata elang hitam pekat milik sang aktor utama.
Alena meletakkan sendok peraknya perlahan ke atas tatakan piring, menimbulkan bunyi dentang halus yang memecah kesunyian di antara mereka. Ia memutar tubuhnya sedikit, menatap langsung ke arah wajah Adrian yang sedang memotong daging salmon di piringnya dengan ritme yang terlalu konstan.
"Ada sesuatu yang bocor ke Jakarta, bukan, Adrian?" tanya Alena langsung tanpa basa-basi, memecah kesunyian yang menekan di antara mereka.
Gerakan tangan Adrian seketika terhenti di udara. Pisau dagingnya tertahan tepat di atas potongan salmon. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Selama beberapa detik, Adrian hanya menatap piringnya sebelum akhirnya mengembuskan napas pendek, sebuah helaan napas yang sarat akan beban yang mencoba ia sembunyikan. Adrian meletakkan pisau dan garpunya, lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap lekat-lekat ke dalam manik mata bening Alena.
"Tim keamanan baru saja menemukan sebuah kamera pengintai jarak jauh berteknologi satelit yang disembunyikan di balik ceruk batu karang di tebing bagian barat, Alena," ujar Adrian, suaranya sengaja direndahkan, mengalun bariton namun penuh dengan kewaspadaan yang tinggi. "Itu adalah perangkat sisa yang ditinggalkan oleh tim intelijen ayahku sebelum mereka kita lumpuhkan sore kemarin."
Alena merasa jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Tangannya yang berada di atas meja refleks mencengkeram kain serbet rajut. "Kamera pengintai? Adrian... apakah mereka... apakah seseorang berhasil mengambil gambar kita dari sana?"
Adrian segera menjangkau telapak tangan Alena yang menegang di atas meja, membungkus jemari lentik istrinya ke dalam genggaman tangannya yang besar dan hangat. Ia memberikan sebuah remasan lembut yang konstan, mencoba menyalurkan ketenangan ke dalam seluruh aliran darah Alena yang mulai dipenuhi oleh rasa panik.
"Lensa mereka sempat mengambil beberapa frame gambar siluet dirimu saat kamu sedang duduk membaca buku di tepi kolam renang siang tadi," jawab Adrian dengan jujur, memilih untuk tidak menutupi realitas apa pun lagi dari wanita yang kini menjadi rekan tim hidupnya.
"Tapi kamu tidak perlu panik, Alena. Marcus dan tim sibernya sudah memeriksa memori penyimpanan internal kamera tersebut sebelum dihancurkan.
Jarak pengintaian mencapai tiga ratus meter dan pencahayaan sore tadi sangat kontras. Foto itu hanya menampilkan bayangan siluet tubuhmu dari samping. Tidak ada akurasi medis, tidak ada detail wajah yang jelas, dan tanda-tanda kehamilan mu sama sekali belum terlihat dari sudut pandang sejauh itu. Bagi orang awam, itu hanya terlihat seperti foto estetis seorang wanita biasa."
Alena menarik napas pendek, ada sedikit rasa lega yang menyeruak di dadanya, namun kecemasan yang sesungguhnya belum sepenuhnya hilang. Ia tahu betul siapa Baskoro Dewangga pria itu tidak membutuhkan bukti medis yang sah untuk menghancurkan seseorang; ia hanya membutuhkan sebuah indikasi awal untuk memvalidasi kecurigaannya.
"Tapi... gambar itu sudah terkirim ke Jakarta, bukan?" tanya Alena lagi, suaranya terdengar pelan, nyaris menyerupai bisikan yang rapuh.
Adrian terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk perlahan. "Benar. Foto itu terlanjur terkirim ke peladen data internal divisi keamanan ayahku sekitar tiga puluh menit yang lalu, tepat sebelum tim Marcus memotong jalurnya.
Ini berarti, ayahku sekarang sudah tahu secara pasti koordinat lokasi vila tempat kita bersembunyi di Bali."
Mendengar konfirmasi tersebut, Alena menundukkan kepalanya dalam-dalam. Pandangan matanya tertuju pada cincin pernikahan emas putih yang melingkar dengan indah di jari manis tangan kirinya.
Rasa terisolasi yang nyata kini mulai terasa mencekik kebebasannya sebagai seorang wanita dan seorang aktris yang terbiasa bergerak bebas. Hanya dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam sejak mereka mendarat di Bali, benteng pertahanan mereka yang kokoh di atas tebing Uluwatu ini ternyata sudah berhasil diintip oleh lensa mata-mata dari Jakarta.
"Maafkan aku, Adrian..." bisik Alena, setitik air mata mulai menggenang di sudut matanya yang indah. "Karena keberadaanku di sini, kamu harus hidup seperti seorang komandan militer yang terus-menerus mengawasi radar pengawas. Kamu harus menutup seluruh hidupmu di Jakarta, dan sekarang... bahkan di tempat seindah ini pun, kita harus hidup di bawah bayang-bayang ketakutan."
Mendengar kalimat rapuh yang keluar dari bibir Alena, ego dan sisa amarah Adrian terhadap Jakarta seketika menguap habis. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah sebuah rasa cinta dan naluri protektif yang teramat besar terhadap wanita di hadapannya ini.
Adrian bangkit dari kursinya, lalu berlutut di samping kursi tempat Alena duduk. Ia meraih kedua belah tangan Alena, menggenggamnya erat-erat, lalu mendongakkan wajahnya agar Alena mau menatap langsung ke dalam sepasang matanya yang memancarkan pendar tekad yang suci.
"Dengarkan aku, Alena. Tatap mataku," perintah Adrian dengan nada suara yang sangat lembut namun dipenuhi oleh kekuatan otoritas yang mutlak. Begitu mata bening Alena yang basah mengunci pandangannya, Adrian melanjutkan, "Ini bukan kesalahanmu.
Ayahku bergerak seintens ini bukan karena kamu, melainkan karena egonya yang menolak untuk kehilangan kendali atas diriku. Menahan tim fisiknya dan menghancurkan mata-mata digitalnya sore tadi adalah caraku untuk menegaskan sebuah garis batas baru di antara aku dan keluargaku di Jakarta."
Adrian memajukan tubuhnya, menempelkan keningnya dengan lembut di kening Alena, membiarkan napas hangat mereka saling bertukar di dalam keheningan ruang makan.
"Mulai besok pagi, kita akan sedikit merubah skenario aktivitas kita," bisik Adrian tepat di depan bibir Alena.
"Aku tidak akan membiarkanmu menggunakan area paviliun terbuka atau tepi kolam renang tanpa pengawasan ketat. Seluruh tirai otomatis di sisi tebing barat akan ditutup setengah mulai pukul enam pagi. Seluruh aktivitas olahragamu, sesi jalan santai sore, hingga pemeriksaan rutin bersama Dokter Saras akan dipindahkan sepenuhnya ke dalam ruangan tertutup di lantai bawah tanah yang terhubung dengan sistem penyaringan udara terbaik. Kita akan membuat benteng ini menjadi sepenuhnya kedap mata dari dunia luar."
Alena memejamkan matanya, meresapi kehangatan kulit Adrian yang menempel di keningnya. Kata-kata suaminya tidak lagi terdengar seperti sebuah kekangan atau pembatasan kebebasan; melainkan terdengar seperti sebuah janji perlindungan abadi dari seorang ksatria sejati. Rasa hangat yang sangat kuat menjalar dari perutnya naik menuju ke dada, mengusir seluruh sisa-sisa trauma psikologis yang sempat membuatnya bergetar.
Alena membuka matanya kembali, menatap wajah tegas Adrian dengan pendar kagum dan rasa percaya yang kini telah mengakar dengan sangat kuat dan mendalam di dalam lubuk hatinya. Ia mengulurkan tangan kanannya, mengusap rahang tegas Adrian yang terasa sedikit kasar oleh rambut-rambut halus dengan gerakan yang teramat lembut.
"Aku mengerti, Adrian," ujar Alena dengan suara yang kini terdengar jauh lebih stabil, matang, dan sarat akan keteguhan seorang ibu yang siap melakukan apa saja demi keselamatan anaknya.
"Jika bersembunyi di balik dinding beton dan tirai tertutup adalah satu-satunya cara agar anak kita bisa bertumbuh dengan aman di dalam sini tanpa dijadikan komoditas perang oleh keluarga Dewangga... maka aku akan melakukannya dengan sukarela. Aku tidak butuh melihat matahari pantai sore jika itu artinya aku harus mempertaruhkan keselamatan detak jantung kecil ini."
Alena membawa telapak tangan Adrian yang berada di genggamannya turun perlahan, meletakkannya tepat di atas permukaan perutnya yang dilapisi kain gaun katun putih hangat. "Aku memercayakan seluruh keselamatan kami, seluruh sisa hidupku, ke dalam perisaimu, Suamiku."
Mendengar sebutan suamiku kembali diucapkan oleh Alena dengan nada penuh ketundukan dan rasa percaya yang mutlak, dada Adrian bergemuruh hebat oleh luapan emosi maskulin yang luar biasa dahsyat. Sentuhan telapak tangannya di atas perut Alena seolah mengirimkan gelombang energi baru yang membakar seluruh aliran darahnya. Detak jantung pertama sang buah hati yang ia dengar pagi tadi kini telah beresonansi dengan sumpah batinnya malam ini.
Adrian berdiri, lalu membimbing Alena untuk bangkit dari duduknya. Ia melingkarkan kedua belah tangannya di pinggang Alena, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukan dadanya yang bidang dan kokoh, mendekapnya dengan kehangatan yang seutuhnya di bawah pendar lampu kristal ruang makan.
Di luar sana, angin malam Uluwatu boleh saja menderu liar mencoba meruntuhkan pepohonan tebing, dan di Jakarta, Baskoro Dewangga boleh saja mengerahkan seluruh kekuatan finansialnya untuk membalikkan papan catur bisnis mereka.
Namun, di dalam ruang privat yang sunyi itu, sang perisai sejati telah mengunci janjinya. Benteng di atas tebing Uluwatu kini telah resmi ditutup rapat, berubah menjadi sebuah istana kedap suara yang tidak akan pernah bisa ditembus oleh tirani mana pun di dunia ini demi menjaga sebuah kehidupan baru yang sedang bertumbuh dengan sangat suci.